Rahmah

3 Amalan Zikir yang Dibaca Sebelum Tidur, Supaya Dilindungi Malaikat

Dibaca dengan niat agar Allah menjaga dari gangguan jin dan setan


3 Amalan Zikir yang Dibaca Sebelum Tidur, Supaya Dilindungi Malaikat
Ilustrasi (parents.com)

AKURAT.CO Tidur menjadi salah satu aktivitas sehari-hari setiap manusia, khususnya pada waktu malam hari. Meskipun ada sebagian orang yang juga memilih untuk juga tidur pada siang hari, atau yang biasa disebut qailulah.

Sebagai orang Islam, hendaknya membaca amalan maupun zikir sebelum tidur. Hal itu dapat diniatkan agar tidak diganggu oleh jin maupun setan saat seseorang sedang istirahat dalam tidurnya.

Mengutip dalam buku Kitab Induk Doa & Dzikir Terlengkap oleh Nasrullah dan Tim Shahih, ada beberapa bacaan doa dan dzikir sebelum tidur yang dapat diamalkan di antaranya:

Bacaan doa dan dzikir pertama:

يجمع كفيه ثم ينفث فيهما فيقرأ فيهما:بسم الله الرحمن الرحيم ﴿قل هو الله أحد * الله الصمد* لم يلد ولم يولد* ولم يكن له كفوا أحد﴾. بسم الله الرحمن الرحيم ﴿قل أعوذ برب الفلق* من شر ما خلق* ومن شر غاسق إذا وقب* ومن شر النفاثات في العقد* ومن شر حاسد إذا حسد﴾. بسم الله الرحمن الرحيم ﴿قل أعوذ برب الناس* ملك الناس* إله الناس* من شر الوسواس الخناس* الذي يوسوس في صدور الناس* من الجنة و الناس﴾ثم يمسح بهما ما استطاع من جسده يبدأ بهما على رأسه ووجهه وما أقبل من جسده

Yajma’u kaffaihi tsumma yanfutsu fiihimaa fayaqra’u fiihimaa fayaqra’u fiihimaa: (Qul huwallahu ‘ahad) (Qul a’uudzu birobbil falaqi) (Qul ‘a’udzu birabbinnaasi) tsumma yamsahu bihimaa maastathaa’a min jasadihi yabda’u bihimaa ‘ala ra’sihi wawajhihi wamaa ‘aqbala min jasadihi.

Artinya: “Merapatkan kedua telapak tangan, kemudian ditiup dan dibacakan surah Al-Ikhlas (Qul huwallahu ahad), surah Al-Falaq (Qul a;uudzu birabbil-falaq), dan surah An-Naas (Qul a’uudzu birabbin-naas). Lalu, dengan kedua telapak tangan itu, bagian tubuh yang dapat dijangkau diusap. Mulai dari kepala, wajah, dan tubuh bagian depan.” (HR. Bukhari, Muslim, Malik, Abu Daud, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan An-Nasa’i) [dibaca 3x].

Bacaan doa dan dzikir kedua:

اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ

Allaahu laa ‘ilaaha illaa huwal-hayyul-qayyum. Laa ta’khudzuhuu sinatuw-wa laa nauum. Lahuu maa fis-samaawati wa maa fil-’ardhi man dzal-ladzii yasy-fa’u ‘indahu ‘illaa bi-’idz-nihi ya ‘lamu maa bayna ‘aidiihim wa maa khalfahum wa laa yuhiithuuna bi-syai-’in min ‘ilmihii ‘illa bimaa syaa’. Wasi’a kursiyyuhus-samawati wal-’ardha wa laa ya-’uuduhuu hifzuhuma wa huwal-’aliyyul-’azhiim.

Artinya: “Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah), kecuali Dia yang hidup kekal lagi terus-menerus mengurus (makhluk-Nya), tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafaat di sisi Allah tanpa izin-Nya. Allah megetahui segala sesuatu yang ada di hadapan mereka dan di belakang mereka. Mereka pun tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. ALlah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Mahatinggi lagi Mahabesar.” (QS. Al-Baqarah [2]: 255) (Hr. Bukhari).