image
Login / Sign Up
Image

Hervin Saputra

Bisakah Kebenaran Mengalahkan Budaya Curiga dalam Kasus Jokdri?

Hervin Saputra

Pengaturan Pertandingan

Image

Pelaksana Tugas Ketua Umum PSSI, Joko Driyono, sedang menghadapi kasus dugaan perusakan dokumen yang berhubungan dengan pengaturan pertandingan. | ANTARA/Reno Esnir

AKURAT.CO, Akhir pekan ini ibarat buah simalakama untuk sepakbola Indonesia. Setidaknya jika kita mengingat kembali apa yang dikatakan oleh salah seorang pelatih terkemuka yang pernah membesut Tim Nasional: kita hidup dalam kultur kecurigaan.

Penetapan Pelaksana Tugas Ketua Umum PSSI Joko Driyono sebagai tersangka kasus perusakan dokumen yang diduga berhubungan dengan pengaturan pertandingan oleh Satgas Anti-Mafia Bola Polri telah membuat suasana pada Sabtu (17/2) pagi mendadak menjadi tegang.

Namun sebenarnya ketegangan itu bisa diprediksi. Hanya saja, posisi media membuat ketegangan yang sudah bisa diperkirakan itu memberikan kenyataan yang tetap saja “menegangkan.”

baca juga:

Kata kunci dalam kasus ini bukan saja posisi subyek isu seperti Joko Driyono, PSSI, pengaturan pertandingan, dan, tentu saja Satgas Anti-Mafia Bola Polri. Namun juga keberadaan media – media konvensional dan media sosial - dalam kultur kecurigaan yang hidup pada setiap kasus hukum yang berkaitan dengan para petinggi federasi.

Pemain senior berdarah Maluku yang pernah membela Tim Nasional Indonesia dalam periode 1991-2004, Rochy Putiray, mengatakan ia tidak terkejut ketika Satgas Anti-Mafia Bola menetapkan Jokdri – sapaan Joko Driyono – sebagai tersangka.

View this post on Instagram

Dua dasawarsa, enam ketua umum PSSI. Joko Driyono selalu ada. Kini Joko Driyono menjadi Plt Ketua Umum PSSI. Jokdri Bisa Apa? Saksikan episode Kamar Ganti | Jokdri Bisa Apa? di www.narasi.tv #KitaBisaApa #SepakBolaUrusanKita #MakanyaNgobrol #NarasiTV #NarasiChannel #NaraZ

A post shared by Narasi.TV (@narasi.tv) on

Rochy juga adalah orang yang mencuatkan isu bahwa gelar juara Liga 1 Indonesia 2018 Persija Jakarta merupakan gelar yang telah diatur. Bahasa gaul menyebut istilah ini dengan mencampurkan bahasa Inggris dan akhiran -an: setting-an.

Pernyataan itu dibantah oleh perwakilan paling berpengaruh dari dua tim yang bertarung memperebutkan gelar musim lalu, Bambang Pamungkas dari Persija dan Hamka Hamzah dari PSM Makassar. Baik Bambang atau Hamka tidak setuju dengan Rochy namun mereka tidak mengecam Rochy sebagai orang yang, katakanlah, menyebarkan “hoax”.

Namun, Anda sulit untuk membantah argumen pemain yang pernah bermain di Hong Kong itu tentang mengapa ia tidak terkejut dengan penangkapan Jokdri. Melalui situs dan akun Instagram www.narasi.tv yang diasuh oleh presenter Najwa Shihab, beginilah yang dikatakan oleh Rochy dalam tayangan bertajuk “Joko Driyono Bisa Apa?”

Jokdri? Gue sih enggak kaget. Akhirnya.. Dua dekade, enam Ketum PSSI, dari Azwar Anas, sampai Edy Rahmayadi, cuma ada satu Joko Driyono,” kata Rochy.

Rochy menjelaskan bahwa Joko terlibat dalam sepakbola sejak 1991 dan mulai dikenal pada 2003 sebagai Manajer Pelita Krakatau Steel oleh pemilik klub tersebut plus Wakil Ketua Umum PSSI, Nirwan Bakrie.

Dalam 16 tahun, Rochy menjelaskan perkembangan karir Jokdri hingga akhirnya menjabat sebagai Pelaksana Tugas Ketua Umum PSSI pasca pengunduran diri Edy Rahmayadi dalam Kongres Tahunan di Bali, 20 Januari lalu.

Namun, isu yang ingin ditunjukkan oleh Rochy adalah betapa Jokdri melakukan rangkap jabatan sebagaimana yang pernah dilakukan Nirwan Bakrie. Hingga detik ini, Jokdri juga diketahui sebagai pemilik Persija Jakarta.

Gue enggak kaget sih, waktu Edy mundur, dia lagi, dia lagi ada di situ. Dua dekade, enam ketum gonta-ganti, tetapi dia tetap di situ. Dua puluh tahun terakhir, di mana prestasi sepakbola Indonesia? Itu sudah,” kata Rochy.

Apakah Anda setuju dengan Rochy? Apakah dengan mengaitkan bahwa Jokdri tak pernah tersingkir dari PSSI selama bertahun-tahun tetapi posisi Timnas mandeg dan posisi rangkap jabatan yang dilakukannya membuat Rochy tidak berhak untuk menuduh bahwa gelar juara Persija di-setting?

Sejarah mengatakan, dalam sepakbola Indonesia Anda sebaiknya netral. Netral dalam arti bahwa Anda harus mencari kebenaran Anda sendiri dengan menyandarkan pada akal sehat dan kesadaran. Saya sendiri, melalui artikel ini, hanya berusaha memberikan netralitas yang berupa pandangan saya tentang apa yang saya anggap masuk akal.

Secara pribadi, saya tidak setuju dengan Rochy dalam urusan gelar Persija. Bagaimanapun, Persija layak menjadi juara dan pemain PSM sendiri mengakui keunggulan rival dari ibukota meski pada laga terakhir kontra PSMS Medan di Stadion Andi Mattalatta, Makassar, beberapa dari anggota skuat menyerang tribun karena ada suporter yang membakar suar.

Pawai Kemenangan Persija Jakarta di Jakarta, Desember silam. AKURAT.CO/Sopian.

Tetapi, bagaimana dengan rekam jejak Jokdri dan terungkapnya pengaturan pertandingan – secara formal – meski sebenarnya kita menganggap ini sebagai “sesuatu yang sudah kita ketahui namun kita tak pernah bisa mengungkapnya”?

Tanpa meragukan kelayakan gelar juara Persija, saya akan mengatakan reputasi Jokdri telah membuat tuduhan Rochy tentang pengaturan yang mengarahkan bahwa Persija menjadi juara tahun lalu, cukup masuk akal.

Tentu saja tidak selesai sampai di situ. Di saat bersamaan, PSSI melalui salah satu anggota Komite Eksekutifnya, Gusti Randa, menyebut bahwa penetapan tersangka Jokdri oleh Satgas Anti-Mafia Bola tidak ada hubungannya dengan pengaturan skor.

Saya menyarankan Anda untuk tidak hanya membaca pernyataan Gusti Randa namun Anda juga harus memperhatikan di mana Anda membacanya, atau siapa yang memuat pernyataan itu untuk kali pertama sehingga Anda bisa membacanya: situs resmi PSSI.

Dalam narasi ini, saya menawarkan Anda untuk melihat subyek isu sebagaimana yang saya lakukan sebelumnya pada pernyataan Rochy. Subyeknya adalah Jokdri, penetapan tersangka Jokdri, dan pengaturan skor.

“Jadi bukan terkait pengaturan skor. Dugaan yang disangkakan yakni, memasuki suatu tempat yang telah dipasang garis polisi (police line) oleh penugasan umum di Rasuna Office Park, Kuningan, Jakarta, beberapa waktu lalu,” kata Gusti Randa yang juga berprofesi sebagai pengacara dan pernah menjadi pemain sinetron itu.

Karena itu dimuat di situs resmi PSSI, bukan di media umum, maka pernyataan Gusti Randa itu bisa diartikan sebagai sikap PSSI sebagai organisasi. Jika dimuat di media umum, maka pernyataan itu bisa dimaknai sebagai pendapat pribadi Gusti Randa dalam posisinya sebagai anggota Komite Eksekutif PSSI.

