image
Login / Sign Up
Image

Abdul Aziz SR

Dosen Ilmu Politik FISIP Universitas Brawijaya dan Senior Researcher pada Center for Election and Political Party (CEPP) FISIP UI

Pohon Beringin Itu Akankah Kembali Rindang?

Image

Wakil Koordinator Bidang Pratama Partai Golkar Bambang Soesatyo (kedua kiri) bersama Ketua Umum Satkar Ulama Ormas Partai Golkar Ali Yahya (kiri), Ketua DPP Indra Bambang Utoyo (ketiga kanan) dan sejumlah kader usai mendeklarasikan diri sebagai calon ketua umum Partai Golkar di Munas Desember 2019 di Jakarta. Kamis (18/7/2019). Bamsoet mendeklarasikan diri sebagai pesaing petahana Ketum Golkar Airlangga Hartarto bersama empat orang lainnya. Sebagai calon ketua umum, memiliki visi menjadikan Golkar rumah besar bagi keluarga TNI-Polri, birokrat, ulama. Sesuai dengan sejarah pendirian Partai Golkar. Ditambah, ingin merangkul semua ormas partai Golkar terutama ormas pendiri, Soksi, MKGR, dan Kosgoro. | AKURAT.CO/Sopian

AKURAT.CO, Partai Golkar akan segera menggelar Musyawarah Nasional (Munas) ke-11. Sebagai forum tertinggi, Munas Partai Golkar kali ini terasa sedikit berbeda dengan Munaslub 2016 lalu di Bali yang mengantarkan Setya Novanto sebagai ketua umum. Jika Munaslub (2016) sekaligus sebagai arena untuk rekonsiliasi atas dualisme kepemimpinan (antara Aburizal Bakrie dan Agung Laksono, yang sempat menyeret partai beringin ini dalam riuh konflik yang panjang), maka Munas 2019 nanti murni karena jadwal pergantian kepengurusan telah tiba. Namun, tidak berarti sepi dari kasak-kusuk serta ambisi ini dan itu.    

Lihat, misalnya, terjadi tarik-menarik antarfaksi di internal partai soal kapan sebaiknya munas digelar. Di satu pihak, ada yang menginginkan munas digelar Oktober dan sebelum pelantikan presiden terpilih. Kelompok Bambang Soesatyo, misalnya, lebih menginginkan munas Oktober. Di sisi ain, ada yang menghendaki munas digelar Desember. Kelompok Erlangga Hartarto dan Majelis Etik Partai Golkar lebih menghendaki pelaksanaan munas pada bulan Desember, dan itu sesuai jadwal jika diukur dari Munaslub (2016). Lalu, apa arti tarik-menarik ini?

Pertama, baik yang menghendaki munas Oktober maupun Desember sama-sama berambisi memegang kendali kepemimpinan Golkar sebelum pelantikan presiden. Untuk apa? Tidak lain dari siasat memperkuat bargaining position berkaitan dengan timing penyusunan kabinet Jokowi-Ma’ruf. Sebagai anggota Koalisi Indonesia Kerja yang mengusung Jokowi-Ma’ruf, Partai Golkar jelas sangat berkepentingan dengan kursi kabibet, dapat berapa, dan di kementerian mana. Siapa yang menjadi Ketua Umum Golkar pada hari-hari penyusunan kabinet tentu memiliki arti dan pengaruh politik tersendiri. Ketua umum saat itu pasti memiliki agenda politik tersendiri pula untuk menempatkan orang-orangnya di kabinet. Bagaimanapun antarkandidat ketua umum yang saat ini beredar tentu memiliki jago-jago yang berbeda untuk didominasikan di kabinet.  

baca juga:

Kedua, ketua umum hasil Munas 2019 nanti memiliki posisi penting untuk Pemilihan Presiden 2024. Waktu itu tidak ada calon petahana, dan Partai Golkar pasti merasa tertantang menyiapkan figur dan kader terbaiknya untuk diajukan sebagai kandidat presiden atau setidaknya calon wakil presiden. Ketua umum merasa paling punya peluang untuk itu. Karena itu, merebut posisi ketua umum pada Munas nanti menjadi sangat strategis untuk itu.

