image
Login / Sign Up
Image

Penulis adalah redaktur kanal olahraga Akurat.co. Pernah menjadi wartawan Majalah World Soccer Indonesia.

#EdyOut, Demokrasi, dan Militer yang Menjadi Sipil

Hervin Saputra

Edy Rahmayadi

Image

Pamflet Edy Rahmayadi berkeliaran di Stadion Patriot, Bekasi, Rabu (10/10) | AKURATCO/Taufik Hidayat

AKURAT.CO, Agak aneh rasanya ketika rapat antar klub Liga 1 Indonesia pertama pasca pencabutan pembekuan PSSI oleh FIFA digelar di Markas Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Makostrad) di Jakarta, 29 Maret 2017.

Mengapa harus dilakukan di markas militer padahal ini adalah urusan sepakbola?

Pertanyaan itu muncul di benak saya namun kala itu cukup disimpan di dalam hati. Menyimpan di dalam hati karena Ketua Umum PSSI yang baru sebagai bagian dari PSSI baru pasca pembekuan FIFA, Edy Rahmayadi, adalah seorang letnan jenderal sekaligus Panglima Kostrad. Fine! Makostrad juga kantornya Ketua PSSI.

baca juga:

Tetapi, mengapa tidak dilaksanakan di tempat lain di mana sang jenderal bisa memposisikan dirinya semata-mata sebagai pemimpin federasi sepakbola yang tidak ada hubungannya secara langsung dengan posisinya sebagai Pangkostrad?

Saya sempat menanyakan hal tersebut kepada Kemenpora, Imam Nahrawi. Dan Imam menganggap pelaksanaan rapat urusan sepakbola di markas militer adalah hal yang tidak perlu dipersoalkan. “Bagaimana kalau Pak Jokowi membahas sepakbola di Istana Negara?” tanya Imam saat itu.

Setahun setengah kemudian, atau dua tahun sejak Edy terpilih sebagai Ketua Umum PSSI pada November 2016, bagi saya, pertanyaan itu menjadi relevan. Dalam arti, Makostrad memang hanyalah sebatas “tempat”, namun, bagi saya, sejak awal, Edy Rahmayadi telah menggunakan pengaruh militernya untuk membangun kesan kepemimpinannya di PSSI.

Edy Rahmayadi dalam seragam militernya. AKURAT.CO/Handaru M Putra.

Namun, kesan itu terjawab dengan keberhasilannya membawa pelatih yang membawa Tim Nasional Spanyol U-21 menjuarai Piala Eropa 2011, Luis Milla, juga komitmennya untuk memberikan perhatian terhadap pembinaan sepakbola usia muda.

Semua manuver itu menunjukkan hasil di mana Timnas U-16 menjuarai Piala AFF 2018 disertai dengan nyaris lolos ke Piala Dunia U-17, kesuksesan Timnas U-19 lolos ke fase grup Piala Asia 2018, dan lolosnya Indonesia ke perdelapan final Asian Games 2018 dengan gaya permainan yang menjanjikan.

Namun, kesan bahwa Edy terlalu menggunakan posisinya sebagai seorang militer dalam sepakbola itu akhirnya terjawab sudah dengan kegagalan Tim Nasional Indonesia di Piala AFF 2018.

Dari seorang letnan jenderal, mendapatkan popularitas nasional sebagai Ketua Umum PSSI, lantas mencalonkan diri sebagai Calon Gubernur Sumut dan memenangi pemilihan, Edy akhirnya menghadapi situasinya sebagai seorang manusia biasa: keterbatasan.

Saya termasuk orang yang berusaha tidak terlalu mempersoalkan keberadaan rangkap jabatan Edy atau, katakanlah, bau kemiliterannya sepanjang ia bisa membangun sepakbola Indonesia menjadi lebih baik. Dan, ternyata, membangun sepakbola bukanlah pekerjaan yang bisa dilakukan secara “rangkap”.

Persoalan rangkap jabatan ini pertama kali dibicarakan secara terbuka oleh media ketika penulis Fox Sports Asia, John Duerden, menulis artikel yang mempertanyakan cutinya Edy dari PSSI saat mencalonkan diri sebagai Gubernur Sumut. Artikel yang ditayangkan pada Februari 2018 itu berjudul “Bos (Federasi Sepakbola) Indonesia Harus Memilih: Sepakbola atau Politik?”

Edy Rahmayadi Fox Sports Asia. FOX SPORTS ASIA.

Wacana Duerden inilah yang sebenarnya memicu jurnalis Indonesia untuk turut mempertanyakan secara terbuka tentang politik Edy dan posisinya sebagai Ketua Umum PSSI. Dan pada momen inilah untuk kali pertama muncul isu yang akhirnya menjadi slogan di media sosial yang mendorong Edy untuk meletakkan jabatannya sebagai Ketua Umum PSSI: #EdyOut.

