Lifestyle

3 Alasan Indonesia Perlu Waspadai Angka Kematian Covid-19

3 Alasan Indonesia Perlu Waspadai Angka Kematian Covid-19
Tenaga kesehatan bersiap menyuntikkan vaksinasi Covid-19 di Rusunawa KS Tubun, Tanah Abang, Jakarta, Senin (18/7/2022). (AKURAT.CO/Endra Prakoso)

AKURAT.CO Pada 2 Agustus 2022, ada 24 orang masyarakat Indonesia yang meninggal dunia akibat Covid-19. Lalu, Kasus konfirmasi positif Covid-19 di Indonesia pada Selasa 2 Agustus 2022 bertambah 5.827 kasus.

Padahal, sejak Mei 2022 sampai Juli angka kematian karena Covid-19, selalu dibawah 20 kematian. 

Menurut Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara, Prof Tjandra Yoga Aditama bahwa angka kematian pada 2 Agustus kemarin ini adalah angka tertinggi dalam 3 bulan terakhir ini. 

baca juga:

Oleh karena itu, menurut Prof Tjandra, ada sedikitnya tiga alasan kenapa masyarakat dan pemerintah  Indonesia amat perlu mewaspadai penambahan angka kematian Covid-19 ini.

"Pertama adalah “trend” kecenderungan kenaikan Kematian kita secara terus menerus. Sepanjang Juni 2022 angka kematian harian selalu di bawah 10 orang, di bulan Juli jadi di atas 10 orang dan di bulan Agustus ini melewati 20 orang.  Kedua, angka kematian di berbagai negara juga meningkat. Dalam seminggu terakhir angka Kematian harian di Australia sudag di rata-rata adalah 94 orang," ujar Prof Tjandra melalui keterangan tertulis, dikutip pada Rabu (03/8/2022). 

"Ketiga, sejak awal kita sampaikan bahwa bahkan satu nyawa yang meninggal pun amat berharga dan tidak dapat tergantikan oleh apapun juga," lanjutnya

Oleh karena itu, menurut Prof Tjandra, ada tiga alasan ini diperlukan untuk meningkatkan kewaspadaan, setidaknya dalam lima hal, antara lain: 

Pertama, Surveilan epidemiologik dijalankan dengan baik, sehingga data dari seluruh pelosok negeri dapat di kompilasi dan di analisa dengan baik. 

Kedua, kemampuan testing harus ditingkatkan agar di dapat angka riil jumlah kasus di masyarakat. 

Ketiga, telusur/tracing juga harus ditingkatkan, agar dari setiap kasus didapat dua informasi, dari mana tertular dan kemana saja menularkannya. 

Keempat, vaksinasi booster yang masih dibawah 30% jelas harus ditingkatkan maksimal, juga sekitar sepertiga penduduk  yang belum divaksinasi ke dua harus di kejar benar. 

Kelima, melakukan komunikasi risiko dengan baik dengan 3 tujuan, agar masyarakat mendapat informasi yang tepat, termotivasi melakukan prokes dengan baik, dan masyarakat yang belum di vaksin dan booster agar segera mendapatkannya