image
Login / Sign Up

Sedih Banget Duit Buat Rumah Sakit Banyak Sekali: Kisah Pencari Suaka Melahirkan

Maidian Reviani

Menuju Negara Ketiga

Image

Suasana pencari suaka di tempat penampungan di Gedung Eks Kodim, Kalideres, Jakarta Barat | AKURAT.CO/Maidian Reviani

AKURAT.CO * Pelanggaran hak asasi manusia yang dilakukan gerilyawan Taliban terjadi setiap hari.
* Keadaan membuat mereka tidak takut lagi melakukan perjalanan penuh bahaya.
* Ali Attaei dan Hamida mengeluarkan duit 10 ribu dollar AS atau Rp139.800.000 kepada agen itu secara tunai.

***

Tahun 2017, Ali Attaei (31) dan Hamida Sakhizada (28) memutuskan untuk menikah. Pernikahan mereka berlangsung di tengah konflik berdarah di negaranya, Afghanistan.

baca juga:

Bahkan, pada hari ijab kabul, bukan musik syahdu yang mengiringi, tetapi malah suara ledakan bom dan tembakan di berbagai tempat.

Pelanggaran hak asasi manusia yang dilakukan gerilyawan Taliban terjadi setiap hari.

Keadaan itu membuat Ali Attaei dan Hamida semakin hari semakin cemas, apalagi setelah setahun menikah, mereka dikaruniai anak laki-laki bernama Murtaza Attaei, dan Hamidah hamil ternyata lagi.

Setiap tahun, ribuan warga Afghanistan, Suriah, Iran, Somalia, dan sejumlah negara yang tak aman lainnya meninggalkan bangsa mereka untuk mencari suaka di negara baru, terutama Australia. Termasuk Ali Attaei dan Hamida.

Pencari suaka asal Afghanistan, Ali dan Hamida. AKURAT.CO/Maidian Reviani

Keadaan membuat mereka tidak takut lagi melakukan perjalanan penuh bahaya.

Para pencari suaka rela mengeluarkan uang ribuan dollar Amerika Serikat untuk membayar agen yang bersedia memasukkan mereka ke negara lain.

Ali Attaei dan Hamida mengeluarkan duit 10 ribu dollar AS atau Rp139.800.000 kepada agen itu secara tunai.

Para pencari suaka hampir tak punya pilihan lain selain membayar agen yang memanfaatkan keadaan pencari suaka yang tak menentu.

Sebagian besar pencari suaka tujuan Australia itu, kini terdampar di Indonesia. Di Indonesia, menurut catatan terbaru, ada 13.900 pencari suaka yang tersebar di berbagai wilayah.

Mereka berasal dari 12 negara. Sekitar 1.400 pencari suaka di antaranya sekarang ditampung di gedung bekas Komando Distrik Militer, Kalideres, Jakarta Barat, dan sejumlah lokasi lainnya.

***

Siang hari itu, Murtaza sedang tidur terlelap di sebuah tenda terbuat dari terpal warna biru ketika saya datang ke tempat hunian sementara di Kalideres.

Murtaza sama sekali tak terganggu oleh suara berisik lingkungan sekitar tempat pengungsian.

Jauh sebelum sampai ke Kalideres, perjalanan Ali Attaei dan keluarganya penuh liku. Setelah menginjakkan kaki di Indonesia, mereka tinggal di Puncak, Bogor, Jawa Barat.

Sebelumnya, mereka sudah mendapat informasi bisa tinggal di sana. Sebuah rumah kontrakan mereka sewa dengan harga Rp800 ribu perbulan.

Yang pertamakali dipikirkan hanya bagaimana kandungan Hamida aman dan Murtaza mendapatkan ketenangan setelah melakukan perjalanan panjang dan berbahaya.

Pencari suaka asal Afghanistan, Ali Attaei. AKURAT.CO/Maidian Reviani

Di Puncak, mereka tidak punya sanak saudara. Ali Attaei tidak bekerja karena hukum di Indonesia melarang pencari suaka bekerja. Praktis, biaya hidup sehari-hari memakai uang yang tersisa atau bantuan.

Usia kandungan Hamida semakin tua. Agar tak terjadi hal-hal yang tak diinginkan, Ali Attaei memeriksakan istri Hamida ke rumah sakit di Ciawi setelah mendapatkan informasi dari Church World Service Indonesia.

Pemeriksaan yang pertama untuk mengetahui jenis kelamin janin. Pemeriksaan yang kedua untuk mengetahui perkiraan kelahiran. Selanjutnya periksa rutin.

“Setiap kali keluar (cek kandungan ke rumah sakit), keluar uang Rp100 ribu, 200 ribu, 300 ribu, sekali buat cek darah Rp600 ribu lebih,” kata Ali Attaei.

