image
Login / Sign Up
Image

UJANG KOMARUDIN

Direktur Eksekutif Indonesia Political Review (IPR) & Pengamat Politik Universitas Al-Azhar Indonesia (UAI) Jakarta.

Bagi-bagi Jatah Menteri

Image

Presiden dan Wakil Presiden terpilih Joko Widodo dan Ma'ruf Amin beserta partai pendukung koalisi usai menghadiri 'Rapat Pleno Terbuka Penetapan Pasangan Calon Presiden dan Wakil Presiden Terpilih Pemilu 2019' di Kantor KPU, Jakarta, Minggu (30/6/2019). Pasca keputusan Mahkamah Konstitusi (MK), KPU menggelar Rapat Pleno Penetapan Pasangan Calon Presiden dan Wakil Presiden Terpilih Pemilu 2019, Joko Widodo dan Ma'ruf Amin. | AKURAT.CO/Abdul Aziz Prastowo

AKURAT.CO, Pagelaran Pilpres telah beres. Presiden dan Wakil Presiden 2019-2024 telah ditetapkan. Hanya tinggal menghitung bulan, Jokowi-Ma’ruf Amin, akan dilantik pada 20 Oktober 2019 nanti.

Persoalan Presiden dan Wakil Presiden memang sudah beres. Namun belum dengan komposisi kabinetnya.

Partai koalisi Jokowi-Ma’ruf Amin, maupun kubu Prabowo-Sandi, sedang berburu posisi menteri. Partai-partai koalisi Jokowi-Ma’ruf Amin, sedang galau dan risau, takut jatah kursi menterinya dikurangi. Karena partai oposisi, sedang ancang-ancang kaki, akan masuk koalisi pemerintah.

baca juga:

Di saat yang sama, partai-partai oposisi pun, bermanuver untuk mendapatkan posisi menteri. Walaupun semuanya bergantung pada hak prerogatif Jokowi. Namun kursi menteri masih bisa dinegosiasikan. Masih bisa dibicarakan. Dan masih bisa dikompromikan.

Menjadi menteri, mungkin dambaan setiap politisi. Bahkan menjadi idaman, bagi kaum profesional. Menjadi menteri, bukan hanya sekedar menjadi pembantu presiden, dalam urusan tertentu. Tetapi juga melekat hak padanya, sebagai pejabat tinggi negara.

Mendapat fasilitas negara, kemana-mana dikawal dan dilayani ajudan, bahkan asisten pribadi, banyak orang yang ingin mendekat, dan bahkan hanya sekedar menyapa, dihormati, dan menjadi kebanggaan daerah asal menteri tersebut berasal.

Oleh karena itu, wajar jika jabatan menteri sedang diburu. Sedang diminati. Sedang perjuangan, bagi para pemburu kekuasaan, baik dari parpol, maupun kalangan profesional.

Bagi-bagi jatah menteri, bukanlah sesuatu yang haram. Bukan pula sesuatu yang harus dihindari.

Karena pada dasarnya, partai koalisi Jokowi-Ma’ruf Amin, ketika mendukung pencalonan Jokowi-Ma’ruf Amin, sebagai pasangan Capres dan Cawapres, pasti sudah deal berapa jabatan kursi menteri, masing-masing partai koalisi akan didapat.

Prinsipnya no free lunch. Tak ada makan siang gratis. Apalagi di politik. Semua berbasis kepentingan. Dan semua berbasis kekuasaan. Bohong jika berpolitik tidak untuk memperebutkan jabatan. Dan jika ingin berkuasa, tentu harus menang Pemilu.

Ketika sudah menang. Partai-partai koalisi tersebut menagih janji. Bukan ingin dikurangi jatah menterinya. Bahkan ingin ditambah. PKB ingin nambah. Golkar ingin nambah. Nasdem juga ingin nambah. Begitu juga partai lainnya.

Sangat wajar, jika partai koalisi Jokowi-Ma’ruf Amin, yang partainya mendapatkan kursi di DPR RI, mendapatkan jatah kursi menteri. Karena tidak mungkin pemerintahan Jokowi-Ma’ruf Amin berjalan, tanpa bagi-bagi kursi menteri bagi partai-partai kolisinya.

Karena jika tak bagi-bagi kursi menteri, tak akan ada koalisi. Tak akan ada kesepakatan. Dan tak akan ada kerjasama.

Kesannya bagi-bagi kursi menteri itu negatif. Kesannya seperti dagang sapi. Bagi-bagi kekuasaan. Dan pragmatis. Tapi itulah the real politik. Ketika partai mendukung, dan yang didukungnya menang. Sudah tentu dan sudah pasti, yang mendukung meminta kompensasi. Kompensasi jatah kursi menteri.

Bagi-bagi jatah kursi menteri, kesannya pulgar. Kesannya terlalu mengada-ngada. Kesannya meminta jabatan. Kesannya kasar. Kesannya tanpa kesopanan. Namun itulah fakta politik di lapangan. Selalu berbeda, antara harapan dengan kenyataan.

Harapan ingin kabinet yang profesional. Yang terjadi, kabinet yang didominasi kader partai politik. Harapan tidak bagi-bagi kursi menteri. Kenyataan, kursi menteri bukan hanya dibagi. Tetapi juga terkadang diberi kepada orang yang bukan ahli.

Komposisi kabinet Jokowi-Ma’ruf Amin, tak akan jauh berbeda dengan kabinet sebelumnya. Akan diisi dan didominasi orang-orang partai. Dan hanya sedikit dari kalangan profesional.

Walaupun penyusunan kabinet, merupakan hak prerogatif presiden. Dan pada jabatan kedua ini, Jokowi tidak terlalu banyak beban. Namun partai koalisinya, perlu dibuat nyaman. Perlu dibuat aman. Membagi jatah kursi menteri adalah keniscayaan. Agar tidak banyak tekanan dari partai koalisi.

Harapan membentuk zaken kabinet akan pupus. Kabinet dari kalangan profesional hanya sebagai wacana. Namun tak akan terealisasi, dalam komposisi kabinet Jokowi-Ma’ruf Amin. Zaken kabinet baru sekedar mimpi. Namun yakinlah, suatu saat nanti, Indonesia akan memiliki kabinet, yang disisi oleh orang-orang profesional dan ahli di bidangnya.

Mimpi itu harus tetap ada. Harus tetap hidup. Harus tetap menggelora. Jika zaken kabinet belum terealisasi saat ini, mungkin saja periode berikutnya, jika periode berikutnya belum juga, masih ada harapan periode-periode yang akan datang.

Kabinet memang harus diisi, oleh orang-orang ahli. Tak boleh presiden, serahkan kepada orang, yang hanya sekedar mencari jabatan. Karena jika kementerian, diserahkan dan dipimpin oleh orang yang bukan ahlinya, maka tunggulah kehancurannya.

Mencari menteri tidaklah mudah. Tidak juga sulit. Gampang-gampang susah memang. Tapi carilah yang kompeten di bidangnya. Jangan asal comot. Jangan asal terima rekomendasi dari partai. Dan jangan karena balas budi.

Tak ada partai politik, yang tak mau mendapat jatah menteri. Partai koalisi, yang tak dapat kursi di parlemen pun, merasa berhak untuk mendapatkannya. Dan bahkan partai oposisi, yang tak berkeringat dan berdarah-darah pun, ingin mendapatkannya.

Kursi menteri memang kursi empuk. Kursi panas. Kursi penuh persaingan. Kursi yang menghadirkan sikut-sikutan. Kursi semua orang ingin mendapatkannya. Kursi yang bagi penyandangkan, akan terhormat dan berwibawa.

Namun jika disalah gunakan, akan menjadi kursi laknat. Namun harus diingat. Jokowi-Ma’ruf Amin jangan hanya sekedar, bagi-bagi jabatan menteri. Namun carilah yang pas. Carilah yang cocok. Carilah yang ahli dan hebat. Carilah yang berprestasi. Carilah yang bisa bekerja dengan baik. Dan carilah yang berniat tulus, untuk mengabdi kepada bangsa dan negara.

Karena kita tahu, jabatan menteri dibagi-bagi, diperebutkan, hanya untuk memperebutkan kekuasaan. Dari kekuasaan itu, digunakan untuk mencari uang.

Oleh karena itu, tidak heran dan tidak aneh, jika banyak menteri yang terjerat kasus korupsi di KPK.

Bagi-bagi jatah menteri ya silahkan bagi-bagi. Kursi menteri memang untuk dibagi. Namun bagilah, kepada partai yang sudah menyiapkan kader terbaiknya. Profesional yang memiliki keahlian mumpuni. Jangan dibagai kepada partai atau profesional, yang pura-pura hebat dan pura-pura ahli. Apalagi kader partai atau profesional abal-abal.

Membagi kursi menteri, tak semudah membagi beras ke masyarakat miskin. Bagi-bagi jatah menteri, harus mempertimbangkan asas proporsionalitas dan keadilan. Adil bagi partai koalisi. Dan proporsional bagi kaum profesional. Bukankah begitu![] 

Editor: Melly Kartika Adelia

berita terkait

Image

News

TKN Berharap Jokowi Serap Aspirasi Rakyat dalam Penyusunan Kabinet

Image

News

Amien Rais Beri Kesempatan Jokowi-Ma'ruf 5 Tahun, Ferdinand: Akhirnya, Yang Lalu Terlupakan!

Image

News

Beri Kesempatan Jokowi-Ma'ruf 5 Tahun, Mahfud MD: Hormat Pak Amien, Mari Rajut Keindonesiaan Kita!

Image

News

Bamsoet Dukung Dito Ariotedjo Jadi Menteri Kabinet Jokowi-Ma'ruf yang Diajukan Golkar

Image

News

Roy Suryo Sebut AHY Sangat Siap Jika Diminta Jadi Menteri Jokowi

Image

News

Demi Tingkatkan Kualitas SDM, PKB Usulkan Sejumlah Terobosan di Dunia Pendidikan

Image

News

PKB Incar Posisi Menteri Bidang Pendidikan dan Ekonomi di Kabinet Jokowi-Ma'ruf

Image

News

Soal Isu Wakil Menteri dalam Kabinet Jokowi, Pengamat: Nggak Usah Lah, Nggak Efisien Itu!

