image
Login / Sign Up
Image

Sunardi Panjaitan

Wakil Pimpinan Redaksi Akurat.co

Deklarasi Kekalahan

Kolom

Image

Pasangan Capres dan Cawapres Joko Widodo-Ma'ruf Amin (kiri) dan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno (kanan) bersalaman jelang debat visi, misi dan gagasan di panggung debat capres dan cawapres kelima di Hotel Sultan, Jakarta, Sabtu (13/4/2019). Debat penutup kali ini mengusung tema Ekonomi, Kesejahteraan Sosial, Keuangan, Investasi dan Industri | AKURAT.CO/Dharma Wijayanto

AKURAT.CO, "I know how disappointed you feel because I feel it too, and so do tens of millions of Americans who invested their hopes and dreams in this effort. This is painful and it will be for a long time, but I want you to remember this. Our campaign was never about one person or even one election, it was about the country we love and about building an America that's hopeful, inclusive and big-hearted.”

Itulah Petikan pidato kekalahan calon Presiden Amerika Serikat Hillary Clinton usai dinyatakan kalah dalam Pemilihan Umum Amerika Serikat pada tanggal 6 November 2016. Sebuah pidato yang diapresiasi banyak kalangan karena menggambarkan kebesaran dan ketegaran hati seorang Hillary meski kalah secara menyakitkan dari pesaingnya, Donald Trump yang akhirnya menjadi Presiden AS ke-45.

baca juga:

Hillary pantas merasa kecewa, karena kekalahan yang dideritanya diluar prediksi banyak kalangan. Sejumlah lembaga survei kala itu memprediksi Hillary akan dengan mudah memenangkan Pemilu AS dan menjadi suksesor Presiden Barack Obama. Terlebih, Hillary didukung oleh banyak pesohor, media, dan tentu saja, Presiden Barack Obama. Namun, hasil pemilu berbanding terbalik. Meski unggul dalam popular vote, Hillary justru kalah berdasarkan perhitungan electoral vote, dimana dia hanya meraih 232 vote. Sedangkan Donald Trump unggul dengan raihan 306 vote.

Kekalahan itu tentu saja cukup menyakitkan bagi Hillary Clinton. Sebagaimana dia ucapkan dalam pidato kekalahannya, “This is painful and it will be for a long time, but I want you to remember this”. Kekalahan memang menyakitkan. Sebaliknya, kemenangan selalu dirayakan dengan ueforia dan kegembiraan. Namun, kebesaran jiwa seorang Hillary Clinton-lah yang hingga kini terus diingat oleh publik dunia. Mengakui kekalahan dari sebuah kompetisi adalah sikap patriotis dan negarawan yang diperlihatkan oleh Hillary Clinton kepada dunia.

Pidato Hillary juga menjadi oase penyejuk bagi para pendukungnya dan masyarakat Amerika Serikat. Seluruh akrobat politik juga berhenti setelah pidato disampaikan. Maklum, selama perhelatan Pemilu AS, kondisi masyarakat AS juga mengalami polirisasi akibat kampanye hitam (black campaign) dan isu SARA yang dimainkan oleh Donald Trump. “Last night, I congratulated Donald Trump and offered to work with him on behalf of our country. I hope that he will be a successful president for all Americans”. Lewat pidatonya, Hillary mengajak seluruh pendukungnya untuk mendukung Donald Trump Presiden terpilih demi terwujudnya “American Dreams”.

Sikap patriotis -menerima kekalahan dan mengakui kemenangan lawan- inilah yang kini masih absen dalam perpolitikan Indonesia pasca pelaksanaan pemilihan umum 17 April 2019. Dua pasangan calon Presiden-Wakil Presiden, Joko Widodo-KH. Ma’ruf Amin dan Prabowo Subianto-Sandiaga Salahuddin Uno masing-masing mendaklarasi kemenangan. Tidak ada deklarasi dan pidato kekalahan seperti halnya yang dilakukan oleh Hillary Clinton, meski hasil hitung cepat telah keluar dan hasil rekapitulasi manual yang dilakukan secara berjenjang oleh KPU sudah diumumkan.

KPU dalam pengumumannya menyatakan pasangan Jokowi-Ma’ruf Amin meraih suara tertinggi dengan total 55,50 persen mengungguli pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno yang mendapatkan 44,50 persen. Hasil pemilu ini, diterima oleh pasangan Jokowi-Ma’ruf Amin dan ditolak oleh Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

Setelah hasil rekapitulasi diumumkan secara resmi oleh KPU,  deklarasi kekalahan itu pun tidak muncul. Absennya narasi kekalahan membuat munculnya gerakan-gerakan penolakan terhadap hasil rekapitaluasi KPU. Gerakan ini pun akhirnya menimbulkan korban jiwa akibat kerusuhan yang terjadi pada tanggal 21-22 Mei 2019.

MK Sebagai Jalan Terakhir

Mahkamah Konstitusi (MK) sebagaimana diatur dalam UU Nomor 7 Tahun 2017 Tentang Pemilu pasal 474 menjadi jalan akhir untuk menyelesaikan sengketa perselisihan hasil pemilu antara peserta pemilu dan penyelenggara pemilu. MK menjadi pintu terakhir untuk untuk mendapatkan keadilan bagi peserta pemilu yang menyakini pemilu tidak berlangsung secara jujur, transparan, independen dan adil. Di MK, seluruh dalil-dalil kecurangan pemilu yang diduga dilakukan secara terstruktur, sistematis dan massif (TSM) akan dibuktikan.

Meski belum ada deklarasi kekalahan (sebaliknya masih menyakini kemenangan), pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno memilih jalan konstitusional dengan mengajukan gugatan ke Mahkamah Konstitusi. Pilihan ini patut diapresiasi mengingat narasi yang dikembangkan sebelumnya adalah narasi penolakan terhadap hasil pemilu dan tidak akan membawa sengketa pemilu ke Mahkamah Konstitusi. Narasi yang dikembangkan adalah gerakan penolakan dengan menggerakkan kekuatan people power. Sebuah gerakan yang pada akhirnya dianggap sebagai gerakan makar oleh pemerintah dan aparat penegak hukum.

Dugaan-dugaan kecurangan pemilu baik yang dilakukan oleh penyelenggara pemilu maupun oleh pasangan petahana (Jokowi-Ma’ruf Amin) harus dapat dibuktikan oleh pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Dalam permohonannya, tim hukum Prabowo Subianto-Sandiaga Uno menyebut  kecurangan pemilu bahkan sudah terjadi sejak penyusunan Daftar Pemilih Tetap (DPT), lalu penggelembungan suara di beberapa daerah, ketidaknetralan aparatur pemerintah daerah, mobilisasi anggaran dan karyawan BUMN, hingga penggunaan dana APBN dalam kampanye calon petahana. Seluruhnya harus dapat dibuktikan sehingga dalil kecurangan pemilu terjadi secara terstruktur, sistematis dan massif (TSM) dapat dibuktikan kebenarannya.

Sidang Mahkamah Konstitusi menjadi ruang perdebatan konstitusional untuk mencari kebenaran subtantif. Pemohon, termohon dan pihak-pihak terkait beradu argumentasi, bukti dan saksi untuk menyakinkan majelis hakim agar mengambil keputusan yang seadil-adilnya.

Siap Menang, Siap Kalah

Sikap sportifitas, berjiwa besar mengakui kemenangan lawan dan menerima kekalahan merupakan sikap yang ditunggu-ditunggu dari elit politik negeri ini. Sejak reformasi bergulir dan kran demokrasi terbuka lebar, sikap inilah yang masih minim diperlihatkan oleh para politisi di Indonesia. Hanya segelintir politisi di Indonesia yang secara kesatria mengakui kekalahan dan menerima kemenangan lawan. Hanya sedikit elit politik yang lahir menjadi negarawan setelah pemilu berlangsung.

Sikap yang kini dirindukan oleh publik khususnya setelah dibacakannya hasil putusan sidang sengketa pemilu oleh Mahkamah Konstitusi yang dijadwalkan pada tanggal 28 Juni 2019 mendatang. Apapun keputusan Mahkamah Konstitusi, kedua pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden harus dengan legawa menerima hasil yang diputuskan majelis. Siapapun yang dimenangkan oleh Mahkamah Konstitusi, pihak pemohon, termohon dan pihak terkait harus berbesar hati menerima keputusan.

Publik berharap, pasca putusan Mahkamah Konstitusi, tidak ada lagi narasi-narasi negatif yang dikembangkan oleh pihak-pihak yang bersengketa. Tidak muncul lagi wacana gerakan perlawanan rakyat berbungkus people power. Pihak yang menang diharapkan merangkul pihak yang kalah dan bukan justru memunculkan narasi-narasi yang menyudutkan bahkan membully pihak yang kalah. Sementara pihak yang dinyatakan kalah, juga secara kesatria dan negarawan menyampaikan pidato kekalahan seraya menyatakan keinginan untuk membantu pemerintah yang sah mewujudkan cita-cita kemerdekaan.

Deklarasi kekalahan adalah bentuk sikap kesatria yang kita nanti-nantikan saat ini. Lewat pernyataan sikap menerima kekalahan, kita berharap polarisasi dan keterbelahan di tengah-tengah masyarakat saat ini bisa dihilangkan. Dengan demikian, kualitas demokrasi di Indonesia akan semakin baik.

Pemilu sejatinya adalah jalan untuk memperkuat konsolidasi kebangsaan, bukan untuk melahirkan perpecahan.[]

 

 

 

 

 

 

Editor: Sunardi Panjaitan

berita terkait

Image

News

Kolom

Evaluasi Kinerja Partai Politik

Image

News

Pohon Beringin Itu Akankah Kembali Rindang?

Image

News

Kolom

Menimbang Visi Indonesia Baru

Image

Ekonomi

Kolom

Menyiapkan Kota Sadar Bencana

Image

News

Kolom

Parlemen Hasil Pemilu 2019

Image

Ekonomi

Kolom

Nasib Petani dan Subsidi Tersembunyi

Image

News

Kolom

Redefinisi Politik Emak-emak Paska Pemilu 2019

Image

News

Area Becek Sengketa Pileg 2019

Image

News

Kolom

Menanti Pertemuan Jokowi-Prabowo

komentar

Image

0 komentar

terkini

Image
News

Berpidato di Depan Parlemen Prancis, Greta Thurnberg Justru jadi Bahan Olok-olokan

Gadis 16 tahun tersebut berpidato di hadapan para legislator pada hari Selasa (23/7)

Image
News

KPK Periksa Delapan Saksi Untuk Dalami Suap Reklamasi Gubernur Kepri

Tujuh orang diperiksa di Polresta Balerang, Kepri Dari unsur pejabat Pemprov.

Image
News

Prabowo: Pertemuan dengan Megawati untuk Menyambung Tali Persahabatan

Usai Bertemu Megawati,Prabowo: Perbedaan Sikap Politik itu Sudah Biasa, yang Terpenting Komit NKRI Harga Mati

Image
News

KNKT dan Ditlantas PMJ Rekonstruksi Truk BBM yang Terbakar di GT Rawamangun 

Dari rekonstruksi kemungkinan besar kebakaran terjadi karena adanya benturan

Image
News

Prabowo-Megawati Berkomitmen Menjaga Keutuhan NKRI

Prabowo mengaku dirinya dan Megawati sudah berteman sejak lama, bahkan dirinya merasa bagian dari keluarga.

Image
News

Gajah Suci Lahirkan Anak Kedua, Netizen Diminta Pilih Nama yang Cocok!

Sapto mengatakan, saat ini tim dokter dari BKSDA dan Fakultas Kedokteran Hewan Unsyiah sedang menuju CRU untuk memeriksa kondisi bayi gajah.

Image
News

7 Larangan Unik untuk Turis di Berbagai Negara, Ambil Pasir Pantai Didenda Hampir Rp50 Juta

Tak boleh kunjungi Tak Mahal lebih dari tiga jam

Image
News

China Nyatakan Siap Perang Jika Taiwan Memaksa Memisahkan Diri

Awal Juli, Taiwan membeli senjata dari AMerika Serikat untuk menghadapi ancaman militer dari China.

Image
News

Polda Jabar Beri Pelatihan Khusus untuk Pengemudi Angkutan Umum

Wiyagus menerangkan, kegiatan ini bertujuan guna meningkatkan pengetahuan, kemampuan, dan sikap para pengemudi angkutan umum.

Image
News

Megawati Ajak Prabowo Rajut Kembali Persahabatan Pasca Pilpres

Mari kita rujun kembali menjadi satu persahabatan kita.

trending topics

terpopuler

  1. Ogah Ketemu Nikita Mirzani, Rosa Meldianti: Hawanya Panas Kumpul Sama Orang Banyak Dosa

  2. Tak Dilibatkan Seleksi Calon Menteri, Ma'ruf: Nanti Paling Pak Jokowi Beri Tahu Saya Kalau Sudah Ngumpul

  3. Cegah Perang, Duterte Izinkan Kapal China Mengambil Ikan di Laut Filipina

  4. Ferdinand Sebut Anies Baswedan Potensi Ditunggangi Setan Gundul

  5. Petani Tanam Ganja di Antara Cabai dan Kacang, Dikiranya Tak Ada yang Tahu

  6. Setelah 13 Tahun Dipasung dalam Kotak 2 X 2 Meter, Akhirnya Mereka Dibebaskan

  7. Pria Asal Majalengka Jadi TNI Gadungan Biar Bisa Temui Megawati

  8. Foto Lamanya Tengah Dibaptis Beredar, Kiki Fatmala: Aku No Comment

  9. Rocky Gerung: Sialnya yang Terjadi Pak Presiden Selalu Katakan Nggak Mau Mengintervensi

  10. Ahok Raih Roosseno Award IX, Sekjen PSI: Tak Menyesal Pernah Jadi Jubir Selama Kampanye Melelahkan

fokus

Menuju Negara Ketiga
Menggapai Haji Mabrur
Mencari Tempat Baru

kolom

Image
Achmad Fachrudin

Evaluasi Kinerja Partai Politik

Image
Abdul Aziz SR

Pohon Beringin Itu Akankah Kembali Rindang?

Image
UJANG KOMARUDIN

Rekonsiliasi yang Tak Direstui

Image
Achmad Fachrudin

Menimbang Visi Indonesia Baru

Wawancara

Image
Ekonomi

Roda Ekonomi Ramadan

Dilema Pilih Zakat atau Pajak, Persoalan Klasik yang Mengusik

Image
Ekonomi

Roda Ekonomi Ramadan

Potensi Zakat Indonesia Capai Rp200 Triliun, Sayangnya Masih Sekadar Potensi

Image
Video

VIDEO Ketika Islam Menjadi Pedoman Hidup Dude