image
Login / Sign Up
Image

Hasan Aoni

Pendiri Omah Dongeng Marwah

Puzzle Kehidupan Puisi Tiyo

Serial Kisah Remaja Bertalenta -Tiyo Ardianto

Image

Serial Kisah Remaja Bertalenta - Tiyo Ardianto | ISTIMEWA

AKURAT.CO, Di antara 128 penyair yang hadir dalam Pertemuan Penyair Nusantara (PPN) XI, di Kudus, 28-30 Juni 2019, lalu, ada penyair termuda yang jarak usianya dengan penyair paling senior Sutardji Calzoum Bachri terpaut 62 tahun. Tiyo Ardianto namanya. Usianya baru 16 tahun pada 26 April lalu. Ia lahir tahun 2003 sebagai anak pertama dari dua bersaudara.

Duduk di antara penyair-penyair ternama di acara itu, rasanya seperti tercebur dalam lautan puisi. Selama ini ia mengagumi syair cukup membaca karya penyair-penyair itu dan melihat foto mereka. Tapi, hari itu syair tidak hanya kata dalam text, melainkan seonggok tubuh dengan gestur, suara, gaya, dan aksen deklamasi langsung dari penyairnya tanpa penghalang. Tidak hanya bertemu dengan penyair Kudus yang sebagian baru dikenalnya, juga dengan penyair seantero Nusantara dan negara-negara rumpun Melayu di Asia Tenggara.

Ia bisa duduk di situ setelah satu dari tiga puisi karyanya lolos kurasi. Hampir awalnya tak punya harapan, karena batas waktu pengiriman yang habis, dan ternyata diundur sebulan kemudian. Membuat puisinya berjudul "Moga" ikut dalam barisan syair yang dicetak di antara antologi puisi "Sesapa Mesra Selinting Cinta", 2019.

baca juga:

Mulai menyukai puisi ketika diikutkan lomba baca puisi saat TK, dan lima tahun kemudian dengan lomba yang sama saat kelas empat SD. Dalam hiruk-pikuk lomba itulah ia belajar kata dan diksi. Tapi, begitulah pengenalan sastra di masyarakat kita. Diajarkan sebagai lomba, bukan pembelajaran baca dan tulis puisi, misalnya. Serupa anak-anak kita mobil balapan yang beradu cepat merebut garis finish. Persis seperti yang terjadi di dunia musik kita hari ini.

Memang tak selinier hasilnya. Masih ada di antara mereka yang berbelok arah dan memilih jalan anomali. Tiyo salah satunya. Ia tidak berpikir mengejar juara meski tradisi lomba kerap bikin orang melihat semua kegiatan termasuk seni sebagai kompetisi. Menjadi ketua OSIS ketika di SMP menjadikan dia terbiasa memimpin, dan berkreasi dengan teman-temannya di Omah Dongeng Marwah (ODM) meski sepi lomba, menyadarkan tidak semua karya harus menghasilkan piala.

Piala itu, sebagaimana tradisi yang dikembangkan dengan teman-temannya di ODM, adalah kreasi (to create, including inventions) dan kerja sama team. Seperti kesepakatan mereka untuk meminta Tiyo menjadi sutradara dalam drama "Ana Ing Muria", tragedi cinta Nawangsih dan Rinangku, yang dipentaskan di gedung teater UMK, 25 Desember 2018, lalu. Sebuah pertunjukan anak-anak usia SMP dan SMA yang diapresiasi habis oleh para pelaku drama. Itulah piala-piala paling berharga yang bikin remaja seperti Tiyo "tuman".

Sebagai anak yang berpenampilan agak serius dan suka berdiskusi, ia menunjukkan anomali lain ketika dengan temannya waktu masih duduk di bangku kelas dua SMP mampu bikin alumni aktivis pers mahasiswa Indonesia (PPMI) terpingkal-pingkal oleh stand up commedy-nya, pada 2016. Peran panggungnya makin teruji saat ratusan anak SD Semai Jepara, di puncak inagurasi sekolah itu, tak mau bergeser dari tempat duduknya menyaksikan peran mereka di panggung saat menghibur.

Peran-peran panggung itu makin menajamkan Tiyo dalam pembacaan puisi di depan publik sekaligus makin mendewasakan dia dalam menghadapi massa. Gaya khas anak-anak ODM pada umumnya. Tetapi, dari seluruhnya, puisi sementara pilihan yang paling sering digelutinya sekarang.

