image
Login / Sign Up

Ketika Limbah Rumahmu Diambil Tukang Sampah

Maidian Reviani

Sampahmu

Image

Tumpukan sampah yang berada di Komplek Mabad, Kebon Jeruk, Jakarta Barat | AKURAT.CO/Maidian Reviani

AKURAT.CO * Kesadaran sebagian warga dalam menangani sampah sendiri masih tergolong rendah. Terbukti, setiap tahun, volume limbah domestik yang diangkut tukang sampah bertambah terus.

* Menjadi tukang sampah bagi terkadang dilema. Misalnya, ketika sedang menarik gerobak, tiba-tiba ada orang datang dan main taruh plastik-plastik penuh sampah. Tanpa basa-basi.

* Banyak pengalaman suka maupun duka selama menangani sampah yang dirasakan tukang sampah. Walau lebih banyak dukanya, dia merasa pekerjaannya adalah pekerjaan penting dan tak semua orang mau melakukannya.

baca juga:

***

Setelah mendengar cerita dari ibu rumah tangga seperti Munaroh dan Marini (tulisan 1), tidak terbayangkan apa jadinya pemukiman penduduk kalau tidak ada orang-orang seperti Delil. Pasti kompleks perumahan terlihat amat kotor dan bau busuk.

Pria berusia 66 tahun itu tak lain petugas yang saban hari dengan setia mengangkut sampah dari rumah-rumah warga.

Saya menemui Delil di rumahnya, Kelapa Dua, Kebon Jeruk, Jakarta Barat, RT 5, RW 8. Hari itu, dia bersama anaknya, Fery, baru saja bekerja menarik gerobak penuh sampah domestik. Delil tidak mengenakan sepatu ataupun sandal.

Pengangkut sampah warga, Delil. AKURAT.CO/Maidian Reviani

Delil dibantu Fery bertugas mengambil sampah warga dari pukul 07.00 hingga 10.00 WIB.

“Aduh saya lupa udah berapa lama, tapi saya narikin dari zaman Pak Haji Ali udah jadi RT. Udah lama pokoknya udah lebih dari 10 tahun,” kata Delil.

Apapun jenis sampah yang ditaruh di tempat sampah warga pasti dia angkut. Tetapi biasanya sampah yang dibuang jenisnya bekas bahan makanan.

Pekan kemarin, volume sampah yang diangkut lebih banyak dari hari biasa. Tentu saja, seperti tahun-tahun sebelumnya, setiap kali datang liburan hari Lebaran memicu terjadinya peningkatan produksi sampah rumah tangga. Sampah pasti banyak karena masing-masing keluarga masak lebih banyak dan beraneka ragam untuk sajian pada hari raya.

Saking banyaknya sampah yang harus diangkut, saya tidak bisa lama-lama menemui Delil pada pagi hari itu. Dia meminta saya untuk datang lagi siang hari atau setelah menyelesaikan tugas.

Pengangkut sampah warga, Delil. AKURAT.CO/Maidian Reviani

Sekitar jam 13.00 WIB, saya datang ke rumahnya. Bapak pengangkut sampah yang baik hati itu rupanya sudah di rumah dan tadi tidur karena saking capeknya. Mengetahui saya datang, dia segera menyambut dan tak lama kemudian menyuguhkan kue dan minuman bersoda.

“Nggak terlalu banyak (kue), tapi ini rezeki dari warga, ada yang ngasih alhamdulillah kemarin sebelum Lebaran,” kata Delil.

Dari cerita kakek 13 cucu itu saya jadi tahu kenapa volume sampah pada hari raya Lebaran meningkat tajam. Rupanya karena sebagian pengangkut sampah seperti Delil juga mengambil waktu untuk libur sehingga sampah menumpuk di tempat sampah rumah warga. Dari situ saja sudah terbayang bukan main joroknya pemukiman di Ibu Kota kalau tidak ada orang-orang seperti Delil.

