image
Login / Sign Up

Puasa Itu Membangun Keseimbangan

Kultum Ramadan

Image

Masjid Luar Batang di Penjaringan, Jakarta Utara | AKURAT.CO/Sopian

AKURAT.CO, Manusia itu menjadi manusia karena tiga elemen dasar penciptaannya, yang menyatu dalam bangunan hidupnya. Saya menyebut tiga elemen ini sebagai pilar hidup. Manusia tidak menjadi manusia kecuali ketiganya menyatu (integratif) dalam hidupnya.

Jika tidak maka yang terjadi adalah seseorang nampak seperti manusia, tapi sejatinya mereka dalam karakternya berwujud lain. Boleh jadi mereka justeru berwujud “bagaikan hewan-hewan, bahkan lebih jahat dari hewan-hewan” (Al-Quran).

baca juga:

Ketiga Pilar hidup manusia itu adalah jasad, akal, dan ruh. Jasad dibentuk dari tanah liat (thiin), akal terbentuk dengan “ta’lim” (al-ilm), dan ruh dengan ditiupkannya ruh kesucian (nafkhur ruh).

Ketiganya menyatu secara integratif sebagai pilar kehidupan manusia dalam menjalani hidupnya.

Menyatunya ketiga pilar hidup dengan imbang (balance), menjadikan manusia sebagia ciptaan terbaik (ahsana taqwiim), bahkan menjadi makhluk yang termulia (karramna Bani Adam).

Karena posisi ini pula Allah memerintahkan para malaikat untuk bersujud kepadanya sebagai simbol penghormatan dan pemuliaan.

Kelebihan-kelebihan itu juga yang menjadi dasar utama kenapa manusia menjadi makhluk yang dimuliakan. Dan karena kesempurnaan komposisi ini pula, manusia diberikan tanggung jawab kekhilafahan.

Yaitu tanggung jawab suci dalam membangun dan memakmurkan bumi ini demi terwujudnya kehidupan yang aman, damai, makmur dan berkeadilan.

Islam Agama Alami

Di sisi lain Islam sebagai agama yang sejalan dengan tabiat dasar penciptaan manusia, yang datang untuk menjadi petunjuk hidupnya, sejalan dan senyawa dengan ketiga pilar kehidupan manusia. 

Islam tidak datang menjadi racun hidup, bahkan tidak pula menjadi penghalang bagi pengembangan ketiga pilar hidup itu. Untuk kehidulan fisik (materi) manusia,  Islam mewajibkan mencari dunia. Tidak seperti yang dipahami secara salah, seolah Islam anti dunia.

Tugas khilafah tadi itulah esensi dasar kenapa Islam memerintahkan manusia untuk membangun dunia ini. Bahwa manusia sebagai “khalifah” (inni jaa’ilun fil-ardhi khalifah) wajib berusaha keras untuk mewujudkan bumi yang makmur, sejahtera dan damai demi terwujudnya rumah sementara manusia yang nyaman.

Untuk kehidupan akal manusia  Islam mewajibkannya untuk menumbuh suburkan pemikiran dan keilmuan.

Kata kedua yang paling sering terulang dalam Al-Quran setelah kata “Al-A’zhom”  (Allah) adalah kata yang berkaitan dengan akal manusia. Ilmu, akal, fikir, tadabbur, dan semaknanya diulang di berbagai tempat dalam Al-Quran.

Tentunya yang paling nyata adalah bahwa  ayat pertama yang diwahyukan kepada Rasulullah SAW adalah IQRA’ (bacalah).

Dan untuk kehidupan ruhiyah manusia, Allah sejak awal penciptannya maniupkan kesucian itu dalam dirinya. “Dan Kami tiupkan ke dalam diri manusia dari Ruhku”.

Ayat ini menggambarkan urgensi spiritualitas manusia, seolah Allah meniupkan ruhNya sendiri ke dalam diri manusia. Untuk menopang kebutuhan ruhiyah ini,  semua amalan dalam Islam, baik yang bersifat sosial, apalagi yang memang bersifat ritual, sarat dengan kandungan ruhiyahnya.

Makan misalnya dimulai dengan doa: “Wahai Tuhan berikanlah barokah pada makanan yang Engkau berikan kami dan barokah pada minum kami, dan jagalah kami dari api neraka”.

Permintaan “barokah” ketika makan menunjukkan bahwa pada makanan kita itu ada aspek ruhiyahnya. Bukan sekedar kelezatan materinya. Apalagi memang amalan-amalan ritual. Sudah pasti ditujukan untuk menguatkan kehidupan ruhiyah manusia.

Sholat yang esensinya adalah “dzikir” atau mengingat Allah adalah amalan yang penuh dengan “spiritual nourishment” (makanan ruh).

Bahaya Melemahnya Ruhiyah

Ketika kehidupan ruhiyah termarjinalkan maka hidup manusia mengalami ketimpangan yang berbahaya. Hidup yang timpang melahirkan kebuasan prilaku. Bahkan lebih buas dari binatang buas sekalipun.

Di sinilah puasa menjadi sesuatu yang berharga mahal. Karena dengan puasa manusia bermujahadah mengembalikan hidupnya ke tabiat dasar itu. Yaitu hidup imbang dalam tiga pilar tadi.

Dengan puasa itu manusia mengesampingkan (menekan) sementara dorongan materinya. Sehingga memberikan ruang kepada aspek ruhiyahnya untuk tumbuh subur kembali. 

