Rahmah

3 Dalil Tentang Disunahkannya Orang Islam Melakukan I'tikaf

Amalan Islam untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT


3 Dalil Tentang Disunahkannya Orang Islam Melakukan I'tikaf
Jamaah melakukan i'tikaf (ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra)

AKURAT.CO I'tikaf adalah berdiam diri di masjid disertai dengan niat. Tujuannya adalah semata-mata beribadah kepada Allah SWT. Beri'tikaf memiliki pahala yang cukup besar, sebagaimana sudah diteladankan oleh Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya.

Mengutip NU Online, berikut beberapa dalil tentang disunahkannya melakukan i'tikaf. Dalil-dalil ini penting sebagai upaya untuk mempertahankan kualitas amalan penting ini bila diperselisihkan oleh sementara orang.

Berikut dalil-dalil i'tikaf tersebut:

Dalil Pertama:

Kesunahan melakukan i'tikaf ini salah satunya disebut dalam hadits, bahwa i'tikaf dapat dikerjakan setiap waktu yang memungkinkan terutama pada sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan.

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ   الْأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ

Artinya: "Dari Aisyah r.a. isteri Nabi s.a.w. menuturkan, “Sesungguhnya Nabi s.a.w. melakukan i’tikaf pada sepu¬luh hari terakhir bulan Ramadhan hingga beliau wafat, kemudian istri-istrinya mengerjakan i’tikaf sepeninggal beliau”. (Hadis Shahih, riwayat al-Bukhari: 1886 dan Muslim: 2006).

Dalil Kedua:

Masih terkait dengan i'tikaf yang dilakukan pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan, sebagai berikut:

  عَنْ أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَعْتَكِفُ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ فَسَافَرَ سَنَةً فَلَمْ   يَعْتَكِفْ فَلَمَّا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ اعْتَكَفَ عِشْرِينَ يَوْمًا  

Artinya: "Dari Ubay bin Ka'ab r.a. berkata, “Sesungguhnya Rasulullah s.a.w. beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan. Pernah selama satu tahun beliau tidak beri’tikaf, lalu pada tahun berikutnya beliau beri’tikaf selama dua puluh hari”. (Hadis Hasan, riwayat Abu Dawud: 2107, Ibn Majah: 1760, dan Ahmad: 20317). 

Sumber: NU Online