image
Login / Sign Up

Puasa Ramadan itu Pengakuan Otoritas Ilahi

Kultum Ramadan

Image

Umat muslim melaksanakan salat sunah di Masjid Agung At-Tin, Jakarta, Rabu (23/5). Pada Bulan Ramadan umat muslim memanfaatkan waktu dengan memperbanyak ibadah seperti membaca Alquran dan melaksanakan salat-salat sunah di masjid | AKURAT.CO/Dharma Wijayanto

AKURAT.CO, Salah satu kekeliruan besar manusia adalah perasaan kepemilikan (ownership) dalam hidup. Padahal sejatinya segala sesuatu dalam hidup duniawi kita bersifat amanah (titipan). Titipan, bukan kepemilikan.

Oleh karena itu bagi orang beriman, hidup ini di satu sisi tidak boleh diakui. Namun di sisi lain harus dipelihara dan dijaga baik-baik.

baca juga:

Ungkapan Al-Quran: “inna lillahi wa inna ilaihi rajiuun” (kami adalah milik Allah, dan sesungguhnya kepadaNyalan kami kembali) bukan sekedar ungkapan kesedihan di saat ada musibah atau kematian. Tapi sesungguhnya adalah filsafat hidup. Bahkan fondasi dan wawasan (world view) hidup itu sendiri.

Alam semesta dan segala isinya, semuanya ada dalam milik Allah SWT. Dan dengan sendirinya semuanya berada di bawah otoritas (kekuasaan) Allah. Ayat-ayat dalam Al-Quran seperti: “bagi Allah segala yang di langit dan di bumi” atau “bagi Allah kerajaan langit dan bumi” berulang kali diungkap dalam Al-Quran.

Merupakan penegasan bahwa “al-mulk” (kerajaan) dan “al-milkiyah” (kepemilikan) untuk Allah adalah bagian dari akidah tauhid  kita. Yaitu meyakink bahwa kepemilikan absolut dan otoritas tunggal yang sejati adalah Allah. Selainnya adalah pinjaman dan bersifat semu. 

Kekeliruan dalam memahami “tauhid milkiyah” atau ketauhidan dalam hal kepemilikan ini menimbulkan konsekwensi-konsekwensi negatif dalam kehidupan. Ketika kita masih berada di pihak yang menguntungkan, sedang di atas angin, seseorang biasanya membusungkan dada. Seolah semua yang ada pada dirinya adalah “miliknya”.

Akibatnya mereka yang belum beruntung di sekitarnya dipandang rendah. Di sisi lain bahkan membangun karakter kekikiran (greed) yang luar biasa. Ini yang pernah terjadi kepada orang kaya seperti Qarun. Kekayaannya diakui sebagai kepemilikannya, dan dihasilkan karena skill atau kemampuan yang dimilikinya (ilmun ‘indii).

Sebaliknya, jika hal yang terjadi adalah ketidak beruntungan (unfortunate), seseorang itu akan merasakan kepedihan berlebihan.  Bahkan menumbuhkan amarah, jika tidak pada orang lain, akan marah pada dirinya sendiri. Di sinilah seringkali membawa kepada tindakan fatal, termasuk membinasakan diri sendiri (bunuh diri).

Konon kabarnya tingkat bunuh diri tertinggi terjadi di kalangan orang-orang yang justeru secara ilmu dan teknologi dan harta lebih maju. Jepang dan Korea misalnya adalah negara-negara dengan tingkat bunuh diri yang relatif tinggi.

Di Amerika juga permasalahan mentalitas (mental problem) justeru galibnya terjadi di kalangan mereka yang kaya, populer, dan diasumsikan pintar. Tidak mengejutkan jika penghuni Hollywood misalnya adalah orang-orang yang sering keluar masuk fasilitas rehabilitasi mental.

Di sinilah puasa memainkan peranan krusial dalam menetralisir kemungkinan penyakit “perasaan memilki” itu. Puasa menanamkan pada pelakunya untuk menyadari bahwa di atas dirinya ada “Pemilik Mutlak” atau Pemilik sejati”.

Dialah yang mencipta, menguasasi, merajai dan punya kuasa untuk mengatur dalam segalanya. “Maha Suci Yang ditangannya terletak kekuasaan, dan Dia berkuasa atas segala sesuatu” (Al-Mulk).

Artinya Allah itu tidak saja memilki. Tapi memilki kekuasaan atas kepemilikan itu. Sebab ada orang yang (merasa) memiliki tapi tidak punya kuasa atas kepemilikannya.

