image
Login / Sign Up

Soal Gugatan Pilpres, Denny JA Nilai Tim Hukum Prabowo 'Klaim Besar, Bukti Melompong'

Arief Munandar

Pemilu 2019

Image

Pendiri LSI, Denny JA menjelaskan kelemahan dan kelebihan tiga bakal calon presiden Indonesia | Istimewa

AKURAT.CO, Konsultan politik dan peneliti Denny Januar Ali atau lebih dikenal dengan sebutan Denny JA berasumsi bahwa permohonan Tim Hukum Prabowo-Sandiaga soal sengketa PHPU Pilpres 2019 ke Mahkamah Konstitusi (MK) mustahil dikabulkan.

Denny membeberkan analisisnya di halaman Facebook pribadinya @DennyJAWorld.

Denny memulai analisisnya dengan menjelaskan fungsi MK dalam prinsip demokrasi. Menurutnya, MK tidak memiliki kewenangan untuk mendiskualifikasi calon presiden dan wakil presiden sebagaimana permohonan kubu Prabowo-Sandiaga.

baca juga:

"Yang terjauh yang bisa dilakukan MK adalah menetapkan telah terjadi kecurangan yang signifikan, terstruktur dan sistematis. Itupun ditetapkan jika ada bukti yang sahih yang melampaui selisih kemenangan. Hasil putusan MK paling keras: pemilu ulang di sebagian atau di seluruh wilayah," tulis Denny dikutip AKURAT.CO, hari ini.

Selain itu, Denny menyebut bukti tentang kecurangan kubu Jokowi-Ma'ruf Amin yang diadukan ke MK dinilai tidak memumpuni.

"Klaim besar, bukti melompong. Itu yang terbaca dari tim hukum Prabowo. Terlalu banyak asumsi tapi minim bukti," ujarnya.

Denny menganalogikan kubu Prabowo-Sandiaga seperti petinju yang akan bertanding tanpa persiapan. Hal ini yang menyebabkan Prabowo-Sandiaga kalah.

"Penonton yang hanya terpikat oleh gaya petinju segera tepuk tangan dan berdiri gembira. Tapi para ahli tinju segera mengetahui petinju itu tak akan menang."

"Lalu mereka yang ahli tinju bisa bernyanyi lagu Rinto Harahap: “buah semangka berdaun sirih.” Mengharapkan MK mendiskualifikasi Jokowi dan menetapkan Prabowo sebagai Presiden, dengan bukti yang dibawa Tim Prabowo, sama mustahilnya dengan “buah semangka berdaun sirih,” sambungnya.

Berikut tulisan lengkap Denny JA,

Sengketa Pilpres di Mahkamah Konstitusi:

DISKUALIFIKASI JOKOWI, PEMILU ULANG, Dan BUAH SEMANGKA BERDAUN SIRIH?

Denny JA

Mungkinkah kasus Mahkamah Konstitusi di Maladewa (2013), Kenya (2017), Ukrania (2004), dan Austria (2016) terjadi di Indonesia 2019? Tim hukum penggugat berhasil meyakinkan Mahkamah Konstitusi bahwa hasil pemilu presiden di Indonesia 2019 tidak sah?

Sungguh saya menunggu momen itu. Yaitu sebuah gugatan hukum yang cemerlang. Kekuatan bukti yang menunjukkan telah terjadi kecurangan pemilu yang terstruktur, sistematis dan masif. Kecurangan ini begitu besarnya melampaui 17 juta selisih kemenangan Jokowi.

Itulah upper cut yang mematikan, yang membuat lawan jatuh KO. Itulah gugatan hukum yang membuat tim Prabowo ini dikenang sejarah telah membalikkan hasil pemilu presiden. Dan Indonesiapun dikenang menjadi negara kelima yang MK-nya membatalkan hasil pilpres.

Namun apa daya. Yang terjadi di ruang Mahkamah Konstitusi sengketa pilpres 2019 itu tak ada yang “WOW!” Ibarat tinju, yang ditampilkan tim hukum Prabowo hanya jab-jab ringan saja. Yang ramai hanya gerakan meliuk-liuk petinjunya, bukan pukulan yang mematikan.

Klaimnya teramat besar: Diskualifikasi Jokowi! Tetapkan Prabowo Presiden! Pemilu Ulang! Tapi mana bukti yang sahih yang begitu meyakinkan agar hakim sampai ke sana? Klaim besar bukti melompong.

Sayapun teringat lagu Rinto Harahap. Satu lirknya soal “buah semangka berdaun sirih.” Mengharapkan Mahkamah Konstitusi mendiskualifikasi Jokowi, atau langsung menetapkan Prabowo sebagai presiden, dengan bukti yang ditampilkan, itu sama dengan lirik lagu Rinto Harahap. Itu sama dengan berharap di dunia nyata ada “buah semangka berdaun sirih.”

Mulai dari fungsi Mahkamah Konstitusi hingga data sejarah Mahkamah Konstitusi di dunia, tak ada satupun kasus sidang MK yang mendiskualifikasi capres pemenang dan menetapkan lawannya sebagai presiden terpilih!

-000-

Baiklah kita mulai dengan fungsi Mahkamah Konstitusi dalam prinsip demokrasi. Yang memilih presiden itu adalah rakyat banyak melalui pemilu. Bukan MK (Mahkamah Konstitusi) yang memilih presiden. Dengan sendirinya, MK tak bisa memilih siapa capres yang menang.

Yang menetapkan siapa capres yang menang adalah sebuah lembaga yang ditunjuk undang-undang. Kasus Indonesia lembaga itu bernama KPU. Satu satunya memang hanya KPU yang menetapkan pemenang presiden. MK juga tak bisa menetapkan pemenang.

Dengan sendirinya permintaan agar MK mendiskulifikasi capres atau menetapkan Prabowo sebagai pemenang itu mustahil terjadi. Itu bukan wewenang MK dan menyalahi prinsip demokrasi.

Yang terjauh yang bisa dilakukan MK adalah menetapkan telah terjadi kecurangan yang signifikan, terstruktur dan sistematis. Itupun ditetapkan jika ada bukti yang sahih yang melampaui selisih kemenangan. Hasil putusan MK paling keras: pemilu ulang di sebagian atau di seluruh wilayah.

Dalam pemilu ulang itu, rakyat kembali yang memilih. Tetap rakyat yang memilih presiden. Dalam pemilu ulang itu, KPU kembali menetapkan pemenang baru. Tetap KPU yang menetapkan Presiden.

Memang pernah terjadi di negara lain, Mahkamah Konstitusi memerintahkan pemilu ulang. Misalnya di Austria di tahun 2016, di Kenya di tahun 2017, di Maladewa di tahun 2013 dan di Ukrania di tahun 2004.

Untuk kasus empat negara di atas, tim hukum penggugat berhasil meyakinkan dengan bukti yang sahih. Para halim di MK teryakinkan hasil pemilu presiden tidak sah karena telah terjadi kecurangan pemilu yang terstuktur, sistematis dan massif. Kecurangan itu potensial mengubah pemenang pilihan rakyat yang sebenarnya.

Bahkan di empat negara itu, MK tidak mendiskualifikasi capres pemenang. Juga di empat negara itu, MK tidak menetapkan capres yang kalah sebagai pemenang walau ditemukan kecurangan meyakinkan dari pihak yang menang.

Yang diputuskan MK hanyalah pemilu ulang. Tiga dari empat negara itu, di Maladewa, Kenya dan Austria, pemilu ulang menghasilkan pemenang yang sama. Hanya di Ukrania, pemilu ulang menghasilkan pemenang yang berbeda.

-000-

Klaim besar, bukti melompong. Itu yang terbaca dari tim hukum Prabowo. Terlalu banyak asumsi tapi minim bukti.

Misalnya, Tim Prabowo menyatakan kecurangan pihak Jokowi karena meminta pendukungnya datang ke TPS memakai baju putih. Yang harus dibawa Tim Prabowo adalah bukti bahwa baju putih itu telah mempengaruhi pilihan warga sebanyak selisih kemenangan Jokowi. Tapi bukti itu tak ada.

Atau tuduhan Tim Prabowo bahwa Jokowi telah memanfaatkan THR (Tunjangan Hari Raya) untuk mengambil simpati pegawai negeri sipil. Yang harus dibawa oleh Tim Prabowo adalah bukti bahwa THR itu memang telah mempengaruhi pilihan PNS setidaknya sejumlah selisih kemenangan Jokowi. Bukti itu tak ada.

Atau tuduhan Ma’ruf Amin masih menjabat sebagai pejabat di dua BUMN. Yang harus dibawa Tim Prabowo adalah bukti jabatan Ma’ruf Amin di dua BUMN itu sudah mempengaruhi pilihan warga setidaknya sebanyak selisih suara kemenangan Jokowi. Bukti itu tak ada.

Mustahil tim hukum Prabowo tak tahu bahwa MK tak bisa mendiskualifikasi capres pemenang. Mustahil pula tim Prabowo tak tahu bahwa MK tak bisa menetapkan langsung Prabowo sebagai pemenang. Mustahil pula tim hukum Prabowo tak tahu bahwa yang penting itu adalah bukti yang sahih bukan klaim besar!

Tapi mengapa Tim Prabowo masih mendaya gunakan hal yang mustahil itu? Salah satu kemungkinan: The show must go on. Tak cukup waktu tim Prabowo mengumpulkan bukti. Pilihan ke MK agaknya tidak dipersiapkan dari awal.

Ibarat tanding tinju, apa daya panggung sudah disiapkan. Sang petinju sebenarnya belum siap tapi harus bertanding.

Yang terjadi kemudian, terpaksa sang petinju hanya mengharap sorak sorak penonton saja dengan meliuk-liukan tubuhnya. Pukulan yang bisa dilakukan apa daya hanya jab-jab ringan saja.

Penonton yang hanya terpikat oleh gaya petinju segera tepuk tangan dan berdiri gembira. Tapi para ahli tinju segera mengetahui petinju itu tak akan menang.

Lalu mereka yang ahli tinju bisa bernyanyi lagu Rinto Harahap: “buah semangka berdaun sirih.” Mengharapkan MK mendiskualifikasi Jokowi dan menetapkan Prabowo sebagai Presiden, dengan bukti yang dibawa Tim Prabowo, sama mustahilnya dengan “buah semangka berdaun sirih.”????***

Juni 2019, Sebelum Putusan MK.[]

 

Editor: Ridwansyah Rakhman

berita terkait

Image

Iptek

E-commerce Harus Bagikan Data Tren Penjualan Jika Ingin UMKM Go Online

Image

Iptek

Kominfo Gandeng Shopee Tuk Percepatan Implementasi Program UMKM Go Online

Image

Hiburan

Nafa Urbach Ajak Masyarakat Hormati Putusan MK terkait Pilpres

Image

News

Pemilu 2019

Tim Hukum Jokowi-Ma'ruf Optimis Permohonan Kubu Prabowo Ditolak MK

Image

Olahraga

Henrikh Mkhitaryan

Mkhitaryan Langsungkan Pernikahan dengan Cara Unik

Image

News

Pemilu 2019

Presiden PKS: Gugatan Prabowo-Sandiaga ke MK Cerminan Suara Hati Rakyat Indonesia

Image

Olahraga

Internationaux De Strasbourg 2019

Yastremka Raih Gelar WTA Ketiga Usai Taklukkan Garcia

Image

Olahraga

Chelsea vs Arsenal

PSSI-nya Azerbaijan Sayangkan Keputusan Arsenal Tak Sertakan Mkhitaryan

Image

Iptek

Tinggalkan Buoy, BMKG Pakai Sensor Gempa dan Superkomputer

komentar

Image

0 komentar

terkini

Image
News

Ketua PA 212 Akan Berjuang Sekuat Tenaga Terlaksananya Ijtima Ulama ke-4 di Jakarta

Ijtima Ulama ke-4 siap digelar di Jakarta.

Image
News

Permunas Apresiasi Pidato Jokowi Sampaikan Agenda Lima Tahun Kedepan

Poin-poin fokus dari penyampaian agenda Indonesia selama lima tahun kedepan oleh jokowi perlu di apresiasi, didukung dan dikawal.

