Ekonomi

2022, Gappki Ramal Konsumsi Minyak Kelapa Sawit Meningkat dengan Produksi Tak Menentu

Salah satu faktor yang jadi kendala dalam produksi kelapa sawit yaitu kelangkaan dan kenaikan harga pupuk yang pengaruhi produktivitas dan produksi 2022.


2022, Gappki Ramal Konsumsi Minyak Kelapa Sawit Meningkat dengan Produksi Tak Menentu
Dua unit truk mengangkut buah kelapa sawit di kawasan perkebunan sawit PTPN VI, Sariak, Pasaman Barat, Sumatra Barat, Sabtu (1/12/2018). Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian mencatat, sektor kelapa sawit menghadapi penurunan harga crued palm oil (CPO) sebesar 24 persen, dari 636 dolar AS per ton menjadi 485 dolar AS per ton hingga akhir Oktober 2018. (ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra)

AKURAT.CO, Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) memperkirakan konsumsi minyak kelapa sawit di dalam negeri untuk berbagai kebutuhan akan meningkat pada 2022 namun dengan produksi yang masih tidak menentu akibat beberapa kendala.

Direktur Eksekutif Gapki Mukti Sardjono menerangkan salah satu faktor yang menjadi kendala dalam produksi kelapa sawit yaitu pemupukan yang terkendala di tahun 2021 akibat kelangkaan dan kenaikan harga pupuk yang akan mempengaruhi produktivitas dan produksi 2022.

Selain itu, ada fenomena La Nina yang  juga berdampak pada produksi kelapa sawit dalam negeri. "Cuaca ekstrem basah yang terjadi di awal 2022 bukan hanya akan mempengaruhi produksi di semester I, tetapi juga di semester II 2022," kata Mukti, Jumat (28/1/2022).

baca juga:

Dia menerangkan produksi minyak sawit 2021 menunjukkan  anomali di mana pada semester II yang biasanya lebih tinggi dari semester I di tahun 2021 justru lebih rendah.

Oleh sebab itu, menurutnya produksi semester I 2022 akan menjadi petunjuk apakah penurunan produksi akan terus berlanjut atau akan terjadi kenaikan.

Mukti mengemukakan produksi CPO (crude palm oil) tahun 2022 diperkirakan mencapai 49 juta ton sedangkan PKO (palm kernel oil) mencapai 4,8 juta ton sehingga total CPO dan PKO mencapai 53,8 juta ton. Jumlah tersebut naik sebesar 4,87 persen dibandingkan dengan produksi tahun 2021 sebesar 51,3 juta ton.

Konsumsi dalam negeri, menurut Gapki, akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan Covid-19 di Indonesia. Pada tahun 2021, total konsumsi dalam negeri untuk pangan naik 6 persen, untuk industri oleokimia naik 25 persen, dan kebutuhan biodiesel naik 2 persen.

Untuk tahun 2022, Mukti memperkirakan konsumsi untuk pangan naik dengan laju yang hampir sama menjadi sekitar 800 ribu ton per bulan atau 9,6 juta ton per tahun. Untuk kebutuhan oleokimia tahun 2021, konsumsi sawit mendatar selama bulan terakhir pada sekitar 180 ribu ton per bulan dan diperkirakan akan berlanjut pada tahun 2022 sehingga konsumsi untuk oleokimia diperkirakan 2,16 juta ton per tahun.

Konsumsi biodiesel, kata Mukti, tergantung pada program mandatori biodiesel yang ditetapkan pemerintah. Sesuai program tahun 2022, program mandatori B30 dengan konsumsi biodiesel 2022 diperkirakan 8,83 juta ton.

"Dengan demikian, konsumsi dalam negeri 2022 diperkirakan sekitar 20,59 juta ton. Dengan produksi 53,8 juta ton dan konsumsi dalam negeri 20,59 juta ton, maka volume untuk ekspor diperkirakan adalah 33,21 juta ton atau sekitar minus 3 persen dari tahun 2021," tukas Mukti.[]