News

5 Fakta Menarik Hubungan Diplomatik Uni Emirat Arab dan China


5 Fakta Menarik Hubungan Diplomatik Uni Emirat Arab dan China
Putra Mahkota Abu Dhabi Sheikh Mohammed bin Zayed al-Nahyan bertemu dengan Presiden Tiongkok Xi Jinping di Abu Dhabi (REUTERS)

AKURAT.CO, Hubungan diplomatik antara Republik Rakyat China dan Uni Emirat Arab (UEA) sudah terjadi sejak tahun 1984, di mana hubungan diplomatik ini dimulai ketika UEA menempatkan sebuah kedubes di Beijing dan konsulat jenderal (Konjen) di Hong Kong sementara itu China juga menempatkan sebuah kedubes di Abu Dhabi dan konjen di Dubai.

Dan hingga saat ini hubungan diplomatik antara UEA dan China berada di tingkat yang lebih baik dimana China mengajak UEA untuk ikut serta dalam Proyek Belt and Road Initiative terutama Silk Road.

Berikut 5 fakta hubungan diplomatik antara UEA dan China:

baca juga:

1. China merupakan salah satu negara yang menjalin hubungan dengan UEA cukup lama.

Seperti yang diketahui UEA merdeka pada tanggal 2 Desember 1971 setelah Perdana Menteri Inggris, Harold Wilson menarik pasukan Inggris dari wilayah UEA, hanya dalam satu hari setelah pengumuman kemerdekaan UEA, Presiden UEA pada saat itu, Syeikh Sayid bin Sultan memberitahu Perdana menteri China yang pada saat itu berjabat, Zhou Enlai mengenai kemerdekaan tersebut, Zhou langsung mengklarifikasi dan mengakui kemerdekaan UEA.

Dan dalam waktu yang tak lama, pemerintah China dengan sigap menyelenggarakan produk China di Dubai dan mengirim misi diplomatik kebudayaan untuk mempererat hubungan kedua negara, melalui hal tersebut akhirnya hubungan diplomasi dimulai pada tahun 1984 setelah kebijakan ekonomi terbuka yang dikeluarkan oleh presiden Deng Xiaoping, sejak itulah hubungan diplomatik antara China dan UEA semakin erat.

2. Saling balas kunjungan kenegaraan

Setelah dibukanya hubungan diplomatik antara UEA dan China, hubungan antar kedua negara pun perlahan semakin erat dan membaik, presiden China pertama kali melakukan kunjungan kenegaraan ke UEA pada tahun 1989 yang pada saat itu Yang Shangkung menjadi presiden China, tak lama kemudian pada tahun 1990 Syeikh Sayed bin Sultan al Nahyan membalas kunjungan kenegaraan tersebut. Syeikh Sayed bin Sultan lakukan kunjungan kenegaraan pertama kalinya juga ke China.

Lalu pada tahun 2007 presiden China Hu Jintao juga melakukan kunjungan ke UEA, Tahun 2012 Presiden China Wen Jiaobao, tahun 2015 Menteri Luar negeri China, Wang Yi dan baru-baru ini Xi Jinping untuk pertama kalinya ia bertandang ke UEA. dilihat dari rangkaian kunjungan kenegaraan China ke UEA selama 30 tahun terakhir merupakan sinyal kuat yang menandakan bahwa UEA merupakan mitra strategis dalam perekonomian China.

3. UEA menjadi peran penting dalam strategi perekonomian China

Bagi China, UEA merupakan Pintu masuk untuk perdagangan China dengan Eropa dan Afrika. Barang-barang dari China memasuki UEA melalui pelabuhan Jebel Ali yang merupakan pelabuhan terbesar ke sembilan di dunia. Bandara Internasional Dubai juga merupakan surga bagi warga China yang ingin belanja, Dubai juga merupakan salah satu wilayah strategis yang paling banyak diincar oleh para pengusaha China.

Pada tahun 2005, dilaporkan sekitar 20 perusahaan China beroperasi di Dubai dan di tahun 2015 melambung menjadi 4000 perusahaan China yang berada di Dubai, seperti halnya Dubai Mart yang merupakan mega mal terbesar yang dibagun oleh China, Dubai Mart tiap harinya dikunjungi sekira 50 ribu pengunjung untuk belanja segala kebutuhan hidup.

4. 2015 Merupakan puncak keberhasilan Diplomatik Perdagangan

Yang Mulia Syeikh Muhammad bin Sayed selaku Putra mahkota Abu Dhabi dan Deputi panglima tertinggi angkatan bersenjata UEA melakukan pembicaraan dengan Xi Jinping dalam membahas berbagai isu nasional dan internasional yang menyangkut kepentingan negara masing-masing, akan tetapi yang paling terpenting dalam pertemuan tersebut adalah penandatanganan Joint Investment Startegic Cina-UEA yang bernilai sekira 60 miliar dollar Amerika Serikat atau setara Rp 14 triliun.

5. Masuknya UEA dan negara-negara teluk lainnya dalam Proyek Belt and Road Initiative

Belt and Road Initiative pertama kali diumumkan oleh Presiden China Xi Jinping di Kazakhstan pada 2013 silam. Proyek tersebut membuka kesempatan bagi negara-negara Asia dan Timur Tengah untuk ikut berperan dalam panggung internasional, yakni dengan cara mendanai serta membangun infrastruktur transportasi global sebagai penghubung perdagangan di lebih dari 60 negara.

Xi juga telah memromosikan inisiasi ini dengan mengundang para kepala negara ke Beijing dalam pertemuan perdana pada Mei 2017. Dia mengajukan permintaan dana sebesar US$124 miliar untuk mendukung rencana tersebut sekaligus memasukkannya ke dalam konstitusi Partai Komunis, pada Oktober 2017. Pada Januari 2018, Beijing mengungkapkan niatnya untuk memperluas cakupan proyek itu hingga ke Artik, yakni dengan membangun jalur pelayaran yang terbuka karena pemanasan global dan membentuk Jalur Sutra Kutub.

Ambisi Dubai adalah menjadi pusat keuangan Islam utama dari proyek Belt and Road. Uni Emirat Arab sudah menempati urutan ketiga di pasar keuangan dunia Islam setelah Arab Saudi dan Malaysia.

Tidak seperti perbankan konvensional, keuangan Islam menghormati prinsip-prinsip Syariah tertentu, termasuk pelarangan riba, larangan pembiayaan kegiatan tertentu yang dianggap tidak bermoral atau tidak etis (alkohol, tembakau, senjata, dll.), dan kewajiban untuk membiayai ekonomi riil.

Belt and Road Initiative melibatkan pembiayaan dan pembangunan sejumlah infrastruktur, terutama di Timur Tengah, sub-benua India, Asia Tengah dan Afrika Utara dan Timur, wilayah di mana ajaran Muslim ditanamkan kuat. Instrumen keuangan Islam dapat memfasilitasi pelaksanaan proyek-proyek BRI di negara-negara tersebut.

Dengan mengembangkan keuangan islami, China telah memahami pentingnya mengintegrasikan berbagai budaya ke dalam inisiatif Belt and Road, untuk memaksimalkan dampak terhadap proyek pembangunan.