News

5 Fakta Menarik Calon Presiden Filipina 'Bongbong' Marcos, Putra Diktator yang Tulis Ulang Sejarah

Ferdinand Marcos Jr 'bergerilya' di media sosial, seperti Facebook dan YouTube, dengan unggahan yang menulis ulang sejarah kediktatoran ayahnya.


5 Fakta Menarik Calon Presiden Filipina 'Bongbong' Marcos, Putra Diktator yang Tulis Ulang Sejarah
Dengan 98 persen suara yang telah dihitung, 'Bongbong' Marcos meraup 31 juta suara dibanding pesaing sengitnya, Wakil Presiden Leni Robredo, yang harus puas dengan 14 juta suara. (Associated Press)

AKURAT.CO Ferdinand Marcos Jr mengeklaim kemenangannya dalam pemilihan presiden (Pilpres) Filipina 2022 pada Rabu (11/5). Dengan 98 persen suara yang telah dihitung, pria yang akrab dipanggil 'Bongbong' ini meraup 31 juta suara. Sementara itu, pesaing sengitnya, Wakil Presiden Leni Robredo, harus puas dengan 14 juta suara.

Jika kemenangannya disahkan, keluarga Marcos akan kembali berkuasa setelah 30 tahun lebih mereka terpaksa melarikan diri dari negara itu secara memalukan. Pada saat itu, terjadi revolusi Kekuatan Rakyat yang menggulingkan rezim Marcos pada 1986 setelah 21 tahun berkuasa. Selama dua dekade kekuasaan tersebut, pemerintahan Marcos diwarnai pelanggaran HAM dan korupsi yang meluas.

Tak pelak, kemenangannya diprotes banyak warga Filipina, termasuk mahasiswa dan anggota kelompok progresif. Menurut para kritikus, keluarga Marcos berupaya mengaburkan sejarah Filipina dengan menulis ulang pelanggaran dan korupsi selama kediktatoran Ferdinand Marcos.

baca juga:

Lantas, bagaimana sosok Ferdinand 'Bongbong' Marcos Jr?

Dihimpun AKURAT.CO dari berbagai sumber, ini 5 fakta menarik Bongbong Marcos.

1. Dipaksa ayahnya terjun ke politik

5 Fakta Menarik Calon Presiden Filipina Bongbong Marcos, Putra Diktator yang Tulis Ulang Sejarah - Foto 1
Malacanang Museum and Library

Marcos Jr merupakan anak lelaki satu-satunya Ferdinand Marcos yang memerintah Filipina sejak 1965 hingga 1986. Dalam wawancara pada 2017, ia mengakui ayahnya ingin dirinya terjun ke politik.

"Ia semacam memaksa saya dan mendorong ke sana," ungkapnya.

Berkat privilesenya sebagai keturunan politisi papan atas, Marcos Jr sudah menjadi gubernur pada usia 20an di provinsi asal mereka, Ilocos Norte. Namun, tumbangnya kekuasaan keluarga membuatnya melarikan diri ke Amerika Serikat (AS).

2. Jatuh bangun mendaki tampuk kepemimpinan

5 Fakta Menarik Calon Presiden Filipina Bongbong Marcos, Putra Diktator yang Tulis Ulang Sejarah - Foto 2
Bloomberg

Kembali ke Filipina pada 1991, karier politik Marcos Jr tak semulus sebelumnya. Ia memenangkan kursi kongres dan berhasil menjadi gubernur lagi.

Namun, ketika pertama kali menjajal kancah nasional, yaitu pada Pemilu Senat 1995, pria 64 tahun ini kalah. Ia baru memenangkan kursinya pada 2010. Pada 2016, Marcos Jr kalah tipis dari Leni Robredo saat mencalonkan diri sebagai wakil presiden. Protesnya terhadap hasil Pemilu pun tak membuahkan hasil.

Latar belakang Marcos juga menimbulkan sejumlah kontroversi. Profilnya sebagai Senat awalnya menyatakan bahwa ia punya gelar Oxford dalam bidang filsafat, politik, dan ekonomi. Namun, menurut para kritikus, ijazah khususnya tak sesuai dengan gelar yang sebenarnya. Pada bulan Oktober, Universitas Oxford menyatakan bahwa Marcos Jr tak menyelesaikan gelarnya. Sejak saat itu, laman profilnya diubah.