Kesimpulannya adalah PSSI terkesan melakukan advokasi terhadap Jokdri. Layakkah PSSI meng-advokasi Jokdri? Atau, mungkinkah Gusti Randa menggunakan PSSI sebagai “organisasi” untuk membela Jokdri? Bagaimana jika Jokdri justru terbukti terlibat pengaturan skor? Apakah kita akan menganggap bahwa PSSI melakukan pembelaan untuk orang yang bersalah?

Seluruh spekulasi ini muncul karena pernyataan Gusti Randa tersebut dimuat di situs resmi PSSI. Aksi ini adalah pesan bahwa Gusti Randa ingin menunjukkan bahwa PSSI mencoba mempertahankan nama baik Jokdri dalam kapasitas mereka sebagai organisasi.

Media, ok. Persepsi muncul karena posisi media tempat pernyataan itu disampaikan.

Tetapi mari kita mengandaikan kultur kecurigaan yang barangkali telah menjelma sebagai kanker itu. Masih melalui laman PSSI, federasi memuat berita bahwa Komite Ad-Hoc Integritas PSSI yang dibentuk atas dasar hasil rekomendasi Kongres Tahunan di Bali meminta aparat menjaga asas praduga tak bersalah terhadap penindakan hukum semua pejabat federasi.

Juga, PSSI memuat kabar tentang kerjasama mereka dengan Polri untuk mengatasi pengaturan pertandingan. Judul beritanya adalah “PSSI dan Polri Memperkuat Sinergi.”

Posisi Satgas Anti-Mafia Bola

Ketimbang Divisi Humas Polri, akun Instagram Wakil Kepala Satgas Anti-Mafia Bola, Krishna Murti, dengan nama akun @khrisnamurti_bd91, tampaknya lebih aktif untuk menyebarkan informasi tentang kegiatan Satgas.

Sebagai contoh, pejabat polisi berpangkat brigadir jenderal itu memuat foto Joko Driyono dengan caption “Pasti kalian lagi nungguin saya update, trus cepet2an komen di IG saya.”

Foto itu dimuat sehari setelah Polda merilis laporan pemeriksaan Satgas atas dugaan perusakan dokumen dan menerobos garis polisi di bekas kantor PT Liga Indonesia di Jalan Rasuna Said, Kuningan, Jakarta, Minggu (10/2). Dalam rilis tersebut, polisi dengan tegas menyebut “Joko Driyono” sebagai pemberi perintah terhadap tindakan itu.

Pola yang dilakukan oleh Khrisna Murti melalui Instagramnya itu sebenarnya “mengarahkan” para pengikutnya atau siapapun yang melihat unggahan tersebut untuk memberikan “clue” bahwa Joko Driyono berada dalam pengawasan Satgas. Dengan kata lain, ia membangun dugaan bahwa tak lama lagi Jokdri akan diciduk.

Sepekan kemudian, dugaan itu menjadi kenyataan bahwa Satgas menyatakan Jokdri sebagai tersangka sekaligus meminta status cekal untuk yang bersangkutan kepada Imigrasi. Suka atau tidak suka, Khrisna Murti telah membangun opini tentang “status hukum” seseorang sebelum seseorang tersebut dinyatakan secara resmi sebagai “tersangka”.

Memang benar bahwa yang dilakukan Satgas adalah terobosan yang cukup signifikan. Namun, membangun opini sebelum ada keputusan resmi melalui akun pribadi pejabat yang bersangkutan, rasanya tidak bijak juga.

Anda harus ingat, Khrisna Murti punya 719 ribu pengikut di akun Instagramnya. Jika ia bukan Wakil Kepala Satgas Anti-Mafia Bola, mungkinkah ia mendapat pengikut sebanyak itu?

Hal lain yang harus Anda ingat adalah Khrisna tidak akan melakukan hal-hal yang seakan memberikan “clue” seperti itu kepada media konvensional. Sekali lagi, media sosial telah memberinya fasilitas untuk melakukan itu dan, cenderung disukai oleh beberapa akun suporter sepakbola Indonesia lainnya.

