image
Login / Sign Up
Image

Achmad Fachrudin

Peneliti Senior Jaringan Demokrasi Indonesia DKI, Kaprodi KPI FD PTIQ

Redefinisi Politik Emak-emak Paska Pemilu 2019

Kolom

Image

Massa Gabungan Elemen Rakyat untuk Keadilan & Kebenaran (GERAK) membawa poster melakukan aksi di depan dedung Bawaslu, JMH Thamrin, Jakarta Pusat, Kamis (9/5/2019). Aksi ini dilakukan meminta kepada penyelenggara pemilu mendiskualifikasi pasangan calon nomor 01 Joko Widodo (Jokowi)-Ma'ruf Amin, karena menemukan kecurangan yang terjadi selama gelaran Pemilu 2019 berlangsung. Untuk pengamanan 11 ribu personel gabungan TNI/Polri untuk mengamankan aksi ini. | AKURAT.CO/Sopian

AKURAT.CO, Secara populasi pemilih, perempuan atau emak-emak potensinya sangat besar. Bahkan hasil dari penyempurnaan Daftar Pemilih Tetap (DPT) jilid dua menunjukkan, jumlah DPT dalam maupun luar negeri adalah 192.828.520 jiwa. Sebanyak  2.058.191 pemilih merupakan pemilih dari luar negeri dan sisanya merupakan pemilih dari dalam negeri. Sedangkan jika dibagi berdasarkan jenis kelamin, jumlah pemilih perempuan cenderung lebih banyak yakni sebesar 96.557.044 orang. Sedangkan pemilih laki-laki 96.271.476 orang. Jadi wajar jika perempuan menjadi sasaran kampanye Capres dan Cawapres maupun partai politik peserta Pemilu 2019.

Dalam catatan Peneliti LIPI Luky Sandra Amalia, perjuangan aktivis perempuan, sejatinya, telah dimulai jauh sebelum Republik Indonesia merdeka. Hal ini ditunjukkan dengan berdirinya organisasi-organisasi perempuan yang berkontribusi terhadap kemerdekaan Indonesia. Misalnya, organisasi Pawijatan Wanito di Magelang yang didirikan pada tahun 1915 dan PIKAT (Perantaraan Ibu kepada Anak Temurun) yang dibentuk di Manado pada tahun 1917. Selain itu, di Surabaya juga ada organisasi perempuan yang dikenal dengan Poetri Boedi sejak didirikan pada tahun 1919 (Suryochondro, 1999:3).

Pada masa Orde Lama, selain organisasi juga muncul beberapa nama perempuan yang berkiprah dalam bidang politik, antara lain Kartini Kartaradjasa dan Supeni, dua nama yang terkenal dari Partai Nasional Indonesia (PNI). Tidak hanya itu, Partai Kristen Indonesia (Parkindo) juga memiliki tokoh perempuan yaitu Walandauw. Demikian halnya di Partai Nadhlatul Ulama juga ada nama Mahmuda Mawardi dan HAS Wachid Hasyim. Sementara itu, Salawati Daud merupakan tokoh perempuan terkenal dari Partai Komunis Indonesia (PKI). Hal ini menunjukkan bahwa pada masa pemerintahan Orde Lama, keberadaan perempuan diperhitungkan di panggung politik. Namun, semua itu sirna seiring dengan berakhirnya masa kekuasaan rezim Orde Lama dan berganti dengan Orde Baru.

baca juga:

Saat perjuangan meruntuhkan  Presiden Soeharto yang sudah didukuki selama 32 tahun  pada  21 Mei 1998,  sejumlah organisasi sosial  perempuan sangat menonjol peranan. Beberapa di antaranya adalah Tim Relawan Divisi Kekerasan terhadap Perempuan (TRKP), Suara Ibu Peduli (SIP), dan Koalisi Perempuan Indonesia untuk Keadilan dan Demokrasi (KPIKD). Mereka memperoleh momentum setelah sekian lama didomestifikasi oleh rezim Orde Baru.  Kisah Suara Ibu Peduli (SIP) dalam bentang sejarah Reformasi sungguh tak bisa dilewatkan begitu saja. Ia bergerak sebelum mahasiswa menduduki Gedung Parlemen di Senayan.

