image pemilu
Login / Sign Up

"Indonesia Memang Masih Layak Dapat Gelar All England"

Hervin Saputra

Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan (1)

Image

Pebulutangkis Ganda Putra Indonesia Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan berpose untuk difoto saat ditemui di Pelatnas PBSI, Cipayung, Jakarta Timur, Kamis (21/3/2019). | AKURAT.CO/Abdul Aziz Prastowo

AKURAT.CO, Apa yang menarik dari olahraga adalah aktivitas ini bisa menjadi tempat bagi kita untuk mencari makna sebagai “kaum”, kaum dalam hal ini adalah “negara”. Di Indonesia, Pelatihan Nasional PBSI di Cipayung, Jakarta Timur – kompleks atlet pebulutangkis terbaik negara berlatih sehari-hari – adalah situs yang bisa menyediakan suasana itu.

Akurat.co tiba di depan gedung dengan arsitektur umum seperti kebanyakan gedung kantor pemerintah, hall dengan 21 lapangan dalam tujuh deret dan beratap seng, dan sebuah tiang bendera di sebuah halaman – yang mengingatkan saya pada lapangan upacara bendera – pada Kamis (21/3) siang yang mendung.

Hari itu kami mendapat kesempatan untuk mewawancarai juara All England 2019, Hendra Setiawan (HS)/Mohammad Ahsan (MA). Dan ketika kami masuk ke dalam hall, Hendra/Ahsan sedang duduk di lantai lapangan sambil menjawab pertanyaan media lain yang mendapat giliran lebih dulu dari kami.

baca juga:

Sekitar setengah jam kemudian, Ahsan meninggalkan Hendra dan saya menyalaminya. Ahsan mengatakan, “sebentar ya, saya mau mandi dan shalat dulu.”

Wawancara itu mengambil jeda dan dilanjutkan setelah Ahsan kembali. Selepas itu, Hendra berbicara dengan beberapa pengunjung dan Ahsan kembali ke ruangan yang terletak di sebelah belakang hall.

Setelah tim menyiapkan kamera, Hendra/Ahsan datang untuk duduk di atas sebuah bangku kayu yang kami pindahkan dari tepi lapangan ke dalam lapangan. Dalam pembicaraan sekitar setengah jam tersebut, kami berbicara tentang kebangkitan Hendra/Ahsan, persaingan dengan China, pandangan mereka terhadap media sosial, serta beberapa hal pribadi seperti makanan kesukaan.

Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan saat diwawancara Akurat.co di Pelatnas PBSI, Cipayung, Jakarta, Kamis (21/3). AKURAT.CO/Abdul Aziz Prastowo.

Sekali lagi, yang menarik bagi saya adalah, Hendra dan Ahsan adalah “sisi lain” Indonesia yang merupakan aset sebagaimana olahraga berfungsi dalam kehidupan: toleransi dan pluralitas.

Ahsan, 32 tahun, adalah seorang muslim taat yang lahir di Palembang, Sumatera Selatan, dan Hendra, 34 tahun, yang lahir di Pemalang, Jawa Tengah, adalah keturunan China yang memasang foto keluarganya dan pohon Natal di gambar profil akun Instagramnya.

Gelar All England terbaru The Daddies – julukan Hendra/Ahsan karena mereka kini adalah ayah – adalah simbol untuk menunjukkan apa yang disebut dengan cita-cita dalam perbedaan: harmoni. Salah satunya ditunjukkan ketika Ahsan yang lebih muda dari Hendra memanggil rekannya itu dengan sapaan “Koh” yang berasal dari kata “Kokoh” sebagai panggilan untuk kakak laki-laki dalam bahasa Hokkien.

Bekas juara dunia itu tampak seperti tipikal atlet yang kalem dan tak banyak bicara. Di bawah atap hall yang cukup gerah, wawancara sekitar setengah jam itu diwarnai dengan suara derau hujan yang terdengar seperti suara pesawat beberapa saat.

Juga, beberapa atlet tunggal putra Indonesia, sebut saja nama seperti Anthony Sinisuka Ginting dan Firman Abdul Kholik bermain dua lawan satu menghadapi Jonatan Christie.

Berikut petikannya:

Apakah Anda datang ke All England tahun ini sebagai bekas juara yang merasa sebagai underdog?

HS: Kita memang enggak diunggulin ya, maksudnya kan, memang kalau dilihat secara usia, ya, saya udah 30 ke atas lah. Cuma kan kita datang ke sana juga punya rasa pengen menang juga kan ya. Jadi, saya rasa, walaupun enggak diunggulin tapi kita mau kasih yang terbaik di sana.

MA: Pastinya ada rasa seperti itu ya. Enggak menyangka juga. Tapi, kita sebenarnya punya optimisme juga ya, semua orang dapat kans. Tapi memang lebih besar kansnya Kevin (Sanjaya Sukamuljo)/(Marcus Fernaldi) Gideon. Ya berjalannya waktu, tiap latihan kita fokus, dan kesempatan itu ada. Dan memang kita melihat ini kesempatan tapi enggak mau terlalu optimis juga, kita melihat untuk meyakinkan diri juga bahwa itu ada kesempatan untuk menjadi juara.

Dengan sejarah besar Indonesia di All England di mana Rudy Hartono hingga saat ini masih memegang rekor delapan gelar juara tunggal putra, apakah ada semacam beban sejarah ketika bertanding di turnamen itu sebagai pebulutangkis Indonesia?

HS: Kalau beban pasti semua pemain ada ya. Tapi, kalau saya lihat ganda putra Indonesia ini, istilahnya, bagus-bagus. Jadi, udah ada Kevin/Gideon sekarang ada Fajar/Rian, ada kita juga. Jadi ya, kita memang masih layak dapat gelar di All England. Walaupun enggak mudah.

MA: Semua pemain saya rasa punya cita-cita ya menjadi juara All England. Karena ini adalah gelar yang cukup prestisius ya. Beda ama pertandingan open-open yang lain. Rasanya kalau juara All England ada satu kebanggaan. Jadi, semua orang saya rasa datang ke sana pengen juara, pengen dapet title itu. Dan kita sendiri walaupun kita udah pernah (juara All England) lima tahun yang lalu, datang ke sana juga sebenernya pengen hasil yang maksimal. Kita juga enggak ekspektasi mau juara, terlalu jauh mikirin ke sana. Jadi kita mikir setiap babak dan alhamdulillah kita bisa mendapatkan itu.

Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan saat berlaga di All England 2019. PBSI.

Di generasi Anda, ada beberapa pemain yang punya endurance yang mengagumkan. Sebut saja Lin Dan, Lee Chong Wei, Liliyana Natsir, dan sekarang Anda dengan gelar All England. Apa yang bisa Anda jelaskan ke masyarakat umum dengan pencapaian ini?

HS: Kalau menurut saya, di Indonesia ini kan, umur segini memang sudah dianggap tua, gitu lho. Tapi kalau saya lihat di negara-negara lain, umur segini itu biasa, gitu lho. Jadi, yang penting itu sekarang, tinggal jaga kondisinya, terus latihannya juga enggak kendor lah, jadi tetap segitu aja. Jadi itu membantu kita buat, apa ya? Mainnya tetap konsisten.

Anda pernah berpisah ketika Hendra berpasangan dengan atlet Malaysia, Tan Boon Heong, pada 2017. Ketika dipasangkan kembali pada 2018, tentunya sudah tidak ada masalah soal chemistry?

MA: Enggak sih. Kita mungkin udah lama juga berpasangan ya, enggak berpasangan satu tahun dan berpasangan lagi ya, udah tahu lah satu sama lain. Mungkin dari kita berdua motivasinya masih sama, motivasinya masih kuat buat mau jadi juara. Walaupun memang enggak mudah dengan melihat persaingan sekarang. Tapi ya kita mencoba sebisa mungkin, itu ekspektasi kita juga enggak harus pengen juara pengen juara sih enggak, kita pengen yang terbaik. Ya akhirnya kita dikasih juara.

Tahun ini China meraih tiga gelar di All England, pada 2009 mereka meraih lima gelar. Tapi bulutangkis sekarang sudah menyebar ke Jepang, India, Spanyol, bahkan pasangan ganda putra Rusia pernah juara di All England. Dengan pengalaman lebih dari satu dekade di level elite, apakah Anda melihat All England tahun ini sebagai sinyal dominasi China?

HS: Sebenarnya sekarang sih udah merata semua ya. Kayak Jepang itu udah punya tunggal putra, ganda putri, semua itu udah hampir rata ya. Memang China kemarin dapat tiga gelar, ya memang China masih di atas, cuma mungkin dalam beberapa tahun ke depan, enggak akan mudah juga mendapat banyak gelar.

Apakah Indonesia bisa kembali dominan seperti di masa lalu?

MA: Kita harus optimis ya. Jadi kita enggak boleh pesimis, semua bisa terjadi, tergantung kan, sekarang kan kerja kerasnya seperti apa atletnya? Kemauannya seperti apa? Kalau atlet kerja keras dan kemauan keras pasti ada hasil. Enggak mungkin mengkhianati hasil. Dan saya rasa bisa, memang butuh proses. Enggak semua bisa jadi juara. Jepang bisa juara kayak gini kan, enggak langsung begini. Mereka beberapa puluh tahun yang lalu memulainya. Kita juga bisa seperti itu. Tapi ya ekspektasinya juga jangan, ya, kadang-kadang kan pencinta-pencinta juga jangan sekali datang mau juara tiga (gelar). Karena semua butuh proses, adik-adik kan masih muda semua. Butuh waktu, mau juara juga butuh waktu. Mereka juga Jepang itu kan enggak langsung juara, butuh beberapa puluh tahun.

Infografis Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan Juara Al. AKURAT.CO/Ryan.

BWF menyebut bahwa The Daddies mengalahkan Aaron Chia/Soh Wooi Yik dengan
permainan pengembalian servis dan permainan di depan net. Aaron Chia menyebut Hendra Setiawan sangat baik di depan net? Apakah Anda setuju?
 

HS: Mungkin pas lagi “pasaja sih waktu itu hahaha…

MA: Momennya lagi pas.

HS: Kadang kalo enggak pas, juga banyak miss juga saya.

Ketika Hendra menjadi juara Olimpiade bersama Markis Kido di Beijing 2018, ada yang mengatakan bahwa permainan Hendra/Markis berbeda dari kecenderungan ganda putra era sebelumnya melalui Ricky Subagja/Rexy Mainaky dan Sigit Budiarto/Chandra Wijaya. Permainan Anda disebut lebih efektif dan tidak terlalu mengandalkan smash, dan dengan rally point, pertandingan jadi lebih cepat selesai. Pendapat Anda?

HS: Mungkin karena sistem poinnya beda. Kalau zaman dulu kan 15 (poin), jadi banyak rally-rally panjang. Kalau sekarang sistem rally point ya memang harus sebisa mungkin cepat matinya. Jadi, cepat dapat poin juga. Kalau kita memang secepat mungkin mau matiin musuh. Kalo bisa matiin dari ngenet, ya kenapa enggak?

MA: Secepat mungkin lebih baik, jangan terlalu lama.

Itu memang selera gaya bermain atau keputusan taktikal?

HS: Tipe permainan kita ya memang seperti itu.

Hendra pernah bermain dengan Markis Kido meraih emas Olimpiade dan juara dunia, juga meraih gelar juara dunia bersama Ahsan. Bagi Hendra, apa perbedaan permainan Kido dan Ahsan?

HS: Ya pasti beda. Istilahnya, setiap orang kan beda-beda punya kelebihannya ya. Jadi, kalo Ahsan, memang, apa ya, power-nya gede. Kalo Kido, istilahnya, skill-nya bagus.

MA: Ya pasti beda lah ya. Dari segi pengalaman, jam terbang, dari permainan juga tipikalnya beda. Kalau saya ama Rian mungkin tipe-tipenya sama, lebih banyak penggebuk, sama Koh Hendra kadang bisa di depan, bisa di belakang juga.

Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan. AKURAT.CO/Abdul Aziz Prastowo.

 

Bagaimana ketika Anda pertama kali dipasangkan dengan Hendra yang saat itu sudah jadi bintang?

MA: Pasti ada rasa beban ya. Koh Hendra memang bintangnya sama Markis Kido kalau saya lihat, mereka udah juara olimpiade, juara dunia, Asian Games, dan segala macam. Kadang-kadang orang bisa gampang ngelupain, tapi saya kurang setuju seperti itu, sejarah enggak akan pernah lupa mencatatnya. Pastinya saya merasa, ada rasa beban, karena saya belum apa-apa, Koh Hendra sudah juara, tapi saya juga pengen buktiin, saya juga bisa, mungkin juga dari bimbingan Koh Hendra juga, dari pengalaman juga, jadi saya bisa terbantu terangkat lah gitu, jadi saya bisa mengeluarkan kemampuan terbaik saya.

Hendra bisa bangkit dan juara lagi setelah lebih dari sepuluh tahun sejak menjuarai Olimpiade Beijing 2018. Bagaimana rasanya kembali ke puncak?

HS: Ya, pasti seneng ya, masih bisa juara sejak sepuluh tahun lalu. Itu ya, enggak semua orang bisa begitu walaupun senior-senior saya juga banyak juga yang seperti itu Mas. Kayak Koh Chris(tian Hadinata), terus, siapa lagi, Chandra (Wijaya)/Tony (Gunawan), itu memang hebat-hebat semua.

Ketika Anda memulai bulutangkis di tahun 1990-an semasa masih kanak-kanak, bulutangkis Indonesia saat itu adalah rajanya dunia, bahkan mengatasi China. Apa yang Anda rasakan ketika masih anak-anak saat bertemu juara yang sebelumnya hanya bisa dilihat di televisi?

MA: Ya pastinya bangga juga ya, pengen seperti mereka. Tapi kan kalau dulu, channel tv kan enggak banyak, jadi kita bisa fokus (terhadap bulutangkis) buat olahraga. Kalau sekarang kan, nyiarinnya aja pada berat semua nih kayaknya, ya kita kan enggak tahu kan? Tapi alhamdulillah ada yang nyiarin kemarin All England. Tapi kan beda,  jadi (dulu) kita bisa fokus, pertandingan pasti ada di tivi ini, sekarang kan susah gitu kan, jadi mungkin orang sekarang lihat banyak channel. Apa lagi sekarang banyak, puluhan, jadi mungkin olahraga kadang-kadang terpinggirkan juga. Jadi memang dari situ kan muncul keinginan pengen seperti mereka, karena tv nyiarin terus, jadi kita punya sosok yang jadi panutan, jadi idola, apalagi mereka juara-juara terus, jadi saya pengen seperti mereka, pengen ngibarin bendera seperti mereka, memang ada pengaruhnya (bagi atlet).

Apa rasanya ketika ketemu idola di Pelatnas semasa masih junior?

HS: Ya, waktu masuk pertama kali ke PBSI ya, saya masih kecil ngelihat senior-senior saya latihan ya pasti, apa ya? Kagum lah. Kapan ya bisa latihan bareng?

Kalau sekarang Anda, misalnya, mengirim pesan Whatsapp ke Rexy Mainaky, dapat balasan?

HS: Dibales.

MA: Masih berhubungan semua kita. Kan Pak Rexy kan mantan Binpres (PBSI). Jadi kita memang dari dulu udah deket, walaupun dia di luar masih komunikasi.

Mengapa China bisa dominan?

MA: Saya rasa dukungan dari pemerintah berpengaruh juga ya. Saya lihat juga olahraga di China itu pemerintahnya total support. Di sini juga support, tapi mungkin di sana lebih besar, buat atlet memang prioritas. Terlihat seperti dari fasilitasnya, setiap daerah punya gedung yang bagus, kalau kita kan cuma tempat-tempat tertentu. Dan kebanyakan klub yang punya swasta kan. Kalau di sana kebanyakan kan punya pemerintah semua.

Mengapa Indonesia bisa punya tradisi atlet ganda putra yang berkualitas selama lebih dari dua dekade?

HS: Mungkin, pertama bibit-bibitnya, kualitasnya bagus-bagus ya. Terus juga kita latihannya bareng, sparring itu yang cepet naikin yang junior-junior ini.

MA: Terus kita juga punya pelatih-pelatih yang bagus-bagus juga. Semua bagus, tapi kan tergantung, bakat-bakatnya bagus-bagus semua, tapi Indonesianya bagus-bagus semua. Tinggal diolah ini.

Mengapa sektor lain tidak seperti ganda putra? Kalau ganda putra, penonton percaya diri bakal menang.

HS: Mungkin tanya ke pelatihnya (tertawa).

MA: Tanya ke mereka (pelatih) lebih tepat.

Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan. AKURAT.CO/Abdul Aziz Prastowo.

Mengapa The Minions – julukan Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuljo – dominan dalam dua tahun terakhir?

HS: Ya mereka bagus ya, punya speed, punya power, yang istilahnya, di atas pemain lain lah. Terus juga, kalau saya lihat dari negara-negara lain belum ada yang benar-benar bisa stabil ‘gitu. Kalo Minions emang stabil kan dari satu pertandingan ke pertandingan lain, kalau negara lain, kadang bagus di (turnamen) ini, berikutnya jelek.