Karena sifatnya di media sosial, maka warganet bisa memberi respons langsung. Salah satunya adalah komentar warganet yang merasa adanya kecenderungan penyudutan Persija Jakarta ketika Khrishna Murti memuat foto salah satu pemain Mitra Kukar, Maurico Aparecido Maciel Leal, memprotes wasit Prasetyo Hadi dalam laga terakhir Liga 1 Indonesia 2018 di Stadion Gelora Bung Karno, Jakarta, Desember silam.

Khrisna membantah tudingan itu dengan menjawab dengan huruf kapital “YANG BILANG PERSIJA SIAPA..???”

Namun, dengan memuat foto wasit di sana dan menulis caption “Wasit… Milih jujur atau ngaku...?? Apa bedanya jujur dg ngaku..??” Khrisna sekali lagi telah memberikan clue, sebagaimana yang dilakukannya ketika memuat foto Joko Driyono, tentang wasit yang bisa jadi menjadi incaran berikut Satgas.

Persoalannya, warganet bisa melacak siapa wasit yang ada di foto tersebut: Prasetio Hadi. Tidakkah secara sengaja atau tidak sengaja Khrisna telah mendorong warganet untuk menunjuk bahwa wasit bernama Prasetio Hadi adalah incaran Satgas yang terlibat dalam pengaturan skor.

Ini bukan soal apakah Prasetio Hadi bersalah atau tidak. Tetapi, ini soal siapa yang memuat foto tersebut dan dalam konteks apa ia memuatnya. Sekali lagi, Khrisna Murti adalah Wakil Ketua Satgas Anti-Mafia Bola dan Prasetio Hadi adalah seorang wasit.

Suka atau tidak, Prasetio Hadi, sekalipun saya tidak menampik bahwa wasit ini bisa saja punya “masalah”, tidak selayaknya ditampilkan yang memungkinkan terbangunnya kecenderungan untuk menunjuk muka seseorang sebelum ada pernyataan resmi dari otoritas.

Saya akan menganggap ini sebagai fenomena baru melalui media sosial. Bagaimanapun, saya yakin cepat atau lambat Satgas akan menangkap oknum wasit. Siapa orangnya, Prasetio Hadi atau bukan, itu bukan lagi soal.

Politisasi Isu Melalui Media

Kenapa saya harus berpanjang lebar soal akun Khrisna Murti adalah karena saya menyadari bahwa efek media sosial memainkan peran dalam pembentukan opini publik di era ini. Satgas jelas butuh dukungan publik untuk membongkar kekusutan di sepakbola Indonesia.

Persoalannya, bisakah kita melihat Satgas sebagai “penegak hukum” yang dingin dan PSSI sebagai organisasi yang “berbeda” dengan orang-orang yang berkecimpung di dalamnya?

Pernyataan Gusti Randa mengatakan bahwa penangkapan Jokdri tidak berhubungan dengan pengaturan skor secara jelas menunjukkan perlawanan mereka terhadap Satgas. Karena hingga saat ini Satgas bertahan dengan argumen bahwa Jokdri diduga melakukan pengaturan skor.

Saya mencoba untuk tidak terhanyut dalam buaian yang membuat situasi seakan-akan ini adalah perang politik antara PSSI dan Satgas. Dan Satgas harus siap dengan persepsi ini karena kultur kecurigaan berikut bagaimana skandal sepakbola ditangani selamai ini telah membuat masyarakat ragu untuk memercayai pihak manapun.

Satgas Anti-Mafia Bola Polri saat menggeledah kediaman Joko Driyono di Jakarta, Jumat (15/2). POLDA METRO JAYA.

Tetapi, situasi tanpa pihak yang dipercaya adalah situasi yang berbahaya. Itu adalah situasi deadlock yang cenderung menyukai ketidaktuntasan dan konflik yang berkesinambungan.

Dan sebagian media tidak segan untuk membangun persepsi PSSI versus Satgas dengan memuat kutipan yang cenderung “memuji” Jokdri sebagai “aset sepakbola Indonesia”. Dalam konteks ini, perang telah menjadi perang pendapat publik di laman media.

Dan harus saya katakan di sini, dengan pengalaman meliput sepakbola Indonesia dalam beberapa tahun terakhir, Jokdri adalah orang yang cukup akrab dengan media.