Kontrak Luis Milla

Dengan pencapaian Timnas junior, kampanye #EdyOut seakan tidak mencapai titik sasar. Selama sepakbola baik, sepolitis apapun pemimpin federasi, maka posisi sang pemimpin tetap aman.

Namun, “lubang kecil” menjadi semakin dalam ketika PSSI tak jua menemui kata sepakat dengan Luis Milla setelah kontrak sang pelatih berakhir pasca Asian Games, September silam.

Memutus Milla juga melukai perasaan suporter karena di bawah kendali sang pelatih Indonesia mencapai sejumlah perkembangan dan menunjukkan permainan yang punya prospek. Selain itu, sang pelatih juga “jatuh cinta” dengan atmosfer sepakbola Indonesia.

Edy menunjuk Bima Sakti untuk menggantikan Milla di Piala AFF. Dan, #EdyOut harus tiarap sebentar untuk memberikan kesempatan kepada mantan kapten Tim Nasional tersebut dalam debutnya sebagai pelatih kepala.

Luis Milla, Indra Sjafri, Fakhri Husaini. SPORT TOURISM.

Kekalahan 0-1 atas Singapura di laga perdana Piala AFF di Stadion Nasional Singapura pada 9 November lalu membawa kembali publik ke dalam lubang yang semakin dalam. Disertai dengan pengakuan Milla bahwa federasi telah bersikap tidak profesional terhadapnya, buruknya penampilan Timnas seakan merupakan imbas dari ketidakprofesionalan tersebut.

Di masa lalu, bersikap “profesional” barangkali belum menjadi “etos” yang dikenali oleh publik Indonesia sebagai sesuatu yang wajib dalam olahraga. Di dunia olahraga negara-negara maju, siapapun yang tidak bersikap profesional, maka karirnya akan hancur.

Sikap Milla bertahan untuk tidak mengiyakan negosiasi PSSI yang membuatnya menjadi tidak profesional adalah “pengalaman baru” bagi Indonesia. Bahwa, profesionalisme tidak bisa ditawar dalam dunia olahraga. Jika Anda tidak profesional, maka Anda tidak akan berprestasi.

Demokrasi dan Media Sosial

Sulit untuk menghindari perasaan bahwa sikap dan cara Edy menjawab sejumlah pertanyaan jurnalis dalam kaitan pekerjaannya sebagai Ketua Umum PSSI menggambarkan karakter seorang jenderal militer, yang, oleh warga Indonesia, cukup mudah dikenali.

Setelah Indonesia bermain imbang 0-0 versus Filipinanya Sven Goran-Eriksson pada laga penyisihan terakhir Piala AFF 2018 di Stadion Gelora Bung Karno, Jakarta, Minggu (25/11), harian Jawa Pos memuat judul besar #EdyOut dalam pembahasan satu halaman penuh yang membahas kepemimpinan Edy di PSSI.

Barangkali manuver Jawa Pos ini adalah yang pertama dilakukan oleh salah satu media terkemuka Indonesia untuk “mendorong” Edy meletakkan jabatannya sebagai Ketua Umum PSSI. Mengapa menunggu selama itu?

Harus dikatakan bahwa “trauma” berhadapan dengan pejabat militer di masa lalu telah terefleksikan oleh sikap media Indonesia dalam kaitannya mengkritik Edy pada posisinya di PSSI. Bahwa seorang militer adalah sosok yang antikritik, tegas, arogan, dan dalam beberapa hal akan menggunakan “kekerasan”.

Edy memang belum menggunakan kekerasan fisik kepada jurnalis, namun secara verbal ia beberapa kali menyebut media tertentu dalam kaitan kritik terhadapnya. “Apa urusan Anda menanyakan itu?” adalah pernyataan Edy yang menjadi populer saat di ditanya oleh jurnalis Kompas TV, Aiman, dalam sebuah wawancara langsung tentang kematian suporter serta posisi rangkap jabatannya.

Namun, ia pernah menggunakan kekerasan terhadap salah seorang suporter PSMS Medan yang menyalakan suar di Stadion Teladan, Medan. Juga video semasa sang jenderal berhadapan dengan masyarakat dalam posisinya sebagai Pangdam Bukit Barisan.

Dengan kata lain, sejumlah hal tersebut menunjukkan bahwa Edy agak cenderung alergi dengan kritik, demokrasi, dan itu ditunjukkan dengan sikapnya terhadap media massa sejak ia mencalonkan diri sebagai Gubernur Sumut.

Namun, bagaimanapun, Indonesia, atau dunia saat ini, bukanlah dunia di masa lalu. Kritik kini tak lagi hanya datang dari media konvensional, melainkan datang dari jutaan akun media sosial. Slogan #EdyOut adalah gerakan yang memang didorong untuk dibicarakan di media sosial.