Menurut Gadis Arivia Pendiri Yayasan Jurnal Perempuan yang juga kala itu aktif di SIP, pengasahan ide demonstrasi SIP dimulai sejak bulan November 1997 di Yayasan Jurnal Perempuan (YJP) yang ketika itu giat melakukan kegiatan “zero tolerance”, yaitu berkampanye untuk anti kekerasan terhadap perempuan. Ide ini kemudian semakin bergulir dan disepakati untuk mengadakan pertemuan pertama dengan mengundang teman-teman aktivis perempuan di kantor YJP, Gedung BOR Megaria pada tanggal 13 Februari 1998.  Intinya adalah untuk mengajak teman-teman membahas kemungkinan berdemonstrasi dengan satu  tujuan melawan rejim  Orde Baru, menjatuhkan Soeharto.

Dalam pandangan Wakil Ketua Super Jokowi, Luluk Nur Hamidah tiap tahunnya kesadaran perempuan terhadap politik terus meningkat. Misalnya saat pelaksanaan Pemilu. Jumlah partisipasi perempuan terus bertambah. Padahal di era orde baru perempuan bisa menjadi kepala desa adalah sebuah prestasi. Keterlibatan perempuan dalam birokrasipun semakin meningkat. Kursi 30 persen wanita di legislatif makin diminati perempuan. Partai politik juga membuka ruang bagi perempuan untuk bergabung dan menjadi wakilnya di pemerintahan.

Ketua DPP Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Mardani Ali Sera mengamini pendapat Luluk. Dia setuju kekuatan emak-emak bakal mengambil andil besar dalam Pemilu. Sebab mereka pihak yang begitu merasakan dampak dari kebijakan pemerintah. Militansi para emak-emak ini tak perlu diragukan. Sebagai inisator #2019gantipresiden, dia telah membuktikan sendiri. Kesetiaan para emak-emak saat memenangkan pasangan Anies-Sandi di Pilgub Jakarta tahun lalu. Dalam satu TPS misalnya, 10 dari sayap relawannya terdiri dari emak-emak. Dia memastikan kemenangan Anies-Sandi berkat militansi emak-emak di akar rumput.

Sandi, Handphone dan Media Sosial

Meskipun diyakini ada benang merah antara perjuangan politik perempuan di masa lalu dan di masa kini, khususnya saat Pemilu Presiden dan Wakil Presiden (Pilpres) 2019, gerakan politik emak-emak di Pilpres 2019 paling menonjol dan populer adalah aksi memenangkan Pasangan Capres Prabowo Subianto dan Cawapres Salahuddin Sandiaga Uno. Dalam hal ini, terutama Cawapres Sandi, dianggap sebagai pionir dan kreator  menjadikan enak-emak demikian populer dalam kontek politik praktis di Pilpres 2019.

Untuk mendukung kampanyenya, Sandi acapkali memanfaatkan teknologi hanphone yang difasilitasi dengan kamera yang cukup canggih, Facebook, WhatsApp, Instragram, dan sebagainya. Dampak positifnya, emak-emak milenial, tidak ada lagi kata tabu dan risih berkomunikasi dan berinterkasi via media sosial (Medsos) tentang isu-isu politik, baik yang ringan maupun yang panas.

Melalui gadget, emak-emak juga dengan mudah men-share segala informasi terbaru tentang politik kepada koleganya. Sayangnya memang tidak semua informasi tersebut akurat, faktual dan valid. Bahkan tidak  jarang berisi informasi sampah, ujaran kebecian, hoak dan sebagainya. Akibatnya, perang opini di media sosial antara emak-emak pendukung Jokowi dengan pendukung Prabowo, terkadang tidak bisa dihindarkan.

Terkait emak-emak banyak memilih menjadi aktif dalam berpolitik, Pengamat Sosial Musni Umar berpendapat, menjelang Pilpres dan Pileg 2019, untuk kali pertama kaum perempuan khususnya ibu rumah tangga lebih gencar menyuarakan pendapat. Terlebih di era digital saat ini. Sebab menyatakan pendapat tak melulu melalui aksi demonstrasi. Melainkan melalui media sosial. Hanya saja, di media sosial lebih banyak warga berteriak meminta perubahan. Sebab, mereka saat ini tengah menghadapi situasi sulit. Terlebih dari sisi ekonomi. Sebagai ibu rumah tangga mereka merasakan betul dampak setiap kebijakan, terutama masalah ekonomi.

Jokowi Raih Keuntungan

Kubu Prabowo-Sandi lebih kreatif dalam meraup ceruk potensi suara perempuan, namun hasilnya kalah dibandingkan dengan kubu Joko Widodo dan Ma’ruf (Jokma). Dengan kata lain, yang paling mendapat keuntungan elektoral adalah di pihak Jokowi. Hal ini jika mengacu pada exit poll yang dilakukan sejumlah lembaga survei.  Litbang Kompas misalnya, yang mewawancarai 7.918 responden di 2.000 TPS, dengan nirpencuplikan atau margin of error sekitar 1,45%, menunjukkan bahwa 50,7% pemilih Jokma adalah perempuan. Sementara, data exit poll itu menunjukkan persentase pemilih perempuan di kubu Prabowo adalah 48,4%.

