News

5 Fakta Menarik Estelle 'Stella' Zeehandelaar, Wanita Belanda yang Jadi Tempat Curhat Kartini Soal Perempuan


5 Fakta Menarik Estelle 'Stella' Zeehandelaar, Wanita Belanda yang Jadi Tempat Curhat Kartini Soal Perempuan
Sosok Estelle Zeehandelaar yang diperankan aktris Rebecca Reijman dalam film Kartini yang dirilis tahun 2017 (Twitter/RebeccaReijman)

AKURAT.CO, Tanggal 21 April yang jatuh hari ini diperingati sebagai Hari Kartini. Di tanggal ini, rakyat Indonesia sejenak diajak merefleksikan peran dan perjuangan perempuan agar selalu dihormati hak-haknya dan tidak direndahkan.

Sosok Raden Ajeng Kartini memang erat kaitannya dengan feminisme. Meski terlahir sebagai perempuan ningrat, ia prihatin dengan kondisi bangsanya di mana saat itu banyak hak perempuan yang belum dihargai, termasuk hak memperoleh pendidikan.

Di balik perjuangan Kartini, ternyata ada peran sahabat penanya yang menjadi tempat curahan hatinya, teman bertukar pikiran, bahkan mencarikannya beasiswa ke Belanda. Dialah Estelle Zeehandelaar, perempuan Belanda yang kemudian membukukan surat-surat Kartini. Lantas seperti apa sosok perempuan yang akrab dipanggil Stella itu?

Dihimpun AKURAT.CO dari berbagai sumber, ini 5 fakta menarik Estelle Zeehandelaar.

1. 'Dipertemukan' lewat majalah Belanda

Perkenalan keduanya dimulai setelah surat Kartini dimuat di majalah mingguan Belanda 'De Hollandsche Lelie'. Majalah tersebut merupakan majalah khusus wanita progresif yang ingin memperjuangkan hak-hak perempuan. Dalam suratnya, Kartini menulis seorang perempuan muda Jawa yang terdidik berharap ada pelanggan majalah tersebut di Belanda yang bersedia berkirim surat dengannya untuk bertukar pikiran dengan perempuan muda berpendidikan.

Kartini tahu majalah ini dari Marie Ovink-Soer, istri asisten residen Jepara yang sudah menganggapnya seperti keluarganya sendiri. Atas saran Ovink, Kartini mengirim surat kepada redaksi De Lilie yang kemudian dimuat pada 15 Maret 1899. Tak sia-sia, surat itu kemudian mendapat tanggapan dari Stella. Sejak itulah keduanya jadi sahabat pena.

2. Seorang feminis yang rajin menulis

Saat mengenal Kartini, Stella berusia 24 tahun, 5 tahun lebih tua daripada Kartini. Ia bekerja di kantor pos dan telegram di Amsterdam. Sejak ayahnya meninggal, wanita Belanda ini diasuh oleh pamannya yang seorang dokter.

Stella rajin menulis untuk jurnal-jurnal perempuan. Ia juga menulis novel feminis Hilda van Suyerberg di De Lelie yang kemudian laris di pasaran. Tak disangka, novel itu telah berkali-kali dibaca Kartini sebelum mengenal Stella.

3. Teman 'curhat' Kartini

Mulai saling berkirim surat pada 25 Mei 1899, Stella menjadi tempat curahan hati Kartini soal kegalauan dan gagasannya terkait budaya Jawa, penjajahan, pendidikan perempuan, dan keinginannya belajar di Belanda. Kepada Stella, perempuan ningrat jawa ini tak ragu menyatakan pikiran 'liarnya'.

Itu sebabnya, surat-surat yang akhirnya diterbitkan pada 1911 dengan judul 'Door Duisternis tot Licht' (Habis Gelap Terbitlah Terang) sudah disunting. Pasalnya, Kartini selalu jujur sampai hal sekecil-kecilnya sehingga Stella ragu untuk mengungkap korespondensi pribadi mereka kepada publik.

4. Surat balasan Stella tak pernah ditemukan

Sejak menjadi sahabat pena Kartini, Stella mengaku menerima setidaknya 25 surat, sejumlah kartu pos, dan buku setebal 48 halaman. Namun, saat diajak bekerja sama menerbitkan surat-surat itu, hanya 14 surat yang diserahkannya. Di sisi lain, surat-surat balasan Stella untuk Kartini tak pernah ditemukan.

5. Berhasil mendapatkan beasiswa untuk Kartini

Berkat aktif dalam gerakan sosialis, Stella mengenal banyak politisi kiri. Ia pun berhasil mendapatkan beasiswa agar Kartini bisa belajar di Belanda. Beasiswa itu didapat dengan bantuan Henri Hubertus van Kol dan Van Overvelt, anggota parlemen radikal di Belanda.

Sayangnya, dalam surat terakhirnya tertanggal 25 April 1903, Kartini menyampaikan bahwa ia batal ke Belanda. Perempuan Belanda ini pun kecewa, apalagi Kartini dikabarkan meninggal tak lama kemudian. Ia menganggap pernikahan telah merenggut segala-galanya dari hidup Kartini.

Tak sampai di situ, Stella mendengar dari Van Overvelt bahwa Kartini batal menuntut ilmu ke Belanda akibat strategi pemerintah Hindia Belanda. Hal ini lantas membuatnya marah kepada pemerintah kolonial.


R.A. Kartini meninggal pada 17 September 1904. Meski begitu, berkat Stella, buah pemikiran Kartini dalam surat-suratnya dijadikan sebuah buku berjudul 'Habis Gelap Terbitlah Terang' telah menginspirasi banyak wanita Indonesia agar tak takut untuk maju meraih impiannya.[]

baca juga: