Ekonomi

18 Ton Kopi Produk UMKM Subang Tembus Pasar Arab Saudi

Sebanyak 18 ton kopi produk pelaku usaha kecil menengah (UKM) diekspor ke Arab Saudi


18 Ton Kopi Produk UMKM Subang Tembus Pasar Arab Saudi
Pengusaha menyortir biji kopi di Rumah Roasting Pitoe Kopi, Depok, Jawa Barat, Selasa, (23/3/2021). (AKURAT.CO/Dharma Wijayanto)

AKURAT.CO  Sebanyak 18 ton kopi produk pelaku usaha kecil menengah (UMKM) Koperasi Gunung Luhur Berkah (GLB) dilepas ke pasar Arab Saudi dari Subang, Jawa Barat.

Potensi transaksi ekspor kopi produk Koperasi GLB ke Arab Saudi mencapai US$1 juta denganvolume 150 ton untuk satu tahun ke depan.

Adapun kopi yang diekspor ke Arab Saudi tersebut merupakan kopi arabika java preanger yang tumbuh di wilayah Jawa Barat dengan spesifikasi diantaranya proses alami, proses pencucian madu, dan proses pencucian penuh.

“Kemendag berkomitmen untuk mendorong UKM agar bisa ‘Go Global’ sesuai arahan MenteriPerdagangan Muhammad Lutfi. Kami mengapresiasi eksportir Indonesia yang tetap mempertahankan ekspornya meskipun di masa pandemi. Diharapkan komoditas lain akanmengikuti keberhasilan komoditas kopi java preanger dan berkontribusi terhadap perekonomianIndonesia," ungkap DirekturJenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan Didi Sumedi lewat keterangan tertulisnya, Senin (20/9/2021).

Koperasi Produsen GLB merupakan koperasi berskala nasional dengan usaha utama berupa pertanian dan perkebunan. Koperasi ini fokus pada usaha budidaya komoditas kopi jenis arabika dan robusta dengan bekerja sama dengan Perum Perhutani, PTPN VIII, Kopi Hofland Subang, kelompok tani kopi, serta pelaku usaha kopi.

Didi menambahkan, kinerja ekspor Indonesia pada Agustus 2021 mencatatkan rekor tertinggi yaitumencapai US$21,42 miliar mematahkan rekor yang sebelumnya dicatatkan pada Agustus 2011.

Kemendag mengapresiasi langkah progresif yang diambil pelaku usaha nasional, termasuk Koperasi GLB. Keberhasilan tersebut tidak lepas dari dukungan berbagai pihak terkait, termasuk Pemerintah Kabupaten Subang dan Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) melalui program Desa Devisa Kopi di Subang.

“Diharapkan sinergitas yang terjalin antara petani, eksportir, dan pemerintah terus dijaga danditingkatkan untuk mendorong ekspor nonmigas nasional, terutama sektor pertanian danperkebunan. Faktor kunci lainnya adalah dengan mengelola hubungan dengan buyer untukmemperoleh informasi yang aktual yang dapat menjadi keunggulan komparatif memenangkanpasar ekspor global. Untuk itu, Kemendag terus memberikan dukungan dan perhatian bagi parabuyer produk Indonesia melalui berbagai program,” jelas Didi.

Sementara Direktur Eksekutif LPEI D James Rompas menyampaikan bahwa pihaknya optimis danyakin dengan potensi Subang akan komoditas kopinya.