MA: Ya mereka, saya rasa, ada yang spesial ya dari mereka ya. Selain power-nya bagus, pergerakan baik, membaca bolanya juga sangat baik, mereka postur enggak terlalu tinggi, tapi kalau udah di lapangan, serasa penuh lapangannya. Ketika kita pukul bola, sudah ada mereka, itu memang kelebihannya dia, selain memang punya skill yang tinggi juga.

Pelatih Pelatnas, Minarti Timur, pernah bilang bahwa atlet sekarang lebih enak karena hadiah turnamennya besar?

MA: Mbak Minartinya kecepetan lahir… (tertawa) Enggak bercanda.

Sebagai sesama orang Indonesia, terutama di generasi Anda masih anak-anak, kita tahu bahwa umumnya orang tua tidak mendorong anaknya menjadi atlet. Pendapat Anda?

HS: Ya memang harusnya, memang seperti ini. Jadi (kalau sekarang) banyak orang tua yang mau anaknya jadi atlet. Memang kalau dulu, istilahnya, hadiahnya kurang ya. Cuma sekarang hadiahnya jauh lebih baik. Dan saya pikir, beberapa tahun ke depan, (ketika) saya berhenti, (hadiahnya) pasti udah naik lagi.

MA: Pasti akan berkembang terus. Soalnya kan, semakin menarik, semakin maju, pasti sponsor banyak yang berminat.

Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan. AKURAT.CO/Ryan.

Apakah menjadi atlet saat ini adalah profesi yang menjanjikan secara ekonomi?

MA: Ya memang, tapi harus juara.

HS: Kalau sukses.

Apa target Anda untuk Piala Sudirman 2019 dan Olimpiade Tokyo 2020?

MA: Untuk Sudirman kita belum tahu seperti apa ya. Komposisi pemain belum ditentukan, jadi memang saya rasa kesempatan ada, butuh perjuangan ya. Tapi, tidak ada yang tidak mungkin. Mungkin buat olimpiade, target utama kita lolos dulu, jadi itu target utama kita. Udah lolos baru mikirin berikutnya, karena enggak mudah juga kan buat lolos. Dari internal kita juga bisa maksimal dua pasang, (minimal) peringkat delapan.

Anda saat ini ada peringkat empat dunia. Target ke depan?

HS: Saya sih pengennya bertahan di empat besar ya. Tapi, memang enggak mudah. Pokoknya kita fokus aja lah, satu-satu aja.

Pesan untuk orang tua yang anaknya punya bakat menjadi atlet?

MA: Mungkin, buat orang tua ya harus men-support anaknya ya, jangan tanggung-tanggung juga ya. Sekarang kan olahraga sudah bisa menjanjikan lah. Terus pemerintah juga udah mulai men-support, jangan ragu-ragu. Dan mungkin untuk anaknya harus totalitas, harus kerja keras.

Untuk anak-anak?

HS: Kerja keras, jangan gampang nyerah, kalau sudah kalah sekali, coba lagi, coba lagi.[]

Editor: Hervin Saputra

Sumber:

berita terkait

Image

Olahraga

Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan (2)

"Servis atau Smash?"

Image

Olahraga

All England 2019

Hendra: Keinginan Kami untuk Menang Masih Tinggi

Image

Olahraga

Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan

Wiranto Berharap Perjuangan Hendra/Ahsan Bisa Ditiru Para Junior

Image

Olahraga

Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan

Wiranto: Hendra/Ahsan Mengembalikan Supremasi Bulutangkis Dunia ke Indonesia

Image

Olahraga

Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan

Hendra/Ahsan: Terima Kasih Karena Pemerintah Sudah Mengapresiasi Para Atlet

Image

Olahraga

Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan

Hendra/Ahsan: Kami Belum Berencana Untuk Gantung Raket

Image

Olahraga

Hendra Setiawan/Mohamad Ahsan

Perwakilan Menpora: Terima Kasih untuk Hendra/Ahsan

Image

Olahraga

Hendra Setiawan/Mohamad Ahsan

Jelang Penyambutan Kepulangan Hendra/Ahsan, Situasi Bandara Masih Sepi

Image

Olahraga

All England 2019

Susy Susanti: Kemenangan Hendra/Ahsan Jadi Semangat Baru Ganda Putra

komentar

Image

0 komentar

terkini

Image
Olahraga
Manchester City 1-0 Tottenham Hotspur

Man City Kalahkan Tottenham, Guardiola: Ini Kemenangan Penting

"Kami kembali tampil dengan bersinar, usaha para pemain sangat luar biasa," kata Guardiola.