Lalu, Indikator Politik Indonesia yang mewawancarai 2.975 responden dari 2.975 TPS dengan nirpencuplikan sekitar 2%, menunjukkan hal serupa.  Dari total pemilih perempuan yang mereka wawancarai, 55% mencoblos untuk Jokowi dan Ma’ruf.  Suara pemilih perempuan dianggap berpengaruh karena jumlahnya yang lebih banyak dibanding pemilih laki-laki.

Survei  Roy Morgan  yang diumumkan Maret 2019 menyebutkan, Prabowo-Sandi ternyata memperoleh  suara 38,5% saja, kalah jauh  dengan Jokma yang mendapat 61,5%. Hasil sigi ini diamini  Lembaga Survei Indonesia  yang menunjukkan stabilnya komposisi pemilih di segmen pemilih muda menjelang hari H pemilihan. LSI memprediksi, keunggulan Jokowi-Ma’ruf di kalangan milenial berada di kisaran 54,9-64,8%; sedangkan Prabowo-Sandi 35,2-45,1%.

Menurut LSI, ‘ibu bangsa’ pemilih Jokma jumlahnya sekitar 59,9-69,8%; menang banyak dibanding ‘emak-emak’  pro Prabowo-Sandi yang jumlahnya hanya 30,2-40,1% saja. Prestasi Jokowi dalam merayu kaum hawa ini tercatat mengalami  peningkatan dibanding Pilpres 2014  yang cuma 48,10%. Masih menurut lembaga yang sama, kala itu Prabowo-Hatta hanya menuai dukungan 33,8% suara.

Kenapa Bisa Demikian?

Pengamat politik dari LIPI, Luky Sandra Amalia, mengatakan trend pemilih perempuan yang lebih banyak di kubu Jokowi terjadi karena konsep partai “emak-emak” yang diangkat Prabowo, dengan penekanan pada harga sembako mahal, belum berhasil.  Luky mengatakan konsep yang disebutnya erat dengan pemahaman “domestikasi” perempuan itu cenderung tidak menarik untuk kelompok perempuan yang memilih secara rasional.  Di sisi lain, kata Luky, kubu Jokowi menunjukkan perspektif gender yang lebih baik. Ia juga mencermati peran NU dan Muslimat, terutama di Jawa Timur, sangat positif dalam perolehan suara kubu Jokowi.

Sejumlah kalangan menilai, keunggulan Jokowi meraup perolehan suara wanita setidaknya dapat kita bagi menjadi dua kategori utama. Pertama, keuntungan elektabilitas sebagai petahana lewat keputusan-keputusan politik yang dibuatnya. Buahnya adalah sambutan-sambutan hangat ketika Jokowi turun ke daerah-daerah, yang kemudian berlanjut menjadi dukungan politik. Kedua, keunggulan bawaan yang dimiliki secara alamiah sebagai pribadi yang menyenangkan. Faktor lain karena kesantunan dalam berpolitik, keharmonisan keluarga dan kesederhanaan Jokowi dalam kehidupan sehari-hari, selain faktor strategi kampanye yang efektif.

Kontribusi besar dari emak-emak di kubu Jokowi juga diakui Ketua Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Amin, Erick Thohir. Dia  mengatakan, suara perempuan sangat vital dalam Pemilu 2019. Salah satunya karena populasi perempuan pemilih pada Pilpres 2019 mencapai 50,2% atau 93,1 juta pemilih. Erick yakin jika Jokowi-Amin bisa meraih lebih dari 50% dari total suara pemilih perempuan di Pilpres 2019. Optimisme itu muncul karena melihat survei, Jokowi-Amin hampir selalu dikatakan meraih suara antara 55-60%.

Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Moeldoko menambahkan, pemilih perempuan mempunyai peran besar dalam mendongkrak perolehan suara Paslon No. Urut 01. Mereka tidak hanya menyumbang suara dalam jumlah besar, tetapi juga menjadi influencer efektif untuk meyakinkan calon pemilih.  Pemilih perempuan terutama di kantong-kantong suara Jokowi-KMA yakni Jawa Timur dan Jawa Tengah, sebagian besar memberikan suara mereka untuk pasangan nomor urut 01 tersebut.

