News

417 Pasien COVID-19 di DIY Meninggal saat Lakoni Isoman dalam Sebulan

Disinyalir, mereka tak tertolong akibat lemahnya pengawasan.


417 Pasien COVID-19 di DIY Meninggal saat Lakoni Isoman dalam Sebulan
Bunga yang berada di pusara makam korban COVID-19 di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Tegal Alur, Jakarta, Rabu (30/12/2020). (AKURAT.CO/Endra Prakoso)

AKURAT.CO Lebih dari 400 pasien COVID-19 dilaporkan meninggal dunia saat menjalani isolasi mandiri sepanjang 20 Juni - 21 Juli 2021. Disinyalir, mereka tak tertolong akibat lemahnya pengawasan.

Berdasarkan data pemakaman jenazah dengan protokol COVID-19 yang dimiliki TRC BPBD DIY, tercatat pelaku isoman yang meninggal selama periode itu sebanyak 417 pasien. Mereka dipastikan positif melalui tes antigen atau PCR.

"Baik dia diswab sebelum atau pasca meninggal," kata Wakil Komandan TRC BPBD DIY Indrayanto di Kantor BPBD DIY, Semaki, Umbulharjo, Kota Yogyakarta, Jumat (23/7/2021).

Berdasarkan data tersebut, angka kematian tertinggi harian untuk pelaku isoman pada tanggal 20 dan 21 Juli. Yakni, sebanyak 36 kasus masing-masing.

"Meninggal isoman itu kami artikan dia belum masuk rumah sakit, apakah dia meninggal di depan rumah sakit saat menunggu, itu kami anggap isoman. Rata-rata kebanyakan meninggalnya di rumah, kalau yang meninggal saat proses nyari rumah sakit ya ada," kata Indrayanto. 

Baca Juga: Sedih, Pasien COVID-19 Gunungkidul Meninggal di Parkiran Usai Tak Kebagian RS

Menghimpun keterangan pihak keluarga pasien, sebelumnya mereka yang meninggal di rumah ini didiagnosis bergejala ringan sampai sedang. Maka dari itu puskesmas memberikan pilihan untuk menjalani isoman atau pindah ke shelter.

"Dari puskesmas atau petugas rumah sakit saya beberapa kali menemui, (pasien) ditawari. Anda isolasi mandiri di rumah atau di shelter," sebutnya.

"Harusnya disuruh ke shelter, meski orang kalau disuruh ke shelter itu merasa tidak nyaman. Tapi kalau menurut kami, tempat isolasi paling nyaman itu di shelter karena pengawasan, kebutuhan makan, kebutuhan kesehatan pasti jelas," sambungnya menegaskan.

Sementara di rumah, pasien berpotensi menghadapi tekanan psikologis seperti ketika kondisinya tiba-tiba menurun. Belum lagi pandangan masyarakat sekitar lingkungan tinggal yang beragam.

Terlebih, tak semua Puskesmas mampu melayani atau mengawasi 24 jam penuh atau pun berkala. Berbeda dengan shelter yang monitoringnya rutin, lengkap disertai sederet kegiatan edukatif, dan menunjang fisik maupun mental.

"Situasi nyaman di rumah ini berbeda jauh ketika kondisi pasien menurun. Keluarganya panik membantu ini agar segera membaik, tapi kepanikan ini kadang menimbulkan kepanikan bagi pasien, psikologisnya tertekan. Seperti karena mencari oksigen atau rumah sakit nggak ketemu-ketemu," bebernya.

Pernyataan Indrayanto didukung data yang menunjukkan rendahnya kasus kematian pasien COVID-19 di shelter. Cuma 3 kasus saja sepengetahuannya.

"Di awal-awal 2020, semua begitu. Begitu positif, diambil sama ambulans, pindah ke shelter dan angka meninggal di rumah rendah sekali," pungkasnya.[]