Ekonomi

3 Strategi Utama Kementerian ESDM Dukung Konversi EBT dan Wujudkan Net Zero Emission 2060

Kementerian ESDM berkomitmen untuk melaksanakan transisi energi berkeadilan dengan tetap memperhatikan pemenuhan kebutuhan energi nasional.


3 Strategi Utama Kementerian ESDM Dukung Konversi EBT dan Wujudkan Net Zero Emission 2060
Tangkapan Layar Sekretaris Jenderal Kementerian Energi dan Sumber Daya Minera (ESDM) dalam Acara Indonesia Economic Outlook 2022, Rabu (26/1/2022). (Youtube/Hipmi TV)

AKURAT.CO Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyebutkan ada tiga target besar yang harus dipenuhi Indonesia di sektor energi. 

Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kementerian ESDM, Ego Syahrial menjelaskan target itu terdiri dari target jangka pendek, menengah dan jangka panjang. Adapun untuk target pertama atau jangka pendek Indonesia di sektor energi ialah mencapai bauran energi baru terbarukan sebesar 23 persen pada 2025 mendatang.

Kemudian untuk jangka menengah, memenuhi target pengurangan emisi gas rumah kaca di Indonesia yang ditetapkan dalam Nationally Determined Contribution (NDC) sebesar 29 persen dengan usaha sendiri dan 40 persen dengan dukungan internasional pada 2030 mendatang. Terakhir untuk target jangka panjang, sektor energi direncanakan bakal mencapai zero net emission di Indonesia pada 2060 atau lebih cepat dengan bantuan internasional.

baca juga:

Pemerintah, kata Ego, memiliki tiga kunci utama untuk mencapai ketiga target tersebut, di antaranya dengan mengembangkan energi baru terbarukan (EBT), facing out atau beralih dari pembangkit listrik tenaga uap dan mempercepat konvergensi kendaraan berbasis BBM menjadi kendaraan listrik.

“Kementerian ESDM berkomitmen untuk melaksanakan transisi energi berkeadilan dengan tetap memperhatikan pemenuhan kebutuhan energi nasional,” kata Ego Syahrial acara Indonesia Economic Outlook 2022 yang juga bisa disaksikan secara virtual, Rabu (26/1/2022).

Langkah pertama dari ketiga aspek tersebut ialah dengan memaksimalkan pemanfaatan sektor minyak dan gas (migas). Tercatat pada 2021, Indonesia berhasil mencapai lifting minyak sebesar 660 ribu barel oil per day dan gas sebesar 982 ribu barel oil equivalent per day. Sedangkan pada 2022 ini, lifting minyak ditargetkan menjadi 703 ribu barel oil per day dan 1.036 ribu barel oil equivalent per day untuk gas bumi.

Ego menilai peranan migas dalam pemenuhan kebutuhan energi masih sangat besar. Hal itu tercermi dengan penggunaannya sebagai bahan bakar, bahan baku di industri serta bahan bakar di transportasi serta kebutuhan untuk rumah tangga. Selain itu gas bumi dimanfaatkan sebagai energi transisi sebelum Indonesia dapat memenuhi kebutuhan listrik 100 persen dari EBT, serta sebagai bahan bakar pembangkit EBT itu sendiri.

Untuk mewujudkan komitmen net zero emission pada 2060 mendatang, Pemerintah juga terus menyusun rencana untuk beralih dari pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) yang menggunakan batu bara sebagai bahan bakar, baik milik PLN maupun yang bukan, dengan pembangkit listrik yang menggunakan EBT berdasarkan kontrak maksimal 30 tahun.

Dengan demikian, Ego mengklaim kapasitas PLTU akan bertambah sampai dengan tahun 2026. Masukmya PLTU dari program 35 ribu GigaWatt akan mengalami penurunan mulai tahun 2031.

“Peningkatan kapasitas pembangit dilakukan sebagai upaya ketersediaan akses listrik ke seluruh masyarakat, menjaga pasokan listrik untuk mendorng pertumbuhan ekonomi dan memenuhi kebutuhan energi transportasi berbasis listrik,” ujarnya.

Ego melanjutkan bahwa pemerintah juga terus mendorong penggunaan kendaraan bermotor listrik berbasis baterai dengan meningkatkan pembangunan infrastuktur Stasiun Pengisian Kelistrikan UMUM (SPKU) dan Stasiun Penggantian Baterai Kendaraan Listrik Umum (SPBKLU).

Ia menyebutkan setidaknya sampai dengan akhir 2021, pemerintah telah memasang 267 unit spklu di 224 lokasi tersebar di Jakarta, Tangeran dan Bandung. Di samping itu juga telah terdapat 226 unit SPBKLU yang tersebar di 265 lokasi di Jakarta dan Tangerang.

Kemudian salah satu upaya untuk mendorng peningkatan pemanfaatan kendaraan listrik khususnya roda dua. Kementerian ESDM telah menginisiasi melakukan proses konversi sepeda motor BBM ke sepeda motor jenis listrik telah dilakukan sebanyak 100 unit.

“Dan pada 2022 ini kami menargetkan untuk bisa melakukan konversi terhadap 100 unit sepeda motor dengan perluasan program konversi yang akan dilaksanakan oleh bebrapa kementerian lembaga, pemerintah daerah dan BUMN,” katanya.

Untuk mencapai semua target tersebut, Ego pun mengharapkan dukungan dari semua pihak seperti pemerintah, akademisi, badan usaha dan masyarakat secara luas agar upaya tersebut dapat berjalan dengan baik.

“Hipmi dan Apkasi yang merupakan unsur dsri perwakilan badan usaha dan masyrakat memiliki pernanan sangat oemting dalam mendukung oencapain tsrget besar tersebut. Untuk itu, Kementerian ESDM senantiasa mendorong terjadinya sinergisitas dan kolaborasi di antara semua unsur,” tutupnya.