image
Login / Sign Up
Image

Hervin Saputra

Penulis adalah redaktur kanal Olahraga Akurat.co.

Al Araibi: Olahraga, Politik, atau Hak Asasi Manusia?

Hervin Saputra

Hakeem Al Araibi

Image

Pesepakbola asal Bahrain, Hakeem Al Araibi, saat diwawancarai media setibanya di Melbourne, Australia, Selasa (12/2). | REUTERS

AKURAT.CO, November silam, karena kebiasaan sehari-hari menjelajah ke situs-situs asing untuk memenuhi pola konsumsi publik Indonesia terhadap berita olahraga, saya menemukan berita tentang penangkapan mantan pemain Tim Nasional Bahrain, Hakeem Al Araibi, oleh otoritas Thailand. Beberapa kanal olahraga situs asing yang saya kunjungi, memberitakan kabar ini.

Karena kebiasaan sehari-hari pula, maka saya menganggap bahwa berita ini adalah berita olahraga dan saya bisa menyadurnya untuk ditempatkan di kanal olahraga ini. Hingga Al Araibi dibebaskan setelah 70 hari mendekam di penjara Bangkok, Thailand, Senin (11/2), kami masih memuatnya di kanal olahraga.

Beberapa jam lalu, saya memeriksa sejumlah portal-portal berita terkemuka di Indonesia dan mencari berita terbaru Al Araibi di kanal olahraganya. Hasilnya nihil.

baca juga:

Tetapi, karena saya menyadari besarnya magnitude kasus ini sebab saya mengikutinya sejak awal, maka saya beralih ke kanal berita internasional. Dan benarlah, semua portal-portal besar Indonesia itu memuat berita tentang pembebasan Al Araibi. Tetapi tidak di kanal olahraga.

Pertanyaannya, berita Al Araibi adalah soal olahraga atau soal yang lebih umum?

Situs berita terkemuka Inggris, The Guardian, memberikan fenomena yang unik untuk menjawab pertanyaan ini. Mereka memasukkan berita tentang Al Araibi ke kanal "news" dengan sub isu "imigrasi" namun juga menempatkannya di kanal olahraga.

Hasilnya? Berita terakhir tentang penyambutan Al Araibi di Australia menjadi berita yang berada di baris teratas sepuluh berita yang paling banyak dibaca untuk kanal olahraga. Dan, menjadi berita barisan kesepuluh yang paling banyak dibaca di The Guardian secara keseluruhan.

Ilustrasi ini saya gunakan untuk melihat betapa persoalan Al Araibi yang mengakibatkan ketegangan diplomatik antara Thailand, Bahrain, dan Australia itu tidak mendapatkan perhatian dari "jurnalisme olahraga" di Indonesia dan justru hanya menjadi "satu" dari berita di kanal internasional.

Secara pribadi, saya menganggap kasus Araibi sebagai kasus yang sangat dekat karena apa yang dihadapi oleh sang pesepakbola saat ini adalah situasi yang pernah terjadi pada beberapa warga Indonesia di masa Orde Baru. Tetapi, di Indonesia Al Araibi seakan bukan kabar besar.

Dalam situasi itu, barangkali ini hanya perasaan personal bahwa bagi saya kasus Al Araibi adalah kasus yang besar dan justru selayaknya mendapat perhatian bagi konsumen media di Indonesia yang negaranya hingga saat ini masih punya persoalan tentang hak asasi manusia.

Bagi saya, Al Araibi adalah kemenangan yang "jarang". Sebagaimana juga mungkin bagi banyak orang yang terlibat mengikuti kasus ini, sebelum dibebaskan posisi Al Araibi sangatlah rentan. Tak ada jaminan yang bisa memastikan bahwa ia tidak akan dipulangkan ke Bahrain. Dan ketiadaan jaminan itu membuat ketakutan yang dialami oleh Al Araibi telah menjalar ke dalam jiwa publik.

Jurnalisme dan Media Sosial

Karena saya orang Indonesia yang kebetulan pernah mendengar atau bahkan berbicara dengan korban-korban hak asasi manusia di masa lalu, pengalaman itu membuat saya bisa memahami apa yang bergejolak secara psikis dalam diri Al Araibi selama 70 hari di dalam tahanan Thailand.

Dan Australia, entah bagaimana, mendukung pembebasan Al Araibi seakan-akan pemuda berusia 25 tahun yang melarikan diri ke negeri mereka pada 2014 - dan mendapat suaka pada 2017 - adalah warga negara mereka sendiri.

Australia? Sepertinya kasus ini melebihi Australia itu sendiri karena tiga negara yang terlibat termasuk Australia adalah negara yang menempatkan olahraga sebagai sesuatu yang penting.

Dan Al Araibi adalah seorang atlet, pesepakbola yang pernah bermain di kompetisi kasta tertinggi Bahrain, masuk dalam Tim Nasional Bahrain untuk olimpiade, dan kini menjalani karirnya sebagai defender tim semi-profesional yang berbasis di Victoria, Australia, Pascoe Vale FC.

Apa yang terjadi jika Al Araibi bukan atlet?

Salah seorang eksil Bahrain yang tinggal di London, Inggris, Sayed Alwadaei, menyebut saat ini masih ada 4.000 tahanan di negaranya karena aktivitas mereka melawan otoritas yang dipuncaki pada gelombang Arab Spring 2011.

Dengan melihat jumlah 4.000 tahanan sementara untuk membebaskan Al Araibi harus dilakukan dengan kerja keras, maka pada posisi ini olahraga telah memenangkan filosofinya sebagai alat untuk menjalin kebebasan dan kesetaraan serta kemakmuran.

Hakeem Al Araibi saat dibawa keluar dari ruang pengadilan di Bangkok, Thailand, 4 Februari silam. REUTERS/Athit Perawongmetha.

Namun, perkembangan media juga membantu olahraga untuk menunjukkan kekuatannya dalam urusan politik dan juga hak asasi manusia. Kasus Al Araibi membuktikan bahwa media konvensional dan media sosial bisa bekerja sama untuk tujuan yang memiliki alasan kuat untuk dimenangkan.

Ketika Bahrain mengirimkan permintaan untuk sidang ekstradisi kepada Thailand, maka pada titik itulah kasus ini tidak lagi menjadi sekadar urusan olahraga. Dan citra yang ditampilkan oleh media ketika Al Araibi digiring ke pengadilan di Bangkok pada Senin (4/2) telah memberikan tekanan tidak saja secara politis namun juga kejiwaan publik.

Ketika Al Araibi ditahan saat memasuki Bangkok dalam perjalanan bulan madu bersama istrinya, 27 November silam, ia tampak bugar dengan mata tenangnya yang menyiratkan campuran perlawanan dan ketakutan.

Pada 4 Januari, dunia dikejutkan dengan cara Thailand memperlakukan Al Araibi dengan membawanya ke pengadilan dengan citra yang mengganggu. Al Araibi turun dari mobil tahanan dengan pakaian tahanan berwarna merah pudar dan celana pendek selutut dan, yang paling mengguncang, borgol rantai yang mengikat kedua kaki telanjangnya.

Dan yang paling dramatis adalah wajah Al Araibi yang tampak menua 10-15 tahun ketimbang ketika kali pertama ia ditahan. Brewok dan kumis yang dicukur serta garis tulang pipi yang semakin menonjol. Pengalaman lebih dari dua bulan di penjara telah membuat ketakutan menggunakan wajah Al Araibi untuk menyentuh orang-orang yang melihat gambar tersebut.

Media Thailand sendiri mengaburkan gambar rantai seiring dengan kritik warga negara mereka terhadap prosedur tersebut. Fenomena ini sulit terjadi di masa pra-media sosial ketika kritik dan kekesalan publik tidak bisa dikapitalisasi sebagai kekuatan sebelum disalurkan oleh media konvensional.

