image
Login / Sign Up
Image

Achmad Fachrudin

Peneliti Senior Jaringan Demokrasi Indonesia DKI, Pengajar Fakultas Dakwah Institut PTIQ

Akrobat Politik Cak Imin

Kolom

Image

Wakil Ketua MPR Muhaimin Iskandar saat memberikan kata sambutan dalam acara Parlemen Mengaji di Aula Masjid Baiturrahman, Kompleks Parlemen MPR/DPR-DPD, Senayan, Jakarta, Selasa (29/5). Fraksi PKB DPR menggelar acara Parlemen Mengaji untuk membudayakan kegiatan-kegiatan positif yang dianjurkan dalam agama Islam di bulan suci Ramadan. Acara yang di hadiri sejumlah anggota DPR Fraksi PKB melakukan acara membagikan santunan kepada anak yatim piatu serta melakukan buka bersama. | AKURAT.CO/Sopian

AKURAT.CO, Jika ada kompetisi mengenai partai politik (parpol) paling atraktif  dan akrobatik di Pemilu Serentak 2019, jawabannya hampir bisa dipastikan adalah Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) sebagai jawaranya. Berbicara tentang kehebatan PKB, tidak bisa dilepaskan dari kualitas personal Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar. Di tangan Cak Imin, begitu Muhaimin Iskandar biasa disapa, PKB tampil trengginas. Sehingga eksistensinya menonjol di Pemilu Presiden dan Wakil Presiden (Pilpres) maupun Pemilu Anggota DPR, DPD dan DPRD atau Pemilu Legislatif (Pileg) 2019. Bahkan paska Pilpres 2019.

Kualitas personal Cak Imin tidak terlepas dari aspek geneologis Cak Imin sebagai keponakan KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang dikenal seorang kiai, intelektual dan politisi andal. Bagi Cak Imin, Gus Dur  adalah seorang guru, suhu dan mentor politiknya. Juga tidak terlepas dari pergulatan intelektual, organisasi kemahasiswaan dan aktivitas politik demikian intens dari Cak Imin sejak masih usia muda. Sehingga mengantarkannya menjadi salah seorang pemimpin (muda) Indonesia mumpuni, matang, andal dan tangguh.

Berbagai jabatan penting di eksekutif dan legislatif pernah dijabatnya. Misalnya, Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi periode 2009–2014 dan Wakil Ketua DPR RI selama 2 periode (1999 – 2004, 2004 - 2009). Sedangkan di PKB, ia pernah menjabat Sekretaris Jenderal DPP PKB 1998-1999 dan 2000-2005, Ketua Umum Umum PKB 2005, dan dilengserkan pada Rabu 27 Maret 2008. Namun tetap bertahan dan pada 1 September 2014, secara aklamasi terpilih kembali sebagai Ketua Umum PKB.

baca juga:

Barangkali diantara pergumulan politik paling mengesankan adalah di PKB, khususnya ketika PKB dilanda konflik kepengurusan. Seperti diketahui, partai besutan ulama NU yang dideklarasikan pada 23 Juli 1998 di Ciganjur, Jakarta Selatan dalam perjalanannya acapkali dilanda konflik. Tercatat PKB mengalami dualisme kepemimpinan besar yakni pada 2001 yang melibatkan kubu Matori Abdul Djalil dan Alwi Shihab. Juga pada tahun 2007-2008 yang melibatkan kubu Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dengan Cak Imin.

Konflik dengan Gus Dur, merupakan paling banyak menguras energi dan psikisnya terutama paska pemecatan Matori pada 2001 dan digantikan Muhaimin. Gus Dur yang ketika itu menjadi Ketua Umum Dewan Syuro memecat Cak Imin dari Ketua Umum PKB karena dianggap ‘slonong boy’ ke Istana Negara yang mengakibatkan terjadinya dualisme kepemimpinan. Dualisme kepemimpinan ini berujung pada diselenggarakannya  Musyawarah Luar Biasa (MLB).  Kubu Muhaimin menggelar MLB Ancol  di Ancol, sedangkan  kubu Gus Dur menggelarnya di Pondok Pesantren Al-Ashiriyyah Nurul Iman, Parung.  Penyelenggaraan MLB versi Gus Dur dengan fasilitas sederhana, sedangkan MLB versi Muhamin dengan fasilitas wah.