Image

News

Golkar Masih Pantau Kader-kader Terbaiknya untuk Diusulkan Jadi Menteri

komentar

Image

0 komentar

terkini

Image
News

5 Kasus UU ITE Paling Menyita Perhatian, Komplain Rumah Sakit Hingga Foto Menu di Pesawat

Jauh sebelum kasus yang menimpa Rius Vernandes, ada Prita Mulyasari yang menghadapi gugatan RS Omni Internasional

Image
News

5 Kasus UU ITE Paling Menyita Perhatian, Komplain Rumah Sakit Hingga Foto Menu di Pesawat

Jauh sebelum kasus yang menimpa Rius Vernandes, ada Prita Mulyasari yang menghadapi gugatan RS Omni Internasional

Image
News

Pembakaran Studio Animasi Kyoto Ingatkan 6 Pembunuhan Massal Tersadis di Jepang

Pembakaran studio yang menewaskan 33 orang ini pun menjadi pembunuhan massal terburuk di Jepang dalam 18 tahun terakhir.

Image
News

Iran Sita Kapal Tanker Asing yang Selundupkan 1 Juta Liter Minyak

Kapal itu ditarik oleh pasukan Iran akibat kerusakan teknis, namun kemudian disita usai diketahui menyelundupkan minyak

Image
News
Haji 2019

Bagikan Kartu Perdana Haji, Operator Asing Ini Diduga Telah Rugikan Negara

Selain membagikan kartu, para penjual dari Zain juga menawarkan paket data yang sangat murah kepada petugas dan jemaah haji Indonesia.

Image
News

Polri Dalami Kasus Dugaan Pemerasan dan Pungli Perpanjangan Sertifikasi Halal MUI

Mahmoud Tatari menjadi korban pemerasan dan pungutan liar dalam kasus perpanjangan sertifikasi halal

Image
News

Calon Menteri Kabinet asal PDIP Kewenangan Megawati

Ibu Megawati belum menggunakan prerogatifnya.

Image
News

Senator Terpilih Digugat karena Foto Terlalu Cantik, Kakak: Ini Lucu-lucuan, Aneh, Ngawur

Wahyu mengatakan secara yuridis gugatan itu tidak lagi menjadi kewenangan Mahkamah Konstitusi.

Image
News
Munas Golkar

Bamsoet Ingin Golkar Jadi Rumah Purnawirawan

Partai ini didirikan oleh purnawirawan TNI-Polri, maka dia ke depan harus jadi rumah yang nyaman bagi pendirinya.

Image
News

Kemenlu: Indonesia Kecam Pemberian Penghargaan ke Benny Wenda

Indonesia, katanya, tidak akan menolerir kelompok separatis merongrong keutuhan NKRI.

trending topics

terpopuler

  1. BPPT: Gempa Megathrust Bermagnitudo 8,8 Berpotensi Terjadi di Selatan Pulau Jawa

  2. Garuda Laporkan Youtuber, Netizen Ramai Tantang Laporkan Hotman Paris

  3. 7 Potret Memesona Rosa Rai, Istri Mantan Wamenlu Dino Patti Djalal

  4. Fairuz A Rafiq Tutup Pintu Damai, Barbie Kumalasari Tak Menyerah

  5. Hanya 12 Orang yang Daftar, SMA Negeri Ini Terancam Tutup

  6. Hamil Besar, 8 Potret Koneng Eks Pengasuh Gempi yang Tetap Aktif

  7. Jalani Peran Ibu, Irina Shayk Tampil Keren dengan Sepatu Boots dan Gaun Mini

  8. 10 Potret Ayu Natasya, Istri Wendi ‘Cagur’ yang Cetar Abis

  9. Sapi Simental Berbobot 1.073 Kilogram Terpilih Jadi Hewan Kurbannya Jokowi

  10. Berharap Banyak Dapat Jatah Kursi Menteri, Ketua PKB: Kalau Sama-sama Saja Ibarat Usaha, Masih Rugi, Tapi Kalau Berkurang Celaka

fokus

Menggapai Haji Mabrur
Mencari Tempat Baru
Problematika Narkotika

kolom

Image
UJANG KOMARUDIN

Rekonsiliasi yang Tak Direstui

Image
Achmad Fachrudin

Menimbang Visi Indonesia Baru

Image
Ilham M. Wijaya

Menyiapkan Kota Sadar Bencana

Image
Abdul Aziz SR

Parlemen Hasil Pemilu 2019

Wawancara

Image
Hiburan

Mengaku Terpaksa, Vivi Paris Beberkan Kronologi Dibohongi Sandy Tumiwa Hingga Akhirnya Nikah Siri

Image
Hiburan

Hakim Vonis Bebas Kriss Hatta, Ini Tanggapan Hilda Vitria

Image
Ekonomi

Roda Ekonomi Ramadan

Dilema Pilih Zakat atau Pajak, Persoalan Klasik yang Mengusik