image
Login / Sign Up
Image

Hervin Saputra

Bekerja sebagai redaktur kanal olahraga Akurat.co. Pernah bekerja di Harian Top Skor dan Majalah World Soccer Indonesia.

"Kaki Telanjang" Zohri Menusuk Kesenjangan Kaya-miskin di Indonesia

Hervin Saputra

Lalu Muhammad Zohri

Image

Siswa SMK Kesehatan Citra Medika mengenakan topeng pelari Indonesia Lalu Muhammad Zohri saat menyambut rombongan pembawa api Asian Games, di Sukoharjo, Jawa Tengah, Rabu (18/7). | ANTARA/Mohammad Ayudha

AKURAT.CO, “Jangan tanya apa yang negaramu berikan kepadamu, tapi tanyakan apa yang telah kau berikan untuk negaramu?”

Sebagaimana kalimat bijak lainnya, kalimat yang dilontarkan Presiden Amerika Serikat yang kelak terbunuh, John F Kennedy, dalam pidato inagurasinya sebagai Presiden ke-35 Amerika Serikat di Washington DC, 20 Januari 1961, itu mudah diucapkan, namun sulit diterapkan, dan karena sulit diterapkan, jarang bisa dibuktikan.

Namun, apa yang terjadi di sebuah kota di sisi selatan Finlandia, Tampere, akhir pekan lalu, memberikan jawaban yang “betapa jarang” itu. Persoalannya adalah jawaban sekaligus pembuktian itu menghunjam jantung sebuah negara luas di Asia Tenggara: Indonesia.

baca juga:

Di Tampere, seorang pemuda berusia 18 tahun asal Lombok, Nusa Tenggara Barat, bernama Lalu Muhammad Zohri, mencatatkan sejarah dengan menjadi juara dunia lari 100 meter Kejuaraan Dunia Atletik U-20 2018.

Belum pernah ada sebelumnya orang seperti Zohri yang menjadi juara dunia di ajang dan level itu. Pendeknya, Zohri telah memberi sumbangan besar untuk Indonesia pada cabang olahraga yang selalu didominasi oleh warga kulit hitam dari Amerika Serikat, Jamaika, juga sejumlah negara Afrika.

Zohri tidak pernah bertanya tentang apa yang sudah diberikan negara kepadanya. Tetapi ia telah memberikan sesuatu untuk negara. Barangkali, selamanya Zohri tidak akan menuntut apa-apa kepada negara sebagaimana ia juga tidak banyak menuntut kepada keluarganya.

“Dia minta ke saya uang Rp 400 ribu untuk beli sepatu sebelum berangkat ke Jakarta untuk melanjutkan pertandingan ke luar negeri. Saya hanya bisa memberikan uang seadanya,” kata kakak perempuan Zohri, Baiq Fazilla, seraya menyeka air matanya.

Kakak Lalu Muhammad Zohri, Baiq Fazilah, saat menunjukkan medali adiknya di rumah mereka di Lombok, 14 Juli silam. ANTARA/Ahmad Subaidi.

“Dia anaknya pendiam dan tidak pernah menuntut ini-itu. Bahkan, kalau berlatih tidak pernah pakai alas kaki (sepatu) karena tidak punya.”

Tetapi, layakkah seorang Zohri sekadar bertanya apa yang sudah diberikan negara kepadanya?

Popularitas mendadak yang diraih Zohri memberikan semacam “dimensi” tentang gambaran masyarakat Indonesia mutakhir. Sebagaimana yang pernah diucapkan oleh seorang selebritas dunia yang lahir pada tahun 1940-an: “jika Anda terkenal, maka orang hanya akan peduli dengan kehidupan pribadi Anda.”

Sesaat setelah Zohri diketahui menjadi juara di Finlandia, media nasional dan internasional menggambarkan kemenangan pemuda ini dengan mencungkil latar belakang kehidupan pribadi sang atlet: Zohri adalah pemuda miskin, yatim-piatu, tinggal di rumah gubuk, serta nyaris tak punya sepatu untuk berlomba.