Mari kita bekajar dari sepasang suami isteri sahabat Rasulullah SAW, yang sangat miskin, dengan seorang anak yang masih kecil. Seolah dalam hidup mereka tak ada lagi kegembiraan selain sang anak itu.

Tiba-Tiba suatu ketika sang anak jatuh sakit keras. Penyakit yang hanya akan sembuh dengan kepasrahan. Tiada dokter, tiada obat-obatan. Apalagi mereka adalah keluarga miskin.

Di pagi hari sang suami bergegas pergi meninggalkan sang isteri dan anaknya yang tergeletak sakit keras untuk mencari sesuap nasi untuk keluarganya. Tiba-tiba Allah mentakdirkan sang anak tercinta itu harus kembali menghadapNya. Sang anak yang masih kecil itu meninggal dunia.

Isteri sahabat itu dengan hati sedih memandikan jenazah anaknya, lalu menutupi tubuhnya dengan kain dengan sangat rapih. Dan diletakkan sang anak yang terbungkus rapih itu di sudut ruang di rumahnya.

Pada malam hari sang ayah kembali di rumah, lalu bertanya ke isterinya perihal keadaan anaknya. Isterinya memberitahu bahwa anaknya kini telah tenang dan istirahat. Sahabat itu merasa senang mendengarkan informasi isterinya jika anaknya kini tenang dan istiharat. Disangkanya anaknya kini telah pulih dan istirahat. Maka malam itu terjadi hubungan dengan isterinya.

Sebelum subuh mereka berdua bangkit untuk sholat malam sebelum Fajar tiba. Tiba-tiba sang sahabat itu bertanya pada isterinya, kenapa anak mereka belum pernah kedengaran suaranya?

Dengan sedih tapi sangat tenang sang isteri bertanya kepada suaminya: “jika kita dititipi oleh tetangga sesuatu, lalu masanya dia ingin ambil kembali, haruskah bagaimana?”. Sang suami menjawab: “harusnya dikembalikan”.

Isteri itupun menyampaikan kepada suaminya bahwa anak mereka adalah titipan Allah. Dan Pemiliknya kini telah mengambilnya kembali. Mendengar itu sang suami tidak terima. Beliau merasa isterinya kurang jujur atau minimal tidak terbuka pada dirinya.

Di subuh hari beliau melaporkan hal itu kepada Rasulullah SAW, bahkan secara jujur juga menyampaikan bahwa malam itu juga telah terjadi hubungan dengan isterinya. Rasulullah SAW memberikan motivasi dengan sabdanya: “Allah akan menggantikan untuk kamu yang lebih banyak dan lebih baik”.

Menurut riwayat, dari sahabat dan isterinya inilah di kemudian hari terlahir beberapa ulama besar di kalangan thobi’in (generasi kedua) setelah sahabat-sahabat Rasulullah SAW. Puasa melatih kita untuk menyadari semua titipan yang kerap diakui sebagai milik kita.

Kerap kali tanpa disadari terjadi arogansi kepemilikan. Padahal semua itu hanyalah titipan untuk dijaga sesuai dengan pesan Pemiliknya. Makanan, minumanmu, dan segala kenikmatan duniamu, jika Yang memiliki melarangmu untuk menyentuhnya jangan disentuh.

Itulah pesan puasa. Latihan kesadaran akan kepemilikan Allah yang bersifat mutlak. Orang bijak menasehati: “sikapilah dunia ini bagaikan tukang parkir”. Jika dititipi mobil-mobil mewah yang banyak dia akan menjaga sebaik-baiknya. Tapi dia juga tidak akan mengakui sebagai miliknya. Dan jika masanya yang punya mengambil mobil itu, dia juga tidak bersedih.

Demikianlah dunia dan segala isinya ini. Semuanya adalah titipan sang Pencipta untuk dijaga sebaik-baiknya. Dan pada masanya akan diambil kembali. Semoga kita sadar bahwa memang: “inna lillahi wa inna ilaihi rajiuun” itu bukan sekedar “lip service”. Tapi keyakinan dan pandangan hidup sejati.

Dan Semoga puasa Ramadan menjadi momentum untuk membangun kesadaran itu. Amin!