Seperti gitar dalam musik, puisi adalah pintu masuk paling dasar untuk mengenali sastra. Pelajaran paling sederhana yang bagus dikenalkan sejak masa anak-anak. Dan atas ini dunia sastra harusnya berterima kasih kepada puisi. Bukan saja puisi bentuk sastra paling sederhana bahkan dibanding prosa untuk anak-anak berlatih, juga yang paling tua dalam tradisi berpantun di negeri ini.

Tapi, setajam puisi dalam memotret kehidupan, setajam itu pula kemampuan puisi "menghidupi" para penyairnya dipertanyakan. Orang tua dan guru-guru karena itu tak menempatkan puisi sebagai sandaran hidup. Seolah puisi adalah lapangan pekerjaan dengan profesi puncaknya penyair. Mengapa masih juga ada yang berpikir bahwa berkesenian adalah pilihan, bukan keniscayaan bahwa semua yang hidup butuh berkesenian karena seni merupakan the slice of life manusia?

Dan Tiyo, yang hidup dalam keluarga sangat sederhana dalam memandang kehidupan, juga sempat menghadapi pertanyaan itu dari lingkungannya: "Masa depan apa yang kamu inginkan kalau jadi penyair?" Dengan kata lain apa penyair punya masa depan?

Dan saya kaget ketika ayahnya menjawab pertanyaan masa depan Tiyo dengan sangat bijak, "Terserah anak saya saja. Menjadi apa saja asal dia tahu pilihannya," katanya.

Ayah Tiyo seorang kenek bangunan, dan berprinsip cukup dengan kemampuan itu ia menghidupi keluargnya dan tak mau naik pangkat jadi tukang. Ibunya setiap hari membantu saudaranya melayani pembeli di warung makan kecil di dekat rumahnya.

Dengan latar belakang itu, tidak ada tradisi bersyair yang diturunkan dari keluarganya. Membuat pengalaman berpuisi saat kecil serupa puzzle yang sangat penting bagi dia di hari kemudian. Dan dari secuil pengalaman Tiyo, orang tua mana pun tak boleh menganggap sepele kegemaran anak ketika kecil dan tak sekali-sekali melarang mereka bermimpi tentang apapun yang merefleksikan kegemaran dan bakatnya.

Dan Tiyo tetaplah remaja yang sederhana. "Saya menyadari bukan apa-apa. Tak punya hak untuk tidak ikhlas dan tak punya hak membenci. Tak punya hak berbuat keburukan dan tak punya hak untuk sombong," demikian katanya suatu ketika.

Salam dongeng!.[]

Editor: Dedi Ermansyah

berita terkait

Image

Hiburan

Paramitha Rusady Pernah Menangis Melihat Konflik Pasca Pilpres

Image

Hiburan

Puisi Diharapkan Mengobati 'Luka-luka' Pasca Pilpres

Image

Hiburan

Puisi Herman Syahara

Setelah Ramadan Ini

Image

Hiburan

Puisi Herman Syahara

Mungkin Seseorang Harus Menuliskan Kematian Itu

Image

Hiburan

Puisi Herman Syahara

Ramadan Tanpa Ibu

Image

Hiburan

Desak Gubernur DKI Jakarta Bentuk Pengurus Baru DKJ, Hari Ini Seniman Jakarta Ajukan Petisi

Image

Hiburan

Puisi Herman Syahara

Sajak Jangan

Image

Hiburan

Penyair Ini Kritisi Pendapat Sapardi Djoko Damono Soal Puisi Bukan untuk Dipahami

Image

Hiburan

Merinding! Olga Lydia Baca Puisi Wiji Thukul Berjudul 'Tujuan Kita Satu Ibu'

komentar

Image

0 komentar

terkini

Image
News

5 Kasus UU ITE Paling Menyita Perhatian, Komplain Rumah Sakit Hingga Foto Menu di Pesawat

Jauh sebelum kasus yang menimpa Rius Vernandes, ada Prita Mulyasari yang menghadapi gugatan RS Omni Internasional

Image
News

5 Kasus UU ITE Paling Menyita Perhatian, Komplain Rumah Sakit Hingga Foto Menu di Pesawat

Jauh sebelum kasus yang menimpa Rius Vernandes, ada Prita Mulyasari yang menghadapi gugatan RS Omni Internasional

Image
News

Pembakaran Studio Animasi Kyoto Ingatkan 6 Pembunuhan Massal Tersadis di Jepang

Pembakaran studio yang menewaskan 33 orang ini pun menjadi pembunuhan massal terburuk di Jepang dalam 18 tahun terakhir.

