News

21 Penari Lintas Benua Rambah Panggung Digital di Asia Tri 2021 Preserving Life

Penyelenggaraan festival tahun ini beralih ke konsep karya digital setelah sejak tahun 2006 lalu mengusung pertunjukan panggung.


21 Penari Lintas Benua Rambah Panggung Digital di Asia Tri 2021 Preserving Life
Proses tapping peserta Asia Tri 2021 Preserving Life di Omah Petroek, Karangkletak, Pakem, Sleman, Jumat (22/10/2021) (AKURAT.CO/Kumoro Damarjati)

AKURAT.CO Sebuah pertunjukkan melibatkan seniman tari dari berbagai belahan dunia dihelat di Omah Petroek, Karang Kletak, Pakem, Sleman. Adalah Asia Tri, festival yang harus terselenggara dengan mengubah konsep awalnya karena situasi pandemi Covid-19.

Founder Asia Tri Bambang Paningron mengatakan, penyelenggaraan festival tahun ini beralih ke konsep karya digital setelah sejak tahun 2006 lalu mengusung pertunjukan panggung.

"Kita masih benar-benar belum bisa nyaman melakukan kegiatan seperti sebelum pandemi. Sehingga banyak hal yang harus dilakukan dengan tapping rekaman," kata Bambang di Omah Petroek, Jumat.

Untuk dapat mengikuti gelaran tahun ini, kata Bambang, peserta diminta mendokumentasikan karyanya ke dalam format video sebelum diunggah ke kanal YouTube Asia Tri.

Adapun tema yang dipilih untuk tahun ini adalah Preserving Life. Ditentukan dengan latar belakangnya yang merespons situasi pandemi Covid-19 ini. Yakni, tetap produktif bersama para seniman meski dengan segala keterbatasannya.

"Kita juga tidak boleh kemudian enggak ngapa-ngapain," tegas Bambang.

Asia Tri 2021 ini sendiri diramaikan 21 seniman tari dari berbagai negara, seperti Prancis, Jepang, Taiwan, Ekuador, dan Indonesia tentunya. Mereka unjuk gigi secara individu maupun kelompok. 

Festival dibuka sore hari ini dan rencananya berlanjut hingga esok. Nantinya, semua video karya akan diputar di kanal YouTube Asia Tri.

"Sebagian membuat dokumentasi pertunjukan, sebagian membuat dance film. Saya kira Asia Tri ini menjadi penting agar tetap bisa berekspresi menyalurkan kreativitas. Ini adalah ruang kontemporer yang bisa diikuti oleh siapa pun," pungkas Bambang.

Lena Guslena, salah seorang penari asal Bandung memilih melakukan perekaman video secara langsung di Omah Petruk. Ia mengaku mulai menyiapkan tema, kostum, dan artistik selama sepekan lamanya.

Lena, dalam gelaran kali ini menghadirkan karya berjudul Selaksa Kabut Merah yang mengisahkan dinamika kehidupan terbalut pasang surut keadaan.

"Sebuah napas juga untuk kita bertahan atau tidak, apalagi pada saat pandemi seperti ini. Itu semuanya akan kembali pada diri kita sendiri bagaimana menyikapinya," ujarnya.

Lena meyakini keterbatasan ruang gerak akibat pandemi Covid-19 justru melecut inspirasinya dalam berkarya dan berekspresi. Ia menuangkannya melalui kreativitas sebagai seorang seniman tari lewat pertunjukan on atau off air.

Walaupun di satu sisi, diakuinya, ketidakhadiran penonton tetap meninggalkan kehampaan. Nihilnya interaksi antara seniman dan audiens memengaruhi olah ekspresi tiap karyanya.

"Memang akan sangat berbeda dengan masa sebelum pandemi. Tapi, apa pun bisa menyikapi itu dengan cara yang lain. Makanya kita kembali kepada diri kita sendiri bahwa segala sesuatunya itu kita hadapi santai saja," tutupnya.[]