image
Login / Sign Up
Image

Abdul Aziz SR

Dosen Ilmu Politik FISIP Universitas Brawijaya dan Senior Researcher pada Center for Election and Political Party (CEPP) FISIP UI

Parlemen Hasil Pemilu 2019

Kolom

Image

Suasana sidang paripurna Pembukaan Masa Persidangan III Tahun 2017-2018 di Gedung Nusantara II, Kompleks Parlemen MPR-DPR/DPD, Senayan, Jakarta, Selasa (9/1). Pembukaan masa sidang DPR ini setelah masa reses libur natal dan libur tahun baru. Berdasarkan daftar kehadiran, 323 dari 560 anggota dewan absen dan 55 orang izin. | AKURAT.CO/Sopian

AKURAT.CO, Melalui Keputusan Nomor 987/PL.01-Kpt/06/KPU/V/2019 Komisi Pemilihan Umum menetapkan hasil Pemilu 2019. Calon anggota legislatif (caleg) terpilih tentu sangat bersyukur, senang, dan bahagia dengan raihan suara yang dicapai. Rasa lelah dari kegiatan kampanye yang panjang disertai biaya politik yang mahal insya-Allah berubah menjadi senyuman yang memberi keharuan tersendiri.

Dari 16 partai politik yang ikut kontestasi pada Pemilu 2019, hanya 9 partai politik yang lolos dan berhasil menempatkan calegnya di Senayan. Jumlah peserta bertambah dibandingkan Pemilu 2014 yang diikuti 12 partai. Satu partai yang pada Pemilu 2014 memiliki wakil di parlemen tetapi di Pemilu 2019 terpental dan harus hengkang dari parlemen nasional yakni Partai Hanura.

Lalu, ada dua pemain lama yakni Partai Bulan Bintang (PBB) dan Partai Keadilan dan Persatuan Indonesaia (PKPI) kembali gagal mendapatkan kursi parlemen dan harus puas dengan peringkat nol koma sekian persen. Bahkan keduanya berada di “papan terbawah” dalam perolehan suara, dan terkalahkan oleh partai-partai baru. Sementara, empat peserta baru yakni Partai Perindo, Partai Beringin Karya (Berkarya), Partai Solidaritas Indonesia (PSI), dan Partai Gerakan Perubahan Indonesia (Garuda) tidak mendapatkan dukungan signifikan dari pemilih untuk duduk di parlemen.

baca juga:

Setidaknya terdapat empat hal menarik dari hasil Pemilu 2019 terhadap partai politik yang berhasil melaju ke parlemen (DPR). Pertama, 5 partai berhasil meningkatkan perolehan suara dan raihan kursi parlemen. Ini terjadi PDI Perjuangan (bertambah 19 kursi), Partai Gerindra (bertambah 5 kursi), Partai Kebangkitan Bangsa (bertambah 11 kursi), Partai Nasdem (bertambah 23 kursi), dan Partai Keadilan Sejahtera (bertambah 9 kursi). Kedua, 4 partai mengalami penurunan dukungan dan kehilangan sejumlah kursi di parlemen. Ini diderita oleh Partai Golkar (raib 6 kursi), Partai Demokrat (raib 7 kursi), Partai Amanat Nasional (raib 4 kursi), dan Partai Persatuan Pembangunan (raib 19 kursi, berbanding terbalik dengan PDI Perjuangan). Ketiga, partai politik sarat konflik pasca-Pemilu 2014 seperti Partai Golkar, PPP, dan Partai Hanura mendapat sanksi atau hukuman dari pemilih; suara menurun dan kursi berkurang bahkan hilang sama sekali seperti terjadi pada Partai Hanura. Keempat, partai-partai Islam (PKS dan PPP) dan relatif berwarna Islam (PKB dan PAN) atau boleh disebut “nasionalis-religius” masih tertinggal jauh dibanding “gabungan” partai-partai “nasionalis-sekuler” (PDI Perjuangan, Partai Gerindra, Partai Golkar, Partai Nasdem, dan Partai Demokrat).

Mereka itulah yang akan mengisi parlemen (DPRRI) 2019-2024. Dari sisi figur-figur caleg terpilih, lebih dari separuh masih didominasi oleh wajah-wajah lama. Dengan potret seperti itu, pertanyaannya kemudian, apakah parlemen hasil Pemilu 2019 dapat memberikan perubahan yang membawa kemajuan bagi bangsa dan negara?

Kendati wajib menyimpan optimisme akan tercipta lembaga parlemen yang lebih baik, tetapi masih kecil kemungkinan parlemen periode lima tahun mendatang membawa perubahan signifikan (membawa kemajuan) bagi kehidupan bangsa di berbagai bidang. Mengapa demikian? Setidaknya tiga alasan.

Pertama, caleg terpilih terutama yang berwajah lama tidak banyak yang bisa dicatat memiliki track record (rekam jejak) bagus untuk perubahan. Mereka selama ini umumnya lebih sebagai pengaman status quo dan lebih memandang parlemen sebagai arena untuk kepentinhan kekuasaan semata. Belum menempatkan parlemen sebagai panggung parler (dalam istilah Prancis) atau (forum) berbicara untuk semata-mata membela, mengartikulasikan, dan memperjuangkan kepentingan rakyat (konstituen). Sementara wajah-wajah baru – tidak seluruhnya baru untuk pengalaman parlemen, karena cukup banyak di antara mereka yang pernah menjadi anggota DRPRI dan DPRD – tidak banyak juga yang memberikan harapan.

Kedua, anggota parlemen hasil Pemilu 2019 sebagian besar akan berada di kubu pendukung pemerintah. Dua partai politik yang pada pemilu kemarin tergabung dalam Koalisi Adil Makmur yakni PAN dan Partai Demokrat besar kemungkinan akan merapat ke kubu pendukung pemerintah. Tentu karena alasan positioning di pemerintahan, pundi-pundi ekonomi partai, serta mungkin kasus-kasus hukum. Dengan demikian, praktis hanya Partai Gerindra dan PKS yang tersisa sebagai kekuatan oposisi. Peta kekuatan parlemen yang demikian akan lebih hadir sebagai “parlemen rezim penguasa” ketimbang kekuatan penyeimbang dan pembawa pembaruan dalam sistem politik.

Ketiga, anggota parlemen (dan partai politik) yang tergabung dalam barisan pendukung pemerintah akan lebih fokus pada persiapan menghadapi Pemilu 2024. Untuk konteks pilpres, misalnya, mereka harus menyiapkan figur tangguh pengganti Joko Widodo. Ini jelas menjadi tatangan berat, lebih-lebih bagi PDI Perjuangan yang saat ini menjadi pemimpin koalisi pendukung pemerintah. Di satu sisi, tidak mudah menyiapkan dan mendapatkan figur populer dan punya “nilai jual” seperti Jokowi, di sisi lain jika pemerintahan Jokowi pada periode kedua ternyata tidak berprestasi tentu akan merepotkan mereka pada Pemilu 2024. Itu sebabnya mereka akan mati-matian bekerja untuk itu dan pasti juga membutuhkan topangan sumber daya (ekonomi) yang sangat besar.

Jika demikian adanya, maka parlemen hasil Pemilu 2019 – yang menelan anggaran negara kurang lebih 25 triliun rupiah itu – sulit diharapkan lebih baik dibandingkan parlemen hasil pemilu-pemilu sebelumnya di era reformasi. Tegasnya, tidak lebih dari reinkarnasi dan copy-an dari parlemen-parlemen yang lalu.

Dampak buruk dari kahadiran parlemen hasil proses politik demokratis tersebut adalah munculnya sederet pertanyaan dari berbagai kalangan soal manfaat pemilu serta hakikat dan masa depan demokrasi. Orang bisa mempertanyakan buat apa pemilu yang begitu mahal dan melelahkan jika hanya menghasilkan pemimpin dan elite politik yang tidak banyak memberi arti bagi perubahan dan kemajuan hidup rakyat? Buat apa sistem demokrasi – yang rumit – jika hanya menghasilkan lembaga-lembaga kekuasaan yang justru lebih mengurus kepentingan dirinya sendiri, korup, dan jauh dari kepentingan-kepentingan riil masyarakat?

Jika dua pertanyaan besar itu muncul dan menggaung secara berantai ke seluruh penjuru apalagi berlangsung dalam durasi waktu yang panjang tentu menjadi kabar buruk bagi sistem politik. Bisa saja kepercayaan publik terhadap lembaga-lembaga kekuasaan (formal) tergerus. Orang tidak percaya dengan pemerintah, dengan parlemen, dan lembaga-lembaga penegak hukum. Orang pun memandang demokrasi dengan sebelah mata.

Barangkali hal-hal dan kemungkinan demikian perlu menjadi bahan renungan bagi celeg-caleg terpilih dan parlemen hasil Pemilu 2019. Asa masih tersisa, kecil memang. Tetapi bisa menjadi basis semangat untuk berusaha menjadi lebih baik dan bermakna sepanjang moral politik dan kesejatian parler tersimpan di dada. Wallahu’alam. []  

Editor: Sunardi Panjaitan

berita terkait

Image

News

Kolom

Dirgahayu RI ke 74 dari Oligarkis ke Demokratis

Image

News

Kolom

Akrobat Politik Cak Imin

Image

News

Rektor Asing dan Mental Inlander

Image

News

Kolom

Megawati Centris dan Tantangan PDI-P

Image

News

Kolom

Pemindahan Ibukota: Perspektif Lain

Image

News

Kolom

Keharusan Perombakan Kepemimpinan PPP

Image

News

Kolom

Variable Aneh di Pertemuan Elit

Image

News

Kolom

Format Baru Munas Golkar

Image

News

Kolom

Tafsir Pertemuan Megawati-Prabowo

komentar

Image

0 komentar

terkini

Image
News

Jadi Anggota DPRD Termuda Kota Malang, Ini 5 Fakta Menarik Gagah Soeryo Pamoekti

Ia menjadi anggota DPRD termuda di usia 22 tahun

Image
News

Watercannon dan Baracuda Disiagakan di Pelantikan Anggota DPRD DKI

Selain watercannon, ribuan petugas gabungan disiagakan

Image
News

Prosesi Pemakaman Ipda Erwin akan Dipimpin Kapolda Jabar

Ipda Erwin meninggal dunia dini hari tadi pukul 01.38 WIB di RSPP Jakarta.

