image
Login / Sign Up

"Asian Games Membuat Olahraga Bukan Hanya Sepakbola dan Bulutangkis"

Dian Eko Prasetio

Eko Yuli Irawan (1)

Image

Atlet angkat besi Eko Yuli Irawan berpose seusai latihan di mess Kwini Marinir, Jakarta, Senin (3/12/2018). Eko menargetkan medali emas Olimpiade 2020 di nomor 61 kg yang akan berlangsung di Tokyo, China. | AKURAT.CO/Dharma Wijayanto

AKURAT.CO, Lambat laun, nama Eko Yuli Irawan semakin populer saja. Ya, dia adalah salah satu atlet angkat besi Indonesia dengan segudang prestasi. Mulai dari SEA Games, Asian Games, Kejuaraan Dunia, hingga Olimpiade.

Sempat gagal meraih emas di SEA Games Malaysia 2017, Eko membalasnya dengan merebut emas di ajang yang lebih bergengsi, Asian Games Jakarta-Palembang 2018, setahun kemudian.

Tidak hanya itu, ia juga berhasil meraih emas pada Kejuaraan Dunia 2018 yang berlangsung di Ashgabat, Turkmenistan. Turun di nomor baru, kelas 61 kilogram, Eko berhasil melakukan total angkatan 317 kilogram. Bahkan total angkatan yang dibukukannya tersebut adalah rekor dunia baru di kelas 61 kilogram.

baca juga:

Jurnalis Akurat.co, Dian Eko Prasetio, mendapat kesempatan berbincang langsung dengan sang juara dunia di tempat latihan Persatuan Angkat Berat, Bina Raga, dan Angkat Besi Seluruh Indonesia (PABBSI) di kawasan Senen, Jakarta Pusat, Senin (3/12) lalu.

Dalam kesempatan ini, atlet berusia 29 tahun kelahiran Metro, Lampung, tersebut berbicara tentang pentingnya pembinaan di daerah, impiannya membuat akademi angkat besi, kekuatan angkat besi China, keadilan status PNS untuk atlet, sampai soal kendala bahasa dalam pergaulan antar lifter kelas dunia. Berikut petikannya:

Tahun lalu Anda gagal meraih emas di SEA Games dan tahun ini membuktikan emas di Asian Games 2018 dan Kejuaraan Dunia 2018. Apa perbedaan tahun lalu dan tahun ini?

Tahun lalu persiapan sama kayak tahun ini. Cuma, tahun lalu dua minggu sebelum hari H kena diare pas SEA Games, plus ngedrop lah badan, dan satu minggu istirahat total. Jadi persiapan setelah sembuh itu hanya satu minggu. Jadi siap enggak siap harus tanding di SEA Games. Sebenarnya dari awal persiapannya udah sama dan normal, cuma di 2017 lalu dipersiapkan dari awal tahun terkendala cedera lutut.

Detik-detik ke SEA Games dua minggu mau bertanding malah diare. Tapi kan enggak mungkin beralasan itu lagi. Ya udah-lah emang dapet-nya itu. Kalau kita ngomong alasannya kenapa dapat perak terus, alasannya diare terkesan mencari kambing hitam. ya udah kita terima, mungkin mereka (lawan) persiapannya lebih bagus dan kita ada kendala non teknis.

Alhamdulillah di tahun ini enggak ada kendala, karena memang segi pembinaannya lebih bagus di tahun ini. Di tahun lalu masih belum begitu bagus. Masih banyak yang tersendat. Di tahun ini anggaran langsung diserahkan ke PB (Pengurus Besar) masing-masing cabang (olahraga), alhamdulillah bisa diserap dengan baik, dipersiapkan dengan baik, dan alhamdulillah juga di persiapan ini hampir enggak terlalu bermasalah dengan cedera. Jadi peak performance-nya bisa kita atur.

Eko Yuli Irawan di podium juara Asian Games Jakarta-Palembang 2018. AKURAT.CO/Sopian.

Setelah Asian Games, sebenarnya istirahatnya hanya dua minggu, setelah itu continue lagi buat Kejuaraan Dunia, walau segi kelasnya dirubah lebih ringan, tapi kita tetap optimistis karena dipersiapkannya sama. Sebenarnya persiapan kami ini kan di tim angkat besi sampai ke Olimpiade tanpa putus, Asian Games, SEA Games tahun depan. Olimpik akan terus seperti itu, targetnya itu Olimpiade, tujuannya sama. Levelnya tetap, programnya enggak kita turunin ke level SEA Games, levelnya tetap ke Olimpiade. 

Berarti targetnya memang olimpiade ya?

Ya kita mencoba semua, target tertinggi. Kalau pun buat teman-teman kita belum mampu sekarang, setidaknya kita sudah sedikit bisa mencapai itu. Otomatis di SEA Games bisa lebih aman dong, karena levelnya Asia Tenggara, secara tidak langsung kita sudah di atas rata-rata Asia Tenggara. Makanya kenapa kita pasang target tinggi, secara enggak langsung kita sudah melampaui.

Sebagai atlet nasional, apakah Anda melihat Asian Games 2018 punya pengaruh besar untuk olahraga di Indonesia?

Ya. Apalagi Asian Games kemarin tuan rumah, di sisi lain masyarakat Indonesia lebih mengenal beberapa cabang yang berpotensi meraih medali emas. Kan selama ini kurang tahu, mungkin yang populer saja kayak bulutangkis dan sepakbola.

(Dengan) adanya Asian Games kemarin menjadi tuan rumah, bahkan disiarin di TV, masyarakat Indonesia bisa tahu cabang mana saja sih yang bisa menjuarai di Asian Games. Ibaratnya setengahnya Olimpiade di level Asia. Seperti angkat besi, silat, panjat tebing, akhirnya lebih dikenal masyarakat luas.

Jadi masyarakat lebih punya pilihan kira-kira, umpama ada anak muda yang pingin ‘milih olahraga jadi punya pilihan, cabang mana saja sih?’ Oh ternyata prestasi merekapun levelnya dunia juga loh. Jadi enggak harus bulutangkis aja sepakbola aja. Jadi dengan adanya Asian Games kemarin masyarakat wawasannya semakin terbuka dengan cabang-cabang yang lain. Dan mudah-mudahan sih ke depan bisa lebih masuk ke masyarakat luas.

Eko Yuli Irawan saat beraksi di Asian Games Jakarta-Palembang 2018, Agustus silam. AKURAT.CO/Sopian.

Target kita sebagai atlet bisa mempertahankan, bahkan bisa ditingkatkan lagi, karena secara tidak langsung kita semua udah jadi contoh masyarakat Indonesia dengan prestasi kita.

Jangan sampai Asian Games udah emas, ke depan menurun, kayak-nya nanti (ada pemikiran) ah cuma nyari emas Asian Games saja setelah itu leha-leha lagi. Takutnya pemikiran masyarakat seperti itu. Jadi justru kita dapat prestasi tuntutannya semakin berat, karena kita harus mempertahankan itu bahkan kalau bisa ditingkatkan.

Dengan segudang prestasi saat ini, menurut Anda apakah orang tua saat ini bisa mengarahkan anaknya untuk menjadi atlet profesional?

Begini, kalau untuk sepakbola mungkin seperti itu ya. Karena memang kita banyak SSB (sekolah sepakbola), banyak seleksi, persaingan juga banyak. Di sisi lain nanti dia sudah punya prestasi terus di level berikutnya penanganannya kurang bagus. Jadi kita yang pasti-pasti aja, makanya ini kan efeknya Asian Games kemarin memberi tahu cabang yang potensi untuk internasional. Jadi pilihannya bukan cuma sepakbola dan bulutangkis saja. 

