image
Login / Sign Up
Image

Abdul Aziz SR

Dosen Ilmu Politik FISIP Universitas Brawijaya dan Senior Researcher pada Center for Election and Political Party (CEPP) FISIP UI

PDI Perjuangan Pascakongres Bali

Image

Ketua Umum DPP PDIP Megawati Soekarnoputri (kedua kanan) bersama Presiden Joko Widodo (kiri) berbincang dengan Wakil Presiden terpilih Ma'ruf Amin (kanan) pada pembukaan Kongres V PDIP di Sanur, Bali, Kamis (8/8/2019). Kongres V PDIP yang berlangsung 8-11 Agustus 2019 tersebut dihadiri sekitar 2.170 peserta dari 514 Dewan Pimpinan Cabang (DPC), 34 Dewan Pimpinan Daerah (DPD), para pengamat dan sejumlah pimpinan partai politik. | ANTARA FOTO/Nyoman Budhiana

AKURAT.CO, Berhasil memenangkan pasangan Jokowi-Ma’ruf Amin serta meraih suara terbanyak pada Pemilu 2019, PDI Perjuangan tampaknya tidak lantas bisa tenang dan merasa aman dengan agenda-agenda yang hendak diwujudkan pascapemilu. PDI Perjuangan justru dilanda kegalauan serius. Mengapa galau?

Pertama, segera setelah pasangan Jokowi-Ma’ruf dinyatakan menang, partai-partai anggota Koalisi Indonesia Kerja (KIK) mulai bicara soal jatah mereka di kabinet serta posisi pimpinan di parlemen. Ada yang “mematok” harus mendapat jatah 10 menteri. Ada yang “mengkapling” harus di kementerian ini dan ini. Ada pula yang merasa paling berpeluang untuk jabatan Ketua MPR.

Kedua, partai-partai anggota KIK di luar PDI Perjuangan aktif melakukan manuver-manuver yang seolah menyindir Megawati, Jokowi, dan PDI Perjuangan. Mereka bereaksi terhadap lobi dan kecenderungan mendekatnya partai-partai lain di luar KIK ke Megawati, Jokowi, dan PDI Perjuangan.

baca juga:

Ketiga, manajemen pembangunan serta corak kekuasaan Presiden Jokowi selama ini kurang mengekspresikan “ideologi” PDI Perjuangan yang mengklaim diri Marhaenis dan partainya wong cilik. Megawati (dan PDI Perjuangan) seperti melihat ada kekuatan lain yang “mengendalikan” Presiden Jokowi hanya untuk mengamankan kepentingan pribadi dan kelompoknya, namun kurang mendatangkan keuntungan berarti bagi PDI Perjuangan.

Bentuk-bentuk kegalauan itu telah menjadi bagian dari agenda yang dibicarakan dalam kongres di Bali. Bagaimanapun Kongres PDI Perjuangan kali ini terasa ada beban cukup berat yang berbeda dengan kongres-kongres sebelumnya. Pertama, beban untuk benar-benar mampu memanfaatkan secara optimal hasil Pemilu 2019 bagi kepentingan partai. Kedua, beban akan bayangan masa depan menyangkut kepemimpinan partai pasca-Megawati.

Berujung Dinasti

Dua beban tersebut sesungguhnya bertali-temali satu sama lain. Beban pertama menuntut PDI Perjuangan mampu bermain cantik untuk mendapatkan posisi-posisi strategis tanpa melukai partai-partai anggota KIK lainnya. PDI Perjuangan mesti bisa memanfaatkan momentum dengan baik agar hasil pemilu yang dicapai dapat menjadi modal penting untuk ketahanan partai di masa mendatang, setidaknya pada Pemiu 2024.

Beban kedua menuntut PDI Perjuangan mampu berimajinasi secara jernih dengan membayangkan dirinya tanpa Megawati. Bisa saja pada kongres kali ini Megawati dipilih (tepatnya disepakati) secara aklamasi untuk kembali mimimpin partai “merah” ini. Namun kepemimpinan Megawati pasti ada titik ujungnya. Ada masanya dia harus lengser karena faktor-faktor tertentu yang tak bisa dihindari. Cepat atau lambat tapi pasti.

Persoalannya, bagaimana pasca-Megawati lengser? Tentu hal ini sudah dipikirkan dengan baik oleh PDI Perjuangan. Postur diri PDI Perjuangan selama ini nyaris identik dengan sosok Megawati. Kharisma dan pengaruh kepemimpinannya sangat kuat membentuk identitas dan watak PDI Perjuangan. Itulah salah satu faktor mengapa tak pernah muncul lawan-tanding Megawati di internal partai.

Sejak terbentuk secara “tiba-tiba” pada Kongres Luar Biasa PDI di Surabaya tahun 1993, ketua umum PDI Perjuangan belum pernah berganti hingga saat ini. Tidak terasa Megawati sudah memimpin PDI Perjuangan selama 26 tahun. Sedikit lagi menyamai rekor Presiden Soeharto yang 32 tahun memimpin negara Orde Baru. Sebuah wujud negara yang tidak disukai Megawati kala itu.

Masa kepemimpinan yang begitu lama tentu ada plus dan minusnya. Plusnya, organisasi partai menjadi solid serta bisa lebih fokus dan tenang dalam menjalankan program-program partai. Minusnya, PDI Perjuangan miskin bahkan tidak punya pengalaman dalam suksesi kepemimpinan secara demokratis. Dari kongres ke kongres PDI Perjuangan tidak pernah memilih ketua umum, melainkan hanya menyepakati secara aklamasi Megawati sebagai ketua umum.

Dengan demikian, PDI Perjuangan miskin pengalaman dalam praktik-praktik demokasi di internal organisasinya, walau menggunakan sebutan “demokrasi” sebagai nama dirinya.

Tetap bertahan dan dipertahankannya Megawati sebagai ketua umum hingga saat ini, selain karena kekuatan leadership-nya yang mampu menjadikan PDI Perjuangan sebagai partai “papan atas”, tetapi lebih dari itu Megawati sebagai trah –biologis dan “ideologis”– Bung Karno. Jadi, dua kekuatan yang menyatu pada sosok diri Megawati.

Kenyataan tersebut membuat PDI Perjuangan tidak mudah melakukan pergantian kepemimpinan. Kalaupun pada saatnya harus terjadi pergantian maka figur dari trah Bung Karno pula yang harus diangkat. Hal ini dianggap penting bagi eksistensi dan identitas diri PDI Perjuangan.

Saat ini generasi kedua setelah Megawati adalah Muhammad Prananda Prabowo dan Puan Maharani sebagai stok figur yang tersedia dan disebut-sebut potensial menggantikan Megawati. Tetapi mungkin tidak pada Kongres ke-5 ini.

Jika basis kepemimpinan partai lebih bersandar pada trah Bung Karno semata, maka pertanyaannya sampai kapan PDI Perjuangan harus demikian? Pada gilirannya, kenyataan ini mungkin justru membuat PDI Perjuangan terkungkung dalam belenggu tradisi politik dinasti.

Islamophobia?

Selain tengah menanggung beban ganda di atas, juga ada kecenderungan PDI Perjuangan belakangan ini seperti mengidap Islamophobia. Belum terlalu jelas mengapa kecenderungan tersebut terjadi pada partai yang “reinkarnasi” Partai Nasionalis Indonesia (PNI) ini. Sementara, dulu, tokoh-tokoh PNI seperti Bung Karno, Abdoel Madjid, Roeslan Abdoel Gani sangat Islami. Bung Karno sendiri seorang santri dan murid HOS Tjokroaminoto.

Kecenderungan Islamophobia itu terlihat setidaknya sejak kasus Basoeki Tjahaja Purnama (Ahok) dan Peristiwa 212. Betapa PDI Perjuangan seperti alergi dengan Islam. Pembelaannya terhadap Ahok begitu kuat bahkan kemudian ditetapkan sebagai kandidat Gubernur DKI Jakarta walau sangat jelas Ahok menista agama (Islam). Sementara, pada waktu yang sama, begitu curiga dan sinis terhadap Peristiwa 212.

Stigma-stigma peyoratif terhadap kelompok Islam seperti “intoleransi”, “radikalis”, “fundamentalis”, “anti kebhinekaan”, “anti Pancasila”, dan lain-lain turut menjadi wacana yang sering disuarakan berulang-ulang oleh tokoh-tokoh PDI Perjuangan.

Penangkapan dan intimidasi terhadap sejumlah ustadz dan muballigh banyak terjadi di era Presiden Jokowi yang merupakan kader PDI Perjuangan. Nyaris tak ada pembelaan dari PDI Perjuangan, dan Presiden Jokowi sendiri tidak menunjukkan sikap yang jelas terhadap hal itu. Padahal, sebagian besar pendukung dan pemilih PDI Perjuangan dalam pemilu dari kalangan Islam.

Tetapi menarik, menjelang Pemilu 2019 PDI Perjuangan berusaha mendekat ke kalangan Islam dengan menggandeng PKB dan NU, lalu menempatkan tokoh senior NU Kiai Ma’ruf Amin sebagai calon wakil presiden mendampingi Joko Widodo. Strategi ini sekaligus bisa dibaca sebagai upaya PDI Perjuangan mengurangi stigma sebagai partai sekuler, ke-Jawen, dan kurang bersahabat dengan Islam. Apakah itu sekadar permainan rutin menjelang pemilu saja?

Ke depan, jika PDI Perjuangan ingin tumbuh kembang sebagai partai besar –tidak sebatas meraih 20 persen suara pemilih– tentu tidak cukup dengan hanya mengandalkan trah dan kekuatan imajiner Bung Karno, melainkan juga mesti merangkul dan dekat secara hakiki dengan kalangan Islam.

Pada Kongres Bali 2019 ini PDI Perjuangan mengeluh dan agak ngotot soal jatah menteri di kabinet di era Jokowi-Ma’ruf. Tidak terima jika hanya 4 menteri. Maunya lebih banyak dan kementerian-kementerian strategis. “Emoh... emoh aku kalau cuma 4 menteri”, begitu kata sang Ketua Umum Megawati.

PDI Perjuangan apa sesungguhnya yang kau cari pascakongres Bali? Wallahu’alam. []

Editor: Ainurrahman

berita terkait

Image

News

Besok 10 Sekjen Parpol Gelar Konfrensi Pers Terkait Hasil Pambahasan Kabinet

Image

News

Hasto Pastikan PDIP dan Jokowi Satu Pandangan Terkait GBHN

Image

News

HUT ke-74 RI

Ahok Hadiri Upacara HUT Kemerdekaan RI-74 PDI Perjuangan

Image

News

PKS Dukung Gagasan GBHN Dihidupkan Kembali

Image

News

Hasto: Tidak ada Perbedaan Pandangan soal GBHN dengan Presiden

Image

News

Anies Diserang Politisi PDIP Soal Penempatan Bangku Kota

Image

News

Merdeka atau Mati

Image

News

Jadi Anggota DPRD DKI, Mantan Staf Ahok: Bapak Pesan ke Saya Agar Taat pada Konstitusi

Image

News

PDIP Ingin Amandemen UUD 1945, Surya Paloh: Perlu Pengkajian Mendalam

komentar

Image

0 komentar

terkini

Image
News
HUT ke-74 RI

Hari Kemerdekaan RI, 645 Napi di Papua Barat Terima Remisi dan 14 Bebas

Masa kelam yang pernah dilalui harus diubah menjadi baik di masa yang akan datang.

Image
News
HUT ke-74 RI

Presiden Jokowi Tanya Alasan Rangga yang Gugup di Hadapan Tiang Bendera

Rangga pun dengan sigap mengonfirmasi benar bahwa dirinya merasakan gugup saat hendak mengerek bendera.

Image
News
HUT Ke-74 RI

Pecahkan Rekor, WASI Kibarkan Merah Putih di Dasar Laut

WASI menyiapkan waktu hingga satu tahun, mulai dari pembuatan bendera raksasa yang dikerjakan pengrajin lokal hingga penyelaman

Image
News

Miris! Gara-gara Sampah, Seekor Bayi Duyung di Thailand Mati

Tim pengawas telah memberi susu dan rumput laut sebelum melepaskannya kembali ke laut beberapa kali.

