image
Login / Sign Up
Image

Hervin Saputra

Bekerja sebagai redaktur kanal olahraga Akurat.co. Pernah bekerja di Harian Top Skor dan Majalah World Soccer Indonesia.

Kekalahan Menjadikan Oezil Sebagai "Bantalan" Perang Elite Politik

Hervin Saputra

Mesut Oezil

Image

Mesut Ozil tertunduk usai Tim Nasional Jerman dikalahkan Korea Selatan yang membuat mereka tersingkir di fase grup Piala Dunia Rusia 2018 di Kazan, 27 Juni silam. | REUTERS/Michael Dalder

AKURAT.CO, Pada akhir 2010, ketika seseorang dengan nama belakang Nainggolan dikenal sebagai pemain salah satu klub Liga Serie A Italia, Cagliari, Indonesia mencium bau "naturalisasi" nan wangi untuk sepakbola nasionalnya. Pemain itu, Radja Nainggolan, jelaslah memiliki darah Indonesia karena Nainggolan adalah marga yang diturunkan dari warga suku Batak di Sumatera Utara - dan kini bersiap untuk Inter Milan setelah empat musim terakhir bermain untuk AS Roma.

Namun, Menteri Pemuda dan Olahraga kala itu, Andi Mallarangeng, menyebut tak akan menaturalisasi Nainggolan karena alih-alih memilih punya paspor Indonesia, Nainggolan dikabarkan meminta dwikewarganegaraan.

"Nainggolan sudah di Belgia. Nampaknya dia tidak mau (jadi warga negara Indonesia). Bahkan, ada beberapa yang lain meminta dwikewarganegaraan. Kami bilang, wah tidak bisa," kata Andi Mallarangeng saat itu sebagaimana dipetik dari Tribun News.

baca juga:

Dalam kacamata warga negara pencinta sepakbola yang terbiasa menyaksikan pertandingan di liga terbaik Eropa, bagi saya kisah delapan tahun lalu itu merupakan latar belakang yang baik untuk melihat apa yang bisa kita petik dari fenomena Mesut Oezil dan Tim Nasional Jerman di awal pekan ini. Oezil memutuskan berhenti dari Timnas Jerman karena ia merasa diperlakukan secara rasis oleh Presiden Federasi Sepakbola Jerman (DVB), Reinhard Grindel.

Pelatih Timnas Jerman, Joachim Loew, adalah salah satu orang yang membela Mesut Oezil. REUTERS/Michael Dalder.

Persamaan antara Oezil dan Nainggolan adalah mereka sama-sama keturunan imigran yang mencari ladang di benua Eropa sebagai pesepakbola. Dan mereka adalah imigran yang sukses di Eropa.

Yang membedakan adalah Oezil punya kehidupan yang lebih kompleks dalam hubungannya dengan kampung halamannya di Turki ketimbang Nainggolan dan Indonesia. Oezil merasa diperlakukan rasis karena statusnya sebagai imigran diekspos sebagai "kambing hitam" atas kegagalan Jerman di Piala Dunia Rusia 2018 setelah mereka menjadi juara dengan megah di Brasil.

Nainggolan, meski ia tidak terpilih dalam skuat sukses Roberto Martinez di Piala Dunia Rusia, tentulah memiliki suasana sebagai pendatang sebagaimana juga Oezil. Hanya saja, Indonesia tidak punya pertikaian politik secara langsung dengan Belgia sehingga bagi orang Indonesia, memiliki Nainggolan atau tidak sama sekali tak memberikan efek apapun.

Kata kuncinya adalah Eropa. Sejak setelah Perang Dunia II, ketika ekonomi Eropa Barat dan Amerika Serikat membuat mereka kini menjadi standar kelayakan hidup, maka gelombang perpindahan menuju "benua kaya" menjadi semacam sesuatu yang tak terhindarkan.

Oezil, misalnya, merupakan generasi ketiga sejak kakeknya datang dari Turki ke Jerman Barat pada 1970-an. Kala itu, Jerman Barat mengalami krisis tenaga kerja. Pasalnya, Perang Dingin yang ditandai dengan dibangunnya Tembok Berlin pada 1961 membuat Jerman Barat membatasi tenaga kerja dari Jerman Timur seraya meneken perjanjian dengan Turki untuk membawa tenaga kerja negara dengan mayoritas Islam tersebut ke negara mereka.