Kalau masalah orang tua, saat ini mungkin lebih terbuka lagi karena perhatian pemerintah sudah luar biasa. Kita enggak berfikir untuk di bonus ya, kalau bonus itu harus buktikan prestasi kita dulu, kalau enggak ada prestasi pasti enggak ada bonus. Setidaknya minimal mereka bisa meraih medali emas di SEA Games saja sudah dikasih pegawai negeri (PNS).

Seenggaknya (tamat) sekolah SMA, dia bisa tembus emas SEA Games, dia punya jatah buat PNS. Cuma memang harus tunjukin medali emas. Untuk medali emas mereka butuh pengorbanan, perjuangan, itu pasti enggak akan jauh berbeda sama kita semua. Sekarang ini kan masyarakat tahunya sudah juara wajar dapat ini-itu, tapi kan ‘ngerintis dari bawah sampai juara ini kan belum banyak yang tahu bagaimana perjuangannya.

Di sisi lain saat ini yang jadi permasalahan kalau pemerintah pusat menganggarkan untuk pelatnas, pelatihan nasional. Nah, sekarang yang jadi pertanyaan, di daerah pembinaannya sama enggak sama yang nasional?

Yang jadi pertanyaan dan kendala saat ini perhatian dari pemerintah daerah. Beberapa cabang kan otomatis pelatnas hanya tahu saat seleksi di tingkat nasional, mana yang terbaik untuk direkrut masuk tim pelatnas. Tapi daerah ini kan harus nunjukin prestasi anak-anak ini, kalau mereka enggak dibina gimana mereka mau muncul?

Suasana latihan persiapan Atlet Angkat Besi Jelang Olimpiade 2020 di Jakarta, Senin (3/12). AKURAT.CO/Dharma Wijayanto.

Nah, itu yang terkendala saat ini. Ok di tingkat internasional atau pelatnas saat mereka dapat prestasi pasti ada, apresiasinya luar biasa saat ini. Cuma untuk menunjukkan itu di level daerah itu yang kurang, karena enggak semua daerah perhatiannya untuk olahraga. Mungkin di (pemerintah) pusat untuk pelatnas, udah pasti menteri olahraga harus dukung semua olahraganya.

Tapi kalau di daerah, kan punya anggaran APBD masing-masing. Iya kalau daerahnya pro ke olahraga, kalau enggak? Ya jadi PR-nya di daerah, kalau lihat sekarang mungkin segi pemerintah pusat udah luar biasa dari segi apresiasi. Pembinaan saat ini mulai bagus. Ya mudah-mudahan ke depannya siapapun menterinya siapapun presidennya tetap seperti ini, kalau bisa lebih baik.

Karena atlet pun dituntut untuk selalu lebih baik, pembinaan pun sama, pusat pun harus seperti itu. Nah, sekarang tinggal bisa enggak pemerintah daerah ini bisa membina mereka. Semua cabang deh, jangan satu cabang. Yang jadi PR saat ini dari daerah, karena pelatnas pun ngerekrut-nya dari daerah, kalau atlet daerah enggak bisa buktiin, enggak akan bisa kerekrut. PR-nya, daerah tingkatkan atlet-atletnya supaya bisa lolos seleksi biar masuk timnas.

Kalau seperti itu, berarti kita membicarakan kompetisi nih. Menurut Anda, kompetisi angkat besi di tanah air sekarang seperti apa?

Kalau sekarang tingkat remaja itu sudah lumayan bagus, setahun ada tiga pertandingan, junior dua kali, senior satu kali tiap tahun. Di sisi lain, saya sebagai atlet saat ini belum bisa berasumsi lebih jauh. Karena itu pengurus sebenarnya, urusan pengurus. Cuma yang kita tahu untuk kejuaraan sudah mulai lebih dirapatkan. Dengan alasan lebih rapat event-nya, otomatis daerah akan mempersiapkan terus, jadi tujuannya seperti itu. Cuma saat ini yang terfokuskan masih di tingkat remaja, usia 16 tahun ke bawah itu kan satu tahun bisa tiga kali (kejuaraan).