Image
News

Anies Baswedan Juara Lomba Tarik Tambang

Anies diberikan semangat oleh warga ketika ikut lomba tarik tambang.

Image
News

HUT RI ke-74, Polusi Udara di Jakarta Menurun

Kualitas udara di ibu kota masuk kategori sedang dengan konsentrasi partikulat (PM 2,5) sebesar 33,4 ug per meter kubik.

Image
News

Ikut Lomba Agustusan hingga Lupa Matikan Kompor, Rumah dan Masjid Hangus Terbakar

Terdengar ledakan ketika api membakar tiga unit rumah dan bangunan masjid.

Image
News

HUT RI ke-74, MUI Ajak Semua Komponen Berpegang pada Komitmen Kebangsaan

"Kemerdekaan Indonesia harus dapat menyatukan keanekaragaman budaya, bahasa, etnis, suku, ras, golongan, dan agama."

Image
News

Cerita Difabel Baca Teks Pancasila: Iya Pakai Teks Braille karena Saya Buta Total

Khusus petugas pengibar bendera dan komandan upacara merupakan penyandang low vision.

Image
News

Perjalanan Tiga Pelajar Penemu Obat Kanker hingga Harumkan Indonesia di Korsel

Yazid, Anggina Rafitri, dan Aysa Aurealya Maharani meraih medali emas di ajang ajang WICO 2019 di Seoul, Korea Selatan.

Banner Kemendagri

trending topics

banner jamkrindo

terpopuler

  1. Jokowi Keluarkan Ponsel saat Pidato, Istana: Itu Gimmick Presiden untuk Sampaikan Substansi

  2. Kenakan Kebaya, 5 Potret Menawan Istri Pejabat Dampingi Suami di Sidang Tahunan MPR

  3. Ini Rentetan Usaha Umar Kei dan Silsilahnya Bersama Jhon Kei

  4. Foto Anak Pelajar Tolong Polisi Cianjur yang Terbakar Viral

  5. Potret Keren Susi Pudjiastuti dan Srikandi Indonesia Saat Hadiri Sidang Tahunan MPR RI

  6. Babak I: Timnas Indonesia Ketinggalan Empat Gol dari Myanmar

  7. Mahfud MD Sebut Indonesia Bisa Bubar Tahun 2030

  8. Din Syamsuddin: Indonesia saat Ini Menyimpang dari Cita-cita Pendiri Bangsa

  9. Indonesia U-16 Menang Tipis atas Montenegro di Myanmar

  10. Tahun Depan, Perangkat Desa Akan Dapat Gaji Tetap

fokus

HUT Ke-74 RI
Ekonomi Indonesia, Merdeka?
Kemarau Dahsyat

kolom

Image
Ujang Komarudin

Merdeka atau Mati

Image
Achmad Fachrudin

Akrobat Politik Cak Imin

Image
Girindra Sandino

Pesan Pidato Politik Megawati, Fragile Coalition dan Loyalitas Jokowi Terhadap PDIP

Image
Girindra Sandino

Keterlibatan ASN dalam Pilkada Jangan Dianggap Sepele Bung!

Wawancara

Image
Iptek

Jodie O'tania, Srikandi Tangguh Kepunyaan BMW Indonesia

Image
Iptek

GIIAS 2019

Gaet Milenial Indonesia, Begini Strategi Penjualan Brand Premium BMW

Image
Ekonomi

Roda Ekonomi Ramadan

Dilema Pilih Zakat atau Pajak, Persoalan Klasik yang Mengusik

Sosok

Image
News

Diduga Korupsi, 7 Fakta Sepak Terjang Karier Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita

Image
News

Potret Keren Susi Pudjiastuti dan Srikandi Indonesia Saat Hadiri Sidang Tahunan MPR RI

Image
News

Kenakan Kebaya, 5 Potret Menawan Istri Pejabat Dampingi Suami di Sidang Tahunan MPR