image vape
Login / Sign Up

"Atlet Junior Harus Bisa Mengalahkan Senior"

Dian Eko Prasetio

Eko Yuli Irawan (2)

Image

Atlet angkat besi Eko Yuli Irawan berpose seusai latihan di mess Kwini Marinir, Jakarta, Senin (3/12/2018). Eko menargetkan medali emas Olimpiade 2020 di nomor 61 kg yang akan berlangsung di Tokyo, China. | AKURAT.CO/Dharma Wijayanto

AKURAT.CO, Eko Yuli Irawan adalah salah satu kisah dongeng di negeri tropis bernama Indonesia. Berasal dari keluarga dengan ayah seorang penarik becak, Eko kini mencatatkan dirinya dalam sejarah sebagai juara dunia angkat besi.

Dalam wawancara dengan jurnalis Akurat.co, Dian Eko Prasetio, di Jakarta, Senin (3/12), lalu, peraih medali emas Asian Games Jakarta-Palembang 2018 itu berbicara tentang prospek ekonomi seorang atlet angkat besi, pergaulan antar lifter kelas dunia, dan aturan junior-senior yang dianggapnya tidak tepat di Indonesia. Berikut petikannya:

Dari informasi yang saya baca Anda datang dari keluarga kurang mampu. Sebenarnya apakah menjadi atlet profesional bisa mencukupi kebutuhan ekonomi?

baca juga:

Tergantung. Kan intinya balik lagi ke awal tadi. Tergantung pembinaan dari daerah. Atlet semua pasti ingin juara, yang ‘nuntun dia ini ada enggak? Yang bantu dia mencapai target ada enggak? Itu satu. Pendamping itu kan sekarang ada pembina, pelatih sama atletnya sendiri, punya enggak mereka satu tujuan yang sama?

Kalau memang atletnya punya motivasi jadi juara dunia, pelatih sama, pembinanya mampu enggak membiayai mereka ke level itu? Seperti nutrisi, makan, kalau mau mengantarkan atlet ini ke dunia. Cuma kalau daerah kan masuk pelatnas juga. Cuma kalau pelatnas selesai, dan PON (selesai) kan dia bisa balik ke daerahnya lagi. Kalau dia meraih emas di SEA games, Asian Games, kan juga pasti banyak yang pingin tahu dia atlet binaan daerah mana.

Beberapa atlet angkat besi dalam sesi latihan di Mess Kwini Marinir, Jakarta Pusat, Senin (3/12). AKURAT.CO/Dharma Wijayanto.

Karena tanpa pembinaan dari mereka, program yang bagus dari pelatih ini enggak akan terwujud. Saya pun enggak berjalan sendiri, pasti ada seseorang atau beberapa orang di balik itu semua.

Berarti sebenarnya profesi atlet sudah bisa membantu mencukupi kebutuhan ekonomi?

Tapi intinya harus juara. Nah, saat ini banyak temen-temen, adek-adek yang pingin ikut latihan. Yang masih jadi pertanyaan, pembinaan di daerah mereka bagus enggak? Kalau saya pikir pasti bisa (jadi atlet untuk mencukupi kebutuhan ekonomi). Tapi tuntutannya harus juara. Kalau yang setengah-setengah kan kasihan, sia-sia itu dia di tengah jalan, ‘ngambang, digantung mau kemana larinya? Siapa yang mau bantu mereka ‘gitu loh? Itu yang jadi masalah.

Anda kan kelasnya sudah dunia, nah, pergaulan lifter internasional itu seperti apa?

Kalau komunikasi, pasti saat event kan kita sering ketemu. Itu ada beberapa karena mungkin kita semua terhambat bahasa, kemungkinan ya. Makanya bukannya mereka sombong enggak mau negur atau ‘gimana, mungkin juga canggung mau ngomong, mau ‘makai bahasa apa. Paling sedikit beberapa yang tahu mereka akan negur. Karena kita setiap tahunnya kan pasti ketemu di event

Saat ini memang ada, seperti sering-sering upload video mereka masing-masing latihan segala macam. Tapi untuk men-japri-nya kan kita ‘mikir pakai bahasa apa. Terkadang mereka hanya bisa mengamati, oh ini bagus, paling nge-like.

Kalau di medsos, apakah Anda dengan lifter-lifter asing saling follow?

Jadi ‘gini, enggak semua. Gengsinya begini, mungkin karena mereka lebih jago dari kita, prestasi mereka lebih tinggi. Apalagi atlet China, kan banyak yang juara dunia.

Apakah begitu juga kalau dibandingkan dengan Anda? Anda kan juara dunia?

Iya sama. Karena kan enggak cuma satu kelas (pembanding), ada kelas yang lain juga. Ibaratnya mereka unggulan, ibaratnya mereka jadi panutan. Jadi enggak mungkin kan mereka yang follow kita duluan, dia mengharapkan kita yang follow dia. Tapi di sisi lain kita enggak gengsi juga.

Di arena pertandingan pun, apalagi atlet China, mereka enggak bisa bahasa Inggris juga, jadi jarang mereka mau ngobrol sama kita. Tapi beberapa teman atlet yang mungkin bisa bahasa Inggris mencoba dekat sama kita. Tapi beberapa saja, soalnya banyak yang silent sebelum bertanding. Mungkin karena buat jaga konsentrasi juga.

Anda adalah orang Indonesia ketiga yang menjadi juara dunia angkat besi setelah Patmawati Abdul Hamid dan Winarni Binti Slamet pada 1997. Apakah kini Indonesia telah dilihat sebagai salah satu kekuatan di level internasional?

Begini. Saat ini, mungkin dari saya naik jadi perhitungan, tapi hanya di kelas kita saja. Maksudnya tidak menyeluruh (tim indonesia). Sekarang Indonesia yang menjadi andalan saya, kemudian Triyatno, ada Deni, ada Sri Wahyuni. Apalagi Triyatno sama Deni belum medali, kalau yang Olimpiade 2012, Triyatno perak saya perunggu.

Otomatis dua orang ini jadi daftar yang harus diwaspadai bagi mereka. Tapi di kelas yang lain belum bisa bersaing, jadi negara yang lain pun enggak terlalu mempermasalahkan. Jadi kalau dengar nama Indonesia, terfokusnya sama nama kita berdua. Hanya di kelas itu saja. Kalau China kan hampir di semua nomor. Kita diperhitungkan, tapi hanya di nomor kita aja. Jadi enggak keseluruhan tim Indonesia, hanya beberapa nomor saja.

Bisa Anda ceritakan sedikit mengenai Akademi angkat besi yang ingin Anda bangun?

Kita kepingin membangun akademi. Balik lagi ke awal, di daerah ada enggak sih pembinaannya? Saat enggak ada (pembinaan) mereka (calon atlet) mati-matian pingin sukses, pingin benar-benar jadi juara, (tapi) enggak ada pembinaannya mau lari ke mana. Di sisi lain tempat latihan angkat besi ini satu provinsi hanya ada satu. Hanya di Jawa Barat mungkin ada beberapa, karena Porda-nya saja levelnya sudah seperti PON.

Di daerah lain enggak ada, hanya ada satu. Sekarang di Jakarta, di Ragunan (Jakarta Selatan). Kalau ada yang mau latihan dari Jakarta Timur, Barat, Pusat, harus lari ke Selatan? Apa makan waktu enggak kalau tiap hari latihan harus ke sana?

Nah ‘gimana caranya pemerintah daerah ini harus bisa lepas mantan-mantan atlet yang jadi pelatih-pelatih di situ. Daerah kan ada anggaran APBD-nya masing-masing, yang besar ayo dipecah lagi supaya banyak atlet-atlet yang kerekrut. 

Kenapa saya kepingin kayak gitu? Cari daerah yang mereka enggak bisa membina, atletnya punya potensi, mau lari ke mana mereka? Dia punya mental bagus, teknik bagus, tapi enggak ada yang bina, dari mana? Kalau kita punya akademi, kan bisa kita rekrut, ayo di sini. Jadi pintar-pintar kita nyari keliling Indonesia, daerah-daerah mana yang punya potensi tapi enggak dibina, kita ambil ke sini.

Di sisi lain kita tetap minta bantuan sama petinggi-petinggi di angkat besi yang tahu caranya, kita cari sponsorship buat makannya, buat nutrisinya, setidaknya mereka tertanggung makannya tiga kali sehari. Sekolah formalnya mereka juga sedang  dipikirkan. Bisa enggak sekolah formal mereka kerjasama?

Tapi kan memang, membuat tempat harus butuh tempat. Sekarang ini kan lahan mahal banget, kita masih terkendala di situ. Pelan-pelan, (dicari) bagaimana caranya. Apakah kerjasama dengan pihak mana supaya mereka bisa meminjamkan tanahnya atau bagaimana? Sekarang kalau membangun, mungkin kita sanggup membangun. Tapi yang jadi masalah kan lahannya ini yang mahal. Apalagi Jabodetabek lumayan mahalnya, itu yang masih jadi kendalanya. Angan-angan pingin punya sendiri supaya bisa rekrut dari daerah mana punya potensi tapi enggak direkrut, ayo.

Apakah kita harus kerjasama dengan Kemenpora? Ini buat timnas nih, sekarang kan ada Youth Olimpic, Youth Asian Games. Bisa enggak kita tampung di sini? Kerjasama dengan Kemenpora, mereka bisa ngasih anggaran. Nah, untuk anggaran itu kan enggak mungkin Kemenpora ‘ngasih tanah. Yang jadi masalah saat ini bagaimana kita bisa dapat tanah dulu. Yang penting ada lahannya dulu, kalau bangun tempatnya kita bisa patungan atau cari sponsor. Terserah namanya mau apa, mungkin yang support lebih banyak (untuk menentukan nama) enggak masalah. Beli peralatan mungkin pelan-pelan kita bisa, toh buat Indonesia juga bukan buat klub. Anggap aja kita bikin kayak SKO Ragunan, tapi kita berbeda. Atau mungkin buat pelatnasnya tim remaja.

Apa yang bisa membuat angkat besi bisa menjadi tontonan yang menarik buat masyarakat Indonesia?

Nah ini yang masih jadi PR. Karena agak susah, karena (kalau) kita mau jadi tontonan, mau ‘gimana kita mau nonton? Mau enggak mau kita saat ini manfaatin media sosial saat bertanding kita live di medsos. Biar teman-teman di medsos bisa nonton kita bertanding.

Sekarang kita mau manfaatin TV, TV mana yang mau nyiarin angkat besi? Beruntung Asian Games kemarin kita tuan rumah, semua cabang disorot, semua potensi emas akan disorot cabangnya, kalau enggak? Saat ini, setelah Asian Games ada? Selain olahraga bulutangkis dan sepakbola, ada yang disiarkan di TV? Karena kita enggak menjual, segi tiket boro-boro kita suruh beli tiket, nonton gratis aja belum tentu kok.

Mungkin kalau masalah penonton kita bisa informasi ke sekolah-sekolah, daerah tersebut yang jadi tuan rumah pertandingan. Umpama nasional, mungkin bisa arahkan Disporanya untuk meliburkan sekolah untuk ikut event ini biar ngeliat potensinya.

Karena kalau kita pakai TV, TV mana yang mau? Seperti bulutangkis, semua tahu, sponsor bakal masuk kalau itu disiarkan. Kalau angkat besi apa? Kita cuma bisa memberikan prestasi, kalau mereka nyari keuntungan dari itu kita enggak bisa menjual, olahraga kita bukan pro seperti mereka (bulutangkis) yang tiap minggu ada event. Kita kan setahun sekali dua kali lah (kejuaraan) untuk internasional, nasional ada satu kali.

Kita memanfaatkan baru memanfaatkan dari media sosial itu. Paling sebelum event internasional seperti kejuaraan dunia kemarin, sebelum bertanding kita live dulu. Persiapan kita kayak ‘gimana, kita posisi di sini mau bertanding, minta doanya. Nah, mereka menunggu-nunggu.

Nah, mereka coba untuk menonton yang penasaran, walaupun sedikit, setidaknya mulai ada yang mau tahu hasil kita. Besok-besoknya kalau ada event mereka menunggu-menunggu, kapan bertanding lagi, saat ini masih pelan-pelan. 

Berarti sekarang bukannya sama sekali tidak ada, tapi sudah ada progress-nya?

Sudah ada, walau sedikit lewat media sosial itu. Tapi sekarang yang jadi masalah temen-temen ini belum bisa ‘nembus ke medali internasional lagi. Yang masih jadi andalan kan saya, acuannya kan saya. Ibaratnya kayak SEA Games kemarin, Eko dapet perak, ‘gimana yang lain. Ternyata yang lain bisa, patokannya saya karena levelnya dunia, kalau dia (Eko Yuli) sampai kalah ‘gimana yang lain? Anggapannya masih yang kayak ‘gitu, nah itu jadi masalah mau enggak mau saya yang jadi contoh.

Kayak SEA Games sekarang, masa level Olimpiade main di SEA Games? Sekarang yang lama, pelapis saja yang turun di SEA Games, Pelatnas elite itu enggak perlu ikut kejurnas. Di China, juara dunia aja main Kejurnas kok. Justru kita ini bukan ‘gitu, yang senior suruh istirahat supaya junior bisa emas. Itu salah, masa iya mereka mau juara gara-gara yang senior enggak ikut?

