News

5 Fakta Jaya Suprana, Pendiri MURI yang Sempat Jadi Tukang Pasang Ubin

5 Fakta Jaya Suprana, Pendiri MURI yang Sempat Jadi Tukang Pasang Ubin
Sosok Jaya Suprana, pendiri Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI). (ANTARA)

AKURAT.CO Siapa yang tidak tahu Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI)? MURI adalah sebuah lembaga yang mencatat dan menganugerahkan prestasi superlatif (level tertinggi) masyarakat di Indonesia.

Pemrakarsa MURI yaitu Jaya Suprana, seorang pengusaha, seniman, dan musisi. Kesuksesan MURI menjadi sebuah lembaga yang membukukan berbagai rekor hingga kini, tak lepas dari kiprah pria kelahiran Bali tersebut.

Lantas, seperti apakah sosok Jaya Suprana? Dilansir dari berbagai sumber, AKURAT.CO mengumpulkan sejumlah fakta menarik mengenai Jaya Suprana.

baca juga:

1. Lulusan jurusan musik di Jerman

Jaya Suprana lahir di Denpasar Bali, pada 27 Januari 1949. Ia diadopsi oleh pasangan Jawa bernama Lambang Suprana dan Lily Suprana. Jaya mengenyam pendidikan menengah dan pendidikan tinggi di Jerman. Ia menuntut ilmu di Musikhochschule Muenster dan Folkwang-Hochschule Essen dengan mengambil fokus studi di bidang musik.

2. Sempat bekerja menjadi tukang pasang ubin

Untuk bisa menghidupi dirinya di negeri orang, Jaya harus bekerja keras dengan bekerja di berbagai bidang. Ia sempat menjadi tukang pasang ubin, tukang bubut, hingga menjadi penjaga kafetaria mahasiswa.

Pria yang sekarang berusia 75 tahun ini memang dikenal sebagai sosok yang gigih dan pantang menyerah. Bahkan, sebelum hijrah ke Jerman, dirinya juga pernah menjadi pedagang buku bekas di Semarang. Kerja keras Jaya terbayar, ia berhasil lulus dengan menyandang predikat terbaik dalam bidang pianoforte. 

3. Mendirikan MURI

Pada tahun 1983, seusai menuntut ilmu dari Jerman, Jaya Suprana melanjutkan bisnis keluarganya, yakni Jamu Jago. Ia dipercaya menduduki kursi direktur utama perusahaan jamu yang didirikan oleh kakeknya itu.

Sebagai seorang yang mencintai seni, maka pada bulan Januari 1990, Jaya Suprana mendirikan Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI), yang bertujuan agar bangsa Indonesia dapat menghargai dan bangga atas prestasi superlatif, karsa dan karya peradaban, serta kebudayaan bangsa Indonesia. MURI didirikannya di kawasan perindustrian Jamu Jago, Srondol, Semarang Selatan.

4. Merambah dunia hiburan

Selain MURI, pada tahun 2009 Jaya Suprana mendirikan sebuah Lembaga Pendidikan Seni Pertunjukan 'Jaya Suprana School of Performing Arts' bersama Aylawati Sarwono. Tak cukup sampai di situ, pria keturunan Tionghoa ini juga mendirikan Paguyuban Wayang Orang Indonesia Pusaka yang telah menggelar lelakon 'Banjaran Gatotkaca' di Sydney Opera House dan Istana Negara.

Sepak terjangnya di dunia seni mengantarkan Jaya untuk terjun ke industri hiburan tanah air. Ia pernah mengisi sebuah program di televisi sebagai presenter dalam acara bincang-bincang bertajuk 'Jaya Suprana Show'.

5. Meraih berbagai penghargaan

Berkat kontribusinya di bidang seni serta kesuksesannya dalam berbisnis, Jaya berhasil menyabet aneka macam penghargaan baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Beberapa penghargaan yang berhasil diraihnya antara lain Freundeskreis des Konservatoriums Muenster dari Jerman, Budaya Bhakti Upapradana, Duta Kemanusiaan Palang Merah Indonesia, Best in Personal Computing Award dari Apple Macintosh Inc., The Best Executive Award, dan lain sebagainya.

Beragam prestasi dan pencapaian yang ditorehkan Jaya Suprana, tak membuat dirinya menjadi tinggi hati dan lupa diri. Ia juga dikenal sebagai sosok yang dermawan. Jaya membangun Panti Asuhan Rotary-Suprana yang mengurusi anak-anak dengan nasib kurang beruntung.

Pada Sabtu, 10 Desember 2022, AKURAT.CO bakal mencatatkan rekor MURI atas "Perayaan Ulang Tahun dengan Publikasi Liputan Terbanyak di Satu Portal Berita". Penyerahan piagam dilaksanakan dalam rangkaian konser ulang tahun ke-6 AKURAT.CO bertajuk BTN Artikulasi Festival di Hall Basket Senayan Jakarta.[]