“Abis Lebaran bukan main baunya sampah. Kan saya libur lama juga tuh empat hari. Abisnya hari raya mau narik sampah pan kaga enak ya, pas narik lagi sampe 70 karung. Tadi pas narik saya bilang bener-bener dah,” kata dia.

Hari-hari biasa dia mengangkut 20 karung sampah. Tetapi kalau usai Lebaran, jumlahnya bisa berlipat-lipat.

Pengangkut sampah warga, Delil. AKURAT.CO/Maidian Reviani

“Kalau ini Lebaran banyak bener, kelamaan libur, biasanya tiap hari saya tarikin.”

Gerobak penuh limbah domestik kemudian ditarik Delil ke tanah bekas wakaf. Sampah itu dibuang ke sana untuk menguruk permukaan tanah yang amblas.

“Ada tanah pribadi di belakang, tanah wakaf. Kedalaman ada delapan meter, sampahnya ditumpuk diaduk nanti jadi tanah, jadi lebih bermanfaat tuh, jadi bisa ditanemin pohonan,” kata dia.

Sebenarnya, dulu Delil tidak membuang sampah ke tanah wakaf, melainkan ke tempat penampungan sampah sementara yang terletak di Jalan Panjang Arteri, tepatnya dekat halte Transjakarta Pos Pengumben, Jakarta Barat. Dari sana, kemudian sampah dipindahkan ke truk untuk selanjutnya dibawa ke TPST Bantargebang.

Delil tak lagi membawa sampah ke tempat penampungan di Jalan Panjang Arteri karena sudah tak kuat lagi menarik gerobak sampah terlalu jauh jaraknya. Bahkan, belakangan ini harus dibantu anaknya untuk membawa sampah.

“Kata Pak Haji Ali, bawa aja kemari ngapain jauh-jauh, katanya udah lu ngapain sih jauh bener dibilang. Katanya biar bisa buat nanem pohon, diaduk-aduk nanti kan lebar itu tanah. Badan juga nggak kuat lagi karena dari sini ke sananya jauh. Dari sini kan turunan gitu mau ke sananya, dulu kita pernah mau nabrak motor. Makanya buangnya sekarang ke situ.”

Apalagi daerah kekuasaan Delil luas. Dia memegang limbah rumah tangga 140 kepala keluarga. Dia dan anaknya tidak bisa mengangkut limbah domestik sekali jalan.

“Kita nggak sekaligus buang. Biasanya kalau udah rada banyak kita karungin tar kita buang, capek dikit istirahat bentar. Kalau dah enakan bangun lagi, angkut lagi abis itu buang lagi,” kata dia.

Pengangkut sampah warga, Delil. AKURAT.CO/Maidian Reviani

Delil sebenarnya mendapat fasilitas berupa gerobak yang ditarik dengan motor dari kelurahan. Fasilitas ini sebenarnya sangat membantu menghemat banyak tenaga. Tetapi sayang sekali, alat angkut itu tak bisa dipakai karena tidak bisa lewat gang-gang pemukiman.

“Gerobak juga bikin sendiri tuh yang oren baru, dulu ada dari DKI kelurahan, tapi sekarang udah nggak turun lagi, karena jalanan kita masuk motor yang rada gede kan nggak muat, sempit. Jadi pakai gerobak aja, tapi biarin dah olahraga aja dah,” tuturnya.

Delil mengamati kesadaran warga dalam menangani sampah sendiri masih tergolong rendah. Terbukti, setiap tahun, volume limbah domestik yang diangkut Delil bertambah terus. Tetapi dia tetap happy karena sudah menjadi tanggungjawab.

“Kalau mereka masak banyak ya pasti sampahnya banyak,” katanya.

“Karena di sini penduduknya musiman, jadi itu yang buat tiap hari sampah makin banyak. Tapi alhamdulillah orang-orang sini pada seneng kalau saya yang narikin sampah,” katanya.

Menjadi petugas pengambil sampah merupakan pekerjaan penuh risiko. Soal risiko sih tentu semua jenis pekerjaan ada. Tetapi, risiko yang dirasakan oleh orang-orang yang bergelut dengan sampah, seperti Delil, menurut asumsi saya mungkin tak dirasakan oleh profesi-profesi pekerjaan yang lain.

Sampah rumah tangga (domestik). AKURAT.CO/Maidian Reviani

“Kalau misal ada pempers pas kita injek di atas gerobak terus muncrat ya udah biasa, udah banyak itu (tertawa). Apalagi ada beling, tusukan sate nancep di kaki, udah biasa itu mah, sering, udah kebiasaan karena saya nggak demen pakai sepatu. Jadi dibilang duka juga nggak banget karena ya begitu emang pekerjannya,” kata pria kelahiran 1953.

Delil tak tahu akan sampai kapan menggeluti pekerjaan ini. Tetapi, yang pasti, dia merasa kalau sehari saja tidak bekerja, badannya sakit-sakitan.

“Saya udah nggak pantes naik sampah kan, udah 66 umur juga. Tapi kalau nggak narikin sampah badan lemes, aduh saya bilang. Karena udah kebiasaan,” katanya seraya mengatakan satu anaknya sekarang masih butuh bantuannya.

“Saya dapet pendapatan itu bulanan. Warga bayar sendiri aja ke saya, nanti kita ngambil-ngambilin dari warga. Saya nggak matokin harga, ada yang ngasih 20 ribu, 15 ribu. Paling murah tukang sampah di sini mah (tertawa). Misal 20 ribu juga itu buat berdua. Tapi di lingkungan ini warganya kan banyak ada 140 KK. Jadi ya begitu dah nggak tentu.”

Delil bersyukur, walau pendapatan setiap bulan dari menarik gerobak berisi sampah tidak menentu, dia masih punya pekerjaan sampingan untuk menambah keuangan dapur.

“Nanem pohonan sendiri aja. Saya nanem berdua sama anak. Pakai tanah pemda, langganan udah banyak alhamdulillah. Tinggal saya bel, bilang pohon dah pada berkembang. Kalau nggak begitu selingan repot, karena gaji nggak seberapa, paling cuma tiga juta buat berdua dapat sebulan itu. Belum nyetor ke RT 250 ribu. Buat uang kas RT, nanti kita buat sumbangan ke anak yatim. Kan tiap tahun ada,” kata dia.

Meski sebagian orang melihat tukang sampah dengan sebelah mata, bagi lelaki asli Betawi itu tetap membanggakan. Pekerjaan ini merupakan pekerjaan membantu warga menangani sampah, membantu menciptakan kebersihan lingkungan.

“Kebersihan sebagian dari iman,” kata dia.

***

Jam 10.00 WIB, Suracaka (48) sedang sibuk memindahkan kantung plastik hitam dari tempat sampah rumah warga ke dalam gerobak di komplek Mabad, Kebon Jeruk, Jakarta Barat.

Setelah kantung-kantung plastik penuh limbah rumah tangga dipindahkan ke dalam gerobak, Suracaka menyapu daun kering di sekitar bak sampah.

Suracaka juga seorang tukang sampah seperti Delil. Daerah kekuasaan Suracaka cukup luas. Dia menangani sampai warga RT 7, RW 4 Komplek Mabad, Kebon Jeruk, Jakarta Barat.

Pengangkut sampah warga, Suracaka. AKURAT.CO/Maidian Reviani

Selama hidupnya mungkin saya adalah wartawan pertama yang mewawancarai Suracaka. Maka tak mengherankan, ketika pertamakali saya mengajak bicara, dia seperti orang diserang kebingungan. Tetapi akhirnya setelah diberi penjelasan, dia kembali bersikap biasa saja.

“Saya biasa angkut sampah paling segerobak gede ini. Ini kan udah diplastikin sama warga, jadi dari warga dikarungin nanti saya tuang lagi ke gerobak. Biasa bawa paling segerobak besar aja sih,” kata Suracaka.

Ternyata dia bukan orang baru dalam dunia persampahan. Sudah lima belas tahun lamanya Suracaka menekuni bidang ini. Dia bisa begitu lama bertahan karena merasa keahliannya terbatas dan merasa hanya bidang inilah yang benar-benar dikuasai.

Jenis sampah yang paling banyak dia tangani adalah daun.

“Sampah daun paling banyak kalau di sini, karena namanya kompleks jadi banyak pohonan. Kalau sampah dapur nggak terlalu banyak, itu kalau daerah sini ya, kalau daerah lain nggak tahu. Apalagi kalau nebang bisa setengah gerobak sendiri. Apalagi kalau lagi abis Lebaran gini, satu rumah bisa enam kantong sendiri kalau lagi Lebaran. Kalau hari biasa paling satu kantung satu rumah,” kata Suracaka.

Pengangkut sampah warga, Suracaka. AKURAT.CO/Maidian Reviani

Sampah-sampah itu setelah ditaruh di dalam gerobak inventaris kelurahan tahun 2018 yang sudah bolong-bolong, ditarik Suracaka ke tempat penampungan sampah sementara di Jalan Panjang Arteri.

Tempat penampungan sampah ini menerima sampah yang dibawa para tukang sampah dari berbagai wilayah. Makanya tak heran, kalau siang tempat itu penuh dengan gerobak penuh timbunan limbah domestik. Ketika melewati tempat tersebut, juga harus tutup hidung jika tidak kuat tahan bau sampah.

Para tukang sampah mengantre di sana untuk mendapatkan giliran mengangkat sampah dari gerobak masing-masing ke atas armada truk yang akan mengirimnya ke Bantargebang. Truk itu biasanya datang sekitar jam 16.00 WIB.

“Terus dimuat ke truk sampai jam limalah. Soalnya kalau mau angkut ke mobil truk gede itu meski ada kitanya, kalau nggak ada nanti sapa yang angkutin ke mobil. Tapi kalau waktu Lebaran, mereka (truk) dari pagi udah standby karena sampah udah pasti numpuk.”

Pengangkut sampah warga, Suracaka. AKURAT.CO/Maidian Reviani

Dari ngobrol-ngobrol dengan Suracaka, saya jadi tahu ternyata setiap tukang sampah mendapatkan jatah pengangkutan sampah. Suracaka sendiri hanya dijatah satu gerobak dalam sehari.

“Saya juga cuma sekali angkut sampah. Jatahnya satu gerobak sehari. Nanti kalau udah penuh kita langsung bawa ke Arteri itu. Nanti sisanya besok lagi,” kata warga Petukangan Utara, Jakarta Selatan.
Suracaka tidak pernah protes dengan nilai honor menangani sampah warga. Pokoknya berapapun yang diberikan warga dia syukuri.

“Dari warga, tiap bulan ditarikin seikhlasnya aja. Pemasukan juga nggak pasti. Karena saya nggak perah narikin, kesadaran warga aja, jadi mereka yang ngasih ya ngasih, yang nggak ya nggak. Kesadaran sendiri aja nggak dipatok harga, seikhlasnya,” katanya.

Meskipun enggan memberitahu berapa honor setiap bulan, sambil tertawa, Suracaka mengatakan rezeki ya disyukuri saja.

“Yang ngasih ada, yang nggak ngasih banyak (tertawa). Tapi dibikin seneng aja karena mau gimana lagi karena kerjaannya udah begini,” kata dia.

Tempat Penampungan sampah di Jalan Panjang Arteri. AKURAT.CO/Maidian Reviani

Menjadi tukang sampah bagi Suracaka terkadang dilema. Misalnya, ketika sedang menarik gerobak, tiba-tiba ada orang datang dan main taruh plastik-plastik penuh sampah.

“(Sampah warga) yang lain nggak kebawa jadinya. Terus ditambah orangnya nggak ada pengertiannya, misal buat saya di sana (di Jalan Panjang Arteri) buat makan minum.”

Pengalaman lainnya, tangan dan kaki pernah kena benda tajam ketika sedang mengangkat sampah dari dalam gerobak ke atas truk.