Edy mungkin bisa bersikap cenderung arogan terhadap jurnalis, tetapi ia tidak bisa melarang warganet untuk memuat meme dan sindiran yang mengkritik kepemimpinannya di PSSI.

Hari demi hari berlalu, dan warganet semakin nyinyir terhadap Edy. Sang jenderal agaknya berhadapan dengan dunia barunya sebagai warga sipil. Sebagai seorang sipil, ia tidak lagi hidup dalam rantai komando yang mengharuskannya menjawab “siap” atau akan selalu mendengarkan kata “siap” dari prajuritnya.

Dan peran pendapat publik melalui media sosial yang agaknya satu suara untuk meminta Edy mundur dari PSSI seakan memberikan “nyali” bagi media konvensional untuk memberikan sikap yang serupa. Karena pada akhirnya, media kovensional akan menjadi meriam untuk menembakkan peluru akumulasi kekesalan dan kritik di media sosial.

“Kami tak bisa menafikkan saat ini PSSI dapat atensi negatif dari empat arah mata angin. Pertama dari bawah, publik ini sudah muak dengan PSSI. Lalu dari atas ada tekanan pemerintah yant terlihat gesturnya sudah marah ke PSSI. Dari kiri-kanan media pun menekan kami,” kata salah seorang anggota Komite Eksekutif PSSI, Gusti Randa, di Jakarta, Minggu (25/11).

Sulit bagi Edy untuk tak meletakkan jabatannya sebagai bos PSSI. Bukan karena pekerjaannya buruk, sebab harus diakui sebelum ia mencalonkan diri sebagai Gubernur Sumut, semuanya seperti terlihat “on the track”.

Kini, sejumlah elite di PSSI mengakui bahwa mereka sudah tidak lagi berkomunikasi dengan Edy. Semua urusan diserahkan kepada Wakil dan Sekretaris Jenderalnya, Joko Driyono dan Ratu Tisha. Namun, kesalahan dan pujian hanya akan dialamatkan kepada pemegang tampuk kekuasaan.

Secara de facto Edy sudah tidak lagi “mengurusi” PSSI sebagaimana seharusnya. Bisa dimaklumi karena posisinya sebagai Gubernur Sumut cukup memakan waktu.

Namun, masa ini bukan lagi masa lalu di mana olahraga, terutama sepakbola, hanya dianggap sebagai organisasi hobi. Zaman sudah tidak lagi memaafkan sepakbola yang prestasinya stagnan.

Sepakbola di zaman ini adalah impian, harga diri, dan juga simbol demokrasi. Kritik terhadap Edy, terutama di media sosial, adalah wujud demokrasi modern dalam era di mana suporter tak pernah menurunkan selera soal kualitas sepakbola dan tim nasionalnya.

Suksesi diperkirakan bisa memanas dan semua akan bergerak pada Kongres Tahunan PSSI yang bakal digelar pada 20 Januari 2019 di mana di momen itulah para pemilik suara bisa mengusulkan Kongres Luar Biasa menunjuk ketua baru.[]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Editor: Hervin Saputra

berita terkait

Image

Olahraga

PSSI

Exco PSSI Jelaskan Alasan Keputusan Gelar KLB

Image

Olahraga

PSSI

Exco PSSI Usulkan Agum Gumelar Jadi Ketua Komite Pemilihan

Image

Olahraga

PSSI

Resmi, Edy Rahmayadi Mundur Sebagai Ketua PSSI

Image

Olahraga

PSSI

Rochy Poetiray: Edy Rahmayadi Sudah Tidak Sanggup Pimpin PSSI

Image

Olahraga

Edy Rahmayadi

Gede Widiade: Edy Rahmayadi Mundur? Serahkan kepada Voter

Image

Olahraga

PSSI

Tentang Teriakan "Edy Out", Begini Komentar Bos Persija

Image

Olahraga

PSSI

Petinggi Asprov PSSI Desak Edy Rahmayadi Lepas Jabatan Ketum

Image

Olahraga

PSSI

Umuh Muchtar Dukung KLB Tunjuk Ketua Baru PSSI

Image

Olahraga

PSSI

Manajer MU: Hanya Ada Satu Cara untuk Depak Edy Rahmayadi

komentar

Image

1 komentar

Image
Muhammad Rachdian Al Azis

Setuju. Artikel beginian wajib dishare

terkini

Image
Olahraga
Persija Jakarta vs Kalteng Putra

Persija Tegaskan Kesiapan Hadapi Kalteng Putra

"Persiapan kami baik, ada prospek dengan tim. Maka dari itu, kami sudah siap hadapi pertandingan besok," kata sang pelatih.

Image
Olahraga
Kejuaraan Dunia Bulutangkis 2019

Kejuaraan Dunia Bulutangkis: Jonatan Amankan Tiket ke Babak Kedua

Jojo menjadi wakil tunggal putra ketiga Indonesia yang lolos ke babak kedua.

