Tech

32 Juta Akun Palsu Dihapus LinkedIn

Platfrom LinkedIn, yang merupakan aplikasi jejaring profesional, kini banyak disusupi oleh penipu yang berkedok investasi.


32 Juta Akun Palsu Dihapus LinkedIn
Platfrom LinkedIn, yang merupakan aplikasi jejaring profesional, kini banyak disusupi oleh penipu yang berkedok investasi. (Pixabay)

AKURAT.CO Platfrom LinkedIn, yang merupakan aplikasi jejaring profesional, kini banyak disusupi oleh penipu yang berkedok investasi.

Hal tersebut, berdasarkan laporan yang diterima, LinkedIn. Pasalnya saat ini banyak kasus penipuan melalui aplikasinya. 

Aplikasi yang menjadi tempat pengguna mencari informasi lowongan kerja tersebut, ternyata banyka disusupi oleh akun-akun yang tidak bertanggung jawab.

baca juga:

Dikutip dari CNBC, Senin (20/6/2022), Berdasarkan laporan perusahaan, sudah banyka akun yang dihapus. Sebanyak 32 juta akun palsu dari platformnya pada tahun 2021, yang dihapus.

Hal ini terungkap dari laporan tengah tahunan tentang penipuan. 

Dari Juli hingga Desember 2021, sebanyak 96% dari semua akun palsu, termasuk 11,9 juta yang dihentikan saat pendaftaran dan 4,4 juta yang dibatasi secara proaktif, telah dihapus.

Pengguna juga secara sukarela telah melaporkan 127.000 profil palsu yang juga dihapus.

Dalam sebuah pernyataan, LinkedIn telah mengakui banyak terjadi peningkatan kasus penipuan baru-baru ini di platformnya.

"Kami bekerja dengan perusahaan sejenis dan lembaga pemerintah dari seluruh dunia dengan tujuan menjaga keamanan anggota LinkedIn dari pelaku kejahatan. Jika seorang anggota menemukan atau menjadi korban penipuan, kami meminta mereka melaporkannya kepada kami dan penegak hukum setempat,” ujar LikedIn.

Lebih lanjut, pihaknya pun memperingatkan para pengguna di platformnya agar tidak mengirim uang kepada orang yang tidak di kenal.

Lalu, tidak menanggapi akun dengan riwayat kerja yang dipertanyakan atau tanda bahaya lainnya, seperti tata bahasa yang buruk.

Organisasi Anti-Scam Global, sebuah kelompok advokasi dan pendukung korban, telah melacak sebagian besar pelaku ke Asia Tenggara.

"Mereka biasanya menargetkan korban di LinkedIn dengan menunjukkan bahwa mereka memiliki jiwa wirausaha," kata Grace Yuen, juru bicara Global Anti-Scam Organization.

"Mereka mungkin mengklaim bahwa mereka lulus dari universitas terkenal, lalu mereka mengatakan bahwa mereka di bidang keuangan atau investasi. Terkadang mereka bahkan berpura-pura berada di industri yang sama denganmu."pungkasnya.