image
Login / Sign Up

Syamsuddin: Jika Tiga Bulan Penyerang Novel Tak Terungkap, Apakah Jokowi akan Copot Kapolri?

Siswanto

Image

Kapolri Muhammad Tito Karnavian di rumah Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri, Rabu (5/6/2019). | AKURAT.CO/Yohanes Antonius

AKURAT.CO Pengamat politik dari LIPI Syamsuddin Haris bertanya-tanya apa langkah Presiden Joko Widodo kalau dalam waktu tiga bulan, Kapolri Jenderal Tito Karnavian tidak mampu menuntaskan kasus penyerangan terhadap penyidik KPK Novel Baswedan.

"Jika dalam tiga bulan penyerang Novel Baswedan tidak terungkap, apakah Presiden @jokowi akan copot kapolri? Saya kira kasus Novel akan jadi ujian komitmen dan kesungguhan Pak Jokowi dalam menegakkan hukum dan memerangi koruptor, apakah lebih maju dari periode pertama," kata Syamsuddin Haris melalui akun Twitter @sy_haris.

Beberapa waktu yang lalu, Presiden Jokowi memberikan waktu tiga bulan kepada Tito untuk menyelesaikan kasus tersebut. Waktu tiga bulan itu lebih singkat dari target enam bulan yang disampaikan Tito sebagai masa kerja tim teknis yang akan melanjutkan hasil temuan tim pencari fakta.

baca juga:

Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko menilai kasus penyiraman air keras terhadap Novel adalah perkara yang tidak mudah sehingga Polri membutuhkan tambahan waktu untuk mengungkapkannya.

"Masalahnya, persoalan itu tidak mudah, persoalan itu dilakukan pada situasi yang gelap, walau ada CCTV sebagai barang bukti tapi juga tidak bisa memberikan data tentang yang menyiram itu," kata Moeldoko di kantor KSP gedung Bina Graha Jakarta, Jumat lalu.

"Kalau data tidak diketahui saat aksinya maka polisi mencari ke belakang, sebelum-sebelumnya apa yang bisa dikenali sehingga ada sebuah peristiwa. Awalnya mengenali 4 orang dicurigai pelaku, setelah didalami ternyata dia bukan (pelaku). Dia itu orang yang menagih 'leasing'. Berikutnya ketemu lagi ada, tapi intinya peristiwa itu tidak mudah dalam pelaksanananya dan mesti mengurut ke belakang," Moeldoko menambahkan.

Pada Kamis (17/7) TPF kasus Novel merekomendasikan Tito untuk melakukan pendalaman terhadap keberadaan tiga orang yang diduga terkait kasus tersebut dengan membentuk tim teknis dengan kemampuan spesifik.

Tito lalu membentuk lagi tim teknis atas hasil investigasi yang didapat TPF yang dipimpin Kabareskrim Polri Komisaris Jenderal Idham Azis dengan masa kerja enam bulan untuk melanjutkan setiap rekomendasi yang sudah dikeluarkan TPF Novel Baswedan.

"Ada apa dengan korban soalnya pasti berkaitan dengan beliau pada saat bekerja, apakah ada hal-hal pernah kontak dengan siapa dan seterusnya. Ini panjang ceritanya. Pasti ada yang tidak disenangi dan seterusnya akhirnya menjadi ganjalan dan ganjalannya dikerjakan saat mendapat sebuah momentum," tambah Moeldoko.

Moeldoko pun menilai bahwa kondisi tersebut betul-betul sebagai suatu situasi yang tidak mudah.

"Itulah kira-kira kenapa kepolisian dan tim pencari fakta tidak serta merta mendapatkan hal-hal yang akurat, tapi dari hasil yang telah disampaikan itu Kapolri membentuk lagi tim teknis. Harapannya hal-hal yang didapat itu lebih didalami lagi sehingga nanti mungkin ketemu formulanya lebih terang," kata Moeldoko.

Ia pun meminta agar masyarakat tetap percaya terhadap tim teknis di bawah Kapolri tersebut.

"Masyarakat percaya kepada tim yang saat ini lebih mendalami indikator awal, ya harapannya bisa terjawab, dan hati-hati Presiden sudah memberi waktu 3 bulan, bukan 6 bulan, kalau Kapolri (menetapkan) 6 bulan, Presiden minta 3 bulan," ungkap Moeldoko.

Moeldoko juga menilai bahwa penanganan kasus tersebut masih dapat ditangani Polri dan tidak perlu membentuk TGPF di bawah Presiden Joko Widodo.

"Kalau semua diambil alih Presiden, nanti ngapain yang di bawah? Jangan, Presiden itu jangan dibebani hal teknis dong, nanti akan mengganggu pekerjaan-pekerjaan strategis, teknis ada Kapolri yang mengerjakan sampai tuntas. Nanti kalau dibentuk TGPF, berangkat dari 0 lagi, lama lagi," kata Moeldoko

Moeldoko mengaku bahwa Novel tidak disudutkan sebagai korban dari proses tersebut.

"Bukan (menyudutkan), sudah jadi korban masa disudutkan, bukan itu persoalan, tapi mencari siapa pelaku itu memang tidak mudah, jadi jangan dibalik, tidak ada korban disudutkan, salah lagi nanti," ungkap Moeldoko.

Novel Baswedan diserang oleh dua orang pengendara motor pada 11 April 2017 seusai sholat subuh di Masjid Al-Ihsan dekat rumahnya. Pelaku menyiramkan air keras ke kedua mata Novel sehingga mengakibatkan mata kirinya tidak dapat melihat karena mengalami kerusakan yang lebih parah dibanding mata kanannya.

Polda Metro Jaya sudah merilis dua sketsa wajah yang diduga kuat sebagai pelaku pada awal 2018, namun belum ada hasil dari penyebaran sketsa wajah tersebut.

Pada 8 Januari 2019 Kapolri Tito Karnavian membentuk Tim Pakar atau Tim Pencari Fakta untuk mengungkap kasus tersebut dengan beranggotakan 65 orang, 52 di antaranya anggota Polri, 6 orang dari perwakilan KPK, dan 7 pakar dari luar kepolisian dengan masa kerja selama 6 bulan yang berakhir pada 9 Juli 2019, namun hingga masa kerja berakhir TPF tidak menyampaikan siapa pihak yang bertanggung jawab atas penyerangan.

TPF hanya menduga ada 6 kasus high profile yang ditangani Novel, diduga berkaitan dengan penyerangan ini. Kasus-kasus tersebut adalah korupsi kasus e-KTP, kasus mantan ketua Mahkamah Konstitusi Aqil Mochtar, kasus Sekjen Mahkamah Agung, kasus bupati Buol Amran Batalipu, kasus wisma atlet, dan kasus penanganan sarang burung walet Bengkulu.

Terkait kerja TPF tersebut, Novel mengatakan bahwa hasil TPF tidak punya dampak positif.

"Kerja mereka tidak ada yang positif untuk pengungkapan kasus," kata Novel. []

Editor: Siswanto

berita terkait

Image

News

Kejagung Klarifikasi Soal Oknum Jaksa yang Kena OTT KPK

Image

News

Kapolri: Papua Saudara Kita Sendiri

Image

News

Berita Populer Tengku Zul Beri Dukungan UAS hingga Yusril Sepakat GBHN Dihidupkan

Image

News

Kapolri Berikan Kenaikan Pangkat Kepada Anggota Polisi Wonokromo yang Terluka

Image

News

Kapolri: Penyerang Polsek Wonokromo Lakukan Radikalisasi Diri Sendiri dari Internet

Image

News

Pesan Tito di Hari Ulang Tahun OSO: Terus Baktikan Diri Bagi Nusa dan Bangsa

Image

News

HUT ke-74 RI

KPK: Kemerdekaan Jadi Momen Untuk Prihatin Terhadap Nasib Bangsa

Image

Ekonomi

Jokowi Serukan Penegakan Hukum, Bagaimana Dengan Enggar?

Image

News

Ombudsman Terima Laporan Keluhan Tahanan KPK

komentar

Image

0 komentar

terkini

Image
News

Uni Eropa Siap Brexit Tanpa Kesepakatan, Inggris Bersiap Rugi Besar

“Itu akan jauh lebih besar terasa di Inggris dibandingkan di 27 negara UE.”

Image
News

Mantan Presiden Sudan Mengaku Terima Rp1,3 Triliun dari Arab Saudi

Dia menghadapi berbagai dakwaan

Image
News

Peneliti LIPI: Masalah HAM Belum Selesai Dengan Baik Akibatkan Konflik Papua Tak Kunjung Usai

"Selain itu ada juga persoalan sejarah dan status politik, kegagalan pembangunan, dan marjinalisasi."

Image
News

Tetap Berulah, Polda Riau Pecat Enam Personilnya

Keenam polisi yang dipecat tidak hormat itu adalah PBR, Ha, CTS, YSM, IS, AK.

Image
News

Polda Metro Jamin Keamanan Warga Papua Selama Aktivitas

Pada prinsipnya masyarakat Papua dan warga yang tinggal di Jabodetabek telah sepakat akan membuat kondusif.

Image
News

Mahasiswa Papua di Cengkareng Deklarasi NKRI Harga Mati

"Saya sangat senang tinggal di Jakarta khususnya di Cengkareng karena kita merasa aman dan nyaman karena kita tidak dibeda-bedakan."

Image
News

Bentrok di Asrama Mahasiswa Papua, Gubernur Sulsel: Ini Bukan Sesuatu yang Besar, Ini Murni Kesalahpahaman

"Tidak ada korban," Nurdin Abdullah menambahkan.

Image
News

Terkesan Tergesa-gesa, CBA Tolak RUU KKS

"RUU tidak menjelaskan apa itu siber? definisinya juga tidak dijelaskan."

Image
News

Soal Manokwari, OSO: Saya Imbau Agar Masyarakat Menahan Diri, Karena Kita Satu Anak Bangsa

"Masing-masing harus memahami kesadaran itu secara bijak agar kita bersatu kembali tidak ada saling menyakiti perasaan masing-masing pihak."

Image
News

Kerusuhan di Manokwari, PKS: Jangan Cari Siapa yang Salah, Tapi Dimana Letak Kesalahannya

"Udah jangan digede-gedein, yang gini-gini tuh sayang. Pake hati aja. Kapolri [Tito] kita pandai sekali, pak tito itu sangat mengerti Papua"

Banner Kemendagri

trending topics

banner jamkrindo

terpopuler

  1. Video Viral: Seorang Anak Tunawisma Meninggal di Pinggir Jalan, Diduga Kelaparan

  2. Dikawal Ketat, Salmafina Tertunduk Malu Sambangi Polres Jakarta Barat

  3. Soal Kontroversi Ceramah 'Salib' UAS, Pengamat Pajak: Menabrak Toleransi

  4. Manokwari Mencekam, Perekonomian Lumpuh Total

  5. Jangan Sampai Norak, Sesuaikan Dulu Warna Perhiasan dengan Kulit

  6. 6 Fakta Perceraian Ahn Jae-Hyun dan Goo Hye-Sun

  7. PSG Tersungkur di Kandang Rennes

  8. Ceramah UAS Soal Salib Dipolisikan, Habib Novel Duga Ada yang Ingin Adu Domba

  9. Banyak Kiriman Video Pendeta Hina Islam dan Minta Bantu Sebarkan, Haikal Hassan: Lapor ke Polri Bukan Sosmed!

  10. Viral Video UAS Soal Salib, Romo Benny Buka Suara

fokus

Nikah Cepat
HUT Ke-74 RI
Ekonomi Indonesia, Merdeka?

kolom

Image
Ahmad Irawan

Joko Widodo dan Keutamaan Partai Politik

Image
Dr. H. M. Syarif, MA

Kesan Haji Tamu Raja 2019

Image
Achmad Fachrudin

Koalisi Plus-plus dan Prospek Oposisi PKS

Image
Naila Fitria

Merdeka Sejak Dalam Pikiran

Wawancara

Image
Video

Hari Fotografi Sedunia

VIDEO Kulit Citra Fotografi Jurnalistik

Image
Iptek

Jodie O'tania, Srikandi Tangguh Kepunyaan BMW Indonesia

Image
Iptek

GIIAS 2019

Gaet Milenial Indonesia, Begini Strategi Penjualan Brand Premium BMW

Sosok

Image
News

Pesona 8 Menteri 'Srikandi' Kabinet Kerja Jokowi Tampil Cantik Kenakan Kebaya

Image
News

4 Fakta Laksamana Muda Maeda Tadashi, Perwira Jepang yang Bantu Kemerdekaan Indonesia

Image
News

Diduga Korupsi, 7 Fakta Sepak Terjang Karier Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita