Lifestyle

4 Tips dari Psikolog Untuk Menjaga Keamanan Anak di Dunia Maya


4 Tips dari Psikolog Untuk Menjaga Keamanan Anak di Dunia Maya
Siswa saat mengerjakan tugas melalui gawainya di kawasan Kalibaru, Cilincing, Jakarta, Selasa (21/7/2020). Metode pembelajaran jarak jauh di ibu kota masih menemui kendala berupa adanya warga yang belum memiliki fasilitas telepon pintar dan besarnya kuota pulsa yang harus dikeluarkan. Hal tersebut membuat para siswa terpaksa harus menumpang di rumah temannya dan mencari jaringan Wi-Fi. (AKURAT.CO/Dharma Wijayanto)

AKURAT.CO Pandemi COVID-19 telah membuat kegiatan belajar di sekolah bagi anak-anak hingga remaja mau tak mau harus dilakukan secara online, demi menghindari penyebaran virus corona lebih luas.

Akibatnya anak-anak dan remaja jadi cenderung sering terpapar gawai dan internet untuk keperluan belajar. Data Digital Report 2020 oleh Hootsuite menunjukkan, pengguna internet yang didominasi oleh remaja, rata-rata menghabiskan 7 jam dan 59 menit per hari di internet.

“Saat masa pandemi COVID-19, kita dapat melihat semakin banyak orang termasuk anak remaja menghabiskan banyak waktu di internet, bukan hanya untuk kegiatan belajar dari rumah, tetapi juga untuk tetap berkomunikasi dengan teman-teman dan keluarganya," jelas psikolog anak dan keluarga Samantha Ananta.

baca juga:

Menurut Samantha, sebaiknya orang tua dan anak mempelajari berbagai pilihan aplikasi yang tersedia dan mengetahui apa saja potensi risikonya sekaligus menjaga keamanan anak remajanya di dunia maya. Namun, bagaimana caranya? Berikut tips Samantha untuk mejaga keamanan anak saat berselancar di internet.

1. Kenali platform 

Dalam permasalahan tentang gawai dan internet, orangtua mau tak mau juga harus melek teknologi. Maka dari itu kenali platform yang digunakan oleh anak dan cobalah untuk mempelajarinya.

Mulailah dari yang paling mendasar, seperti diskusi apa yang terjadi di dalam aplikasi tersebut, fitur atau fungsi yang tersedia, dan yang paling penting, dengan siapa anak remajamu berkomunikasi dengan di platform tersebut.

2. Memulai obrolan

Triknya, tidak hanya memoderasi dan membatasi penggunaan aplikasi, tetap juga untuk menggunakan aplikasi tersebut sebagai cara mempererat hubungan dan menghabiskan waktu bersama.

Akan lebih bagus lagi jika orangtua dan anak bisa mengobrol secara tulus dan bukan dibuat-buat tentang fitur yang paling mereka sukai. Dengan begitu, mereka akan mendatangimu jika butuh bantuan, dan orangtua pun juga sudah paham dengan teknologi yang mereka gunakan.

3. Penting menjaga komunikasi dengan anak agar tetap terbuka

Orangtua bisa membahas tentang pengaturan privasi, waktu yang dihabiskan di internet oleh anak dan jenis kegiatan atau tantangan apa yang mereka ikuti. Komunikasi yang lancar dengan anak remaja bisa membuat mereka lebih nyaman bicara dengan orangtua tentang masalah mereka, dan tidak mengumbarnya di media sosial atau platform lainnya.

4. Jelaskan kamu mengharapkan mereka bertanggung jawab atas tindakan mereka 

Dan meminta anak untuk bertanggung jawab atas perilaku mereka adalah nilai yang perlu ditanamkan. Penting untuk belajar tentang keamanan online bersama dengan anak, sehingga mereka juga menyadari risiko apa yang mungkin mereka hadapi jika tidak menjadi warga digital yang bijak.