Poster Mesut Oezil dengan seragam Timnas Jerman diganti dengan foto Oezil dan Recep Tayip Erdogan di sebuah kota dekat Laut Hitam, Turki, Selasa (24/7). REUTERS

Dan Oezil lahir di Jerman pada 1988 sebagai generasi ketiga. Ia tumbuh dan mendapatkan pendidikan Jerman, menjadi pesepakbola profesional di Jerman, membayar pajak untuk Jerman, dan membantu Der Panser - julukan Tim Nasional Jerman - menjuarai Piala Dunia Brasil 2014.

Semua pencapaian itu, terutama menjadi juara Piala Dunia, barangkali tak akan pernah dicapai oleh Oezil jika ia bermain untuk Turki. Setidaknya, hingga detik ini, itu adalah fakta.

Tetapi, sebagaimana Nainggolan berdarah Indonesia, Oezil adalah beradarah Turki. Dan, dia hidup di abad di mana "citra" bermain penting dalam nasib seseorang. Bahkan, membawanya ke dalam konsekuensi politik yang pada dasarnya tak berhubungan langsung dengan pekerjaan sehari-harinya sebagai seorang pesepakbola.

Potret Oezil dan pemain Jerman keturunan Turki lainnya, Ilkay Gundogan, serta pemain kelahiran Jerman yang memilih bermain untuk Timnas Turki, Cenk Tosun, dengan Presiden Turki terpilih, Recep Tayip Erdogan, di London, Mei silam, telah menjadi "alat" bagi DVB dan juga Presiden Bayern Muenchen yang pernah dipenjara karena penggelapan pajak, Uli Hoeness, untuk menyalahkan kegagalan Jerman di Rusia.

"Foto Oezil-Gundogan-Erdogan membangkitkan kemarahan di Jerman," tulis The Guardian. Dalam peristiwa itu, Gundogan memberikan jersey kepada Erdogan yang dibubuhi tanda tangannya serta tulisan "untuk Presiden saya, dengan rasa hormat saya."

Ilkay Gundogan, Mesut Oezil, Recep Tayip Erdogan, dan Cenk Tosun dalam pertemuan di London, Mei silam. REUTERS,

Ucapan itu tidak salah karena sebagai seseorang dengan dwikewarganegaraan, Gundogan, dan juga Oezil, punya dua pemimpin: Angela Merkel dan Recep Tayip Erdogan. Dan sejak kudeta gagal terhadap kepemimpinan Erdogan pada Juli 2016, hubungan Merkel-Erdogan memburuk.

Kudeta tersebut ditandai dengan penangkapan dan pemenjaraan ribuan orang yang dianggap mendukung oposisi. Jerman, dengan beban sebagai wakil demokrasi Eropa, menentang Erdogan dan puncaknya adalah pembebasan seorang jurnalis Jerman-Turki, Deniz Yucel.

Sebaliknya, pada Agustus 2017, Erdogan meminta warga Turki yang berada di Jerman tak memilih Merkel. Dan di Jerman, ada 1,2 juta warga dengan latar belakang Turki yang memiliki hak pilih.

Paradoks Peleburan Ras dan Kultural

Dalam hubungannya dengan sepakbola, tidak bisa tidak, Piala Dunia adalah "melting pot" fenomena lintas-batas yang membuat dunia kini semakin multikulturalistik. Namun, pertarungan politik elit dunia telah membuat isu purba seperti identitas nasional menjadi alasan untuk menilai "keberpihakan" seorang pesepakbola.

Di tempat lain, seperti Prancis, misalnya, Piala Dunia 2018 telah membawa kembali kenangan sejarah besar mereka ketika menjuarai Piala Dunia 1998 di mana mereka adalah tuan rumah. Sejarah ketika peran seorang pemain dengan latar belakang imigran Aljazair bernama Zinedine Zidane membuat Prancis mempertimbangkan identitas nasional mereka sebagai negeri yang juga terdiri imigran dan bukan hanya pribumi.

Ketika banyak pengamat menyebut dunia kini terpecah-pecah akibat perbedaan ras, suku, dan agama, Prancis justru memenangi Piala Dunia dengan sebagian besar skuatnya adalah pemain kulit hitam. Gelar Piala Dunia 2018 kembali menggaungkan kemenangan multikulturalisme dalam sepakbola melalui Prancis.

Isu rasialisme, sebagaimana tuanya usia budaya perbudakan itu sendiri, seperti akar yang ditempatkan sebagai permukaan. Perang politik para elit seakan-akan menjadikan identitas nasional sebagai bungkus. Bisakah Prancis menjamin kemesraan mereka terhadap pemain seperti N'Golo Kante dan Kylian Mbappe jika mereka gagal seperti Jerman di Piala Dunia?