Namun, fasilitas media sosial telah membuat warga Thailand serta warga dunia bisa menyatukan kekuatan mereka dengan menggunakan hashtag #savehakeem sehingga otoritas tidak perlu menunggu media konvensional untuk melihat apa yang dirasakan publiknya.

Di sisi lain, media internasional benar-benar mengulurkan tangannya untuk membawa kegelisahan yang terwujud di media sosial. Kombinasi ini membuat Thailand akhirnya membebaskan Al Araibi setelah Bahrain tanpa alasan menarik permintaan ekstradisi.

"Sekarang, Mr Hakeem adalah orang bebas," ucap Direktur Jenderal Bagian urusan Internasional Jaksa Agung Thailand, Chatchom Akapin.

Konsekuensi Uang dan Politik dalam Olahraga

Anda sudah tidak bisa lagi membicarakan olahraga sebatas olahraga dalam kasus Al Araibi. Perkembangan olahraga sejak Olimpiade pertama di Athena pada 1896 dan Piala Dunia pertama di Uruguay pada 1930 telah membawa patahan fase baru melalui kasus Al Araibi.

Pertama, tiga negara yang terlibat dalam kasus ini, adalah negara yang menganggap olahraga sebagai bagian penting diplomasi dan citra negara. Dan dunia olahraga memberikan kepercayaan kepada mereka untuk menjadi arena event internasional yang bergengsi.

Bahrain adalah salah satu tuan rumah Grand Prix Formula One (F1) sejak 2004, Thailand adalah tuan rumah MotoGP sejak tahun lalu, dan Australia, selain punya perhelatan Grand Prix MotoGP dan F1, mereka adalah pemilik satu dari turnamen tenis terkemuka, Grand Slam.

Salah satu pendukung Al Araibi yang paling vokal, yakni mantan Kapten Tim Nasional Australia plus mantan pemain Crystal Palace, Craig Foster, menganggap penahanan Al Araibi adalah konsekuensi dari gerakan melampaui batas yang dilakukan politik serta uang dalam olahraga.

Lembaga pemantau hak asasi manusia menyebut bahwa Al Araibi adalah pengkritik yang vokal terhadap pencalonan salah satu anggota keluarga Kerajaan Bahrain, Sheikh Salman Al Khalifa, sebagai Ketua FIFA pada 2015.

Sheikh Salman Bin Ebrahim Al Khalifa. THE GUARDIAN/Hasan Jamali.

Al Araibi menganggap Al Khalifa bertanggung jawab atas penahanan dan penyiksaan yang dialami sejumlah atlet dalam gelombang Arab Spring pada 2011. Saat itu, Al Khalifa menjabat Ketua Federasi Sepakbola Bahrain.

Dan Foster berpendapat - sebagaimana juga opini publik - bahwa penahanan dan upaya mengekstradisi Al Araibi adalah bentuk balas dendam yang dilakukan Al Khalifa. Dan saat ini, Al Khalifa adalah Ketua AFC (Federasi Sepakbola Asia) yang mengalungkan medali kepada pemain Tim Nasional Qatar dan Jepang usai final Piala Asia 2019 di Uni Emirat Arab, Januari silam.

Bagaimana bisa pejabat negara otoritas yang bermasalah dengan hak asasi manusia bisa menjadi Ketua AFC dan bahkan mencalonkan diri sebagai Presiden FIFA?

Uang adalah hal yang paling mencolok dalam kasus Al Araibi. Bahrain bukanlah Suriah atau Sudan. Mereka adalah salah satu dari 25 negara terkaya di dunia dengan jumlah populasi sekitar 1,45 juta (2016) dan GNI perkapita sebesar 42,930 Dollar AS atau sekitar Rp610.770 (bandingkan dengan GNI perkapita Indonesia sebesar 3,540 Dollar AS atau sekitar Rp50,363).