Image
Olahraga
Borneo FC 1-1 Persipura Jayapura

Eks Persija Batalkan Kemenangan Persipura di Markas Borneo

Adalah mantan penggawa Persija, Renan Silva yang menjadi pahlawan.

Image
Olahraga
Arema FC 2-1 Barito Putera

Arema Naik ke Peringkat Ketiga Usai Taklukkan Barito Putera

Kemenangan ini mengantarkan Arema FC naik ke peringkat ketiga klasemen sementara Liga 1 Indonesia 2019 dengan nilai 25

Image
Olahraga
Jorge Lorenzo

Lorenzo Bakal Segera Bangkit dari Keterpurukan

Meski dalam kondisi sulit, Repsol Honda tidak pernah meragukan kemampuan Lorenzo..

Image
Olahraga
Tira Persikabo 3-1 PSS Sleman

RD Beberkan Kunci Tira Persikabo Kembali ke Puncak Klasemen

Diaa menyebut performa di babak kedua jadi kunci utamanya.

Image
Olahraga
Kejuaraan Dunia Bulutangkis 2019

Kejuaraan Dunia Bulutangkis: Tommy Susul Ginting ke Babak Kedua

Tommy mengalahkan Karunaratne dengan skor akhir 21-18 dan 21-12.

Image
Olahraga
Bursa Transfer

Alexis Sanchez Bakal Lakukan Tes Medis di Inter Milan?

Jika semua berjalan dengan lancar, Sanchez akan merapat ke Nerazzurri dengan status pemain pinjaman dengan opsi pembelian pada akhir musim.

Image
Olahraga
Persiraja Banda Aceh

Pemain Jebolan Klub Eropa Harus Ikut Trial untuk Bisa Gabung Persiraja

Kendy Chandra pernah berlatih di klub Deportivo Villalobon dan klub Union Deportivo Esperanza.

Image
Olahraga
Kejuaraan Dunia Bulutangkis 2019

Kejuaraan Dunia Bulutangkis: Ginting Rebut Tiket ke Babak Kedua

Tiket berhasil diraih setelah Ginting mengalahkan Paul dalam waktu 34 menit.

Banner Kemendagri

trending topics

banner jamkrindo

terpopuler

  1. Klarifikasi Soal Salib, UAS: Saya Tidak Akan Takut karena Saya Tidak Bersalah

  2. Alissa Wahid: Menahan Diri Berkomentar Soal Abdul Somad dan Jin Kafir Sungguh Tidak Mudah

  3. Menahan Diri untuk Berkomentar Soal Ustadz Abdul Somad dan Jin Kafir

  4. MS Kaban: Mempolisikan UAS Membangkitkan Ghirah Keimanan

  5. Gak Nyampe 5 Menit, Ini 4 Kebiasaan Tuk Turunkan Kolestrol

  6. Kedatangan Jenazah Pratu Sirwandi di Lombok Akan Disambut Khusus Secara Militer

  7. Video UAS Soal Salib, Abdillah Toha: Perlu Belajar Islam Lagi dengan Benar Agar Tak Menyesatkan Umatnya

  8. Usai Piala AFF, Timnas U-19 Sudah Ditunggu Iran

  9. Ahli Hukum Kecam Pencabutan Undangan GKR Hemas oleh Setjend MPR dan DPD saat HUT RI ke-74

  10. Jusuf Kalla: Bila GBHN Dihidupkan, Presiden Tak Bisa Buat Program Kerja Sendiri

fokus

Nikah Cepat
HUT Ke-74 RI
Ekonomi Indonesia, Merdeka?

kolom

Image
Ahmad Irawan

Joko Widodo dan Keutamaan Partai Politik

Image
Dr. H. M. Syarif, MA

Kesan Haji Tamu Raja 2019

Image
Achmad Fachrudin

Koalisi Plus-plus dan Prospek Oposisi PKS

Image
Naila Fitria

Merdeka Sejak Dalam Pikiran

Wawancara

Image
Video

Hari Fotografi Sedunia

VIDEO Kulit Citra Fotografi Jurnalistik

Image
Iptek

Jodie O'tania, Srikandi Tangguh Kepunyaan BMW Indonesia

Image
Iptek

GIIAS 2019

Gaet Milenial Indonesia, Begini Strategi Penjualan Brand Premium BMW

Sosok

Image
News

Pesona 8 Menteri 'Srikandi' Kabinet Kerja Jokowi Tampil Cantik Kenakan Kebaya

Image
News

4 Fakta Laksamana Muda Maeda Tadashi, Perwira Jepang yang Bantu Kemerdekaan Indonesia

Image
News

Diduga Korupsi, 7 Fakta Sepak Terjang Karier Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita