News

1 Tahun Berlalu, Gerakan Pemuda Thailand Bangkit Lagi untuk Goyahkan Kekuasaan Raja

Secara tradisional, raja dianggap sebagai sosok tak tercela dalam budaya konservatif Thailand.


1 Tahun Berlalu, Gerakan Pemuda Thailand Bangkit Lagi untuk Goyahkan Kekuasaan Raja
Raja Maha Vajiralongkorn menghadiri peresmian stasiun kereta bawah tanah baru di Bangkok, Thailand, pada 14 November 2020. (Reuters)

AKURAT.CO, Akibat berpidato yang blak-blakan mengkritik kuatnya peran raja Thailand, pengacara HAM Arnon Nampa mendekam di penjara selama berbulan-bulan. Ia didakwa atas kejahatan mencemarkan nama baik monarki.

Arnon hanyalah salah satu dari 103 orang yang kini didakwa menghina atau mengancam Raja Maha Vajiralongkorn maupun keluarga dekatnya. Kejahatan ini dapat dihukum hingga 15 tahun penjara.

Namun, pria 36 tahun ini mengaku tak menyesal. Ia juga bersumpah penuntutannya tak akan menghancurkan gerakan antipemerintah yang telah bangkit kembali beberapa pekan terakhir.

"Saya kira ini bermanfaat. Sekarang masyarakat dapat bergerak maju dan warga dapat membicarakan monarki," kata Arnon kepada Reuters sambil menunggu persidangan.

Ia membantah telah melakukan kesalahan.

Secara tradisional, raja dianggap sebagai sosok tak tercela dalam budaya konservatif Thailand. Dianggap sebagai setengah dewa, setiap kritik terhadap raja adalah tabu dan ilegal.

Di sisi lain, Arnon berpendapat bahwa membicarakan monarki secara terbuka diperlukan untuk mendorong reformasi demokrasi dan penggulingan Perdana Menteri Prayut Chan-o-cha. Ia pertama kali berkuasa dalam kudeta 2014 dan telah lama mengaitkan dirinya dengan kesetiaan kepada raja.

Sementara itu, juru bicara pemerintah Anucha Burapachaisri pada Senin (2/8) membela kasus pidana terhadap demonstran.

"Terkadang demonstrasi ricuh. Jika ada kekerasan, polisi harus menjaga perdamaian," dalihnya.

Kantor Prayut pun bersikeras bahwa ia mempertahankan kekuasaan melalui Pemilu yang bebas dan adil pada 2019.

Gerakan antipemerintah sudah terbangun tahun lalu ketika pidato larut malam Arnon dalam unjuk rasa bertema Harry Potter 3 Agustus membantu menggemparkannya. Selama berbulan-bulan setelahnya, ribuan orang turun ke jalan dan terkadang bentrok dengan polisi.

Sejak tahun lalu, 695 demonstran telah didakwa atas kejahatan, termasuk penghasutan dan menyebabkan kerusuhan. 103 orang di antaranya didakwa dengan pasal lese majeste, menurut Pengacara HAM Thailand.

Menurut analis Titipol Phakdeewanich, militer kerajaan Thailand selama beberapa dekade memanfaatkan pasal penghinaan kerajaan untuk membungkam kritik.

"Pemerintah menggunakan taktik hukum lamanya. Sebagian efektif dalam menciptakan ketakutan dan telah mencegah lebih banyak orang berbicara blak-blakan tentang monarki. Namun, ada beberapa yang tak peduli," terang Titipol, dekan ilmu politik di Universitas Ubon Ratchathani.

Arnon menghadapi 12 kasus lese majeste terpisah dan menghabiskan 113 hari di penjara. Penasihat gerakan pemuda ini lantas dibebaskan dengan jaminan pada bulan Juni.

Wakil juru bicara polisi Kissana Phathanacharoen pun membantah kasus terhadap demonstran bermotif politik.

Aksi protes mereda awal tahun ini setelah para pemimpin kuci dibui. Selain itu, parahnya wabah COVID-19 mendorong banyak orang membatasi aktivitas.

Namun, dalam beberapa pekan terakhir, demonstrasi kembali meletus. Kali ini, bukan hanya demonstran pemuda.

Pada akhir Juni, sejumlah mantan sekutu pemerintah turun ke jalan menuntut pengunduran diri Prayuth atas penanganannya terhadap wabah COVID-19 terburuk hingga saat ini. Menurut Arnon, gerakan pemuda akan terus maju.

"Seumpama sepak bola, kita masih jauh dari peluit akhir," tekadnya. []