News

450 Orang dari 47 Suku di Brasil Bersatu Melawan Presiden Bolsonaro


450 Orang dari 47 Suku di Brasil Bersatu Melawan Presiden Bolsonaro
Suku Tembe mengambil foto dan video untuk mendokumentasikan penebangan pohon di tanah mereka oleh penebang dan membagikannya di media sosial. Foto diambil pada September 2019. (AP / Rodrigo Abd)

AKURAT.CO, Suku-suku pribumi dan para penyadap karet di Brasil bersatu menentang kebijakan Presiden Brasil Jair Bolsonaro yang dianggap merusak Hutan Amazon. Mereka menyatakan Hutan Amazon penting bagi kehidupan warga pribumi. Namun kebijakan pemerintah justru merusak hutan tersebut.

Sekitar 450 orang dari 47 suku bertemu untuk membahas cara melawan langkah Bolsonaro yang melemahkan lembaga publik yang bertujuan melindungi lingkungan dan hak lahan suku pribumi. Bolsonaro menyatakan suku-suku itu memiliki lahan terlalu banyak dan dia ingin membuka kawasan hutan lindung untuk pertambangan komersial dan pertanian demi pembangunan Amazon dan mengangkat warga pribumi dari kemiskinan.

Kepala Suku Kayapo, Raoni Metuktire mengumpulkan suku-suku itu di desanya di Sungai Xingu. Dia mendesak Kongres Brasil menghalangi kebijakan presiden itu.

“Kami di sini untuk membela tanah kami dan mengatakan pada dia untuk berhenti bicara buruk tentang kami,” papar Raoni.

Raoni menjadi referensi global untuk kampanye lingkungan pada 1980an bersama musisi Sting. Dia menegaskan tidak akan pernah menerima pertambangan di tanah leluhurnya.

Mereka yang hadir dalam pertemuan itu adalah Angela Mendes, putri penyadap karet, kepala serikat buruh dan aktivis lingkungan Chico Mendes yang dibunuh oleh pengusaha peternakan pada 1988 karena upayanya melindungi hutan hujan.

“Bersatu kita dapat melawan. Mereka memiliki kekuasaan negara, tapi kami memiliki kekuatan air, bunga dan tanah leluhur,” tegas Mendes.

Mendes memperingatkan, keberadaan komunitas nonpribumi yang hidup dengan menyadap karet dan menjual buah dari hutan mendapat ancaman dari pengrusakan hutan. Mendes membuat aliansi dengan Sonia Guajajara, kepala organiasi suku-suku terbesar di Brasil, APIB.

“Ini momen sangat menyedihkan dalam sejarah kita. Ini terlihat seperti skenario perang,” kata Guajajara yang menuduh Bolsonaro melayani kepentingan sektor pertanian dan agrobisnis yang kuat di Brasil yang terus masuk ke dalam wilayah Amazon.

Kekerasan terhadap 850.000 warga pribumi meningkat akibat konflik lahan dengan para petani, pertambangan ilegal, dan penebangan hutan di kawasan hutan lindung yang mengancam masa depan suku-suku pribumi.[]