Tabu memang untuk mengatakan ini, tetapi itu adalah kecenderungan umum di negara ini di mana elite memiliki kedekatan dengan jurnalis. Tabu untuk dikatakan tetapi kedekatan itu jelas punya pengaruh yang cukup signifikan terhadap bagaimana sikap jurnalis untuk menghadapi kasus Jokdri.

Di tahap ini, saya masih mempercayai Satgas. Inilah saatnya bagi Polri untuk menunjukkan skill dan moral compass mereka di tengah kultur kecurigaan yang akut.

Sepakbola dan Kualitas Demokrasi

Tanpa demokrasi, rasanya sulit untuk membasmi mafia sepakbola. Dan tanpa penegakan hukum yang kredibel, sulit untuk membangun demokrasi yang berkualitas.

Demokrasi pulalah yang mendorong Edy Rahmayadi meninggalkan jabatannya sebagai Ketua Umum PSSI setelah keriuhan hashtag #EdyOut. Jika kita bisa mendorong Edy turun dengan argumen rangkap jabatan mengapa kita tidak bisa melakukannya terhadap Jokdri yang juga rangkap jabatan?

Tugas berat Satgas saat ini tidak hanya menangkap orang-orang di dalam tubuh federasi yang diindikasikan terlibat pengaturan pertandingan. Namun, membangun dan mempertahankan kepercayaan publik terhadap posisi mereka sebagai institusi hukum yang kredibel melalui kasus ini. Bahwa Satgas bekerja tanpa bisa diintervensi oleh kepentingan politik yang sangat kental dalam sepakbola.

Selain itu, meyakinkan bahwa Jokdri terlibat dalam pengaturan skor sebenarnya adalah “revolusi” yang secara tidak sadar dilakukan dalam sepakbola Indonesia. Yakni, hukum akhirnya bisa menunjuk bahwa aktivitas mafia tersebut justru melibatkan orang-orang berada di barisan pucuk federasi.

Itulah sebabnya mereka disebut mafia. Dengan mengekspos bahwa pejabat tertinggi di federasi adalah bagian penting dari mafia itu sendiri, maka sekurang-kurangnya ada “cahaya kecil” dalam masa depan cerah yang diimpi-impikan untuk sepakbola Indonesia.[]

 

 

 

 

 

Editor: Hervin Saputra

Sumber:

berita terkait

Image

Olahraga

Pengaturan Pertandingan

Forum Supporter Indonesia Ingin Sepakbola Indonesia Segera Bersih

Image

Olahraga

Pengaturan Pertandingan

Diperiksa Empat Kali, Kenapa Joko Driyono Belum Ditahan?

Image

Olahraga

Pengaturan Pertandingan

Satgas Harus Usut Tuntas Dugaan Pengaturan Pertandingan di Piala Presiden

Image

Olahraga

Pengaturan Pertandingan

Argo: Jokdri Diperiksa 4 Jam karena Mau Menyambut Timnas U-22

Image

Olahraga

Pengaturan Pertandingan

Hari Ini Jokdri Diperiksa Hanya Empat Jam

Image

Olahraga

Pengaturan Pertandingan

Jokdri Jalani Pemeriksaan Ketiga di Polda Metro Jaya

Image

Olahraga

Pengaturan Pertandingan

Joko Driyono akan Kembali Jalani Pemeriksaan pada 27 Februari

Image

Olahraga

Pengaturan Pertandingan

Exco PSSI Hidayat Resmi Ditetapkan Jadi Tersangka Pengaturan Skor

Image

Olahraga

PSSI

Sesmenpora Sebut Pihaknya Hindari Keterlibatan di Kisruh PSSI

komentar

Image

0 komentar

terkini

Image
Olahraga
SEA Games 2019

Pelatih Vietnam U-23 Incar Medali Emas SEA Games 2019

Tahun lalu, Park Hang-seo membawa Vietnam U-23 melaju ke final Piala Asia U-23 sebelum takluk dari Uzbekistan.

Image
Olahraga
Piala FA 2018-2019

Tersingkir dari Piala FA, Solskjaer Minta Pemain Nikmati Jeda Internasional

"Bagi pemain yang pergi dengan tim nasional, pergi dan nikmatilah," ujar Solskjaer.

Image
Olahraga
Tim Nasional Indonesia U-23

Demi Egy dan Saddil, Indra Sjafri Coret Rivaldo dan Keraf

Padahal, Egy dan Saddil baru bergabung dengan Timnas U-23.

Image
Olahraga
Indian Wells 2019

Juarai Indian Wells, Andreescu Mengaku Terinspirasi Osaka

"Adalah inspirasi melihatnya (Osaka) mengklaim trofinya di sini tahun lalu," kata Bianca Andreescu.

Image
Olahraga
Paris Saint-Germain 3-1 Olympique Marseille

Andai Balotelli Jebol Gawang PSG, Dia Bakal Lakukan Ini

Namun niatnya tak terlaksana

Image
Olahraga
Manchester United

Matic Optimistis MU Bisa Finis di Empat Besar

"Saya ingin Ole dipermanenkan," kata Matic

Image
Olahraga
Barcelona

Pique: Saya Tak Mau Terlalu Semangat Soal Treble Winner

"Liga Champions selalu menyulitkan kami di perempat final."

Image
Olahraga
AC Milan 2-3 Inter Milan

Kalahkan Milan, Inter Perlihatkan Karakter Aslinya

Dalam laga ini Vecino jadi penyumbang satu gol Inter dalam kemenangan 3-2 atas AC Milan.

Image
Olahraga
F1 Australia 2019

Leclerc akan Menyulitkan Vettel hingga Akhir Musim

Performa Leclerc mendapatkan pujian dari Vettel.

Image
Olahraga
AFC

Mantan Kapten Timnas Australia Kecam Dukungan Federasinya terhadap Al Khalifa

Selain Australia, sebelas negara Asia Tenggara dikabarkan mendukung pencalonan Salman Bin Ibrahim Al Khalifa sebagai Presiden AFC.

trending topics

terpopuler

  1. Pengamat: Ma’ruf Amin Diluar Dugaan Mampu Imbangi Sandiaga

  2. Lionel Messi Pertontonkan Magis di Laga Kontra Real Betis

  3. Nobar Debat Cawapres, Emak-emak: yang Disampaikan Sandi Aspirasi Masyarakat dari 1500 Titik Kunjungan

  4. Hat-trick James Rodriguez Sempurnakan Pesta Gol Bayern Muenchen

  5. Harga Sembako Dijadikan Alat Kampanye, Pedagang Pasar Tentukan Pilihan Ke Jokowi-Ma'ruf

  6. Empat Fakta Penyataan Sandi yang Disorot Publik

  7. TKN Nilai Pernyataan Ma'ruf Soal Stunting Buat Sandiaga Tak Kuasai Masalah

  8. BPN: Sandiaga Tampil Dengan Pernyataan Genuine Ciri Khasnya

  9. Anies Luncurkan Aplikasi Jakarta Aman, Pengamat: Mubazir, Lebih Baik Kembangkan Qlue

  10. Brighton Tantang Manchester City Usai Menang Adu Penalti

fokus

Kisah Juru Pijat Tunanetra
Teror Masjid Selandia Baru
Di Balik Pakaian Bekas Impor

kolom

Image
Pangi Syarwi Chaniago

Debat Cawapres: Perang Kartu Sakti

Image
Ujang Komarudin

Menanti Kejutan di Debat Ketiga

Image
Hendra Mujiraharja

Perez Memalingkan Muka dari Mourinho untuk Zidane

Image
Hervin Saputra

Seberapa Kuat "Tradisi Indonesia" di All England?

Wawancara

Image
Iptek

Sepeda Listrik Jadi Polemik, Migo Beri Jawaban!

Image
Gaya Hidup

Chief Company Barbershop

Jatuh Bangun Chief Barbershop di Tangan Fatsi Anzani dan Oky Andries

Image
Hiburan

Dik Doang: Aku Sedang Berjalan di Kesunyian

Sosok

Image
News

10 Fakta Alfito Deannova, Presenter Berita yang Mencuri Perhatian di Debat Cawapres

Image
News

Jadi Caleg DPR RI, Begini 10 Potret Keseruan Choky Sitohang Blusukan

Image
News

Terpaut Usia 31 Tahun dari Suami, 5 Fakta Wury Estu Handayani Istri Ma'ruf Amin