Itu sebabnya mereka mampu menggelar balapan F1 sejak 2004. Dan, kekuatan ekonomi yang bisa mereka jatuhkan kepada proyek dan bisnis olahraga telah pula membuka jalan bagi orang-orang dari negeri gurun kaya minyak, seperti El Khalifa, demi mendapatkan jalan sebagai orang yang layak untuk bisa menjadi petinggi di lembaga olahraga dunia.

Konsekuensi itu kian terlihat ketika AFC sendiri tak bergerak untuk membela Al Araibi alih-alih menyebut bahwa Al Khalifa telah menarik diri dalam urusan Al Araibi agar tak terpengaruh dengan politik kepentingan.

Argumen ini menjadi aneh justru ketika organisasi sepakbola tertinggi dunia, FIFA, adalah salah satu lembaga yang turut menekan Thailand untuk membebaskan Al Araibi. Dengan mengatakan bahwa Al Khalifa tak terlibat dalam penahanan Al Araibi, maka sebenarnya ia memainkan politik kepentingannya ketika AFC justru seakan-akan tak mau ambil bagian dalam usaha membebaskan Al Araibi.

Mengapa ini bisa terjadi?

Foster menyebut bahwa "uang dan politik telah meresap secara perlahan ke dalam sepakbola global, menyebar seperti virus hingga, suatu hari, ia membelokkan otoritas dan mengubah fondasi permainan dan sebuah dunia."

"Dan kini waktunya bagi olahraga untuk membayar harganya," tulis Foster.[]

Editor: Hervin Saputra

berita terkait

Image

Olahraga

AFC

Mantan Kapten Timnas Australia Kecam Dukungan Federasinya terhadap Al Khalifa

Image

Olahraga

Hakeem Al Araibi

Al Araibi Resmi Jadi Warga Negara Australia

Image

Olahraga

Hakeem Al Araibi

Al Araibi: Saya Ditahan karena Mengkritik Presiden AFC

Image

Olahraga

Hakeem Al Araibi

Al-Araibi: Australia adalah Negara Saya

Image

Olahraga

Hakeem Al Araibi

Pengadilan Thailand Setuju Bebaskan Al Araibi Hari Ini

Image

Olahraga

Hakeem Al Araibi

Pemerintah Thailand Justru Salahkan Australia dalam Kasus Araibi

Image

Olahraga

Hakeem Al Araibi

Desak Pembebasan Al Araibi, Timnas Australia Batal Latihan di Bangkok

Image

Olahraga

Hakeem Al Araibi

Bebaskan Al Araibi, Australia Siapkan Jaminan Sepuluh Ribu Dollar

Image

Olahraga

Hakeem Al Araibi

Australia Minta Pemerintah Thailand Gunakan Hak untuk Bebaskan Al Araibi

komentar

Image

0 komentar

terkini

Image
Olahraga
David Silva

Awalnya, Guardiola Pesimis David Silva Bisa Sukses di Liga Inggris

Di usianya yang telah menginjak 33 tahun, Silva masih menjadi andalan Guardila saat Manchester City melakoni laga-laga krusial.

Image
Olahraga
Liverpool vs Arsenal

Firmino, Mane, dan Salah Jadi Tumpuan untuk Jungkalkan Arsenal

Sejauh ini Liverpool dan Arsenal sama-sama mengantongi enam poin dari kemenangan di dua laga awal.

Image
Olahraga
Liverpool vs Arsenal

Jelang Hadapi Arsenal, Klopp Ungkap Kelemahan Aubameyang

Klopp beberkan satu-satuya kelemahan yang dimiliki Aubameyang.

Image
Olahraga
Norwich City vs Chelsea

Preview: Chelsea Bidik Kemenangan Perdana di Markas Norwich

Frank Lampard punya peluang untuk menang karena bisa menurunkan Callum Hudson-Odoi yang di dua laga sebelumnya mengalami cedera.

Image
Olahraga
Manchester United vs Crystal Palace

Preview: Kesempatan Setan Merah untuk Kembali Petik Hasil Sempurna

Solskjaer memastikan kalau di laga nanti anak asuhnya akan tampil menyerang guna memastikan keunggulan sejak menit awal.

Image
Olahraga
Parma vs Juventus

Preview: Juventus Bidik Poin Penuh Di Laga Pembuka Kontra Parma

Kemenangan di laga tandang perdana ini akan dijadikan Juventus sebagai modal awal untuk mengincar Scudetto ke sembilan.

Image
Olahraga
Liverpool

Van Dijk: Ketika Pensiun, Saya Enggan Jadi Pengamat

"Saya tidak ingin menjadi pengamat, Anda harus terus berbicara tentang suatu hal, meski tidak ingin melakukannya," kata Virgil Van Dijk

Image
Olahraga
Persib Bandung

Malisic: Tak Mudah Bermain Setelah Tahu Tersingkir

Bojan Malisic dipastikan berpisah dengan Persib Bandung di putaran kedua Liga 1 Indonesia 2019 namun tetap bermain di putaran pertama.

Image
Olahraga
Liverpool v Arsenal

Preview: Liverpool dan Arsenal Saling Berburu Tiga Angka

Liverpool dan Arsenal memulai dua pekan pertama Liga Inggris dengan kemenangan atas lawan-lawan mereka.

Image
Olahraga
Manchester City

FA Tolak Permintaan Medali Tambahan Man City

FA hanya memberikan medali Liga Primer Inggris untuk pemain yang bermain minimal lima laga.

trending topics

banner jamkrindo

terpopuler

  1. Dianggap Genit, Tsamara: Saya Tak Bisa Bayangkan Bagaimana Beliau Bisa Awasi Kebijakan Eksekutif

  2. Sandi Sebut Wajar Papua Marah Karena Kemiskinan, Yunarto: Ini Menghina Orang Miskin!

  3. Jika Ada Orang yang Tidak Ditawari Jadi Menteri, Tapi Menolak, Namanya Geer

  4. Kisah Jenni Lee, Mantan Bintang Porno Ternama yang Kini jadi Gelandangan

  5. Ruhut: Gimana Sih Kok Masih Ada yang Nggak Ngerti dengan Perhatian Pak Jokowi untuk Papua?

  6. Anggota Separatis Bersenjata Pimpinan Egianus Kogoya Tewas

  7. KPK Periksa Deddy Mizwar Terkait Suap Meikarta

  8. Anak Satu Kamar Hotel dengan Ayah dan Ibu, Kena Biaya Tambahankah?

  9. 5 Momen Hangat Stefano Lilipaly dengan Buah Hatinya, Hot Papa

  10. Kini Berhijab, 10 Potret Elma Theana yang Makin Hits di Usia 44 Tahun

fokus

Hari Fotografi Sedunia
Nikah Cepat
HUT Ke-74 RI

kolom

Image
Andre Purwanto

Budget Rp30 Juta, Honda PCX atau Yamaha Nmax?

Image
Ujang Komarudin

Dirgahayu RI ke 74 dari Oligarkis ke Demokratis

Image
Ahmad Irawan

Joko Widodo dan Keutamaan Partai Politik

Image
Dr. H. M. Syarif, MA

Kesan Haji Tamu Raja 2019

Wawancara

Image
Video

Hari Fotografi Sedunia

VIDEO Peksi Cahyo, Perekam Visual Olahraga

Image
Ekonomi

Eksklusif Destry Damayanti: Kita Harus Optimalkan Perekonomian Domestik

Image
Video

VIDEO Jurus Optimalkan Perekonomian Domestik ala Destry Damayanti

Sosok

Image
News

Jadi Sorotan karena Bela UAS, 5 Fakta Sosok Ustaz Yahya Waloni

Image
News

Dapat Gelar ‘Mama Papua’, 5 Fakta Sepak Terjang Karier Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini

Image
News

5 Kontroversi Aceng Fikri, Mantan Bupati Garut yang Kena Razia Satpol PP