3. Reputasi kelam keluarga

5 Fakta Menarik Calon Presiden Filipina Bongbong Marcos, Putra Diktator yang Tulis Ulang Sejarah - Foto 3
Associated Press

Setelah ayah Marcos Jr mengumumkan darurat militer pada 1972, ribuan orang tewas atau hilang. Banyak juga yang disiksa atau mengalami pelanggaran HAM lainnya.

Menurut perkiraan pemerintah Filipina, keluarga Marcos meraup USD 5-10 miliar (Rp73-146 triliun) dana negara melalui kroni dan rekanan mereka. Namun, hanya sekitar USD 3 miliar (Rp44 triliun) yang telah dikembalikan pada 2020. Ekonomi pun menyusut lantaran kas negara dijarah. Peristiwa ini dilambangkan dengan buruk melalui koleksi sepatu mewah mantan Ibu Negara Imelda Marcos.

Sementara itu, Marcos Jr berusaha menghindari pertanyaan tentang rezim ayahnya.

"Kita tak akan lagi kembali ke masalah 35 tahun lalu," dalihnya dalam wawancara televisi pada 24 Januari.

4. Bagaimana ia menang?

5 Fakta Menarik Calon Presiden Filipina Bongbong Marcos, Putra Diktator yang Tulis Ulang Sejarah - Foto 4
CNN

Anggota keluarga Marcos telah berkecimpung dalam politik dan pemerintahan selama beberapa dekade di provinsi asal mereka. Di sana, bahkan ada kotamadya bernama Marcos dengan desa bernama Ferdinand di dalamnya.

Namun, tak ada yang menyangka kebangkitan mereka secara nasional setelah mereka kembali. Bersama kekalahan Marcos Jr untuk merebut kursi senat, Imelda dua kali gagal mencalonkan diri sebagai presiden.

Namun, karena politik dinasti masih umum dianut di Filipina, keluarga Marcos membangun kembali fondasi politik mereka dengan menjalin aliansi dengan politisi lain, termasuk Duterte. Presiden Filipina saat ini tersebut mengizinkan pemakaman pahlawan untuk mendiang diktator itu.

Untuk menghindari gesekan dengan pesaingnya, Marcos Jr menolak sejumlah debat di televisi. Sebaliknya, ia 'bergerilya' di media sosial, seperti Facebook dan YouTube, dengan unggahan yang menulis ulang sejarah kediktatoran Marcos. Tim suksesnya menggambarkannya sebagai era keemasan, lalu disebarluaskan untuk mendongkrak kampanye Marcos Jr.

Di sisi lain, pesaing utamanya, Robredo, berjibaku untuk mengatasi rentetan hoaks di media sosial, termasuk klaim palsu bahwa ia berselingkuh, sekutu komunis, dan putri sulungnya muncul dalam video seks.

5. Puji AS sambil merayu China

5 Fakta Menarik Calon Presiden Filipina Bongbong Marcos, Putra Diktator yang Tulis Ulang Sejarah - Foto 5
Associated Press

Meski Filipina telah menjadi sekutu setia AS di Pasifik, hubungan kedua negara menjadi tegang di bawah Duterte. Namun, Marcos Jr bertekad untuk mempertahankan aliansi negaranya dengan Negeri Paman Sam. Dalam forum daring awal tahun ini, ia memuji aliansi tersebut sebagai 'hubungan spesial'. Menurutnya, AS dapat melakukan banyak hal untuk membantu Filipina.

Di sisi lain, ia juga berencana berunding dengan China untuk menyelesaikan sengketa wilayah di Laut China Selatan. Sikapnya pun mirip Duterte yang merayu Beijing, sambil memanfaatkan pendanaan China untuk proyek infrastruktur.

Sementara itu, ia juga bertekad meningkatkan hubungan dengan Rusia. Meski begitu, ia menolak mengambil sikap terhadap perangnya di Ukraina. Dalam pernyataan berikutnya, Marcos Jr mengatakan bahwa Rusia harus menghormati kemerdekaan Ukraina.

Keluarga Marcos sendiri berulang kali membantah pelanggaran selama darurat militer dan memanfaatkan dana negara untuk kepentingan pribadi mereka. Marcos Jr juga meminta dunia untuk menilainya dari tindakannya, bukan dari masa lalu keluarganya. []