Perbedaan fasilitas MLB ini menimbulkan persepsi berbeda di kalangan muktamirin tentang masa depan partai dengan menganggap masa depan PKB kubu Gus Dur gurem, sebaliknya masa depan PKB versi  Muhaimin lebih prospektif. Hasil MLB kedua kubu ini bergulir di pengadilan  sampai pada tahap kasasi di Mahkamah Agung. Setelah melalui proses yang panjang, di pengadilan kubu Muhaimin dinyatakan menang. Dalam suatu kesempatan Gus Dur berceloteh, kemenangan Muhaimin dalam dualisme kepemimpinan di PKB tak terlepas dari intervensi penguasa, yakni: Presiden (saat itu) Susilo Bambang Yudhoyono melalui Jusuf Kalla.

Kiprah Cak Imin

Perjalanan politik PKB di Pileg mengalami pasang surut. Kala dipimpin Gus Dur, pada Pileg  1999, mampu meraup 13.336.982 suara atau 12,61% persen. Pada Pileg 2004, ketika dipimpin Alwi Shihab, perolehan suara PKB surut dan hanya memperoleh 10,57% (11.989.954). Kemudian, kali pertama dipimpin Cak Imim, suara PKB melorot karena hanya mampu mendapatkan suara 4,94 persen. Baru pada Pileg 2014, Cak Imim mampu menaikkan  perolehan suara PKB dua kali lipat menjadi menjadi 11.298.950 atau  9,04% dan mengamankan urutan kelima perolehan suara nasional. Lalu pada Pileg 2019, suara PKB naik sedikit menjadi 13.570.097 atau 9,04 %.

Di Pemilu 2019, prestasi PKB boleh dikatakan cukup monumental. Sebab, selain mampu menaikkan sedikit perolehan suara di Pileg, pada Pilpres yang digelar bersamaan dengan Pileg, Cak Imin berhasil meloloskan tokoh NU yang sekaligus juga Ketua Umum MUI yang juga Ketua Syuriah PB NU KH. Ma’ruf Amien sebagai Calon Wakil Presiden (Cawapres) mendampingi Joko Widodo sebagai Calon Presiden (Capres).

Pencawapresan Ma’ruf setelah melalui manuver dan zik zak politik sedemikian rupa, dengan aktor intelektual utamanya adalah Cak Imin. Bahkan dikabarkan sempat diiringi dengan ‘ancaman’ kepada Jokowi “jika tidak mencawapreskan Ma’ruf, PKB dengan NU akan menarik dukungan politik kaum nahdhiyyin kepada Jokowi”. Akibatnya, Jokowi dengan kubunya tidak bisa berbuat lain selain mengamini syahwat politik Cak Imin.

Padahal beberapa saat jelang pengumuman resmi Cawapres, nama Mahfud MD santer disebut-sebut akan mendampingi Jokowi. Malah dikabarkan Mahfud sudah berada tidak jauh dari lokasi tempat keberangkatan Jokowi dan rombongan menuju KPU untuk mendaftarkan diri menjadi Capres dan Cawapres. Namun karena posisi tawar menawar Cak Imin di hadapan Jokowi demikian tinggi, Mahfud bisa disalip oleh Ma’ruf Amien sehingga yang diusulkan secara resmi Ma’aruf sebagai pendamping Jokowi di Pilpres 2019.

Ternyata political reading and political feeling Cak Imin tidak meleset. Pasangan Calon No. Urut 01 Jokowi -Ma'ruf yang diusung  PKB dan parpol yang tergabung dalam Koalisi Indonesia Kerja (KIK) meraih kemenangan dengan  memperoleh 85.607.362 suara sah (55,50). Mengalahkan  Pasangan Calon No. Urut 02 Prabowo-Sandiaga yang hanya memperoleh 68.650.239 (45,50). Tanpa political reading dan keberanian Cak Imin mengusung Ma’aruf sebagai Cawapres, mungkin saja Jokowi kalah di Pilpres 2019. Meskipun bisa saja, tanpa Ma’ruf sebagai pendampingnya di Pilpres, Jokowi akan tetap menang.

Faktor Cak Imin

Banyak faktor yang membuat Cak Imin menjadi tokoh kuat dan sentral di PKB saat ini. Diantaranya: pertama, Cak Imin dikenal sebagai seorang politisi cerdas dan visioner. Bukan itu saja, Cak Imin merupakan tipe politisi petarung, pemberani dan memiliki nyali besar. Siapapun lawan politiknya, jika terpaksa harus ‘bertarung’ akan dilawannya dengan elegan dan konstitusional. Bahkan mentor utamanya, Gus Dur yang ketika itu menjadi Ketua Dewan Syuro PKB yang memecatnya dari Ketua Umum PKB karena dianggap ‘slonong boy’ ke Istana Negara, dilawannya dan akhirnya Cak Imin memenangangi konstetasi melawan Gus Dur.