Mereka harus juara harus ngalahin yang senior, tapi kalau mereka bisa ngalahin grade-nya udah ketahuan di level mana. PR-nya di Kemenpora bisa enggak mereka pelatnaskan yang remaja. Kalau mereka di pelatnaskan sejak remaja, 3-4 tahun pasti ada yang jadi. Jadi satu tahun mau event Asian Youth Games itu mereka bina.

Kita pingin-nya kayak tim senior, tiap tahun ada event-nya, tapi mereka kan ada event masing-masing. Sekarang aja sudah ada Youth Olympic, Youth Asian Games, kejuaraan dunia remaja junior ada semua. Kurang pengalaman di mana kalau event internasional harus dijadikan pengalaman.

Eko Yuli Targetkan Ikut Olimpiade Tokyo 2020. AKURAT.CO/Dharma Wijayanto.

Kalau itu aturan dari pusat (batasan usia) mengenai cabang olahraganya masing-masing, otomatis semua negara mengikuti itu. Tapi kalau kita sendiri, kita yang bikin aturan, kita yang akan rugi. Tapi jangan sampai yang lain bisa nurunin senior kita enggak bisa.

Sekarang maaf ya, contoh tim sepakbola kita pakai yang senior, kalah kok sama Thailand? Thailand pakai tim junior semua. Asian Games mereka pakai U-23 ke bawah semua, tapi bisa ngalahin Indonesia. Setidaknya mereka levelnya junior, tapi masih bisa melawan yang senior. Kalau dia (junior) masuk mengalahkan yang senior, itu baru ok. Kalau federasi dunianya sudah punya aturan usia sekian-sekian, ok kita ikut semua. Kalau Indonesia yang bikin, sekarang kalau junior enggak dibina ya enggak bisa.

Umpama Eko (Yuli Irawan), pelapisnya turun di Olympic sama-sama medali, ok. Umpama di SEA Games Eko bisa emas, pelapis yang main bisa emas juga, enggak apa-apa saya istirahat, tapi pelapisnya tetap dapat emas, itu enggak masalah. Tapi kalau grade-nya ini emas, yang ini peringkat empat gimana mau main?

Berarti level angkat besi saat ini masih jauh dari cukup?

Mungkin bukan hanya angkat besi, ada beberapa cabang juga yang lain. Kalau bulutangkis bisa seperti itu sekarang, yang kita pantau kan seniornya, kita enggak tahu juniornya berjalan terus kan. Mereka dari remaja itu sampai sini pembinaannya enggak putus ‘gitu loh.

Nah, kita kan pingin-nya seperti itu, cuma kan kita pendananya enggak sebesar mereka. Kalau semua cabang olahraga bisa seperti itu kan, bagaimana jadinya? Itulah yang terjadi di China, Korea, dan negara lain, semua cabang olahraga pembinanya sama seperti bulutangkis, tidak ada perbedaannya. Cuma mungkin di sana tidak ada PB-nya yang mainin anggaran, PB yang nakal kalau di sana ketahuan langsung tracking saja.[]

 

Editor: Hervin Saputra

Sumber:

berita terkait

Image

Olahraga

Olimpiade 2020

Tiket Eko Yuli ke Olimpiade Masih Belum Aman

Image

Olahraga

Kejuaraan Angkat Besi Asia 2019

Eko Yuli Raih Perunggu di Kejuaraan Asia

Image

Olahraga

Piala Dunia Angkat Besi 2019

Juara Piala Dunia, Langkah Eko ke Olimpiade Kian Terbuka

Image

Olahraga

Eko Yuli Irawan (3)

"Saya Masih Memikirkan Siapa yang Bakal Gantikan Saya"

Image

Olahraga

Eko Yuli Irawan (1)

"Asian Games Membuat Olahraga Bukan Hanya Sepakbola dan Bulutangkis"

komentar

Image

0 komentar

terkini

Image
Olahraga
Persib Bandung

Jadwal Pertandingan Persib Bandung Terancam Ditunda (Lagi)

Ini akan menjadi penundaan yang ketigakalinya bagi Persib di musim kompetisi Liga 1 Indonesia 2019.

Image
Olahraga
Paul Pogba

Ditanya soal Masa Depan, Pogba Bikin Pengakuan Mengejutkan

"Saya rasa sudah saatnya untuk memiliki sebuah tantangan baru di tempat lain," kata Paul Pogba.

Image
Olahraga
Liga 1 Indonesia 2019

Eduardo Perez: Absennya Sute Tak Berpengaruh untuk Persija

"(Hukuman Sandi) Tidak berpengaruh. Meski tidak memungkinkan, kami masih memiliki 24 pemain yang siap bermain," ucap Eduardo Perez.

Image
Olahraga
Juventus

Tinggalkan Chelsea, Maurizio Sarri Resmi Merapat ke Juventus

Sarri dikontrak selama tiga tahun oleh Juventus.

Image
Olahraga
MotoGP Katalunya 2019

Tabrakan Beruntun Antarkan Marquez Juara di Katalunya

Praktis, Marquez mengikuti jejak sang adik yang juga memenangi Moto2.

Image
Olahraga
Inter Milan

Inter Milan Bekali Conte Rp1,9 Triliun untuk Belanja Pemain Baru

Dengan bekal Rp1,9 Triliun, Conte sudah membidik tiga pemain bintang di bursa transfer.

Image
Olahraga
Indonesia 6-0 Vanuatu

Bantai Vanuatu, Asisten Pelatih Persija Puji Performa Timnas Indonesia

"Saya senang dengan gaya permainan (Tim Nasional Indonesia). Saya juga senang para pemain," kata Eduardo Perez.

Image
Olahraga
Paul Pogba

Temui Kesepakatan, Madrid Semakin Dekat Dapatkan Pogba?

Meski demikian, resminya Pogba ke Madrid diperkirakan terjadi dalam dua pekan ke depan

Image
Olahraga
Moto2 Katalunya 2019

Alex Marquez Juara, Dimas Ekky Hanya Finis ke-21

Hasil itu membuat Marquez menggeser Lorenzo Baldassarri di posisi klasemen sementara Moto2

Image
Olahraga
Bursa Transfer

Atletico Siapkan 50 Juta Euro untuk Dapatkan Gelandang Portugal?

Merekrut Bruno Fernandes merupakan upaya Atletico Madrid untuk memperkuat lapangan tengah mereka musim mendatang.

trending topics

terpopuler

  1. Presiden PKS: Gugatan Prabowo-Sandiaga ke MK Cerminan Suara Hati Rakyat Indonesia

  2. Pakar Heran Tim Hukum Prabowo Lebih Banyak Mencecar Pihak Terkait Ketimbang KPU

  3. Ledek Bambang Widjojanto, Denny Siregar Unggah Foto Jokowi Suapi Jan Ethes

  4. Direktur PT Vektordaya Mekatrika Sudah 5 Tahun Kuasai Senpi

  5. 6 Tanaman Depan Rumah yang Datangkan Cuan Menurut Feng Shui

  6. Unggah Foto Anaknya, Aliya: Memo Pernah Bilang Kalau Kelak Baby G Akan Jadi Penari Tari Tradisional

  7. Extension Bulu Mata Korea dan Jepang, Apa Bedanya?

  8. Para Pakar Asing Protes Tim Pengacara Prabowo Salah Konteks saat Kutip Pendapat Mereka

  9. Gugatan Prabowo-Sandiaga Soal Rekayasa Situng, KPU: Enggak Nyambung

  10. Pelatih Vanuatu Berharap Pemainnya Bisa Tampil di Liga 1

fokus

Demam Vapor
Jalan Pulang
Lebaran 2019

kolom

Image
Achmad Fachrudin

Memelototi Persidangan Mahkamah Konstitusi

Image
UJANG KOMARUDIN

Mencari Pimpinan KPK yang Ideal

Image
Hasan Aoni

Impian Negeri Tuhan dari Teras Saidah

Image
Keith Johnson dan Elias Groll (Foreign Policy)

Tak Terduga, Bagaimana Huawei Tiba-tiba Mampu Dominasi Dunia

Wawancara

Image
Ekonomi

Roda Ekonomi Ramadan

Dilema Pilih Zakat atau Pajak, Persoalan Klasik yang Mengusik

Image
Ekonomi

Roda Ekonomi Ramadan

Potensi Zakat Indonesia Capai Rp200 Triliun, Sayangnya Masih Sekadar Potensi

Image
Video

VIDEO Ketika Islam Menjadi Pedoman Hidup Dude

Sosok

Image
Ekonomi

Roda Ekonomi

Keynes, Pencipta Arus Ekonomi Modern Pengganti Pemikiran Neoklasik

Image
News

Ajak Jan Ethes, 10 Potret Kunjungan Jokowi ke Bali Ini Curi Perhatian

Image
News

Bikin Haru, 5 Potret SBY saat Ziarah ke Makam Ani Yudhoyono