Image
News

Anggota DPR Ini Sebut Ipda Erwin Seorang Pahlawan

"Integritas dan keberanian beliau luar biasa"

Image
News

Menghindari Kericuhan Saat Aksi Tolak Rasisme, Sekolah di Sorong Terpaksa Diliburkan

Sekolahnya diliburkan karena takut aksi unjuk rasa ricuh seperti tanggal 19 Agustus 2019 lalu.

Image
News

Hadiri Pelantikan Naik Angkot, Politisi PAN: Ini Solusi Kemacetan dan Polusi

Sembilan politisi PAN datang menggunakan angkot.Kedatangan mereka menjadi pusat perhatian warga dan Pejabat yang ada di DPRD DKI.

Image
News

Pencari Suaka Harus Pahami Etika dan Budaya Indonesia

Pemerintah tidak melakukan koordinasi dengan masyarakat setempat. Sehingga dalam penempatan awal di gedung eks Kodim terjadi penolakan

Image
News

Ahok Hadiri Pelantikan Anggota DPRD DKI Tidak Ajak Istri

Ahok datang seorang diri tanpa ditemani sang Istri Puput Nastiti Dewi.

Image
News

Penempatan Pencari Suaka Harus Rekomendasi UNHCR bukan Pemerintah Indonesia

UNHCR harus bertanggung jawab.

Image
News

Jelang Pelantikan, Ratusan Karangan Bunga Banjiri DPRD DKI

Ratusan karangan bunga ucapan selamat kepada anggota DPRD terpilih terpampang di halaman Gedung DPRD DKI Jakarta

trending topics

banner jamkrindo

terpopuler

  1. Perjuangan Aktivis Tionghoa Pulangkan Rizieq Shihab ke Indonesia

  2. Jika Isu Referendum Papua Jadi Agenda PBB, Sebaiknya Jokowi Nyatakan Berhenti Sebagai Presiden

  3. Apresiasi Pencopotan Polwan Berikan Miras ke Mahasiswa Papua, Fahira Berharap Tidak Menjadi Persoalan Baru

  4. Arya Sinulingga Sindir Sandiaga Uno sebagai Tokoh yang Kurang Kerjaan

  5. BPIP Jawab Sindiran Habib Rizieq, Teddy Gusnaidi: Orang yang Nggak Berani Pulang, Jangan Ditanggapi

  6. Ferdinand: Dinas Kehutanan Tidak Tahu Jenis Batu dalam Instalasi Gabion, Ini Pemda atau Makelar yang Pesan?

  7. Rohingya di Myanmar Terperangkap Perang Baru Antara Militer dan Tentara Arakan

  8. Yunarto: Saya Dukung Mas Anies Gantikan Habib Rizieq Urus FPI Sebelum Mau Pulang

  9. Kuasa Hukum Minta Perkara Rizieq Dihapus, Ferdinand: Mestinya Dulu Jangan Kabur, Lawan Aja!

  10. Balas Komentar Warganet, Vanessa Angel Ngaku Muak Pada Ibu Tiri?

fokus

Pro Kontra
Hari Fotografi Sedunia
Nikah Cepat

kolom

Image
Rozi Kurnia

Bagaimana Masa Depan Spider-Man Pasca Keluar MCU?

Image
Andre Purwanto

Budget Rp30 Juta, Honda PCX atau Yamaha Nmax?

Image
Ujang Komarudin

Dirgahayu RI ke 74 dari Oligarkis ke Demokratis

Image
Ahmad Irawan

Joko Widodo dan Keutamaan Partai Politik

Wawancara

Image
Video

Hari Fotografi Sedunia

VIDEO Oscar Motuloh, Tiga Kali Kena 'Jebakan Batman'

Image
Video

Hari Fotografi Sedunia

VIDEO Peksi Cahyo, Perekam Visual Olahraga

Image
Ekonomi

Eksklusif Destry Damayanti: Kita Harus Optimalkan Perekonomian Domestik

Sosok

Image
News

Jadi Anggota DPRD Termuda Kota Malang, Ini 5 Fakta Menarik Gagah Soeryo Pamoekti

Image
Gaya Hidup

Awalnya Iseng, Pria ini Bikin Aplikasi yang Sangat Bermanfaat bagi Aktivitas Akademik

Image
News

Jadi Sorotan karena Bela UAS, 5 Fakta Sosok Ustaz Yahya Waloni