“Kadang kena beling juga pas lagi milihin barang-barang yang masih bagus. Tangan juga abis megang sampah kadang cuci juga tetap aja bau nggak ilang.”

Banyak pengalaman suka maupun duka selama menangani sampah yang dirasakan orang-orang seperti Suracaka. Walau lebih banyak dukanya, dia merasa pekerjaannya adalah pekerjaan penting dan tak semua orang mau melakukannya.

***

Jam 16.00 WIB, saya pergi ke tempat penampungan sampah sementara di Jalan Panjang Arteri yang tadi disebutkan Delil dan Suracaka. Saya ingin tahu lebih jauh mengenai bagaimana tindaklanjut penanganan limbah domestik setelah sampai di sana.

Di sana terlihat armada truk warna oranye yang sudah penuh dengan sampah. Beberapa tukang sampah terlihat masih memindahkan kantung-kantung berisi sampah dari dalam gerobak ke atas truk.

Tempat Penampungan sampah di Jalan Panjang Arteri. AKURAT.CO/Maidian Reviani

Para tukang sampah, di antaranya Suracaka, bergotong royong. Tukang yang berdiri di atas truk menerima lemparan kantung sampah dari tukang yang berada di bawah dekat gerobak.

Meski ketika itu saya sedang flu berat, aroma tak sedap dari area itu tetap tercium. Lalat-lalat beterbangan ke sana kemari, cakar ayam menggaruk-garuk rontokan sampah untuk mencari makan. Di sekitarnya, air lindi mengalir.

Setelah pekerjaan memindahkan sampah selesai, Suracaka dan teman-temannya merapikan gerobak untuk kemudian menariknya kembali ke daerah masing-masing. []

Baca juga:

Tulisan 1: Dari Rumahmu Sampah Dihasilkan

Tulisan 3: Cerita Sampah Orang-orang Jakarta Naik Truk ke Bantargebang

Tulisan 4: Kondom dan Sempak Bekas Dibuang di Jakarta Ditemukan di Bantargebang

Tulisan 5: Buang Sampah Sih Enak, Coba Sekali-sekali Tinggal Sekitar Bantargebang

Tulisan 6: Kiriman Sampah ke Bantargebang Kian Bejibun, Apa Kata Jakarta?

Tulisan 7: Interview Tarsoen Waryono: Sampah Jakarta Punya Ranking Tinggi Dibandingkan Kota-kota Lain

Editor: Siswanto

berita terkait

Image

News

Sampahmu

Interview Tarsoen Waryono: Sampah Jakarta Punya Ranking Tinggi Dibandingkan Kota-kota Lain

Image

News

Sampahmu

Kiriman Sampah ke Bantargebang Kian Bejibun, Apa Kata Jakarta?

Image

News

Sampahmu

Buang Sampah Sih Enak, Coba Sekali-sekali Tinggal Sekitar Bantargebang

Image

News

Sampahmu

Kondom dan Sempak Bekas Dibuang di Jakarta Ditemukan di Bantargebang

Image

News

Sampahmu

Cerita Sampah Orang-orang Jakarta Naik Truk ke Bantargebang

Image

News

Sampahmu

Dari Rumahmu Sampah Dihasilkan

komentar

Image

1 komentar

Image
Hera Wati

pekerjaan bapak-bapak ini sangat mulia, tetap seehat buat para penjuang ini

terkini

Image
News

60 Ribu Lebih Jamaah Calon Haji Asal Indonesia Tiba di Tanah Suci

Mereka berasal dari 11 embarkasi yang terbagi dalam 165 kelompok terbang (kloter).

Image
News

JBMI: Albiner Sitompul Layak Masuk dalam Jajaran Kabinet Jokowi-Ma'ruf Amin

JBMI mendukung Albiner Sitompul jadi menterinya Jokowi

Image
News

Jaksa Tuntut Penyuap Eks Ketum PPP Romahurmuziy 3 Tahun Penjara 

aksa menilai, Haris terbukti memberikan suap kepada mantan Ketum PPP Romahurmuziy alias Rommy untuk menduduki posisi Kakanwil Kemenag Jatim.

Image
News

BNNP Jatim: Persyaratan Menikah! Calon Pengantin Harus Memasukkan Keterangan Bebas Narkoba

"Artinya calon pengantin itu tes bebas narkoba dulu, nanti surat keterangan dilampirkan sebagai persyaratan pernikahan,"

Image
News

Polres Pekalongan Kota Ringkus Maling Handphone yang Beroperasi Saat Korbannya Salat

"Tersangka melakukan pencurian saat penghuni rumah kos lengah atau sedang salat,"

Image
News

Dukung Indonesia Pasca Kemerdekaan, Alasan Pemprov DKI Bantu Pencari Suaka Asal Afghanistan

"Ketika Indonesia merdeka dia menyatakan mendukung pemerintahan Indonesia. Jaman dulu kan ada historis tertentu,"

Image
News

Gempa Magnitudo 4,0 Guncang Kabupaten Tambrauw Papua Barat, Tak Berpotensi Tsunami

Ditinjau dari lokasi episenter dan kedalaman hiposenter, gempa bumi ini merupakan gempa bumi dangkal akibat sesar aktif.

Image
News

Bareskrim Tangkap Seorang Warganet yang Sebarkan Kebencian pada Presiden dan Polri

Tersangka ditangkap polisi di Perumahan Permata Jingga Blok I Nomor 4, Kota Malang, Jawa Timur.

Image
News

Bukan Hanya Perempuan, Pelecehan Seksual di Ruang Publik Juga Menyasar Kaum Pria

"Tiga dari lima perempuan pernah mengalami pelecehan di ruang publik. Sementara satu dari 10 laki-laki juga mengalami pelecehan,"

Image
News

Tim Advokasi Novel: Presiden Jangan Menghindar dari Tanggungjawab

Jokowi diminta ambil alih tanggung jawab.

trending topics

terpopuler

  1. 10 Potret Temmy Rahadi dan Ira Wahyuni yang Jarang Tersorot, Mesra di Berbagai Pose

  2. Segera Menikah, ini 10 Potret Terkini Dena Rachman yang Makin Cetar

  3. Hasil Penyidikan Polisi Harus Umumkan Nama Pelaku Penyerangan Novel

  4. Begini Jadinya Kalau Anak IPS Menggunakan Laboratorium, Kocak Abis!

  5. Habib Rizieq Tak Bisa Pulang, Bagaimana Mengurus Visa dan Biayanya?

  6. Visi Indonesia Jokowi Bertolak Belakangan dengan Visi dan Misi Kampanye Pilpres

  7. Balasan Nasdem ke PSI Soal Dugaan Politik Uang Cawagub: Kampanye Sudah Usai, Tidak Usah Menggurui KPK

  8. AFC Sebut Indonesia Bisa Sulitkan Raksasa Asia

  9. YouTuber Rius Vernandes Dipanggil Polisi Usai Beberkan Menu Makanan Garuda Indonesia Ditulis Tangan

  10. Pertemuan Jokowi-Prabowo Dinilai Telah Menyudutkan Kelompok Radikal

fokus

Menggapai Haji Mabrur
Mencari Tempat Baru
Problematika Narkotika

kolom

Image
Achmad Fachrudin

Menimbang Visi Indonesia Baru

Image
Ilham M. Wijaya

Menyiapkan Kota Sadar Bencana

Image
Abdul Aziz SR

Parlemen Hasil Pemilu 2019

Image
Hasan Aoni

Berhenti Mengisap yang Belum Niscaya

Wawancara

Image
Hiburan

Mengaku Terpaksa, Vivi Paris Beberkan Kronologi Dibohongi Sandy Tumiwa Hingga Akhirnya Nikah Siri

Image
Hiburan

Hakim Vonis Bebas Kriss Hatta, Ini Tanggapan Hilda Vitria

Image
Ekonomi

Roda Ekonomi Ramadan

Dilema Pilih Zakat atau Pajak, Persoalan Klasik yang Mengusik