Sekali lagi, puasa ramadan merupakan pupuk yang menumbuh suburkan jiwa, sehingga nilai-nilai keilahian tumbuh kuat. Dengan jiwa yang subur dengan nilai-nilai ilahiyah ini manusia akan menjaga keseimbangan hidupnya. Dengan keseimbangan hidup, prilaku manusia akan terbangun di atas kasih sayang, tenggang rasa, dan cinta. Semoga!

 Imam Shamsi Ali

(Presiden Nusantara Foundation)

 

Editor: Sunardi Panjaitan

berita terkait

Image

News

Kolom

Menimbang Potret DPR 2019-2024

Image

News

Kolom

Deklarasi Kekalahan

Image

News

Kolom

Menguak Tabir Kerusuhan 21-22 Mei

Image

Olahraga

Piala Amerika Brasil 2019

Scaloni Kritik Kondisi Lapangan Usai Argentina Dikalahkan Kolombia

Image

Olahraga

Piala Amerika Brasil 2019

Messi: Kami Hanya Perlu Bangkit dan Memenangi Laga Berikutnya

Image

News

Kolom

Memelototi Persidangan Mahkamah Konstitusi

Image

Olahraga

Piala Amerika 2019

Belum Pulih, James Tetap Masuk Skuat Kolombia

Image

News

Kolom

Menunggu Rekonsiliasi Pasca Pilpres

Image

News

Kolom

Dari Anarkisme ke Konstitusionalisme

komentar

Image

0 komentar

terkini

Image
Ramadan

Gerak Cepat, 5 Zodiak Paling Lahap saat Halal Bihalal Kantor

Ada zodiakmu nggak nih?

Image
Ramadan

5 Hal yang Dijamin Bikin Kamu Kangen Berat setelah Ramadan Usai

Yang nomor 5 pasti paling bikin rindu

Image
Ramadan

5 Menu Kuliner Khas Daerah Saat Rayakan Idulfitri

Tertarik mencoba?

Image
Ramadan

Warga Yaman Sambut Idulfitri di Tengah Kemiskinan dan Perang

Image
Ramadan

5 Momen Seru yang Cuma Bisa Kamu Temukan saat Hari Raya Idulfitri

Hanya pada saat Idulfitri, semua varian menu masakan terlezat dihidangkan di atas meja makan.

Image
Ramadan
Lebaran 2019

Berbagi Berkah Ramadan, Satgas Yonif 755 Bagikan Sembako kepada Warga Asmat

"Pembagian sembako gratis ini merupakan wujud kepedulian kita (Satgas) kepada masyarakat di Kabupaten Asmat"

Image
Ramadan
Lebaran 2019

Kumandang Takbir Menggema Seantero Biak Numfor

Hingga jam 20.00 WIT, keamanan di kota Biak sekitarnya kondusif.

Image
Ramadan
Lebaran 2019

Pedagang Mamin di Terminal Kp. Rambutan Kehilangan Omset Jutaan Rupiah

"Tahun lalu bus terlambat jadi banyak yang menginap, kalau sekarang bus lancar jadi jarang ada yang beli"

Image
Ramadan

Tak Perlu Beli, 4 Tips Agar Pakaian Lamamu Tampak Baru

Dijamin kamu tetap tampil 'baru'

Image
Ramadan
Mudik 2019

H-2 Lebaran, Jumlah Penumpang di Lebak Bulus Terus Menurun

"Karena banyak yang ikut mudik gratis dan ada yang menggunakan mobil pribadi ya"

trending topics

terpopuler

  1. Gelar Aksi Halal Bihalal di Depan Gedung MK, Massa: Habisi Penghianat Bangsa!

  2. Dalam Orasi, Abdullah Hehamahua Minta KPK Audit Kecurangan Pemilu 2019 di KPU

  3. Mulai Berdatangan, Peserta Aksi Halal Bihalal Berstatus Pelajar dari Cianjur Nebeng Truk Barang

  4. Vietnam dan India Kebanjiran Aliran Investasi Relokasi Pabrik, Indonesia Kapan?

  5. Kapolres Jakpus: Jika Ditemukan Perusuh, TNI akan Turun Tangan

  6. Bela Felix Siauw, Anies: Kami Tak Langgar Aturan

  7. Warga Singapura Umur 62 Tahun Jadi Wanita Tertua Teradikalisasi ISIS

  8. Sebelum Bubarkan Diri, Massa Aksi di Depan MK Bacakan Petisi, Begini Isinya

  9. Usai Umumkan Putusan PHPU Pilrpes, MK Lanjut Proses Gugatan Hasil Pileg

  10. Din Syamsuddin: Tidak Benar Melarang Masyarakat Unjuk Rasa, Itu Hak Konstitusional

fokus

Hari Bank Indonesia
Perang Dagang Tak Berkesudahan
Masalah Sungai

kolom

Image
Achmad Fachrudin

Menimbang Potret DPR 2019-2024

Image
UJANG KOMARUDIN

Mari Kita Bersatu

Image
Hasan Aoni

Duit Lanang

Image
Sunardi Panjaitan

Deklarasi Kekalahan

Wawancara

Image
Ekonomi

Roda Ekonomi Ramadan

Dilema Pilih Zakat atau Pajak, Persoalan Klasik yang Mengusik

Image
Ekonomi

Roda Ekonomi Ramadan

Potensi Zakat Indonesia Capai Rp200 Triliun, Sayangnya Masih Sekadar Potensi

Image
Video

VIDEO Ketika Islam Menjadi Pedoman Hidup Dude