Kedua, Cak Imin mengelola PKB dengan modern. Begitupun, ia mampu mempertahankan dan memelihara kultur tradisionalisme NU sehingga diterima oleh banyak kalangan ulama dan tokoh sepuh NU. Di tangan Cak Imin, PKB  terlihat tampil trengginas dengan ide-ide segar baru, termasuk dalam pengemasan dan promosi partai. Jelang Pilpres 2019 misalnya, Cak Imin tampil slogan Sudurisme (gabungan Sukarnois dan Gus Durisme). Sudurisme itu pula yang ditawarkan Cak Imin kepada Jokowi agar ia bisa dijadikan sebagai Cawapres.

Ketiga, meminjam pendapat antropolog Australian National University Greg Fealy, yang berpandangan, keberhasilan Cak Imin dalam memimpin PKB karena kepiawaiannya mengonsolidasikan dukungan politik dari kekuatan NU, baik secara jamiyah maupun tokoh dan elitnya. Bahkan akhirnya, NU secara bulat mendukung gerakan politik PKB. Secara spesifik, strategi yang ditempuh Cak Imin adalah dengan cara mengarahkan dana dan aset untuk ormas tersebut. Cak Imin pula yang menginstruksikan anggota legislatif PKB untuk memberikan uang bulanan kepada NU untuk keperluan administratif.

Strategi kedua yang dilakukan oleh Cak Imin menurut Greg yang banyak menulis buku tentang NU,  dengan membangun patronase dengan pengusaha-pengusaha kaya. Melalui jejaring dengan taipan besar, Cak Imin bisa mendanai program kampanye besar di kantong-kantong suara NU. Salah satu nama taipan yang dikenal dekat dengan PKB adalah bos Lion Air Group sekaligus Duta Besar Indonesia untuk Malaysia, Rusdi Kirana. Secara formal, Rusdi memang memiliki jabatan khusus di PKB yaitu sebagai Wakil Ketua Umum. Hal tersebut tergolong tidak lazim karena Rusdi menjadi sosok Kristen-Tionghoa yang berada di struktur partai berhaluan Islam-NU. Namun itu dilakukan oleh Cak Imin sebagai taktik untik membesarkan PKB.

Syahwat Politik

Penguasa, apakah itu di bidang bisnis, pemerintahan atau parlemen umumnya mempunyai motif, instink, naluri  atau syahwat politik menggebu untuk selalu mempertahankan kekuasaannya. Bahkan dari waktu ke waktu, berupaya untuk melipatgandakan kekuasaannya. Jika ada yang mencoba menyaingi kekuasaannya, bisa saja langsung dipersasi atau sebaliknya diamputasi (disingkirkan). Dalam kasus pencopotan Abdul Kadir Karding dari posisinya sebagai Sekjen PKB dan digantikan Hanif Dakhiri, kabarnya tidak terlepas dari skenario politik Cak Imin untuk mengamputasi langkah kuda politik Karding karena ditengarai hendak bersaing menduduki Ketua Umum PKB pada Muktamar PKB bulan ini.

Di sela-sela itu, ada kalanya sang penguasa melakukannya secara zik zak atau jumping. Fenomena politik ini nyaris berlaku umum. Bila sebelumnya menjadi anggota DPR, kini berambisi menjadi pimpinan komisi, atau fraksi. Jika sebelumnya Wakil Ketua DPR/MPR, kepincut menjadi Ketua DPR/MPR. Dari yang belum menjadi atau sedang menjadi menteri pada jilid pertama pemerintahan Jokowi, ingin diangkat atau bertahan menjadi menteri pada jilid kedua. Khusus terkait dengan Cak Imin, kepada publik ia sudah menginfokan keinginannya menjadi Ketua MPR dan  kursi menteri bagi PKB makin menggelembung.

Motif atau syahwat politik/berkuasa tidak jarang didorong oleh latar belakang organisasi (sosial, keagamaan atau politiknya) dan orang-orang terdekatnya, termasuk para pembisiknya. Bahkan ada ditemukan dimana keluarga khususnya istri (jika pejabatnya suami, atau sebaliknya suami bila yang menjadi pejabat istri) merupakan pihak terdepan yang mempengaruhi dan ‘mengintimidasi’ pasangannya untuk memperoleh jabatan/kekuasaan yang lebih tinggi. Tak jarang hal tersebut dilakukan dengan berbagai cara.