 

 Imam Shamsi Ali

(Presiden Nusantara Foundation)

Editor: Sunardi Panjaitan

berita terkait

Image

News

Kolom

Deklarasi Kekalahan

Image

News

Kolom

Menguak Tabir Kerusuhan 21-22 Mei

Image

Olahraga

Piala Amerika Brasil 2019

Scaloni Kritik Kondisi Lapangan Usai Argentina Dikalahkan Kolombia

Image

Olahraga

Piala Amerika Brasil 2019

Messi: Kami Hanya Perlu Bangkit dan Memenangi Laga Berikutnya

Image

News

Kolom

Memelototi Persidangan Mahkamah Konstitusi

Image

Olahraga

Piala Amerika 2019

Belum Pulih, James Tetap Masuk Skuat Kolombia

Image

News

Kolom

Menunggu Rekonsiliasi Pasca Pilpres

Image

News

Kolom

Dari Anarkisme ke Konstitusionalisme

Image

Ramadan

Kultum Ramadan

Ramadan Itu Menyehatkan

komentar

Image

0 komentar

terkini

Image
Ramadan

Gerak Cepat, 5 Zodiak Paling Lahap saat Halal Bihalal Kantor

Ada zodiakmu nggak nih?

Image
Ramadan

5 Hal yang Dijamin Bikin Kamu Kangen Berat setelah Ramadan Usai

Yang nomor 5 pasti paling bikin rindu

Image
Ramadan

5 Menu Kuliner Khas Daerah Saat Rayakan Idulfitri

Tertarik mencoba?

Image
Ramadan

Warga Yaman Sambut Idulfitri di Tengah Kemiskinan dan Perang

Image
Ramadan

5 Momen Seru yang Cuma Bisa Kamu Temukan saat Hari Raya Idulfitri

Hanya pada saat Idulfitri, semua varian menu masakan terlezat dihidangkan di atas meja makan.

Image
Ramadan
Lebaran 2019

Berbagi Berkah Ramadan, Satgas Yonif 755 Bagikan Sembako kepada Warga Asmat

"Pembagian sembako gratis ini merupakan wujud kepedulian kita (Satgas) kepada masyarakat di Kabupaten Asmat"

Image
Ramadan
Lebaran 2019

Kumandang Takbir Menggema Seantero Biak Numfor

Hingga jam 20.00 WIT, keamanan di kota Biak sekitarnya kondusif.

Image
Ramadan
Lebaran 2019

Pedagang Mamin di Terminal Kp. Rambutan Kehilangan Omset Jutaan Rupiah

"Tahun lalu bus terlambat jadi banyak yang menginap, kalau sekarang bus lancar jadi jarang ada yang beli"

Image
Ramadan

Tak Perlu Beli, 4 Tips Agar Pakaian Lamamu Tampak Baru

Dijamin kamu tetap tampil 'baru'

Image
Ramadan
Mudik 2019

H-2 Lebaran, Jumlah Penumpang di Lebak Bulus Terus Menurun

"Karena banyak yang ikut mudik gratis dan ada yang menggunakan mobil pribadi ya"

trending topics

terpopuler

  1. Amnesty Internasional Surati Jokowi Minta Kasus Penyiksaan Terhadap Peserta Aksi 22 Mei Polisi Diselidiki

  2. Gaya Perming Rambut Seperti Apa yang Hits di Korea?

  3. Didorong Sampai Tujuan, Aksi Driver Grab dan Gojek Saling Bantu Mengantar Pelanggan

  4. Bakal Gelar Tedhak Siten, Ardina Rasti Belanja di Toko MR.DIY

  5. Nadirsyah: Ada Netizen Ngomel Saya Ikut Bahas Soal MK, Nyinyir Sejak Kapan Saya Jadi Ahli Hukum

  6. Mengapa Rajin Diet tapi Tetap Gemuk?

  7. Huawei Rilis EMUI 9.1 untuk Android Pie Indonesia, Apa Saja Fiturnya?

  8. Kejagung Usut Keterlibatan Wali Kota Manado Kasus Dana Hibah Banjir

  9. Komnas HAM: Perlu Kebijakan Khusus Untuk Perekrutan Polri dari Unsur Putra Daerah

  10. KPK Ingatkan Lukman dan Khofifah Hormati Proses Persidangan

fokus

Hari Bank Indonesia
Perang Dagang Tak Berkesudahan
Masalah Sungai

kolom

Image
Hasan Aoni

Duit Lanang

Image
Sunardi Panjaitan

Deklarasi Kekalahan

Image
Ujang Komarudin

MK dan Narasi Kecurangan

Image
Rozi Kurnia

Film ini Harusnya Tidak Berjudul Aladdin

Wawancara

Image
Ekonomi

Roda Ekonomi Ramadan

Dilema Pilih Zakat atau Pajak, Persoalan Klasik yang Mengusik

Image
Ekonomi

Roda Ekonomi Ramadan

Potensi Zakat Indonesia Capai Rp200 Triliun, Sayangnya Masih Sekadar Potensi

Image
Video

VIDEO Ketika Islam Menjadi Pedoman Hidup Dude