Mesut Oezil dan rekan Timnas Jermannya saat menjuarai Piala Dunia Brasil 2014. STANDARD.CO.UK.

Tampaknya pertanyaan seperti ini sangat tergantung pada situasi politik dunia terkini. Prancis pernah gagal seperti Jerman di Piala Dunia Korea Selatan-Jepang 2002, namun saat itu dunia sibuk dengan isu "Islamophobia" bersama perang di Timur Tengah yang dilancarkan Amerika Serikat menyusul tragedi 9/11 di Amerika Serikat - bukan rasialisme dan Islamophobia lanjutan yang telah menyentuh seluruh dunia dengan masyarakat imigrannya.

Namun kini, dengan meningkatnya seluruh alasan untuk berpecah-belah sebagaimana dalam politik yang terjadi di Amerika Serikat, Eropa, juga Indonesia, posisi Oezil tak lain adalah fenomena konflik sejarah dunia yang paling modern.

Dalam sudut pandang posisi Indonesia, keberadaan Eropa sebagai bagian dari dunia yang sukses menjadi negara dengan standar masyarakat layak, telah membawa semacam insting untuk menunjuk mereka sebagai negara yang arogan. Mengapa Oezil, Gundogan, Kante, dan bahkan Nainggolan harus lahir dan besar di Eropa sementara mereka tak bisa menghilangkan hubungan emosionalnya dengan negeri kampung halamannya, tak lain karena kesenjangan dunia.

Eropa, seperti Jerman, dan Inggris, dan Prancis, telah memberikan kesempatan bagi para imigran untuk menjadi pekerja di negeri mereka. Namun, ketika para pendatang ini mendapatkan posisi yang bahkan "melebihi" posisi warga asli sebagaimana yang didapatkan Oezil, politik rasial mencuat bersamaan dengan perang antar pemimpin politik.

Imigran datang ke Eropa karena mereka merasa punya peluang untuk mengubah hidup menjadi lebih baik. Hingga saat ini, kesenjangan dunia - yang diistilahkan dengan negara dunia ketiga dan negara dunia pertama - adalah situasi yang tak sepenuhnya berubah.

Harapan terbesarnya adalah para imigran tak perlu pindah ke negara lain karena negara mereka sendiri sudah cukup untuk membuat mereka merasa "berharga". Tetapi, bukankan harapan ini sulit dipercaya?

Meski demikian, sebagian masyarakat Barat menganggap perasaan positif yang dialami dunia pasca Prancis menjuarai Piala Dunia 1998 sebenarnya sedang berada "di atas angin". Dan paradoks yang terjadi dengan gelar Piala Dunia Prancis serta yang dilami Oezil adalah ancaman untuk perasaan tersebut.

Bagaimana dengan Indonesia?

Apa yang terjadi dengan Oezil, atau Zidane, atau N'Golo Kante, bukanlah hal yang umum di Indonesia. Kita tidak punya pengalaman bergaul dengan imigran sebagaimana, misalnya, seperti yang terjadi di negara tetangga Malaysia.

Namun, pada dasarnya kita juga menghadapi persoalan multikulturalisme karena persoalan suku yang justru berasal dari tanah kita sendiri. Dalam sepakbola, imigran di Indonesia bukanlah pendatang yang beranak-pinak dan berjumlah jutaan seperti di Eropa. Tetapi, sepakbola Indonesia punya masalah karena perbedaan suku mewarnai bagaimana suasana perasaan di tim nasional.

Suka atau tidak, dalam euforia kemenangan Timnas Indonesia U-19 dalam Piala AFF U-19 2013, Pelatih Timnas Indonesia senior kala itu, Jacksen F Tiago, menyebut persoalan di timnya adalah pemain masih belum melebur dan cenderung berkelompok menurut suku dan daerah asal masing-masing.[]

Editor: Hervin Saputra

Sumber:

berita terkait

Image

Olahraga

Tim Nasional Jerman

Mantan Pemain Timnas Jerman: Guardiola Telah Menipu Kami

Image

Olahraga

Tim Nasional Jerman

Klopp Sebut Pemberitaan Media Jerman "Lebay"

Image

Olahraga

Tim Nasional Jerman

Winger Manchester City Tinggalkan Pemusatan Latihan Timnas Jerman

komentar

Image

0 komentar

terkini

Image
Olahraga
Indonesia Masters 2019

Ganda Putri Hanya Sisakan Greysia/Apriyani di Perempat Final

Greysia/Apriyani menjadi satu-satunya wakil Indonesia di nomor ganda putri.

Image
Olahraga
Pengaturan Pertandingan

Joko Driyono Penuhi Panggilan Satgas Anti-Mafia Bola

Pemanggilan Jokdri ini kemungkinan bisa menjadi titik kunci penyelesaian kasus pengaturan pertandingan di Indonesia.

Image
Olahraga
Piala Asia 2019

Preview: Hadapi Vietnam, Jepang Bertarung dengan Kebugaran

Jepang pernah dikalahkan oleh Vietnam pada penyisihian Asian Games Jakarta-Palembang 2018.

Image
Olahraga
Soccertainment

5 Potret Cantik Direktur Chelsea Marina Granovskaia, Tangan Kanan Abramovich

Wajah ayu perempuan keturunan Kanada-Rusia ini akan tersorot kamera tiap-tiap transfer pemain dilakukan The Blues.

Image
Olahraga
Bursa Transfer

Susul Egy ke Eropa, Firza Andika Resmi Direkrut Klub Belgia

Firza Andika menjadi satu-satunya pemain Indonesia di AFC Tubize.

Image
Olahraga
Indonesia Masters 2019

Langkah Shesar dan Rinov/Phita Terhenti di Putaran Kedua

Shesar Hiren Rusthavito kalah dalam laga dua set langsung dengan skor 21-11 dan 21-9 atas atlet asal Denmark, Anders Antonsen.

Image
Olahraga
Soccertainment

Direkrut Klub Belgia, Ini 5 Foto Perjuangan Karier Firza Andika

Satu lagi talenta muda Tanah Air yang diakui klub Eropa

Image
Olahraga
Tim Nasional Indonesia U-22

Latihan Berpindah-pindah, Nova Minta Timnas U-22 Punya Lapangan Khusus

Keluhkan fasilitas, Nova harap Timnas U-22 dapatkan yang lebih baik

Image
Olahraga
Australia Terbuka 2019

Kvitova Rebut Final Australia Terbuka Pertamanya

Di semifinal, Petra Kvitova mengalahkan petenis asal Amerika Serikat, Danielle Rose Collins, dengan skor 7(7)-6(2) dan 6-0.

Image
Olahraga
Tim Nasional Indonesia U-22

Nova: Coach Indra Baru Kembali Sabtu Nanti

Meski tanpa Pelatih Indra Sjafri, Tim Nasional Indonesia U-22 mengalami peningkatan.

trending topics

terpopuler

  1. Pergantian Komjen Arief Sulistyanto Dipertanyakan, Yunus Husein: Ini Kurang Lazim

  2. Debut Manis Kolev Bawa Persija Berpesta Gol

  3. Anak Ba'asyir: Sudah Ditakdirkan Jika Ayah Jadi Kembali atau Sebaliknya

  4. Disangka Berpihak Salah Satu Pasangan Capres, Citra Scholastika Diteror

  5. BNPB Bakal Minta 1.000 Prajurit ke Mabes TNI, Buat Apa?

  6. Hanya Beberapa Saat Jelang Diperkenalkannya Piatek Sebagai Pemain Milan

  7. Holeless Phone, Ponsel Baru Meizu yang Bikin Heboh!

  8. Harapan Ahsan/Hendra untuk The Minions

  9. Besok Ahok Bebas, Dewi Perssik: Aku Suka Sama Sosoknya

  10. Citra Scholastika Antusias Tunggu Ahok Bebas

fokus

Debat Pilpres 2019
Mengupas Visi Misi Ekonomi Paslon
Golden Globe 2019

kolom

Image
Ujang Komarudin

Kritik JK dan Nasib Bangsa

Image
Achmad Fachrudin

Antisipasi Kecurangan Pemilu 2019

Image
Hendra Mujiraharja

Edy Mundur, Joko Driyono Meragukan?

Image
Pangi Syarwi Chaniago

Debat Perdana Pilpres Tontonan Paling Memalukan

Wawancara

Image
Hiburan

Cerita Egy Fedly Saat Pandangan Pertama Menjemput Jodoh

Image
Olahraga

Susy Susanti

"Sekarang Saatnya Pemain Putri Mengubah Mindset"

Image
Hiburan

Kekecewaan Egi Fedly Terkait Film Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak

Sosok

Image
Ekonomi

Menteri Susi Masuk Daftar 100 Pemikir Global

Image
News

Abdul Hadi: Kami Tak Minta Dikasihani, Kami Hanya Butuh Pengakuan dan Kesempatan

Image
News

Megawati Soekarnoputri, Sosok Ibu Pembimbing dan Pemimpin yang Berkarakter Kuat