Ketiga, kandidat ketua umum Golkar memiliki jaringan dan lingkaran bisnis yang cukup luas sehingga mereka sangat berkepentingan untuk dekat serta memelihara hubungan baik dengan rezim penguasa dan para penentu kebijakan negara. Setidaknya dua kandidat terkuat yakni Erlangga Hartarto dan Bambang Soesatyo dikenal sebagai pebisnis ternama dan selalu dekat dengan penguasa serta para pengambil kebijakan.

Satu hal yang menarik dalam tradisi Munas Partai Golkar sepanjang era refrmasi, di mana kandidat ketua umum selalu bermunculan. Berbeda dengan tradisi di PDI Perjuangan, misalnya, dari kongres ke kongres selalu Megawati Soekarnoputri sebagai kandidat tunggal. Tak pernah ada figur lain yang berani tampil atau diberi ruang untuk bersaing dengan Megawati. PDI pun kemudian identik dengan Megawati, bahkan Megawati pun menjadi personifikasi PDI Perjuangan. Beberapa partai politik lain seperti Partai Gerindra, Partai Nasdem, dan Partai Kebangkitan Bangsa juga serupa dengan PDI Perjuangan. Partai Demokrat belakangan seperti mengikuti tradisi PDI Perjuangan, di dalamnya ada perpaduan antara politik dinasti dan perilaku (semi) otoritaritarian.

Sementara Partai Golkar, dalam konteks sirkulasi elite, tampak pada dirinya upaya untuk tampil sebagai partai modern; di tubuhnya ada iklim kebebasan dan praktik demokrasi yang kian melembaga dengan baik. Ada ruang dan peluang bagi siapa pun kader terbaiknya untuk merebut posisi ketua umum. Menjelang Munas 2019 saat ini, misalnya, muncul setidaknya 7 kandidat ketua umum. Selain figur petahana Erlangga Hartarto, ada Bambang Soesatyo, AlinYahya, Bambang Oetoyo, Marlinda Irawati, dan Ulla Nuchrawatty. Kenyataan menarik demikian sulit ditemukan di partai-partai besar lainnya saat ini; di mana hanya ada satu tokoh sentral yang titahnya nyaris tak bisa dikritik apalagi dilawan, dan itu adalah ketua umum.

Namun demikian, Partai Golkar saat ini dan ke depan menghadapi sertidaknya empat tantangan yang tidak ringan. Pertama, partai beringin ini masih sulit menemukan figur besar, berpengaruh, mumpuni, dan piawai seperti Akbar Tandjung dan Jusuf Kalla. Sosok ketua umum setelah itu seperti Aburizal Bakrie, apalagi Setya Novanto dan Erlangga Hartarto kapasitas leadership-nya sangat jauh di bawah sosok Akbar dan Kalla.

Kedua, banyak tokoh Golkar baik di parlemen (pusat dan daerah) serta kepala-kepala daerah yang terlibat kasus koprupsi. Bahkan ketua umum dan sekretaris jenderal (Setya Novanto dan Idrus Marham) kini mendekam di penjara karena tindak kejahatan korupsi. Ini tentu sangat merusak citra Partai Golkar yang punya tagline “suara Golkar suara rakyat” kemudian berganti menjadi “bersih, bangkit, maju, menang” ini.

Ketiga, perolehan suara Golkar dari pemilu ke pemilu cenderung menurun. Pada Pemilu 1999 Golkar tampil pada posisi nomor dua sebagai pemenang pemilu di bawah PDI Perjuangan dan Pemilu 2004 naik ke posisi satu menggantikan PDI Perjuangan. Lalu, sejak Pemilu 2009 hingga Pemilu 2019 perolehan suara Golkar justru terus merosot. Pohon beringin seperti mengalami kemarau panjang di mana daun-daunnya kian menguning lalu rontok berguguran diterjang puting beliung.