Semua biaya itu dipenuhi sendiri oleh Ali Attaei.

Tetapi yang kemudian memusingkan dia adalah informasi bahwa rumah sakit di Ciawi ternyata tidak memiliki fasilitas untuk operasi sesar. Untuk mendapatkan layanan itu, Hamida harus dicarikan rumah sakit lain di luar Ciawi.

Mereka pun pergi ke Jakarta dengan menyewa mobil seharga Rp400 ribu per hari. Sebelum ke rumah sakit tujuan, mereka datang ke kantor Church World Service Indonesia untuk meminta rekomendasi rumah sakit.

Tapi, dia juga butuh surat rekomenasi dari CWS agar mendapatkan keringanan biaya dari rumah sakit tujuan.

Dia sampai empat kali mendatangi kantor itu dan baru berhasil mendapatkan surat itu.

Pencari suaka asal Afghanistan, Ali Attaei. AKURAT.CO/Maidian Reviani

“Sedih banget, karena duit buat hospital itu banyak sekali, nggak bisa bayar, sedih banget.”

Rumah sakit yang direkomendasikan CWS berada di Ciputat, Tangerang Selatan, Banten. Dia bersyukur, walau tak dapat bantuan dana, CWS menyediakan bantuan penerjemah agar bisa berkomunikasi dengan petugas medis.

“Aku ngobrol sama CWS, aku bilang nggak bisa Bahasa Indonesia. Terus ada orang Afghanistan, dia bisa Bahasa Indonesia. CWS minta orang itu untuk bantu keluarga kami selama tiga hari di rumah sakit. CWS bayar orang itu, untuk tolongi kami di rumah sakit.”

Pada 28 Januari 2019, bayi perempuan itu lahir. Dia diberi nama Mursal Attaei. Ketika saya temui siang hari itu, usia Mursal sudah enam bulan.

Biaya persalinan gratis. Tetapi, biaya tetek bengek lainnya selama tiga hari di rumah sakit kalau ditotal-total sampai Rp4 juta. Biaya paling besar dikeluarkan untuk membayar sewa mobil pulang pergi Bogor – Ciputat.

“Keluar uang sendiri 4 juta. Ada mobil dicarikan dari CWS, tapi itu meski bayar sendiri. Sekali pulang pergi Rp380 ribu, tapi itu tiga malam. Pergi sana-sini, beli ini beli itu bolak-balik, rumah kita jauh di Puncak, tapi harus pakai mobil itu. Pokoknya keluar uang banyak bangetlah totalnya Rp4 juta,” ujar Ali.

Ke luar dari rumah sakit, keluarga kecil itu benar-benar harus mengetatkan tali ikat pinggang agar bisa terus memenuhi kebutuhan hidup. Uang yang mereka miliki makin hari makin menipis, sementara kebutuhan amat banyak.

Sampai akhirnya mereka tidak kuat lagi memenuhi semua kebutuhan hidup sendirian. Mereka memutuskan ikut pencari suaka lainnya yang mengungsi di rumah bekas gedung Kodim.

“Sekarang nggak ada uang untuk tempat tinggal. Makanya dateng ke sini (gedung eks Kodim), untuk makan juga nggak punya (uang),” katanya.

***

Berita tentang pencari suaka mendatangi kantor UNHCR di Kebon Sirih cepat tersebar di kalangan pencari suaka.

Ali Attaei juga mendengar pemerintah Jakarta merelokasi ratusan pencari suaka dari sekitar kantor UNHCR ke tempat penampungan di gedung eks Kodim.

Ingat isi dompetnya hampir tak tertolong lagi, dia segera memboyong istri dan kedua anak ke Kalideres. Mereka tiba di daerah tujuan pada Jumat 12 Juli 2019 malam.

Anak-anak di Eks Kodim, Kalideres. AKURAT.CO/Maidian Reviani

Kehidupan baru di tempat hunian sementara bersama orang-orang senasib memberinya semacam rasa optimisme bahwa tujuan mendapatkan negara baru akan terwujud, meski tak tahu kapan itu terjadi.

Bagaimana kabar si bayi Mursal? Secara fisik, dia sehat-sehat saja. Ketika susu formula habis seperti pada waktu saya menjumpainya siang hari itu, Hamida memberinya makanan biskuit bantuan dari petugas dinas kesehatan.

“Beli susu formula pakai uang sendiri. Lama-lama terakhir ini uangku udah abis. Kalau ada orang yang punya uang, nggak mungkin dateng ke sini,” kata Ali.

“Pampers juga kami tidak dapat, beli sendiri. Nggak dapat bantuan,” Hamida menambahkan.

***

Di gedung bekas Kodim itu, tidak ada kamar mandi khusus buat pencari suaka. Pencari suaka yang memiliki anak, seperti Ali Attaei dan Hamidah harus menampung air dengan ember terlebih dahulu dari keran yang berada di sebelah musala.

“Bawa botol terus ambil air kita mandiin di situ (tunjuk samping gedung), mandi pakai bak di dalam situ, pakai air dingin mandiin anak,” kata Hamida.

Mereka tidur berempat dengan beralaskan karpet kecil yang sebelumnya dibeli di Puncak. Kalau malam hari, mereka sering tak tahan dengan serbuan nyamuk. Krim anti nyamuk maupun obat pengusir nyamuk bantuan petugas puskesmas tak mempan mengusir binatang itu. Akibatnya, kulit kedua anak Ali Attaei dan Hamidah sering merah-merah dan gatal-gatal.

Pencari suaka di Gedung Eks Kodim, Kalideres. AKURAT.CO/Maidian Reviani

Tapi, mereka tak mau terus menerus menyalahkan keadaan. Mereka tahu semua pencari suaka yang datang ke tempat hunian sementara pasti punya masalah yang bisa dikatakan sama.

Hamida mengatakan petugas tidak membeda-bedakan perlakuan terhadap para pencari suaka, baik yang punya bayi maupun yang tidak.

“Siapa dateng cepet, ambil tempat ya itu dapet.”

***

Tak seorang pun dari mereka yang tahu kapan akan mendapatkan izin ke negara ketiga. Tapi, setiap kali menyebut nama negara Australia dan Kanada, mereka begitu optimistis. Optimistis bahwa salah satu dari dua negara itu bersedia mengadopsi mereka.

Hamidah memimpikan bisa segera ke Australia dan memperbaiki keadaan di sana.

Pencari suaka asal Afghanistan, Hamida. AKURAT.CO/Maidian Reviani

Hamida merasakan Indonesia -- negara transit para pencari suaka -- mirip-mirip dengan Afghanistan. Mungkin maksudnya negeri ini juga berpenduduk mayoritas muslim.

Dia mengapresiasi pemerintah Jakarta yang telah memberikan bantuan berupa hunian sementara, makananan, serta layanan kesehatan kepada pencari suaka di Kalideres.

“Semua datang ke sini karena ada harapan. Terimakasih kepada gubernur Jakarta sudah kasih kesempatan ke kita. Harapan kami cuma UNHCR ambil tempat kasih ke kami.”

“Saya udah tahu di sini akan susah, saya juga bener-bener kasihan sama anak. Tapi mereka lebih seneng di sini ketimbang di sana (Afghanistan) menderita dan mati, mereka di sini aman. Nggak ada kehidupan memang di sini, kayak nggak punya uang, tapi kami masih bisa hidup, merasa aman. Di sana punya uang, kerja, tapi nggak merasa aman, takut, untuk apa,” ujar Ali. []

Baca juga:

Tulisan 1: Kisah Pelarian Ibu dan Putrinya dari Afghanistan ke Jakarta

Tulisan 2: Kalau Negaraku Aman, Aku Tak Tinggal di Sini: Pahit Getir Pencari Suaka 

Tulisan 4: Suatu Hari Kalau Kita Kena Bencana, Dunia Internasional Juga Bantu: Gugah Para Pemrotes Pencari Suaka

Tulisan 5: Balada Pencari Negara Baru Terdampar di Jakarta: Desak UNHCR Lebih Aktif dan Solutif

Tulisan 6: Nasib Pencari Suaka, Interview UNHCR: Kami Tahu Mereka Frustrasi, Sudah Melalui Banyak Hal untuk Sampai di Sini

Editor: Siswanto

berita terkait

Image

News

Menuju Negara Ketiga

Nasib Pencari Suaka, Interview UNHCR: Kami Tahu Mereka Frustrasi, Sudah Melalui Banyak Hal untuk Sampai di Sini

Image

News

Menuju Negara Ketiga

Balada Pencari Negara Baru Terdampar di Jakarta: Desak UNHCR Lebih Aktif dan Solutif

Image

News

Menuju Negara Ketiga

Suatu Hari Kalau Kita Kena Bencana, Dunia Internasional Juga Bantu: Gugah Para Pemrotes Pencari Suaka

Image

News

Menuju Negara Ketiga

Kalau Negaraku Aman, Aku Tak Tinggal di Sini: Pahit Getir Pencari Suaka Bertahan di Jakarta

Image

News

Menuju Negara Ketiga

Kisah Pelarian Ibu dan Putrinya dari Afghanistan ke Jakarta

komentar

Image

0 komentar

terkini

Image
News

Sesama Suporter Persita Tawuran di Legok

Kedua pendukung tim Persita tersebut saling lempar menggunakan batu dan benda keras

Image
News

Jubir Prabowo: Fadli Zon Tak Tertarik Jadi Menteri di Kabinet Jokowi

Prabowo sebagai Ketua Dewan Pimpinan belum pernah membicarakan terkait kursi kabinet saat pertemuan dengan Jokowi.