Persiapan Atlet Angkat Besi Jelang Olimpiade 2020 di Jakarta, Minggu (9/12). AKURAT.CO/Dharma Wijayanto.

Cuma masalahnya di tingkat senior ini. Mereka kebanyakan pemerintah daerah fokus pas mau PON saja, setelah PON dilepas begitu saja. Nah, gimana caranya daerah supaya setelah PON tetap berlanjut pembinaannya, sampai PON ke depan kalau ingin atletnya berprestasi. Ini pas mau PON aja, gembar-gembor gede-gedean bonusnya sekian-sekian, tapi pembinaannya enggak ada, mana mau?

Berarti sebenarnya lebih ke maintenance pembinaan?

Iya. Makanya permasalahan sekarang di situ. Makanya kita masih bobolnya di remaja. Makanya PB memberikan kejuaraan usia remaja PPLP.  Itu supaya mereka tetap dibina. Jadi tiap tahun mereka mendapat pembinaan dengan jadwal kejuaraan yang padat. Nah, cuma di tingkat senior ini yang belum ada. Makanya tim remaja memang kalau dilihat belum bisa bersaing, tapi dua tiga tahun ke depan mulai bermunculan. Kita mengimbau setelah remaja masuk ke junior, pembinaannya jangan sampai lepas. 

Contoh sepakbola, umur 15 bagus, 16 bagus, 17 bagus sampai 19 bagus. Tapi lepas usia 19? Karena kenapa? Usia 15 dia belum bermain di liga, dalam beberapa tahun dia difokuskan dalam satu tim terus, makanya mereka klop mainnya. Saat 19 ke atas mereka mulai main di klub, saat digabungin lagi mereka kurang klop. Karena apa? Di timnas persiapan paling hanya satu bulan, bisa klop enggak? Kalau kita (angkat besi) mungkin perorangan, mereka tim loh, dua orang aja enggak klop bisa melakukan kesalahan. Nah, makanya saat dia masih remaja, mereka belum punya tanggung jawab ke klub, mereka hanya fokus di pelatnas.

Kita, namanya cabang olahraga selain permainan, kita (angkat besi) kan individu. Kita yang menentukan, sukses buat kita, gagal buat kita. Tinggal jalanin mau yang mana, di sisi lain butuh pembinaan.[]

 

Editor: Hervin Saputra

Sumber:

berita terkait

Image

Olahraga

Eko Yuli Irawan (3)

"Saya Masih Memikirkan Siapa yang Bakal Gantikan Saya"

Image

Olahraga

Eko Yuli Irawan (2)

"Atlet Junior Harus Bisa Mengalahkan Senior"

komentar

Image

0 komentar

terkini

Image
Olahraga
Manchester United 2-0 Brighton & Hove Albion

Babak I: Pogba - Rashford Bawa MU Unggul di Babak Pertama

Tepat di pertengahan babak pertama pemain Brighton melakukan kesalahan fatal dengan menjatuhkan Paul pogba di kotak terlarang.

Image
Olahraga
Liverpool 0-1 Crystal Palace

Babak I: Liverpool Secara Mengejutkan Tertinggal dari Crystal Palace

Jika skor ini bertahan hingga pertandingan berakhir, maka Palace semakin menegaskan diri sebagai tim pembunuh raksasa

Image
Olahraga
Bursa Transfer

Belum Meraih Hasil Maksimal, Henry Ingin Datangkan Fellaini

Belum meraih hasil maksimal membuat Henry berniat mendatangkan gelandang Manchester United (MU), Marouane Fellaini ke AS Monaco.

Image
Olahraga
Manchester United

Bukan Solskjaer, Rooney akan Tunjuk Pochettino Jadi Pelatih MU

Pochettino dianggap cocok oleh Rooney untuk menangani MU ke depannya.