Ada kalanya motif berkuasa atau mempertahankan kekuasaan didorong kelompok kepentingan (interest group), pemburu rente ekonomi berbasis politik (political rent seeking), atau dibackup kaum oligarkis atau pemilik modal dan uang besar.  Bahkan kalangan ini rela menjadi funding (penyandang) untuk membiayai untuk memperoleh kekuasaan. Tujuannya, pada awalnya bisa saja dilakukan secara sukalera (friendship). Tetapi tidak jarang pula belakangan ada motif tertentu. Misalnya mendapatkan proyek atau kemudahan perizinan, dan lain sebagainya.

Berbeda dengan ikhtiar Cak Imin menjadi Ketua Umum PKB pada Muktamar PKB yang akan digelar pada 20-21 Agustus 2019 yang boleh dikatakan bisa digapai tanpa berkeringat bercucuran. Tidak demikian halnya untuk beroleh kursi ketua  MPR dan memperbanyak kursi menteri bagi PKB di kabinet Jokowi. Cak Imin harus bersaing ketat dengan politisi Golkar, Nasdem, Gerindra dan lain-lain untuk mendapatkannya. PDI-P saja sebagai peraih suara terbanyak di Pileg melalui Ketua Umumnya Megawati Soekarno Putri sudah menyatakan ‘perang’ untuk bisa mendapatkan kursi menteri yang cukup banyak.

Kartu Trup

Bukan Cak Imin namanya, manakala tidak mampu untuk menggolkan cita-cita politiknya. Cak Imin diperkirakan akan kembali melakukan akrobat politik dengan melakukan lobi, trik,  manuver, negoisasi, dan sebagainya. Salah satu kartu trupnya yang akan dimainkannya secara cerdik adalah klaim paling berjasa atas keberhasilannya mengusung Ma’ruf Amien sebagai Cawapres sehingga Joko Widodo dan Ma’ruf Amien memenangkan Pilpres 2019.

Kartu trup ini diprediksi akan diklaim kepada Ma’ruf, dengan harapan Ma’ruf secara etis dan politik memperjuangkan dan menggolkan syahwat politik Cak Imin menjadi Ketua MPR. Dalam posisinya sebagai Wapres, Ma’ruf diharapkan Cak Imin dapat menyuarakan dan memperjuangkan kepentingan politik PKB agar sebanyak mungkin mendapat jatah kursi menteri pada kabinet Jokowi 2019-2024. Semakin banyak kursi menteri diperoleh, diandaikan akan makin besar pula pundi-pundi dana politik PKB dan dampaknya akan makin banyak program partai yang bisa dijalankan di masa depan.

Tantangannya cukup berat. Karena banyak parpol lain juga kepincut kadernya menjadi Ketua MPR dan banyak pula parpol ingin kadernya menjadi menteri di kabinet Jokowi mendatang, termasuk PDI-P. Karenanya, perebutan jabatan penting di legislatif dan eksekutif kali ini cukup seru—meskipun secara pengaturan untuk penentuan kursi menteri merupakan hak prerogatif presiden Jokowi. Dengan makin kompetitifnya rebutan kursi empuk di DPR, MPR dan Menteri, maka konflik politik juga diperkirakan akan makin potensial. Dan resiko yang ditimbulkan akibat rebutan kursi empuk, juga pasti makin besar.

Berbagai kemungkinan bisa terjadi mengiringi saat proses dan perebutan jabatan basah tersebut. Dari mulai terjadinya kompromi dan barter jabatan yang sifatnya win-win solution. Tetapi bisa juga berakhir dengan pecah kongsi di KIK dan sebaliknya terjadi reposisi dari sejumlah partai yang berhimpun di Koalisi Adil Makmur. Di masa lalu, calon yang kalah eksodus atau mendirikan parpol baru. Diatas itu semua, perebutan kursi ketua MPR dan jabatan menteri kali ini akan kembali menjadi ujian dan test case mengenai seberapa jauh efektivitas akrobatik politik Cak Imin dengan PKB-nya, sukses.[]

Editor: Sunardi Panjaitan

berita terkait

Image

News

Rektor Asing dan Mental Inlander

Image

News

Kolom

Megawati Centris dan Tantangan PDI-P

Image

News

Kolom

Pemindahan Ibukota: Perspektif Lain

Image

News

Kolom

Keharusan Perombakan Kepemimpinan PPP

Image

News

Kolom

Variable Aneh di Pertemuan Elit

Image

News

Kolom

Format Baru Munas Golkar

Image

News

Kolom

Tafsir Pertemuan Megawati-Prabowo

Image

News

Kolom

Evaluasi Kinerja Partai Politik

Image

News

Pohon Beringin Itu Akankah Kembali Rindang?

komentar

Image

0 komentar

terkini

Image
News

Peserta SMN Disabilitas Asal Sulteng Suka Ayam Goreng Khas Medan

"Saya senang makan ayam goreng di Medan ini, rasanya lezat, enak, renyah dan mudah dikonsumsi,"

Image
News

Uji Coba Rudal AS Dianggap Picu Perlombaan Senjata, Rusia Ogah Terprovokasi

Sejumlah pengamat pun mengomentari uji coba rudal AS tersebut

Image
News

Sengketa Tambang, Kapolda Bengkulu Bakal Dilaporkan ke Mabes Polri

“Sementara itu puluhan karyawan Nurul Awaliyah ditangkap dan dibawa ke Polda dengan dalih palsu yakni premanisme”

Image
News

BNN Tangkap Napi Lapas Cilegon

"Narkoba tersebut diduga masuk melalui Jambi untuk selanjutnya dibawa ke Jakarta melalui jalan darat,"

Image
News

Penggunaan Pestisida Sebabkan 500 Juta Lebah Mati di Brasil dalam Tiga Bulan

Lebah sangat penting dalam rantai makanan

Image
News

Terpilih Secara Aklamasi, Muhaimin Pimpin PKB 2019-2024

Rapat Pleno Muktamar VI PKB 2019 secara aklamasi memilih Muhaimin Iskandar sebagai Ketua Umum DPP PKB periode 2019-2024

Image
News

Sekda DIY Sarankan Kegiatan SMN Diadakan Tiap Tahun

"Saya kira penting acara ini untuk dilanjutkan digelar setiap tahun untuk meningkatkan semangat nasionalisme,"

Image
News

Wacana NKRI Bersyariah, Komarudin Hidayat: Itu Pepesan Kosong Saja

"Jadi, kita harus kembali ke substansi. Jangan lagi ada label-label itu (bersyariah),"

Image
News

Fokus Bangun SDM, Jokowi Sebut Tantangannya Lebih Besar

"Mungkin tantangan lebih besar yaitu membangun SDM,"

Image
News

Golkar Usulkan Tiga Nama Calon Ketua DPRD

tidak bisa disebutkannya karena menjadi rahasia partai

Banner Kemendagri

trending topics

banner jamkrindo

terpopuler

  1. Kerusuhan di Manokwari, PKS: Jangan Cari Siapa yang Salah, Tapi Dimana Letak Kesalahannya

  2. Bentrok di Asrama Mahasiswa Papua, Gubernur Sulsel: Ini Bukan Sesuatu yang Besar, Ini Murni Kesalahpahaman

  3. Ramai #PapuaBukanMonyet, Ini Orang-orang Papua yang Membanggakan dan Menginspirasi Indonesia

  4. Mustofa: Tolong Hentikan Tagar #TangkapAbuJanda

  5. Mahasiswa Papua di Cengkareng Deklarasi NKRI Harga Mati

  6. Sindir Jokowi Soal Kerusuhan di Papua, Syamsuddin: Seolah-olah Semua Soal Bisa Selesai dengan Saling Memaafkan

  7. Sang Adik Benarkan Glenn Fredly dan Mutia Ayu Menikah

  8. Bek Arsenal Resmi Merapat ke Klub Jerman

  9. Jangan Lakukan Ini Agar Efek Treatment Ultherapy Bertahan Lama

  10. Rusuh di Papua Barat, Dahnil Sampaikan Seruan Prabowo Subianto

fokus

Nikah Cepat
HUT Ke-74 RI
Ekonomi Indonesia, Merdeka?

kolom

Image
Ahmad Irawan

Joko Widodo dan Keutamaan Partai Politik

Image
Dr. H. M. Syarif, MA

Kesan Haji Tamu Raja 2019

Image
Achmad Fachrudin

Koalisi Plus-plus dan Prospek Oposisi PKS

Image
Naila Fitria

Merdeka Sejak Dalam Pikiran

Wawancara

Image
Video

Hari Fotografi Sedunia

VIDEO Kulit Citra Fotografi Jurnalistik

Image
Iptek

Jodie O'tania, Srikandi Tangguh Kepunyaan BMW Indonesia

Image
Iptek

GIIAS 2019

Gaet Milenial Indonesia, Begini Strategi Penjualan Brand Premium BMW

Sosok

Image
News

5 Bukti Kedekatan Gus Dur dengan Masyarakat Papua, Pluralis Sejati

Image
News

Jadi Menteri Perempuan Pertama dari Papua, Ini 7 Fakta Menarik Yohana Yembise

Image
Ekonomi

Belum 25 Tahun, 3 Founder Startup Indonesia Masuk Daftar Pengusaha Tersukses Asia