Di mata media internasional, kisah Zohri yang tak mampu membeli sepatu ini menjadi sudut pandang dalam judul berita mereka. The Guardian, misalnya, menulis judul “Sprinter Indonesia yang nyaris tak punya sepatu memenangi emas 100 meter.”

Berita Lalu Muhammad Zohri di The Guardian. THE GUARDIAN.

Channel News Asia yang berbasis di Singapura menulis “Pelari Indonesia yang berlatih telanjang kaki dipuja oleh negaranya setelah merebut (medali) emas atletik.” Sementara Global News yang bermarkas di Kanada, menulis “Atlet Indonesia yang tak mampu beli sepatu berlatih telanjang kaki. (Dan) dia memenangi medali emas.”

Anda bisa lihat, bagi media internasional di negara maju, yang menarik perhatian mereka dari fenomena Zohri adalah ketidakmampuan sang atlet untuk punya sepatu. Dengan kata lain, dunia memuja Zohri justru karena ia berasal dari keluarga miskin.

Kemiskinan, dan popularitas, adalah kata kunci dalam fenomena Zohri. Dalam dunia olahraga, orang seperti Zohri bukanlah hal baru. Diego Maradona, Cristiano Ronaldo, dan juara Wimbledon terbaru asal Serbia, Novak Djokovic, adalah anak-anak miskin yang mengubah hidupnya melalui olahraga.

Persoalannya adalah penjungkirbalikkan situasi itu terjadi di Indonesia. Dan kisah seperti Zohri adalah sesuatu yang langka dalam sejarah Indonesia – dan ironisnya terjadi di negara dengan kesenjangan ekonomi yang cukup ekstrem.

Jika Menteri Keuangan Sri Mulyani menyebut bahwa angka kemiskinan di Indonesia menurun menjadi 9,82 persen per Maret 2018 dengan label “yang pertama dalam sejarah Indonesia dengan angka di bawah sepuluh persen”, maka tak pelak Zohri adalah salah satu dari sembilan sekian persen itu.

Dalam angka yang lebih pasti, Zohri adalah satu dari 25,95 juta masyarakat yang tergolong miskin dari 260 juta jumlah total masyarakat Indonesia. Dan dengan asumsi Menteri Keuangan yang menyebutkan bahwa garis kemiskinan adalah pengeluaran sebesar Rp 401,220 per bulan untuk satu orang, maka Zohri adalah salah satu dengan batas pengeluaran itu.

Pengumuman Sri Mulyani ini menjadi “panas” karena disiarkan setahun menjelang Pemilihan Umum dan Pemilihan Presiden 2019. Dan dalam konteks Zohri, Presiden Joko Widodo adalah orang yang beruntung karena sejarah juara dunia tercipta di masa kepemimpinannya sehingga ia bisa membangun citra dengan mengajak Zohri berjalan-jalan di Istana Negara di hadapan mata media massa.  

Presiden Joko Widodo dan Lalu Muhammad Zohri di Istana Negara, Jakarta, 18 Juli silam. AKURAT.CO/Sopian.

Dalam hubungannya dengan politik, fenomena Zohri bukanlah sekadar berbicara tentang kemiskinan, namun yang lebih menusuk lagi adalah “kesenjangan ekonomi.” Argumen yang membantah sejarah penurunan kemiskinan yang diucapkan Sri Mulyani adalah apakah 9,82 persen itu memberi imbas pada berkurangnya kesenjangan ekonomi di Indonesia.

Kesenjangan ekonomi telah membuat 9,82 persen tersebut seakan bukanlah apa-apa. Karena, pasca 1998 ketika pertumbuhan ekonomi Indonesia dianggap meningkat pesat, peningkatan itu juga ditandai dengan bertambahnya jumlah masyarakat kaya sekaligus “menjurangkan kesenjangan ekonomi secara lebih cepat dalam 20 tahun terakhir.”

