News

5 Fakta Gugatan Eks Mahasiswa STAN yang Kena Drop Out

Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN), baru-baru ini menjadi sorotan terkait gugatan yang dilayangkan oleh sejumlah mahasiswanya yang terkena drop out.


5 Fakta Gugatan Eks Mahasiswa STAN yang Kena Drop Out
PKN STAN Kementerian Keuangan. (Dokumentasi: Kemenpan-RB)

AKURAT.CO, Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN), baru-baru ini menjadi sorotan terkait gugatan yang dilayangkan oleh sejumlah mahasiswanya. Diketahui, gugatan itu diajukan oleh para mahasiswa yang terkena kebijakan drop out (DO) di perguruan tinggi tersebut.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, ada total sebanyak 69 mahasiswa yang terkena DO akibat nilai yang tidak memenuhi standar. Di mana, 19 orang di antaranya mengajukan gugatan.

Dihimpun oleh AKURAT.CO dari berbagai sumber, berikut deretan faktanya.

1. Sebanyak 69 mahasiswa terkena DO

Diketahui, pihak STAN mengeluarkan 69 mahasiswanya akibat tidak memenuhi standar nilai yang sudah ditentukan. Para mahasiswa semester tiga tersebut sudah dinyatakan DO sejak 17 Maret 2021 lalu. Akibatnya, mereka tidak bisa melanjutkan pembelajaran di semester berikutnya.

2. Raih IPK di bawah standar STAN

Menurut Kepala Bagian Administrasi Akademik dan Kemahasiswaan PKN STAN Denny Handoyo, kepada media, para mahasiswa yang terkena DO meraih nilai di bawah standar STAN yakni IPK 2,75. Untuk diketahui, aturan nilai tersebut telah tercantum dalam PER-3/PKN/2016 tentang Penyelenggaraan Pendidikan Vokasi PKN STAN Pasal 44, yang menjelaskan bahwa setiap mahasiswa dengan nilai IPK di bawah 2,75 akan dikeluarkan atau DO.

3. Ada 19 orang yang ajukan gugatan

Dari 69 mahasiswa yang dikeluarkan oleh STAN, 19 di antaranya telah mengajukan gugatan. Para mahasiswa tersebut menuntut pihak perguruan tinggi untuk mencabut surat DO. Adapun gugatan ini telah diajukan ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Serang dengan nomor perkara 37/G/2021/PTUN.SRG, dan telah teregister pada 14 Juni 2021.

4. Alami kesulitan belajar

Gugatan kepada pihak STAN dikeluarkan oleh para mahasiswa karena merasa tidak adanya keadilan, terutama dalam mengikuti metode pembelajaran jarak jauh (PJJ) selama pandemi. Sistem belajar secara daring ini rupanya membuat para mahasiswa kesulitan dalam mengikuti setiap kegiatan perkuliahan. Akibatnya, tak sedikit dari mereka yang mendapat nilai di bawah standar STAN.

5. Pihak STAN buka suara

Kepala Bagian Administrasi Akademik dan Kemahasiswaan PKN STAN Denny Handoyo mengatakan, hingga saat ini pihaknya belum menerima surat gugatan yang diajukan oleh mahasiswanya. Selanjutnya, pihak STAN juga akan tetap mengikuti proses dan mempelajari lebih lanjut gugatan dari para mahasiswa.

Itulah sederet fakta terkait gugatan yang dilayangkan para mahasiswa yang terkena DO kepada STAN.[]