image
Login / Sign Up
Image

Achmad Fachrudin

Peneliti Senior Jaringan Demokrasi Indonesia DKI, Pengajar Fakultas Dakwah PTIQ Jakarta

Evaluasi Kinerja Partai Politik

Kolom

Image

Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto didampingi Sekjen Golkar Lodewijk F Paulus, Ketua DPP Ace Hasan Sadziliy, Agus Gumiwang Kartasasmita dan Aziz Syamsuddin saat menggelar video conference dengan para pengurus Golkar daerah di kantor DPP PG, Jln Anggrek Neli, kawasan Slipi, Jakarta Barat, Selasa (16/4/2019). Video conference ini bertujuan untuk mengecek kesiapan partai dalam menghadapi hari pencoblosan Pemilu 2019 pada 17 April besok. Serta melakukan pengecekan kesiapan para saksi untuk mengumpulkan data penghitungan suara di TPS ada diupload dengan aplikasi menggunakan aplikasi bernama SaksiKu. | AKURAT.CO/Sopian

AKURAT.CO, Sejumlah ilmuwan politik, seperti Sigmund Neumann, Carl J. Friedrich, Robert Huckson, untuk menyebut beberapa nama, sepakat merumuskan tujuan pendirian partai politik (Parpol) adalah  untuk merebut (bagi penantang) atau mempertahankan (petahana) kekuasaan, baik di eksekutif maupun legislatif melalui jalan Pemilu demokratis. Mengacu kepada hasil Pemilu Serentak 2019, baik di Pada Pemilu Presiden dan Wakil Presiden (Pilpres) ataupun pada Pemilu Legislatif (Pileg), ada Parpol yang sukses dan berprestasi dan ada pula tidak berhasil dan bahkan gagal.

Bagi parpol yang sukses boleh saja bergembira dengan hasil kerja kerasnya. Meski demikian, tidak boleh terlena terlalu lama. Apalagi kemudian mengabaikan amanah (kepercayaan) rakyat dan konstituennya. Sedangkan bagi yang gagal, termasuk yang terlempar dari DPR karena tidak lolos parliamentary threshold (PT) 4 persen, boleh saja menyesali diri namun tidak boleh berlama-lama. Sebaliknya, secepat dan serasional mungkin belajar dan mengambil hikmah dari kegagalan.

Pada Pilpres 2019, Parpol yang dianggap berhasil dan berprestasi adalah Parpol yang tergabung dalam Koalisi Indonesia Kerja (KIK) yang mengusung Pasangan Calon Presiden No. Urut 01 yakni: Joko Widodo (Jokowi) dan Wakil Presiden KH. Ma’ruf Amien karena memenangi Pilpres 2019. Dengan perolehan suara sebagaimana diumumkan KPU dan dikukuhkan oleh Mahkamah Konstitusi (MK) yakni: 54.50 persen. Sementara rivalnya Calon Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Salahuddin Sandiaga Uno yang tergabung dalam  Koalisi Indonesia Adil Makmur beroleh suara 44,50 persen, atau selisih suara sebanyak 10 persen.

baca juga:

PDI-P sebagai partai politik pemimpin KIK yang mengusung Pasangan Calon Presiden Jokowi, berhak menyebut dirinya paling memenangkan duet Jokowi-Ma’ruf. Di bawah PDI-P, ada  PKB yang mengusung Calon Presiden Ma’ruf Amien. Parpol lain seperti Nasdem, Golkar, PPP, Hanura dan lainnya yang tergabung dalam KIK dan telah ikut berkeringat memenangkan Pasangan Calon No. Urut 01, juga tidak bisa dianggap remeh dan kecil peranannya memenangkan Paslon No. Urut 01.

Yang Sukses dan Berprestasi

Pada Pemilu Legislatif (Pileg) 2019, Parpol yang dianggap sukses adalah parpol yang memperoleh suara melebihi  ambang batas 4 persen sebanyak sembilan Parpol. Yakni: PDI-P, Gerindra, Partai Golkar, PKB, Partai Nasdem, PKS, Partai Demokrat, PAN, dan PPP.  Bukan hanya sukses, diantara Parpol tersebut ada juga yang dapat dikatakan berprestasi diatas rata-rata karena perolehan suaranya meningkat tajam.

Parpol tersebut diantaranya Partai Nasdem. Jika pada Pileg 2014 mendapatkan 8.402.812 atau 6,72 persen suara,  pada Pileg 2019, suaranya naik menjadi 12.661.792 atau 9,05 persen suara. Perolehan suaranya tersebut mampu menaikan posisi Nasdem yang semula berada pada urutan 7 menjadi 5 besar.

Parpol lain yang dianggap berprestasi tinggi adalah PKB. Meskipun kenaikannya tidak signifikan, tetapi PKB berhasil naik satu tingkat dari yang sebelumnya berada pada urutan kelima menjadi keempat. Suara PKB pada Pileg 2014 adalah 11.298.950 atau 9,04 persen. Sedangkan pada Pileg 2019 mampu membetot 13.570.097 suara atau 9,69 persen. Partai yang dulu dikenal sebagai partai dakwah, yakni: PKS juga bisa dikelompokkan berprestasi tinggi di Pileg kali ini dengan mendapatkan 11.493.663 suara atau 8,21 persen suara. Sementara, perolehan suara partai ini pada 2014 sekitar 6,79 persen atau 8.480.204 suara. 

Sementara Parpol yang prestasinya mediocare adalah PDI-P yang mampu mempertahankan posisinya di peringkat pertama selama dua periode berturut-turut namun suaranya mengalami penurunan. Pada Pileg 2019, PDI-P meraih 27.053.961 atau 19,33 persen suara. Suara PDIP naik dari perolehan pada  Pileg 2014 yaitu sebesar 23.681.471 atau 18,95 persen suara.

Sementara itu, ada perubahan pada urutan kedua dan ketiga. Partai Gerindra ditetapkan sebagai runner up dalam kontestasi Pileg 2019 dengan perolehan suara 17.594.839 atau 12,57 persen suara. Peringkat Gerindra naik satu tingkat dari hasil Pileg 2014 yang menempatkannya pada urutan ketiga. Pada 2014, Gerindra mendapatkan 14.760.371 atau 11,81 persen suara.

Yang Stagnan dan Gagal

Sedangkan Parpol yang prestasinya dianggap stagnan diantaranya Partai Golkar karena justru turun dari urutan kedua menjadi ketiga. Perolehan suaranya pada Pileg 2019 ini sebesar 17.229.789 atau 12,31 persen suara. Pada Pileg 2014, Partai Golkar mendapat 18.432.312 atau 14,75 persen suara. Parpol lainnya yang seposisi dengan Partai Golkar adalah Partai Demokrat dimana pada Pileg 2019 mendapatkan 10.876.507 suara atau sebesar 7,77 persen. Padahal pada Pileg 2014, partai ini mendapat 12.728.913 suara atau 10,9 persen.

Yang juga bernasib mirip dengan Partai Demokrat dan Partai Golkar adalah PAN yang kali ini mendapatkan 9.572.623 atau 6,84 persen suara. Sementara, pada Pileg 2014, PAN mendapatkan 9.481.621 atau 7,59 persen suara. Dari segi perolehan suara, PAN mengalami sedikit kenaikan. Namun dari segi presentasenya, PAN cenderung turun. 

Parpol lain yang mengalami stagnasi dan bahkan kemunduran besar di Pileg 2019 adalah PPP karena hanya mengantongi 8.157.488 atau 6,53 persen suara. Kini, perolehan suara partai bertanda gambar Ka’bah dan dibidani oleh kalangan ulama ini  menurun drastis menjadi 6.323.147 atau 4,52 persen suara. PPP nyaris tergelincir dan tidak lolos PT 4 persen.

Nasib paling tragis dialami  Partai Hanura yang hanya mendapatkan 2.161.507 atau 1,54 persen suara pada Pileg 2019. Padahal, pada Pileg 2014, Hanura mendapatkan 6.579.498 atau 5,26 persen suara. Akibatnya, Parpol di bawah pimpinan Oesman Sapta Odang (Oso) bisa dimasukkan ke dalam partai gagal dan tersingkir dari Senayan karena tidak mampu mencapai ambang batas PT 4 persen.

Tujuh Parpol yang bisa dikatakan sebagai Parpol gagal di Pileg 2019 karena tidak lolos PT 4 persen adalah Perindo dengan hanya mendapatkan 3.738.320 suara (2,67 persen), Partai  Berkarya dengan 2.929.495 suara (2,09 persen), PSI dengan 2.650.361 suara (1,89 persen), PBB dengan 1.099.848 suara (0,79 persen), Garuda dengan 702.536 suara (0,50 persen) dan PKPI dengan 312.775 suara (0,22 persen).

Akar Penyebab

Pertanyaannya kemudian: mengapa ada Parpol yang sukses/berprestasi dan ada pula yang gagal di Pemilu Serentak 2019? Jawaban atas pertanyaan ini sangat kompleks, dan berjalin berkelindan dengan berbagai faktor, baik faktor internal maupun eksternal. Mengacu kepada teori-teori politik modern, keberhasilan atau kegagalan Parpol dalam memperjuangkan tujuannya merebut atau mempertahankan kekuasaan melalui jalam Pemilu dipengaruhi faktor kepemimpinan sang ketua umum Parpol, soliditas dan etos kerja kepengurusan, manajamen partai, strategi politik, pemasaran politik dan kampanye, dukungan logistik, pemeliharaan basis konstituen, dan lain-lain.

Yang tidak kalah pentingnya dipengaruhi oleh kemampuan dan kesanggupan aktualisasi fungsi Parpol. Dalam rumusan pakar politik  Miriam Budiarjo, dalam bukunya berjudul “Partisipasi dan Partai Politik Sebuah Bunga Rampai,” fungsi Parpol terbagi  menajdi enam, yaitu: Pertama, sarana komunikasi  politik. Kedua, artikulasi kepentingan. Ketiga, agregasi kepentingan. Keempat, sosialisasi politik. Kelima, rekrutmen politik.  Keenam, pengatur konflik.

Sementara  Dwight King berpendapat, peran utama Parpol terbagi menjadi tiga macam, yaitu: (1) Memberikan jembatan institusional antara warganegara dan pemerintah, (2)  Menggodok dan menghasilkan kebijakan-kebijakan yang ditawarkan kepada rakyat pemilih dan untuk dilaksanakan oleh pemerintah hasil Pemilu. Dan (3) Jalur bagi proses kaderisasi dan seleksi politisi untuk mengsi jabatan publik.  Menurut Sebastian Salang, yang mengembangkan pemikiran dari Maswadi Rauf, membagi fungsi Parpol menjadi lima, yaitu: (1) Agregasi dan artikulasi kepentingan, (2)  Pendidikan politik, (3) Sosialisasi politik, (3) Kaderisasi dam (4) Rekrutmen.

Pandangan para pakar politik sebagaimana dikutip diatas dapat digunakan sebagai referensi dan parameter untuk mencermati, mengkaji, menganalisis dan mengevaluasi kinerja Parpol pada Pemilu Serentak 2019. Dengan kata lain, Parpol yang berprestasi di Pemilu adalah Parpol yang bekerja sesuai dengan konstruksi akademik yang didisain oleh para pakar politik. Sebaliknya Parpol yang beroleh prestasi sedang, stagnan dan apalagi gagal adalah Parpol yang dikelola secara tradisional, amburadul dan tidak akademik.

Dampak Pemilu Serentak

Faktor lain yang membuat upaya merebut kemenangan atau mempertahankan kursi di parlemen melalui jalan Pemilu menjadi  lebih rumit dan berliku adalah sebagai dampak dari diterapkannya Pemilu Serentak atau Pemilu. Benny Geys  dalam “Explaining Voter Turn Out: a Review of Agregat-Level Research” mendefinisikan Pemilu Serentak sebagai sistem Pemilu yang melangsungkan beberapa pemilihan sekaligus pada satu waktu bersamaan mengakibatkan konsekwensi atau dampak tertentu yang bersifat berantai.

Salah satu dampak dari Pemilu Serentak melahirkan teori cottail-effect atau efek ekor jas. Andre Borges dan Mathiu Turgeon sebagaimana dikutip Djayadi Hanan (2018) dalam penelitiannya pada Pemilu serentak di Brasil dan Chile menunjukkan,  partai yang mengusung kadernya sebagai Capres/Cawapres ataupun partai pengusung utama, memperoleh dampak efek ekor jas paling besar. Kasus Brazil adan Cile mempertunjukkan bagaimana pengaruh nyata dari teori cottail-effect atau efek ekor jas tersebut. 

Dalam kasus Indonesia, PDI-P dan PKB di kubu Paslon Capres dan Cawapres No. Urut 01 dan Gerinda serta PKS di kubu Paslon No. Urut 02 mendapat keuntungan atau incentif politik paling banyak dan gurih karena posisinya sebagai pengusung utama Capres dan Cawapres.  Selain memenangi Pilpres 2019, para pendukung utama Paslon Capres dan Cawapres No. Urut 0t maupun 02 juga beroleh suara/kursi signifikan dari efek ekor jas di Pilpres.

Khusus Partai Gerindra dan PKS masih beruntung—sekalipun tidak mampu memenangkan Pilpres 2019, kedua Parpol tersebut mendapat incentif,  reward, atau benefit paling besar di Pileg 2019 sehingga memperoleh suara/kursi cukup signifikan. Pertanyaannya, kenapa ada sejumlah Parpol lainnya tidak semujur PDI-P, PKB, Gerinda atau PKS? Seperti sudah dikatakan, efek ekor jas hanya salah satu faktor saja yang memberikan keuntungan politik.  Selebihnya, dipengaruhi dan ditentukan oleh kepemimpinan, soliditas kepengurusan, strategi politik, strategi kampanye, kerja keras Parpol dan Calon Legislatif,  dan lain sebagainya.

Contoh Parpol yang paling gagal di Pileg 2019 adalah PPP dan Hanura. Hal ini tidak sulit dicari akar penyebabnya. Yakni: karena terjadinya problem kepemimpinan dan konflik internal. Bahkan untuk kasus PPP ditambah lagi dengan kasus ditangkap dan ditahannya Ketua Umum PPP Romahurmuziy oleh KPK. Belum lagi, pada Pemilu Serentak 2019, tudingan atau stigma negative bahwa PPP sebagai Parpol yang tidak ramah dan peduli dengan kepentingan umat Islam, mengakibatkan hancurnya basis dukungan tradisional PPP. 

Evaluasi dan Revitalisasi

Semua Parpol harus melakukan evaluasi kinerjanya secara komprehensif terhadap hasil Pemilu Serentak 2019. Dari evaluasi ini kemudian dilakukan perencanaan strategis. Perencanaan strategis menurut Peter Schroder adalah analisis sistematis dan perumusan sasaran ke depan, respon-respon dan pilihan-pilihan, pemilihan optimal dan penetapan instruksi-instruksi untuk mengimplementasikannya secara rasional. Selanjutnya, Parpol harus segera melakukan revitalisasi. Secara sederhana revitalisasi dapat diartikan sebagai suatu proses, cara dan atau perbuatan untuk menghidupkan atau menggiatkan kembali berbagai program kegiatan apapun.

Salah satu revitalisasi yang penting dilakukan adalah terkait dengan pucuk kepemimpinan Parpol. Bagi Parpol yang dianggap sukses di Pemilu 2019, bisa saja mempertahankan tampuk kekuasaan ketua umunya melalui jalan kongres, munas atau muktamar. Namun bila kita berpikiran bahwa “setiap pemimpin ada masanya dan setiap masa ada pemimpinya”, maka belum tentu pemimpin yang kinerjanya pada Pemilu Serentak 2019 sukses, lalu di Pemilu 2024 juga akan mencapai hasil sama. Karena dinamika dan tantanganya berbeda.

Bahkan pemimpin sekaligus negarawan yang tengah berada di posisi puncak namun dari sisi usianya sudah sangat tua dan dari sisi masa jabatannya sudah terlalu lama berkuasa, eloknya lengser ke prabon secara teratur merupakan langkah arif dan berpotensi menimbulkan eskalasi simpati rakyat dan konstituen kian membesar yang berdampak positif bagi kelangsungan Parpol yang dipimpinnya. Hal ini sekaligus mencerminkan pemimpin tersebut demokratis, tidak otoriter, mengelola Parpol dengan modern serta  melakukan regenerasi dan estapeta kepemimpinan secara sistematis dan berkesinambungan.

Sebaliknya bagi pimpinan Parpol kinerjanya jeblok pada Pemilu Serentak 2019, maka suksesi kepemimpinan melalui jalan konstitusional mutlak harus dilakukan. Forum sejenis kongres atau muktamar harus diposisikan sebagai ajang revitalisai dan reformasi secara komprehensif, dan bukan untuk pengentalan status quo. Jika status quo yang dipilih, maka kehancuran yang lebih fatal harus siap-siap diterima oleh Parpol bersangkutan. Seorang pemimpin yang sudah gagal namun tetap bertahan dengan posisinya merefleksikan  pemimpin otoriter, dan tidak tahu diri akan kelemahan dan kesalahannya. Pemimpin semacam ini layak dikoreksi dan harus ‘disingkirkan’ secara demokratis dan konstitusional.[]    

 

 

Editor: Sunardi Panjaitan

berita terkait

Image

News

Kolom

Dirgahayu RI ke 74 dari Oligarkis ke Demokratis

Image

News

Kolom

Akrobat Politik Cak Imin

Image

News

Rektor Asing dan Mental Inlander

Image

News

Kolom

Megawati Centris dan Tantangan PDI-P

Image

News

Kolom

Pemindahan Ibukota: Perspektif Lain

Image

News

Kolom

Keharusan Perombakan Kepemimpinan PPP

Image

News

Kolom

Variable Aneh di Pertemuan Elit

Image

News

Kolom

Format Baru Munas Golkar

Image

News

Kolom

Tafsir Pertemuan Megawati-Prabowo

komentar

Image

0 komentar

terkini

Image
News

Kekeringan Melanda Cirebon, Sejumlah Warga Butuhkan Air Bersih

Daerah Cirebon bagian selatan sedang kekeringan dan membutuhkan air bersih, khususnya di desa Karangwuni, Kecamatan sedong, Cirebon.

Image
News

Miliki Konsesi di Kawasan Danau Toba, GMNI Minta Pemerintah Tutup PT Toba Pulp Lestari

Kultur setempat yang gotong royong, berdamai dengan alam, telah diganggu oleh hadirnya perusahaan tersebut.

Image
News
Pro Kontra

Tak Rela Dimadu: Banyak Perempuan Terpaksa Mau Dipoligami, Tapi Kemudian Minta Cerai

Kebanyakan perceraian terjadi karena suami tidak memberikan dukungan finansial lagi kepada istri yang pertama.

Image
News

Koalisi Kawal Capim KPK Sarankan Beberapa Pertanyaan Uji Publik Pansel Capim KPK

Terutama soal LHKPN.

Image
News

ICW Minta Pansel Gugurkan Petahana yang Ikut Seleksi Capim KPK 2019

Kurnia juga menyebut bahwa kepemimpinan KPK era Agus Rahardjo banyak memiliki catatan hitam.

Image
News

Polisi Gagalkan Penggelapan Ratusan Unit Motor di Jawa Barat

Akibat perbuatannya, para tersangka dijerat dengan Pasal 481 KUHP dengan ancaman hukuman maksimal 7 tahun penjara

Image
News
Pro Kontra

Sejarah Gerakan Anti Poligami di Indonesia

Secara praktik, kata dia, poligami memang sejak dulu tidak pernah jauh dari peran agama.

Image
News

KPK Diminta Buka Data 20 Capim yang Bermasalah, Jangan Tebar Fitnah

Oknum KPK and the Gang jangan terus menerus menebar fitnah untuk mengkriminalisasi 20 capim KPK yang sudah diloloskan Pansel KPK.

Image
News

Musim Haji 2020, Kemenag Akan Tambah Jumlah Konsultan Ibadah Perempuan

Perlunya menambah komposisi konsultan ibadah perempuan pada penyelenggaraan ibadah haji yang akan datang.

Image
News

Kekeringan Akibat Kemarau di Rejang Lebong Tidak Terlalu Parah

Tidak ada kecamatan yang mengalami kekeringan parah, walaupun sumber air yang ada di masing-masing kecamatan mengalami penyusutan.

trending topics

banner jamkrindo

terpopuler

  1. Perjuangan Aktivis Tionghoa Pulangkan Rizieq Shihab ke Indonesia

  2. Jika Isu Referendum Papua Jadi Agenda PBB, Sebaiknya Jokowi Nyatakan Berhenti Sebagai Presiden

  3. Apresiasi Pencopotan Polwan Berikan Miras ke Mahasiswa Papua, Fahira Berharap Tidak Menjadi Persoalan Baru

  4. Arya Sinulingga Sindir Sandiaga Uno sebagai Tokoh yang Kurang Kerjaan

  5. BPIP Jawab Sindiran Habib Rizieq, Teddy Gusnaidi: Orang yang Nggak Berani Pulang, Jangan Ditanggapi

  6. Rohingya di Myanmar Terperangkap Perang Baru Antara Militer dan Tentara Arakan

  7. Ferdinand: Dinas Kehutanan Tidak Tahu Jenis Batu dalam Instalasi Gabion, Ini Pemda atau Makelar yang Pesan?

  8. 7 Tuntutan Warga Sorong dan Manokwari, Termasuk Pembubaran Banser, Layak Ditolak

  9. Yunarto: Saya Dukung Mas Anies Gantikan Habib Rizieq Urus FPI Sebelum Mau Pulang

  10. Balas Komentar Warganet, Vanessa Angel Ngaku Muak Pada Ibu Tiri?

fokus

Pro Kontra
Hari Fotografi Sedunia
Nikah Cepat

kolom

Image
Rozi Kurnia

Bagaimana Masa Depan Spider-Man Pasca Keluar MCU?

Image
Andre Purwanto

Budget Rp30 Juta, Honda PCX atau Yamaha Nmax?

Image
Ujang Komarudin

Dirgahayu RI ke 74 dari Oligarkis ke Demokratis

Image
Ahmad Irawan

Joko Widodo dan Keutamaan Partai Politik

Wawancara

Image
Video

Hari Fotografi Sedunia

VIDEO Oscar Motuloh, Tiga Kali Kena 'Jebakan Batman'

Image
Video

Hari Fotografi Sedunia

VIDEO Peksi Cahyo, Perekam Visual Olahraga

Image
Ekonomi

Eksklusif Destry Damayanti: Kita Harus Optimalkan Perekonomian Domestik

Sosok

Image
Gaya Hidup

Awalnya Iseng, Pria ini Bikin Aplikasi yang Sangat Bermanfaat bagi Aktivitas Akademik

Image
News

Jadi Sorotan karena Bela UAS, 5 Fakta Sosok Ustaz Yahya Waloni

Image
News

Dapat Gelar ‘Mama Papua’, 5 Fakta Sepak Terjang Karier Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini