Ekonomi

10.000 Buruh Bakal Demo Minta Kerja dari Rumah! Gimana Bos Pengusaha?

Said Iqbal mengatakan akan ada 10.000 pekerja yang bakal unjuk rasa pada tanggal 5 Agustus 2021.


10.000 Buruh Bakal Demo Minta Kerja dari Rumah! Gimana Bos Pengusaha?
Buruh yang tergabung dalam Konfederasi Kongres Aliansi Serikat Buruh Indonesia (KASBI) memakai pakaian profesi pekerja, melakukan aksi long march menuju Istana Merdeka, Jakarta, Senin (30/10). Dalam aksinya ini para buruh menuntut berbagai tuntutan, seperti pencabutan PP 78/2015 tentang Pengupahan, tolak upah sektor padat karya di bawah upah minimum, lawan sistem pemagangan, naikkan upah 31 persen. (AKURAT.CO/Sopian)

AKURAT.CO Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) Said Iqbal mengatakan akan ada 10.000 pekerja yang bakal unjuk rasa pada tanggal 5 Agustus 2021.

Ia mengatakan aksi tersebut akan dilakukan serentak di 24 provinsi, dimana aksi dilakukan masih dilingkungan pabrik dengan protokol kesehatan yang ketat.

"Aksi puluhan ribu buruh di seribu pabrik di seluruh Indonesia, hanya berlansung 2 jam saja dari jam 10.00 – 12.00 siang," kata Said Iqbal lewat konfernsi pers virtual di Jakarta, Rabu (28/7/2021).

Adapun aksi demo tersebut akan menyoroti operasional perusahaan atau operasional pabrik yang masih 100 persen meski tak termasuk sektor essensial, dan bukan sektor kritikal.

Menurutnya akibat dari pemberlakuan operasional 100 persen banyak buruh yang terancam keselamatannya saat pandemi karena tertular Covid-19. Bahkan ia mencatat sudah ada yang meninggal dunia.

KSPI setidaknya mencatat buruh pabrik yang terpapar sampai 10 persen per perusahaan yang disurvei KSPI, dan ada ratusan yang sudah meninggal sebutnya.

"Ketika dipaksa bekerja kemudian terpapar, perusahaan banyak tak bertanggung jawab ketika sudah tertular Covid-19. selain itu ketika isolasi mandiri (Isoman) buruh tak mendapatkan bantuan vitamin atau obat, serta tak mendapat upah," ucapnya.

Sebelumnya KSPI mencatat survei pihaknya sebanyak 1.000 perusahaan 99 persen masih beroperasi hingga 100 persen baik sektor essensial, non essensial, ataupun non kritikal.

"Hanya 1 persen pabrik yang mengikuti WFH (Work from Home) dan WFO (Work from Office) 50 persen dari data kami," ucapnya.