Redefinisi dan Reaktualisasi

Meskipun menurut hasil quick count Paslon Prabowo-Sandi kalah dari Paslon Jokma (Joko Widodo dan Ma’ruf Amien), emak-emak pendukungnya masih tetap militan. Hal ini terlihat misalnya sejumlah emak-emak ikut melakukan di depan kantor KPU. Mereka menuntut agar KPU bekerja netral dan jujur sesuai amanah dan sumpah jabatan yang diucapkan para komisioner tersebut.  Hal yang sama dilakukan oleh sejumlah emak, kala persidangan digelar Mahkamah Konstitusi (MK). Sejumlah emak-emak  masih menunjukkan militansinya melakukan unjuk rasa untuk memenangkan Paslon No. Urut 02.

Tingginya intensitas manuver politik emak-emak bukan hanya di ‘jalanan’ saat kampanye dan protes hasil Pilpres, tetapi juga terlihat dari banyaknya perempuan yang maju menjadi. Dalam catatan Pusat Kajian Politik (Puskapol) Universitas Indonesia, caleg emak-emak atau tepatnya perempuan yang terpilih di Pemilu 2019 sebanyak 20,5 persen, mengalami peningkatan atau tertinggi sejak Pemilu 2004. Dari jumlah caleg terpilih tersebut, 53 persennya merupakan aktivis partai dan pernah mencalonkan diri sebelumnya. Adapun 41 persen dari mereka memiliki latar belakang kekerabatan atau dinasti politik.

Dengan kata lain, perjuangan politik emak-emak di Pilpres dan parlemen, secara umum ada kemiripan. Ada yang gagal namun ada pula yang berhasil. Yang gagal adalah emak-emak yang berjuang di kubu Prabowo dan gagal terpiilih menjadi anggota parlemen. Sementara yang berhasil adalah emak-emak yang berjuang di kubu Jokowi dan masuk menjadi anggota parlemen. Selain sebagian msih ada lagi, bahkan mungkin lebih banyak jumlah emak-emak yang tidak terkoptasi dengan aliran politik tertentu, dan bahkan yang sama sekali tidak berpolitik praktis.

Lalu bagaimana dengan prospek politik emak-emak paska Pemilu 2019? Yang berhasil dengan tujuan politiknya diharapkan tetap konsisten dengan idealisme yakni: memperjuangkan hak-hak emak dalam berbagai aspek agar lebih baik dan sejahtera. Perempuan politik (yang berkuasa) harus belajar dari pengalaman dimana terdapat sejumlah politisi maskulin yang masuk ke inner cycle (lingkaran dalam) kekuasaan  lalu kemudian idealismenya menurun dan bahkan tergerus sehingga yang menonjol adalah pragmatisme. Hal serupa berpotensi terjadi pada perempuan dan karenanya patut diwaspadai dan dihindari.

Sedangkan emak-emak yang gagal dalam perjuangan politiknya, baik di kubu Prabowo maupun di kubu Jokowi (menjadi anggota parlemen atau bahkan bercita-cita menjadi menteri), tidak perlu kecil hati. Lapangan perjuangan, pengabdian dan pekerjaan sangat luas, dan ada dimana-mana. Bisa dilakukan sendiri-sendiri sesuai dengan aspirasi dan aliansi politiknya. Tetapi juga bisa saja mengonsolidasi dan beraliansi dengan berbagai elemen dan komponen perempuan

Tanpa melihat unsur dan latar belakang politik emak-emak. Apapun pilihan politiknya, yang pasti diperlukan redefinisi, revitalisasi dan reaktualisasi politik emak-emak paska Pemilu 2019.[]

 

Editor: Sunardi Panjaitan

berita terkait

Image

News

Kolom

Menimbang Visi Indonesia Baru

Image

Ekonomi

Kolom

Menyiapkan Kota Sadar Bencana

Image

News

Kolom

Parlemen Hasil Pemilu 2019

Image

Ekonomi

Kolom

Nasib Petani dan Subsidi Tersembunyi

Image

News

Area Becek Sengketa Pileg 2019

Image

News

Kolom

Menanti Pertemuan Jokowi-Prabowo

Image

News

Politik Cinta

Image

News

Kolom

Menimbang Potret DPR 2019-2024

Image

News

Kolom

Deklarasi Kekalahan

komentar

Image

0 komentar

terkini

Image
News

Lukman Hakim: Mukernas PPP Bahas Persiapan Muktamar

Agenda internal PPP sendiri terkait dengan Muktamar.