NHK menyebut, 44 juta dari 250 juta masyarakat Indonesia adalah masyarakat kelas atas. Sementara itu, pada 23 Februari 2017 Al Jazeera merilis studi Oxfam yang menyebutkan empat warga Indonesia paling tajir lebih kaya ketimbang 100 juta masyarakat miskin di negerinya sendiri.

Studi umum menyebut bahwa kesenjangan ekonomi di Indonesia diakibatkan akses pendidikan yang tak seimbang. Dalam situasi masyarakat di mana ijazah perguruan tinggi adalah “surat sakti” untuk lepas dari kemiskinan, maka kesenjangan itu telah membantu melestarikan kemiskinan.

Bagi Anda yang tinggal di Jakarta, Anda bisa melihat fenomena riil itu dengan berjalan-jalan ke kawasan utara. Di Cilincing, misalnya, dalam perjalanan sekitar 15 menit dari salah satu mal termewah di Indonesia, Mall of Indonesia, Anda bisa menemukan perkampungan miskin di mana tak sedikit masyarakat dewasanya yang buta huruf dan anak-anak mereka hanya bisa sekolah sampai tingkat SMP.

“Mayoritas pulau (Indonesia) dimiliki oleh korporasi besar dan orang-orang kaya yang mengambil keuntungan. Sementara itu, sistem pendidikan dibiayai dengan rendah dan ada batasan untuk kesetaraan akses, yang berarti banyak pekerja Indonesia yang tidak bisa mengakses pekerjaan dengan gaji tinggi dan skill tinggi,” tulis Oxfam.

Sentilan untuk Orang Kaya

Salah satu cara untuk menjadi kaya di Indonesia adalah dengan menjadi populer. Apakah Zohri akan begitu saja menjadi kaya dengan popularitasnya? Itu tergantung Zohri sendiri. Namun, popularitas yang diraihnya telah membuat sejumlah publik figur yang selama ini dikenal dengan paham “latar belakang kekayaan adalah basis keberhasilan” harus menyampaikan pembelaan.

Pengacara kondang yang biasa bergaul di lingkungan selebritas, Hotman Paris Hutapea, mengumumkan bahwa ia memberikan hadiah Rp 100 juta untuk Zohri karena prestasi sang atlet. Dibumbui dengan permintaan Zohri datang ke kantornya untuk mengambil hadiah tersebut.

Bekas pesulap yang kini menjadi pembawa acara di salah satu stasiun televisi swasta, Deddy Corbuzier, menganggap apa yang dilakukan Zohri adalah “keberuntungan.” Ia membandingkan dengan upayanya untuk membuat tubuhnya berotot dan atletis dengan mengeluarkan uang jutaan rupiah untuk membeli suplemen dan membayar gym.

Gue bikin biar badan gue kayak gini gue butuh suplemen seharga jutaan rupiah dan suplemen terbaik yang gue pakai,” ucap Deddy sebagaimana dipetik dari Tribun News.

“Sekarang coba bandingkan dengan Zohri. Zohri itu sepatu larinya aja nggak punya, tinggal di rumah gubuk, makannya kurang, gizinya nggak terawat, suplemennya nggak ada, tidak diperhatikan sama sekali. Sekarang aja diperhatikan, kalau nggak viral ya nggak jadi apa-apa juga.”

Di hadapan orang yang hidup dalam kultur masyarakat kaya di antara kesenjangan ekonomi yang terlalu dalam seperti Hotman Paris dan Deddy Corbuzier ini, Zohri adalah “keajaiban” yang sulit mereka terima. Bahwa, latar belakang kekayaan sama sekali tak menjamin seseorang bisa menjadi juara dunia. Seakan-akan, apa yang dicapai Zohri bukanlah hasil dari spirit dan kerja kerasnya menghadapi kesulitan.

Bukankah dunia sudah melahirkan banyak orang miskin yang pada akhirnya mengubah dunia? Mereka mengakuinya, tetapi tidak jika orang tersebut adalah saudaranya sendiri sesama Indonesia.