Image
News

Kasum TNI: Berikan Penjelasan kepada Masyarakat Agar Tak Mudah Terprovokasi

"Segera cari masukan atau informasi sebanyak mungkin tentang perkembangan yang ada ini"

Image
News

Mensos: 40 Persen Masyarakat Indonesia Merupakan Golongan Tidak Mampu

99 juta jiwa atau 40 persen masyarakat Indonesia merupakan golongan tidak mampu

Image
News

Berhasil Ungkap Kasus Mafia Properti, 37 Anggota Polda Metro Jaya Dapat Penghargaan

Penghargaan ini menjadi penyemangat untuk anggota Polda Metro Jaya untuk lebih giat lagi dalam menjalankan tugas

Image
News

DPRD DKI Sahkan Perubahan Nama Sejumlah SKPD

"Dinas Koperasi Usaha Kecil dan Menengah serta Perdagangan menjadi Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi Usaha Kecil dan Menengah."

Image
News

Mensos dan Mendagri Sepakat Penyaluran Bansos Berdasarkan NIK

Nih yang harus ada percepatan-percepatan, jadi intinya adalah semua program bantuan sosial harus tepat sasaran.

Image
News

Empat Kandidat Ketum HIPMI Adu Debat di Universitas Udayana

"HIPMI memiliki peran penting ikut mewujudkan pembangunan yang berkeadilan."

Image
News

Festival Gapura Cinta Negeri 2019 Tetapkan 10 Nominasi Terbaik

"Perlu saya sebut di sini ada penghargaan khusus yang sangat relevan saat kondisi sekarang, namun masih rahasia"

Image
News

YPKKI: Puskesmas Gagal Membangun Sumber Daya Manusia Sejak Dalam Kandungan

Marius Widjajarta menilai kasus ini mencederai Visi Presiden RI Joko Widodo, terutama soal pembangunan SDM

Banner Kemendagri

trending topics

banner jamkrindo

terpopuler

  1. Ditanya Menyesal Jadi Mualaf, Deddy Corbuzier: Sakit Mendengarnya!

  2. Jaksa Satriawan Masih Ditemui Warga Sedang Ibadah Salat Magrib saat Hari OTT KPK

  3. Pembangunan Stadion di Lahan Sengketa Berlanjut, Gubernur Anies Dinilai Tak Hormati Proses Hukum

  4. Hubungi Wagub Papua Barat, Sandiaga Uno Tawarkan Bantuan

  5. Sindir Kinerja Jokowi, 5 Fakta Menarik Sherly Annavita Rahmi

  6. Setelah Getah Getik, Kini Terpampang Batu Bronjong Senilai Rp150 Juta di Bundaran HI

  7. Perlukah UAS Minta Maaf? Ini Dua Pandangan Berbeda Yunarto dan Budiman Sudjatmiko

  8. Diam-diam Astra Menangi Tender Pengadaan Kendaraan Menteri, Segini Nilainya

  9. Lagu 'Location Unknown' Mendadak Viral, Gading Marten: Gara-Gara Gempi

  10. Bebas 'Jajan', Ini 5 Negara yang Legalkan Prostitusi Secara Penuh

fokus

Hari Fotografi Sedunia
Nikah Cepat
HUT Ke-74 RI

kolom

Image
Andre

Budget Rp30 Juta, Honda PCX atau Yamaha Nmax?

Image
Ujang Komarudin

Dirgahayu RI ke 74 dari Oligarkis ke Demokratis

Image
Ahmad Irawan

Joko Widodo dan Keutamaan Partai Politik

Image
Dr. H. M. Syarif, MA

Kesan Haji Tamu Raja 2019

Wawancara

Image
Ekonomi

Eksklusif Destry Damayanti, DGS BI yang Mencintai Moneter dan Fotografi

Image
Video

Hari Fotografi Sedunia

VIDEO Adek Berry, Memahami Kehidupan saat di Daerah Konflik

Image
Video

Hari Fotografi Sedunia

VIDEO Kulit Citra Fotografi Jurnalistik

Sosok

Image
News

5 Fakta Frans Kaisiepo, Aktivis Kemerdekaan RI Sejak Muda Asal Papua

Image
News

Terpilih Kembali Jadi Ketum PKB, Ini 6 Fakta Perjalanan Karier Cak Imin

Image
News

5 Ustaz Ini Pernah Bikin Heboh Tanah Air karena Kontroversinya