Image
News

Sekjen NasDem Sebut Jokowi Miliki Kewenangan Penuh Tentukan Struktur Menteri Kabinet

Sekretaris Jenderal Partai NasDem Johnny G Plate menyebutkan, Presiden memiliki tiga kewenangan penuh dalam menentukan struktur kabinet.

Image
News
Haji 2019

Menag: Bapak Presiden Tetapkan Saya Sebagai Amirul Hajj 2019

Menag ditetapkan oleh Presiden Joko Widodo untuk memimpin delegasi Amirul Hajj dalam Penyelenggaraan Ibadah Haji 1440H/2019M.

Image
News

Kemenristekdikti Undang 57 Ilmuan Diaspora Untuk Membangun SDM Indonesia

Kemenristekdikti mengajak ilmuan dispora membangun SDM Indonesia dalam kegiatan Simposium Cendekia Kelas Dunia (SCKD) 2019.

Image
News

KNPI Sebut Menteri Muda Jokowi-Ma’ruf Harus Pernah Memimpin Organisasi Kepemudaan

Ketum KNPI, Noer Fajrieansyah mengapresiasi keinginan Presiden Joko Widodo untuk mencari Menteri berusia relatif muda.

Image
News

Pemerintah Harus Hadir Melindungi WNI di Suriah dan Irak

Keberadaan dan nasib warga negara Indonesia tidak hanya menyoal foreign terrorist fighters namun juga perempuan dan anak-anak.

Image
News

MUI: Anugerah Syiar Ramadahan Turut Menjaga Kualitas Siaran

Ketum MUI KH Ma'ruf Amin mengatakan ASR 1440 Hijriyah/2019M turut menjaga kualitas siaran televisi di bulan puasa.

Image
News

Belum Ada Tersangka, Kasus Novel Baswedan Dinaikan ke Tahap Penyidikan

Penyidikan sudah dinaikan. Karena sudah ada tim yang dibentuk Polda Metro Jaya.

Image
News

Hotman Paris Lomba Pakai Sarung hingga Dipanggil Gus Lora

Hotman memposting video ketika dia mengikuti lomba memakai sarung.

trending topics

terpopuler

  1. Jurus Emak-emak Bikin Anaknya Kapok Main HP Kelamaan

  2. Usai Pertemuan Jokowi-Prabowo, PAN Harap Gerindra-PKS Jadi Oposisi

  3. Jokowi Pastikan Periode Kedua Tak Ada Lagi Praktik Pungli

  4. Salmafina Sunan Mengaku Pernah Hampir Jadi Korban Poligami

  5. Inter Milan Buka Pramusim dengan Kemenangan

  6. Wilder: Ruiz? Kenapa Tidak?

  7. Jokowi: Silakan Jadi Oposisi, Asal Jangan Dendam dan Kedepankan Kebencian

  8. Sindir Iuran untuk Habib Rizieq, Denny: Sisanya Banyak, Bisa Buat Beli Rubicon

  9. Ribuan Relawan Jokowi-Ma'ruf Padati SICC Bogor

  10. Kapal Seruduk Crane Hingga Roboh di Tanjung Mas Semarang

fokus

Menggapai Haji Mabrur
Mencari Tempat Baru
Problematika Narkotika

kolom

Image
Abdul Aziz SR

Parlemen Hasil Pemilu 2019

Image
Hasan Aoni

Berhenti Mengisap yang Belum Niscaya

Image
Hasan Aoni

Puzzle Kehidupan Puisi Tiyo

Image
UJANG KOMARUDIN

Bagi-bagi Jatah Menteri

Wawancara

Image
Hiburan

Mengaku Terpaksa, Vivi Paris Beberkan Kronologi Dibohongi Sandy Tumiwa Hingga Akhirnya Nikah Siri

Image
Hiburan

Hakim Vonis Bebas Kriss Hatta, Ini Tanggapan Hilda Vitria

Image
Ekonomi

Roda Ekonomi Ramadan

Dilema Pilih Zakat atau Pajak, Persoalan Klasik yang Mengusik