Image
Olahraga
Juventus 2-1 Fiorentina

Pavel Nedved Yakin Keberhasilan Juventus Sulit Ditiru

Juventus telah memastikan gelar scudetto delapan kali beruntun usai mengalahkan Fiorentina 2-1 di Allianz Stadion.

Image
Olahraga
Cristiano Ronaldo

Cristiano Ronaldo Bakal Tetap Memperkuat Juventus

Juventus telah memastikan gelar juara liga domestik usai membungkam Fiorentina dengan skor 2-1.

Image
Olahraga
Piala Fed 2019

Caroline Garcia Berhasil Menjaga Harapan Perancis

Caroline Garcia menang dalam pertarungan straight set 6-3, 6-3.

Image
Olahraga
Gerard Deulofeu

Dibuang Barcelona, Deulofeu Justru Moncer Bersama Tim Barunya

Bersama Watford, Deulofeu tercatat telah menyumbang sebelas gol dan enam assist.

Image
Olahraga
Monte Carlo Master 2019

Tersingkir di Monte Carlo, Nadal Gagal Samai Rekor Federer

Rafael Nadal yang merupakan unggulan kedua, harus menyerah dalam pertarungan straight set.

Image
Olahraga
Barcelona 2-1 Real Sociedad

Barcelona Makin Kokoh di Posisi Puncak Usai Tumbangkan Real Sociedad

Barcelona sempat kesulitan mencetak gol.

Image
Olahraga
Inter Milan 1-1 AS Roma

Ditahan Imbang Inter, Roma Gagal Menggeser Milan

Bertamu ke markas Inter, Roma hanya sanggup membawa pulang satu angka setelah bermain imbang 1-1 hingga laga usai.

Image
Olahraga
Barcelona 1-0 Real Sociedad

Babak I: Tampil Dominan, Barcelona Sempat Alami Kebuntuan

Barcelona harus menunggu hingga akhir babak petama untuk mencetak gol pertama mereka.

Image
Olahraga
Inter Milan 0-1 AS Roma

Babak I: El Shaarawy Bawa Roma Ungguli Inter Milan

Gol tunggal Stephan El Shaarawy dicetak di menit ke-14

trending topics

terpopuler

  1. Jika Sandiaga Jadi Wagub DKI Lagi, Pengamat: Dia Turun Kasta Dong

  2. Teddy: Satu Cara Mengalahkan Jokowi adalah Kudeta dengan Kerusuhan

  3. Dianggap Merusak Bahasa Indonesia, Atta Halilintar: Aku Nggak Maksa Orang Ngomong Itu

  4. Ketua KPU Bakal Evaluasi Keberadaan Karangan Bunga di Kantornya

  5. DPP PAN Tidak Hadiri Pelantikan Bima Arya Sebagai Wali Kota Bogor, Karena Beda Pilihan?

  6. Prosesi Semana Santa di NTT dipadati Ribuan Peziarah dan Wisatawan

  7. Paranormal Jelaskan Pertanyaan Benarkah KPU Curang?

  8. Pasang Bendera Bamusi, Harris Lee Didatangi FPI

  9. Kondisi Rumah Pendukung Jokowi di Tambora Paska Dilempari Tinja

  10. Yakin Gerindra Jadi Pemenang Pemilu, M Taufik Ingin Jadi Ketua DPRD DKI

fokus

Pemilu 2019
Revolusi Museum
Angkutan Tempoe Doeloe

kolom

Image
Aji Dedi Mulawarman

Jangan Percaya Prediksi

Image
Ujang Komarudin

Pilpres Kita

Image
Sunardi Panjaitan

Merawat Indonesia Kita

Image
Achmad Fachrudin

Merayakan Puncak Ritual Politik 2019

Wawancara

Image
Gaya Hidup

Fitness dan Jurus Sehat ala Augie Fantinus

Image
Video

VIDEO Jurus Sehat ala Augie Fantinus

Image
Hiburan

Seru Abis! Nongkrong Bareng Augie Fantinus

Sosok

Image
News

Pemilu 2019

Paranormal Jelaskan Pertanyaan Benarkah KPU Curang?

Image
News

5 Potret Ganteng Cakra Yudi, Politisi Muda yang Jarang Tersorot Media

Image
News

7 Potret Kemesraan Pengantin Baru Bupati Lampung Timur Chusnunia Chalim dan Suami