Benar bahwa gelar juara dunia Zohri terus membuktikan bahwa negara tidak memperhatikan atlet berbakat. Tetapi, sebagai perwakilan masyarakat miskin yang disebut oleh Deddy Corbuzier “tak punya sepatu, tinggal di gubuk, kurang gizi,” Zohri telah menyumbangkan sesuatu yang besar untuk Indonesia.

Kini, dengan asumsi perkembangan ekonomi Indonesia yang meningkat pesat sejak krisis ekonomi menghantam Asia pada 1997, fenomena Zohri telah mengantarkan “kado” di depan rumah masyarakat kaya di Indonesia yang membuat mereka malu.

Bagi seluruh orang kaya di Indonesia yang membesarkan anak-anak mereka dengan segala kemudahan, kesuksesan Zohri telah membuktikan teori bahwa “uang” saja tidak cukup untuk menjadi juara dunia. Zohri mungkin miskin, tetapi kekayaan dan gizi baik anak-anak kaya tidak mampu memberikan sumbangan sehebat yang sudah dipersembahkan Zohri.

Oleh sebab itu, bukanlah hal yang mengherankan ketika media internasional justru melihat Zohri dari kisah ketidakmampuannya untuk membeli sepatu. Ini adalah tipikal “fairy tale” di mana si miskin bisa mengalahkan jutaan anak kaya dengan menjadi juara dunia.

Dan kepada negara, memperhatikan Zohri seorang tidak akan cukup untuk membuat negara menjadi besar. Zohri adalah peringatan kepada para pemimpin untuk membereskan kemiskinan yang kian hari membuktikan bahwa kesenjangan ekonomi telah menekan bakat-bakat besar yang justru berasal dari kaum miskin.[]

 

  

 

 

 

 

 

   

 

Editor: Hervin Saputra

Sumber:

berita terkait

Image

Olahraga

Lalu Muhammad Zohri

Jadi Juara Dunia, Pemuda Lombok Diguyur Asuransi 1 Milyar

Image

Olahraga

Lalu Muhammad Zohri

Patut Ditiru, Cara Zohri Menghormati Jasa Sang Guru

Image

Olahraga

Lalu Muhammad Zohri

Sebelum Sabet Gelar Juara Dunia, Zohri Sempat Tekuni Sepakbola

Image

Olahraga

Lalu Muhammad Zohri

Pesan Jokowi untuk Zohri: Semangat Latihan dan Jangan Sombong

Image

Olahraga

Lalu Muhammad Zohri

Diundang ke Istana Bogor, Zohri: Terima Kasih Pak Jokowi!

Image

News

Meski Berprestasi, Zohri Tetap Dites Jika Masuk TNI

Image

Olahraga

Asian Games Jakarta-Palembang 2018

Tiba di Indonesia, Zohri Langsung Jalani Pemusatan Latihan

Image

Olahraga

Disambut Bak Pahlawan, Zohri Tak Kuasa Tahan Tangis

Image

Olahraga

Lalu Muhammad Zohri

Zohri Mendarat di Jakarta Malam Ini

komentar

Image

0 komentar

terkini

Image
Olahraga
Australia Terbuka 2019

Kalahkan Pliskova, Osaka Raih Final Grand Slam Kedua Beruntun

Osaka mampu mencatatkan 15 Aces dan 59 winners.

Image
Olahraga
Indonesia Masters 2019

Ganda Putri Hanya Sisakan Greysia/Apriyani di Perempat Final

Greysia/Apriyani menjadi satu-satunya wakil Indonesia di nomor ganda putri.

Image
Olahraga
Pengaturan Pertandingan

Joko Driyono Penuhi Panggilan Satgas Anti-Mafia Bola

Pemanggilan Jokdri ini kemungkinan bisa menjadi titik kunci penyelesaian kasus pengaturan pertandingan di Indonesia.

