News

100 Hari Berdemo dan 248 Tewas, Serikat Petani India Belum Mau Menyerah

Aksi protes besar-besaran terhadap UU Pertanian India memasuki hari ke-100 pada Jumat (5/3). Setidaknya 248 petani telah tewas di perbatasan di luar New Delh.


100 Hari Berdemo dan 248 Tewas, Serikat Petani India Belum Mau Menyerah
Para petani mengikuti unjuk rasa di Barnala, negara bagian Punjab (Al Jazeera)

AKURAT.CO, Selama hampir 2 bulan, Prem Singh menjalani rutinitas yang tanpa disadari diikutinya. Ia meninggalkan desanya di negara bagian Haryana, India utara, pada 1 Desember 2020. Pria 65 tahun ini bergabung dengan puluhan ribu petani India yang melakukan aksi protes di sepanjang perbatasan ibu kota negara untuk menuntut pencabutan undang-undang (UU) pertanian yang disahkan pada September tahun lalu.

Saat berkemah di lokasi protes di Singhu, Prem memastikan menelepon putranya, Sandeep, setiap pagi. Namun, rutinitas itu mendadak diakhirinya pada 26 Januari.

Berjejalan di dalam sebuah traktor bersama beberapa orang lainnya, Prem pingsan sekitar jam 6 sore. Ia pun tak pernah siuman lagi.

"Saya bersamanya saat itu. Kami memberikan penghormatan kepadanya di lokasi protes dan mengantar jenazahnya ke desa untuk dimakamkan. Ia menjadi salah satu dari banyak martir yang telah mengorbankan nyawa demi kepentingan para petani," ungkap Joginder Singh, dilansir dari Al Jazeera.

Sejak pemerintahan Perdana Menteri Narendra Modi memberlakukan 3 UU pertanian menggunakan mayoritas Partai Bharatiya Janata (BJP) yang berkuasa di Parlemen, serikat petani, terutama dari negara bagian Punjab dan Haryana, India, bersatu melawannya. Sejak 26 November, puluhan ribu petani berkemah di 3 lokasi berbeda di sekitar ibu kota. Mereka menuntut pemerintah mencabut UU yang dituding membuat mereka bergantung pada belas kasihan perusahaan swasta dan menghancurkan mata pencaharian mereka.

Aksi protes besar-besaran itu memasuki hari ke-100 pada Jumat (5/3). Setidaknya 248 petani telah tewas di perbatasan di luar New Delhi, menurut data yang dikumpulkan oleh Samyukta Kisan Morcha (SKM), atau Front Persatuan Tani.

Beberapa meninggal akibat masalah kesehatan, sementara ada juga yang bunuh diri. SKM pun berencana pada Sabtu (6/3) menghentikan seluruh lalu-lintas di Jalan Tol 6 jalur Periferal Barat di dekat New Delhi hingga 5 jam untuk melanjutkan aksi protes mereka.

Meski kematian terus bertambah, komitmen para petani untuk terus mengikuti aksi protes tak tergoyahkan. Namun, tetap saja ada hambatan.

Sebulan sejak kematian Prem, Sandeep ingin menggantikan ayahnya di Singhu. Namun, masih ada beberapa hal yang harus ia bereskan. Selain itu, ia mengkhawatirkan pemasukannya.

Ahada Ramadhana

https://akurat.co

0 Komentar

Tinggalkan komentar

Untuk komentar, silahkan terlebih dahulu