Image
News

Iran Sita Kapal Tanker Asing yang Selundupkan 1 Juta Liter Minyak

Kapal itu ditarik oleh pasukan Iran akibat kerusakan teknis, namun kemudian disita usai diketahui menyelundupkan minyak

Image
News
Haji 2019

Bagikan Kartu Perdana Haji, Operator Asing Ini Diduga Telah Rugikan Negara

Selain membagikan kartu, para penjual dari Zain juga menawarkan paket data yang sangat murah kepada petugas dan jemaah haji Indonesia.

Image
News

Polri Dalami Kasus Dugaan Pemerasan dan Pungli Perpanjangan Sertifikasi Halal MUI

Mahmoud Tatari menjadi korban pemerasan dan pungutan liar dalam kasus perpanjangan sertifikasi halal

Image
News

Calon Menteri Kabinet asal PDIP Kewenangan Megawati

Ibu Megawati belum menggunakan prerogatifnya.

Image
News

Senator Terpilih Digugat karena Foto Terlalu Cantik, Kakak: Ini Lucu-lucuan, Aneh, Ngawur

Wahyu mengatakan secara yuridis gugatan itu tidak lagi menjadi kewenangan Mahkamah Konstitusi.

Image
News
Munas Golkar

Bamsoet Ingin Golkar Jadi Rumah Purnawirawan

Partai ini didirikan oleh purnawirawan TNI-Polri, maka dia ke depan harus jadi rumah yang nyaman bagi pendirinya.

Image
News

Kemenlu: Indonesia Kecam Pemberian Penghargaan ke Benny Wenda

Indonesia, katanya, tidak akan menolerir kelompok separatis merongrong keutuhan NKRI.

trending topics

terpopuler

  1. BPPT: Gempa Megathrust Bermagnitudo 8,8 Berpotensi Terjadi di Selatan Pulau Jawa

  2. Garuda Laporkan Youtuber, Netizen Ramai Tantang Laporkan Hotman Paris

  3. 7 Potret Memesona Rosa Rai, Istri Mantan Wamenlu Dino Patti Djalal

  4. Fairuz A Rafiq Tutup Pintu Damai, Barbie Kumalasari Tak Menyerah

  5. Hanya 12 Orang yang Daftar, SMA Negeri Ini Terancam Tutup

  6. Hamil Besar, 8 Potret Koneng Eks Pengasuh Gempi yang Tetap Aktif

  7. Jalani Peran Ibu, Irina Shayk Tampil Keren dengan Sepatu Boots dan Gaun Mini

  8. 10 Potret Ayu Natasya, Istri Wendi ‘Cagur’ yang Cetar Abis

  9. Sapi Simental Berbobot 1.073 Kilogram Terpilih Jadi Hewan Kurbannya Jokowi

  10. Berharap Banyak Dapat Jatah Kursi Menteri, Ketua PKB: Kalau Sama-sama Saja Ibarat Usaha, Masih Rugi, Tapi Kalau Berkurang Celaka

fokus

Menggapai Haji Mabrur
Mencari Tempat Baru
Problematika Narkotika

kolom

Image
UJANG KOMARUDIN

Rekonsiliasi yang Tak Direstui

Image
Achmad Fachrudin

Menimbang Visi Indonesia Baru

Image
Ilham M. Wijaya

Menyiapkan Kota Sadar Bencana

Image
Abdul Aziz SR

Parlemen Hasil Pemilu 2019

Wawancara

Image
Hiburan

Mengaku Terpaksa, Vivi Paris Beberkan Kronologi Dibohongi Sandy Tumiwa Hingga Akhirnya Nikah Siri

Image
Hiburan

Hakim Vonis Bebas Kriss Hatta, Ini Tanggapan Hilda Vitria

Image
Ekonomi

Roda Ekonomi Ramadan

Dilema Pilih Zakat atau Pajak, Persoalan Klasik yang Mengusik