Image
Olahraga
Piala Asia 2019

Preview: Hadapi Vietnam, Jepang Bertarung dengan Kebugaran

Jepang pernah dikalahkan oleh Vietnam pada penyisihian Asian Games Jakarta-Palembang 2018.

Image
Olahraga
Soccertainment

5 Potret Cantik Direktur Chelsea Marina Granovskaia, Tangan Kanan Abramovich

Wajah ayu perempuan keturunan Kanada-Rusia ini akan tersorot kamera tiap-tiap transfer pemain dilakukan The Blues.

Image
Olahraga
Bursa Transfer

Susul Egy ke Eropa, Firza Andika Resmi Direkrut Klub Belgia

Firza Andika menjadi satu-satunya pemain Indonesia di AFC Tubize.

Image
Olahraga
Indonesia Masters 2019

Langkah Shesar dan Rinov/Phita Terhenti di Putaran Kedua

Shesar Hiren Rusthavito kalah dalam laga dua set langsung dengan skor 21-11 dan 21-9 atas atlet asal Denmark, Anders Antonsen.

Image
Olahraga
Soccertainment

Direkrut Klub Belgia, Ini 5 Foto Perjuangan Karier Firza Andika

Satu lagi talenta muda Tanah Air yang diakui klub Eropa

Image
Olahraga
Tim Nasional Indonesia U-22

Latihan Berpindah-pindah, Nova Minta Timnas U-22 Punya Lapangan Khusus

Keluhkan fasilitas, Nova harap Timnas U-22 dapatkan yang lebih baik

Image
Olahraga
Australia Terbuka 2019

Kvitova Rebut Final Australia Terbuka Pertamanya

Di semifinal, Petra Kvitova mengalahkan petenis asal Amerika Serikat, Danielle Rose Collins, dengan skor 7(7)-6(2) dan 6-0.

trending topics

terpopuler

  1. Pergantian Komjen Arief Sulistyanto Dipertanyakan, Yunus Husein: Ini Kurang Lazim

  2. Debut Manis Kolev Bawa Persija Berpesta Gol

  3. BNPB Bakal Minta 1.000 Prajurit ke Mabes TNI, Buat Apa?

  4. Disangka Berpihak Salah Satu Pasangan Capres, Citra Scholastika Diteror

  5. Hanya Beberapa Saat Jelang Diperkenalkannya Piatek Sebagai Pemain Milan

  6. Holeless Phone, Ponsel Baru Meizu yang Bikin Heboh!

  7. Harapan Ahsan/Hendra untuk The Minions

  8. Besok Ahok Bebas, Dewi Perssik: Aku Suka Sama Sosoknya

  9. Citra Scholastika Antusias Tunggu Ahok Bebas

  10. Masih Banyak yang Salah, MPASI Berkontribusi Besar Sebabkan Anak Stunting

fokus

Debat Pilpres 2019
Mengupas Visi Misi Ekonomi Paslon
Golden Globe 2019

kolom

Image
Ujang Komarudin

Kritik JK dan Nasib Bangsa

Image
Achmad Fachrudin

Antisipasi Kecurangan Pemilu 2019

Image
Hendra Mujiraharja

Edy Mundur, Joko Driyono Meragukan?

Image
Pangi Syarwi Chaniago

Debat Perdana Pilpres Tontonan Paling Memalukan

Wawancara

Image
Hiburan

Cerita Egy Fedly Saat Pandangan Pertama Menjemput Jodoh

Image
Olahraga

Susy Susanti

"Sekarang Saatnya Pemain Putri Mengubah Mindset"

Image
Hiburan

Kekecewaan Egi Fedly Terkait Film Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak

Sosok

Image
Ekonomi

Menteri Susi Masuk Daftar 100 Pemikir Global

Image
News

Abdul Hadi: Kami Tak Minta Dikasihani, Kami Hanya Butuh Pengakuan dan Kesempatan

Image
News

Megawati Soekarnoputri, Sosok Ibu Pembimbing dan Pemimpin yang Berkarakter Kuat