Image
Olahraga
Australia Terbuka 2019

Menang atas Giorgi, Pliskova Catatkan Delapan Kemenangan Beruntun

Image
Olahraga
Bursa Transfer

Liverpool Gagal Dapatkan Joao Felix dari Benfica

Benfica tolak tawaran Liverpool untuk Joao Felix.

Image
Olahraga
Australia Terbuka 2019

Kocak, Federer Dilarang Masuk oleh Petugas Keamanan

Meski terkenal, pihak keamanan terlihat tetap bersikap profesional dengan melarang Federer masuk karena tak memakai ID.

Image
Olahraga
Liga Primer Inggris 2018-2019

Pogba Percaya MU Bisa Pastikan Posisi Empat Besar

MU mengawali musim ini dengan buruk dan berada di papan tengah klasemen,

Image
Olahraga
Bundesliga Jerman 2018-2019

Kovac: Kami akan Memburu Borussia Dortmund

Bayern Muenchen semakin memangkas ketertinggalan dari Dortmund.

Image
Olahraga
Ducati

Bos Ducati Anggap Dua Musim Lorenzo telah "Menjawab" Investasi

"Bukan salah siapapun, bukan salah Jorge, itu terjadi begitu saja," kata Claudio Domencali.

trending topics

terpopuler

  1. Sebelum Menjadi Cawapres, Ternyata Sandiaga Pernah di PHK dan 'Nganggur'

  2. Ini Lima Hal yang Membuat Indonesia Tak Mudah Dijadikan seperti Suriah

  3. Mau Bikin Baju Jokowi! Kenalkan Rahmat Hidayat, Desainer Difabel dengan Karya 'Bukan Kaleng-kaleng'

  4. Wanita Indonesia Dibunuh di Malaysia, Empat Tetangga Korban Diamankan

  5. Kok Bupati di Provinsi Papua Tahan Gaji 12 ASN? Ini Dia Penyebabnya...

  6. Puji Jokowi Bebaskan Ba'asyir, Ma'ruf Amin: Itu Langkah Besar untuk Kemanusiaan

  7. Penghuni Jakarta Diimbau Berhati-hati dengan Cuaca Hari Ini, Berpotensi Hujan dan Petir

  8. Terpaut Usia 11 Tahun Tidak Menjadi Aral bagi Greysia/Apriyani

  9. Setelah Bebas dari Penjara, Abu Bakar Ba'asyir: Yusril Adalah Orang yang Berani

  10. Aneh, Badan Siswa SMA di Palembang ini Seperti Punya Magnet

fokus

Debat Pilpres 2019
Mengupas Visi Misi Ekonomi Paslon
Golden Globe 2019

kolom

Image
Pangi Syarwi Chaniago

Meneropong Debat Perdana Pilpres 2019

Image
Ujang Komarudin

Hantu Debat Perdana

Image
Ahada Ramadhana

Post-Truth, Peradaban Kita Hari Ini

Image
Achmad Fachrudin

Dramaturgi Debat Calon Presiden

Wawancara

Image
Hiburan

Kekecewaan Egi Fedly Terkait Film Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak

Image
Hiburan

Ternyata Egi Fedly Inisiator Konser Musik Gratis untuk Umum di IKJ

Image
Hiburan

Sisi Lain di Balik Wajah Seram Egi Fedly

Sosok

Image
Gaya Hidup

Mau Bikin Baju Jokowi! Kenalkan Rahmat Hidayat, Desainer Difabel dengan Karya 'Bukan Kaleng-kaleng'

Image
Hiburan

Debat Pilpres 2019

10 Fakta Ira Koesno, Moderator yang Curi Perhatian di Debat Capres

Image
Ekonomi

Ekonom Tony Prasetiantono Meninggal Dunia, Rizal Ramli dan Chatib Basri Kenang Masa Debat