Ekonomi

2,6 Juta Petani Sawit Potensi Kehilangan Penghasilan, DPR Desak Kebijakan Larangan Ekspor Ditinjau!

anjloknya harga tandan buah segar (TBS) sawit pasca pelarangan ekspor bahan baku minyak goreng


2,6 Juta Petani Sawit Potensi Kehilangan Penghasilan, DPR Desak Kebijakan Larangan Ekspor Ditinjau!
Petani Sawit yang tergabung dalam Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) menggelar aksi demonstrasi di kawasan Patung Kuda, Jakarta, Selasa (17/5/2022). (AKURAT.CO/Endra Prakoso)

AKURAT.CO, Menanggapi aksi unjuk rasa petani kelapa sawit yang tergabung dalam Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) yang berlangsung di sejumlah daerah terkait kian anjloknya harga tandan buah segar (TBS) sawit pasca pelarangan ekspor bahan baku minyak goreng yang diberlakukan Pemerintah sejak 28 April 2022 lalu.

Anggota Komisi XI DPR RI Sihar Sitorus, menyarankan agar larangan ekspor tersebut dapat ditinjau kembali. Dengan tujuan meminimalisir banyaknya masalah yang akan muncul akibat dari kebijakan tersebut. 

"Melihat banyaknya risiko yang akan dihadapi oleh industri sawit nasional, ada baiknya Presiden Jokowi mempertimbangkan kembali kebijakan pelarangan ekspor minyak goreng dan bahan baku minyak goreng secara keseluruhan tersebut," ujar Sihar melalui keterangan tertulisnya, Rabu (18/5/2022).

baca juga:

Ia menilai kebijakan larangan ekspor bahan baku minyak goreng oleh Pemerintah berpotensi mengakibatkan 2,67 juta petani sawit di Indonesia kehilangan penghasilan. 

Selain itu dikatakannya, kebijakan tersebut juga akan menyebabkan konsekuensi negatif terhadap kredibilitas Indonesia di mata Internasional. Sebagai negara penyumbang CPO dunia terbesar.

"Kebijakan larangan ekspor itu akan membawa berbagai konsekuensi dan dampak negatif, antara lain kredibilitas Indonesia di mata Internasional akan memburuk, 2,67 juta petani sawit berpotensi kehilangan penghasilan karena harga sawit lokal jatuh, maraknya penyelundupan karena disparitas harga yang tinggi serta berbagai dampak negatif lainnya," ungkapnya.

Menurutnya, korelasi antara kebijakan larangan ekspor dan harga minyak goreng tidak serta merta berhubungan positif. Hal itu dibuktikan sejak larangan ekspor bahan baku minyak goreng itu mulai diberlakukan. Dengan tujuan untuk menekan harga minyak goreng dalam negeri melalui pemenuhan kebutuhan minyak goreng dalam negri.

"Justru telah menyebabkan anjloknya harga TBS di pasar dalam negeri yang kini menuai protes besar-besaran dari para petani sawit. Sebelumnya pemerintah telah mengeluarkan serangkaian kebijakan untuk mengatasi kelangkaan serta naiknya harga minyak goreng di dalam negeri, namun hal itu belum menunjukkan hasil yang diharapkan," urainya.

Sebagaimana diketahui pada Selasa (17/5/2022). Para petani yang tergabung dalam Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo), menggelar aksi unjuk rasa di sejumlah daerah di Indonesia dan kantor Kementerian Koordinator Perekonomian.

Pada aksi tersebut, para petani terlihat membawa 'oleh-oleh' berupa buah kelapa sawit sebanyak satu mobil pikap untuk Menko Perekonomian Airlangga Hartarto. Sebagai bentuk protes atas anjloknya harga TBS di dalam negeri pasca diberlakukannya larangan ekspor bahan baku minyak goreng oleh Pemerintah.[]