Image
News

7 Potret Airin Rachmi Diany, Wali Kota Tangerang Selatan yang Memesona

Wanita kelahiran 1976 silam ini pernah memenangkan Mojang Parahyangan Bandung tahun 1995

Image
News

Ketua KPU Sumut Lakukan Pelanggaran, Ustad Tengku: Semoga di Akhirat Semua Kejadian Tidak Memberatkan

DKPP memberhentikan Yulhasni karena melakukan pelanggaran kode etik rekapitulasi suara pemilu legislatif di Kabupaten Nias Barat.

Image
News

KPK Siap Sidangkan Tersangka Kasus Suap PT Krakatau Steel

Penyidik menyerahkan berkas dan tersangka ke penuntut umum.

Image
News

19 Juli 1962: 5 Wanita Pesohor Dihukum Gantung Atas Dakwaan Praktik Sihir

Lima wanita dari 20 terdakwa digantung di Gallows Hill, yakni Sarah Good, Rebecca Nurse, Susannah Martin, Sarah Wildes, dan Elizabeth How

Image
News
Aksi 22 Mei

Jumlah Tersangka Kerusuhan 21-22 Mei Bertambah Sembilan Orang

Tertangkapnya mereka menambah daftar tersangka kerusuhan 21-22 Mei dari 447 menjadi 456 orang.

Image
News

5 Negara dengan Tingkat Bunuh Diri Tertinggi di Dunia, Ada Korea Selatan

Tingkat bunuh diri di setiap negara pun bervariasi

Image
News

Kunjungan Keluar Negeri Dikritik, Anies: Awalnya Pak Pras Juga Mau Ikut

"Justru Ini yang perlu saya garis bawahi, pergi itu jangan dibayangkan sebagai kegiatan studi banding,"

Image
News

India Dilanda Banjir, Harimau Mengungsi ke Tempat Tidur Warga

Para petugas menggiringnya ke arah hutan setelah keluar dari rumah warga

Image
News

Untuk Jadi Destinasi Wisata Dunia, Menpar Arief Yahya Berharap Danau Toba Segera Dapat UGG

Menteri Arief menegaskan bahwa sertifikasi UGG menjadi satu syarat untuk menyelesaikan persoalan yang ada sekarang.

trending topics

terpopuler

  1. Soal Bambu Getah Getih Anies, Komut Adhi Karya: Benda Paling Menganggu Akhirnya Dibongkar

  2. Cerita Kakek 94 Tahun Asal Indonesia Diundang Raja Salman ke Tanah Suci

  3. Perobohan Bambu Getah Getih, Tsamara: Setengah Miliar Dikeluarkan dan Kini Hancur

  4. Anyaman Bambu Seharga Rp550 Juta Dibongkar Karena Rusak, PDIP: Dulu Katanya Tahan Lama!

  5. 5 Kisah Pembunuhan Kejam Sepanjang Sejarah, Ada Mayat yang Dijadikan Hidangan

  6. BPBD Jawa Tengah Peringatkan Warga Soal Bahaya Tsunami di Empat Wilayah Ini

  7. 13 Korban Tewas Akibat Bentrokan di Mesuji Akan Dimakamkan oleh Pihak Keluarga

  8. Syamsuddin: Bagaimana Kita Percaya Jenderal Polisi Bisa Pimpin KPK Jika Kasus Novel Saja Gagal Diungkap

  9. Bambu Getah Getih Dibongkar, Begini Respons Sang Seniman

  10. Di Luar Negeri, Anies Bisa Kendalikan Sistem Pemerintahan Jakarta Lewat Aplikasi Chatting

fokus

Menggapai Haji Mabrur
Mencari Tempat Baru
Problematika Narkotika

kolom

Image
UJANG KOMARUDIN

Rekonsiliasi yang Tak Direstui

Image
Achmad Fachrudin

Menimbang Visi Indonesia Baru

Image
Ilham M. Wijaya

Menyiapkan Kota Sadar Bencana

Image
Abdul Aziz SR

Parlemen Hasil Pemilu 2019

Wawancara

Image
Hiburan

Mengaku Terpaksa, Vivi Paris Beberkan Kronologi Dibohongi Sandy Tumiwa Hingga Akhirnya Nikah Siri

Image
Hiburan

Hakim Vonis Bebas Kriss Hatta, Ini Tanggapan Hilda Vitria

Image
Ekonomi

Roda Ekonomi Ramadan

Dilema Pilih Zakat atau Pajak, Persoalan Klasik yang Mengusik