Lifestyle

4 Tantangan Transformasi Bidang Kesehatan Kardiovaskular di Indonesia

PERKI belum memiliki registrasi nasional penyakit kardiovaskular. 


4 Tantangan Transformasi Bidang Kesehatan Kardiovaskular di Indonesia
Tenaga Kesehatan RS Siloam Hospitals Lippo Cikarang memeriksa pasien penyakit jantung menggunakan Cathlab, Bekasi, Rabu (26/1/2022). (AKURAT.CO/Dharma Wijayanto)

AKURAT.CO, PERKI sebagai sebuah perhimpunan yan gmewadahi seluruh Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah di Indonesia. PERKI memiliki berbagai tantangan, serta telah beradaptasi untuk menjawab tantangan tersebut hingga menjadi PERKI sebagaimana yang kita kenal pada saat ini.

Di awal abad ke-22 ini, PERKI memiliki empat tantangan tersendiri dalam transformasi kesehatan di bidang kardiovaskular.

“Tantangan pertama yang dihadapi adalah masih tingginya angka morbiditas dan mortalitas dari penyakit kardiovaskular yang diperparah dengan munculnya emerging disease," ucap Ketua PP Perki Radityo di Pengangkatan Ketua Umum PERKI ke-19, dikutip pada Kamis (04/8/2022).

baca juga:

Data terbaru dari WHO, berdasarkan pemaparan Radityo, menunjukkan bahwa penyakit jantung koroner dan stroke masih menduduki peringkat pertama dan kedua penyebab kematian utama di dunia dengan jumlah kematian global 18,6 juta orang setiap tahunnya. 

Angka ini diperkirakan akan terus meningkat menjadi 20,5 juta pada tahun 2020 dan 24,2 juta pada tahun 2030 seiring dengan peningkatan kualitas hidup. 

Di Indonesia sendiri, penyakit jantung dan stroke juga menduduki peringkat pertama dan kedua penyebab kematian paling tinggi dengan membebani BPJS hingga 10 Triliun Rupiah.

“Tingginya angka morbiditas dan mortalitas ini membuat PERKI akan bekerjasama dengan Kemenkes dalam mengawal Tranformasi Kesehatan di bidang layanan rujukan untuk cita-cita besar mewujudkan seluruh provinsi mampu pasang ring jantung dan bedah jantung terbuka," jelas Radityo.

Lalu, tantangan kedua adalah pesatnya perkembangan teknologi, transportasi, serta komunikasi di era globalisasi ini serta perdagangan bebas menciptakan masalah baru, yakni peluang masuknya dokter spesialis jantung asing ke Indonesia. 

4 Tantangan Transformasi Bidang Kesehatan Kardiovaskular di Indonesia - Foto 1

Jumlah pusat pendidikan dan pelatihan SpJP yang masih belum memadai di Indonesia, turut memperbesar risiko bertambahnya tenaga asing yang akan masuk ke Indonesia.

“Untuk mengatasi tantangan ini, PERKI akan bersinergi dengan Kemenkes untuk mewujudkan transformasi kesehatan di bidang Sumber Daya Masyarakat (SDM) untuk mengakselerasi penambahan jumlah dokter umum, dokter spesialis jantung dan pembuluh darah, serta pendidikan berkelanjutan dan pelatihan-pelatihan di bidang kardiovaskular. Selain penambahan SDM secara kuantitas dan kualitas, akan didorong pula pemerataan spesialis jantung dan pembuluh darah di seluruh penjuru Tanah Air,” katanya.

Tantangan lainnya adalah regulasi yang ada masih belum memfasilitasi pemenuhan jumlah anggaran yang dibutuhkan untuk pelayanan kardiovaskular serta peran PERKI sebagai advokator dan kolaborator yang sejauh ini masih terbatas.

“Terkait dengan permasalahan anggaran, PERKI akan melakukan kolaborasi dengan Kemenkes dalam transformasi kesehatan di bidang pembiayaan kesehatan untuk mewujudkan pembiayaan yang transparan dan berkeadilan. Sementara, terkait permasalahan advokator dan kolaborator yang masih terbatas, PERKI akan berkontribusi pada transformasi kesehatan layanan primer untuk meningkatkan usaha promotif, preventif dan pemerataan layanan kesehatan khususnya di bidang kardiovaskular," sambungnya.

Tantangan terakhir yang perlu dihadapi, yakni PERKI belum memiliki registrasi nasional penyakit kardiovaskular. 

“Permasalahan belum tersedianya registri nasional ini dapat diselesaikan melalui transformasi kesehatan di bidang teknologi yang dicanangkan oleh Kemenkes. PERKI akan turut mendorong terbentuknya registri nasional di Indonesia,” ungkapnya.[]