Keempat, tradisi Munas Golkar yang selalu berbiaya mahal – baik biaya penyelenggaraan munas maupun biaya money politics – apakah Munas 2019 mampu menghasilkan output dan outcome yang memberi harapan baru bagi kebesaran Partai Golkar di masa mendatang?

Dalam konteks pilpres, Partai Golkar nyaris tak punya daya untuk tampil sebagai pemain utama. Selalu kalah dalam kontestasi pilpres, dan baru merasakan kemenangan ketika bergabung dalam Koalisi Indonesia Kerja pada Pilpres 2019. Pada Pilpres 2004 mengajukan pasangan Wiranto dan SholahuddinWahid (sebagai hasil konvensi yang menarik), tidak sukses. Pada Pilpres 2009 mengusung pasangan Jusuf Kalla dan Wiranto, gagal lagi. Pada Pilpres 2014 bergabung dengan koalisi Merah-Putih, kembali menelan pil pahit kekalahan.

Menariknya, kalah dalam pilpres, tapi tak lama kemudian segera move on untuk bergabung dengan koalisi pemenang piplres tanpa beban apa-apa dan menjadi bagian dari rezim pemerintahan. Perilaku politik Golkar yang demikian membuatnya tidak memiliki pengalaman sebagai kekuatan oposisi. Ia selalu bergabung dan menyusu pada rezim penguasa. Golkar menjadi partai “penakut” dan lebih suka berkubang dalam tradisi politik “zona aman”. Itu pula salah satu yang membedakannya dengan PDI Perjuangan (juga dengan Partai Gerindra dan Partai Keadilan Sejahtera) yang berani membangun tradisi sebagai partai oposisi.

Partai Golkar kini sedang menghadapi tantangan-tantangan berat menyangkut eksistensi, ketegasan ideologi, dan nasib di masa depan. Beringin tua itu kini tengah mengalami musim kering dan hari-hari yang sunyi.  Pohon beringin yang dulu tambun, rimbun, teduh sekaligus ‘menakutkan”, ditumbuhi aneka benalu, dan berpengaruh akankah kembali rindang?  Wallahu’alam. []

Editor: Sunardi Panjaitan

berita terkait

Image

News

Kolom

Dirgahayu RI ke 74 dari Oligarkis ke Demokratis

Image

News

Kolom

Akrobat Politik Cak Imin

Image

News

Rektor Asing dan Mental Inlander

Image

News

Kolom

Megawati Centris dan Tantangan PDI-P

Image

News

Kolom

Pemindahan Ibukota: Perspektif Lain

Image

News

Kolom

Keharusan Perombakan Kepemimpinan PPP

Image

News

Kolom

Variable Aneh di Pertemuan Elit

Image

News

Kolom

Format Baru Munas Golkar

Image

News

Kolom

Tafsir Pertemuan Megawati-Prabowo

komentar

Image

0 komentar

terkini

Image
News

Jubir Prabowo: Fadli Zon Tak Tertarik Jadi Menteri di Kabinet Jokowi

Prabowo sebagai Ketua Dewan Pimpinan belum pernah membicarakan terkait kursi kabinet saat pertemuan dengan Jokowi.

Image
News

Kasum TNI: Berikan Penjelasan kepada Masyarakat Agar Tak Mudah Terprovokasi

"Segera cari masukan atau informasi sebanyak mungkin tentang perkembangan yang ada ini"

Image
News

Berhasil Ungkap Kasus Mafia Properti, 37 Anggota Polda Metro Jaya Dapat Penghargaan

Penghargaan ini menjadi penyemangat untuk anggota Polda Metro Jaya untuk lebih giat lagi dalam menjalankan tugas

Image
News

DPRD DKI Sahkan Perubahan Nama Sejumlah SKPD

"Dinas Koperasi Usaha Kecil dan Menengah serta Perdagangan menjadi Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi Usaha Kecil dan Menengah."

Image
News

Mensos dan Mendagri Sepakat Penyaluran Bansos Berdasarkan NIK

Nih yang harus ada percepatan-percepatan, jadi intinya adalah semua program bantuan sosial harus tepat sasaran.

Image
News

Empat Kandidat Ketum HIPMI Adu Debat di Universitas Udayana

"HIPMI memiliki peran penting ikut mewujudkan pembangunan yang berkeadilan."

Image
News

Festival Gapura Cinta Negeri 2019 Tetapkan 10 Nominasi Terbaik

"Perlu saya sebut di sini ada penghargaan khusus yang sangat relevan saat kondisi sekarang, namun masih rahasia"

Image
News

YPKKI: Puskesmas Gagal Membangun Sumber Daya Manusia Sejak Dalam Kandungan

Marius Widjajarta menilai kasus ini mencederai Visi Presiden RI Joko Widodo, terutama soal pembangunan SDM

Image
News

Pangdam Kasuari: Mari Kita Jaga Keamanan di Papua Barat

"Kita harus berpikir jernih. Apa yang bapak-bapak rasa sama dengan yang kitong rasa juga"

Image
News

4 Tradisi Unik Menstruasi di Berbagai Negara, Diasingkan hingga Diminum Darahnya

Bagi suku Vaishnava Baul di Bengali, wanita ibarat bunga dan darah yang keluar sebulan sekali sama halnya dengan madu

Banner Kemendagri

trending topics

banner jamkrindo

terpopuler

  1. Ditanya Menyesal Jadi Mualaf, Deddy Corbuzier: Sakit Mendengarnya!

  2. Jaksa Satriawan Masih Ditemui Warga Sedang Ibadah Salat Magrib saat Hari OTT KPK

  3. Pembangunan Stadion di Lahan Sengketa Berlanjut, Gubernur Anies Dinilai Tak Hormati Proses Hukum

  4. Hubungi Wagub Papua Barat, Sandiaga Uno Tawarkan Bantuan

  5. Sindir Kinerja Jokowi, 5 Fakta Menarik Sherly Annavita Rahmi

  6. Setelah Getah Getik, Kini Terpampang Batu Bronjong Senilai Rp150 Juta di Bundaran HI

  7. Perlukah UAS Minta Maaf? Ini Dua Pandangan Berbeda Yunarto dan Budiman Sudjatmiko

  8. Diam-diam Astra Menangi Tender Pengadaan Kendaraan Menteri, Segini Nilainya

  9. Lagu 'Location Unknown' Mendadak Viral, Gading Marten: Gara-Gara Gempi

  10. Juru Masak Dembele Sebut Kehidupan Sang Pemain "Gila"

fokus

Hari Fotografi Sedunia
Nikah Cepat
HUT Ke-74 RI

kolom

Image
Andre

Budget Rp30 Juta, Honda PCX atau Yamaha Nmax?

Image
Ujang Komarudin

Dirgahayu RI ke 74 dari Oligarkis ke Demokratis

Image
Ahmad Irawan

Joko Widodo dan Keutamaan Partai Politik

Image
Dr. H. M. Syarif, MA

Kesan Haji Tamu Raja 2019

Wawancara

Image
Ekonomi

Eksklusif Destry Damayanti, DGS BI yang Mencintai Moneter dan Fotografi

Image
Video

Hari Fotografi Sedunia

VIDEO Adek Berry, Memahami Kehidupan saat di Daerah Konflik

Image
Video

Hari Fotografi Sedunia

VIDEO Kulit Citra Fotografi Jurnalistik

Sosok

Image
News

5 Fakta Frans Kaisiepo, Aktivis Kemerdekaan RI Sejak Muda Asal Papua

Image
News

Terpilih Kembali Jadi Ketum PKB, Ini 6 Fakta Perjalanan Karier Cak Imin

Image
News

5 Ustaz Ini Pernah Bikin Heboh Tanah Air karena Kontroversinya