image banner ramadan
Login / Sign Up
Image

Sunardi Panjaitan

Jurnalis Akurat.co

Haruskah NKRI Bersyariah?

Image

Jutaan umat muslim mengibarkan bendera berkalimat Tauhid saat mengikuti aksi reuni 212 di Kawasan Monas, Jakarta, Minggu (2/12/2018). Penyelenggaraan reuni ini merupakan kali kedua setelah juga dilakukan pada 2017 yang dikuti dari 21 Provinsi di Indonesia. | AKURAT.CO/Dharma Wijayanto

AKURAT.CO, “Saya tahu persis kehebatan semua nilai Islam dalam Al-Qur’an. Tapi, tolong tunjukkan satu komunitas Muslim di dunia yang bisa menggambarkan kehebatan ajaran Islam”. Demikianlah permintaan Ernest Renan, seorang filosof Perancis kepada Muhammad Abduh, Pembaharu Islam asal Mesir. Sebuah permintaan yang seketika membuat Muhammad Abduh terdiam.

Tentu, tidak hanya Abduh yang gagap menjawab permintaan Renan tersebut. Kita, umat Islam, yang hidup lebih dari satu abad pasca permintaan itu disampaikan, juga hampir pasti kesulitan untuk menunjukkan satu tempat di dunia Islam yang menggambarkan kehebatan ajaran agama yang kita yakini kebenarannya.

Timur Tengah yang menjadi poros Islam dunia masih terjebak dalam pusara konflik yang tak berkesudahan sejak meletusnya gerakan arab spring. Bagaimana kita bisa melihat keanggunan Islam di wilayah yang terjerembab dalam perang saudara yang tidak henti. Negara-negara muslim lainnya di luar Timur Tengah, setali tiga uang. Mayoritas belum selesai dengan urusan dirinya sendiri.

baca juga:

Sehingga, amat wajar jika sekelompok peneliti dari George Washington University dalam sebuah riset tentang Islamicity Index menemukan bahwa negara-negara yang tinggi skor indeks islamicity-nya justru merupakan negara-negara yang notabene bukan negara Islam. Dimulai dari Selandia Baru, kemudian Belanda, Swedia, Irlandia, Swiss, Denmark, Kanada dan Australia. Sementara negara-negara muslim dan mayoritas muslim menempati urutan cukup rendah. Peringkat tertinggi adalah Malaysia (43), Uni Emirat Arab (47) Indonesia (74) dan Saudi Arabia (88). 

Temuan ini seolah membenarkan pernyataan Abduh satu abad sebelumnya. “I went to the West and saw Islam, but no Muslims. I got back to the East and saw Muslims, but no Islam”. Demikian Abduh menyatakan hal itu usai berkunjung ke Perancis. Nilai dan ajaran Islam, bersadarkan riset ini justru dipraktekkan di negara-negara Barat, bukan di negara muslim.

Sejak gerakan modernisme Islam digagas oleh Jamaluddin al-Afgani dan dilanjutkan Muhammad Abduh, umat Islam di dunia, khusus di Indonesia masih sering terjebak pada simbolisme agama dan labelisasi syariat Islam. Bahkan di Indonesia, pasca reformasi bergulir, diskursus yang berkembang adalah perlu tidaknya Indonesia menerapkan syariat Islam dan menegakkan sistem khilafah. Sebuah diskursus yang melahirkan polarisasi di masyarakat. Ada pro dan kontra. Bagi kalangan pendukung penerapan syariat Islam dan khilafah, seluruh persoalan kebangsaan yang dihadapi oleh bangsa Indonesia, akan dapat diselesaikan dengan penerapan syariat Islam secara kaffah dengan diadopsi dalam hukum-hukum positif.

Sebaliknya, dikalangan yang kontra, syariat Islam tidak perlu diterapkan secara formal dalam perundang-undangan, karena Indonesia bukanlah negara yang didasarkan pada syariat Islam. Indonesia merupakan negara majemuk yang terdiri dari beragam suku bangsa dan agama, sehingga hukum yang diterapkan harus bersifat universal, yang dapat mengakomodir semua perbedaan yang ada.

Harus diakui, diskursus tentang perlu tidaknya penerapan syariat di Indonesia merupakan buah dari perdebatan panjang saat penyusunan dasar-dasar konstitusi negara di awal-awal kemerdekaan. Sejarah mencatat, terjadi perdebatan alot antara kelompok Islam dan nasionalis dalam Sidang BPUPKI ketika membahas bentuk dan dasar negara Indonesia. Kelompok Islam yang diwakili oleh Ki Bagus Hadikusumo mengusulkan agar dasar negara Indonesia adalah Islam. Sementara kelompok nasionalis menghendaki negara kebangsaan.

Agar menemukan titik temu, maka dibentuklah Panitia Sembilan yang diketuai oleh Ir. Soekarno dan Wakil Ketua Mohammad Hatta dengan anggota  yakni A.A. Maramis,  KH. Wahid Hasyim, Abdoel Kahar Muzakkir, H. Agus Salim, Mohammad Yamin, Achmad Sorbardjo dan Abi Kusno Tjokrosoejoso. Panitia Sembilan ini berhasil merumuskan Piagam Jakarta yang didalamnya memuat poin-poin dasar negara yang bernama Pancasila. Salah satu bagian isi dari Piagam Jakarta adalah: “Ketuhanan, dengan kewajiban menjalankan syari’at Islam bagi pemeluk-pemeluknya”.

Setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, para pendiri bangsa sepakat untuk menghapus tujuh kata dalam Piagam Jakarta tersebut dan diganti dengan “Ketuhanan Yang Maha Esa”. Dihapusnya tujuh kata tersebut, membuat kelompok-kelompok Islam di berbagai daerah bergejolak.

Saat ini, setelah 73 tahun Indonesia merdeka, keinginan sebagian umat Islam untuk mengembalikan tujuh kata dalam Piagam Jakarta terus bergulir. Salah satunya lewat gerakan NKRI Bersyariah yang disuarakan oleh Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab dalam Aksi Bela Islam 212. Dalam pidatonya dari Arab Saudi saat Reuni Akbar 212 tahun 2017 lalu, Habib Rizieq mengatakan NKRI Bersyariah hanya akan terlaksana apabila tujuh kata dalam Piagam Jakarta dikembalikan.

NKRI Bersyariah ala Habib Rizieq

Konsep NKRI Bersyariah ala Habib Rizieq terdiri dari tujuh poin utama. Pertama, NKRI Bersyariah adalah NKRI yang beragama, bukan atheis atau komunis. NKRI Bersyariah juga menjamin semua umat beragama untuk menjalankan ibadah dan syariat agamanya masing-masing serta melindungi semua agama dari penistaan, penodaan dan pelecehan. Kedua, NKRI Bersyariah harus melindungi umat muslim sebagai mayoritas dari segala produk haram baik makanan, minumam, produk kosmetik dan obat-obatan. Ketiga, melindungi dan mencintai ulama serta santri dan bukan mengkriminalisasi atau menterorisasi. Keempat, menjadikan pribumi tuan di negeri sendiri. Kelima, menjaga bangsa dan negara dari ekonomi riba yang telah diharamkan Allah SWT dan Rasulnya. Keenam, anti korupsi, anti miras, narkoba, anti judi, anti pornografi, pornoaksi, anti LGBT, anti fitnah, anti kebohongan dan kezaliman. Ketujuh, berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 asli yang dijiwai oleh Piagama Jakarta 22 Juni 1945 sebagaimana Dekrit Presiden 5 Juli 1959.

Jika dirinci secara seksama, sebenarnya tidak ada hal baru dari tawaran NKRI Bersyariah seperti yang disampaikan oleh Habib Rizieq. Meminjam istilah Andreas Christman (2003), yang dilakukan oleh Habib Rizieq adalah defamiliarisasi. Hal-hal yang sudah menjadi diskursus umum sejak Indonesia merdeka, diangkat kembali dengan labelisasi yang lebih kuat. Padahal, labelisasi yang diangkat -dalam hal ini penerapan syariat Islam- secara prinsipil sudah berjalan dalam kehidupan bernegara. Keseluruhan poin tersebut, telah sesuai dengan Pancasila dan  nilai-nilai fundamendal dalam ajaran Islam. Nilai-nilai yang terkandung dalam lima butir Pancasila jika dikembangkan akan mencakup sebagian besar konsep NKRI Bersyariah versi Habib Rizieq

Yang menjadi catatan penting dari konsep NKRI Syariah versi Habib Rizieq adalah penekanannya pada aspek  perlunya negara menjamin dan melindungi ulama dan santri dan tidak mengkriminalisasikan mereka. Soal equality before the law (kesetaraan dihadapan hukum) memang menjadi catatan tersendiri bagi penegakan hukum saat ini. Penegak hukum terlalu mudah menerapkan hukum pada satu kelompok, tapi tidak pada kelompok yang lain. Namun demikian, untuk mewujudkan harapan agar negara lebih berpihak pada ulama, tidak mesti harus melalui penerapan NKRI Bersyariah. Di beberapa negara Timur Tengah, ulama bahkan diperlakukan lebih tidak manusiawi. Ditangkap dengan alasan berbeda pilihan politik dengan pemerintah atau kerap mengkritik pemerintah. Oleh sebab itu, jalan keluarnya adalah mendorong penegakan hukum yang sama kepada siapapun lewat aturan hukum dan perundang-undangan yang berlaku. Jika Undang-undang yang ada dianggap tidak cukup mengakomodir harapan rakyat, perbaikilah undang-undangnya, bukan merubah sistem bernegara dan menerapkan hukum-hukum agama.

Dengan demikian, melihat hampir sebagian besar poin-poin dalam konsep NKRI Bersyariah versi Habib Rizieq sudah terakomodir dalam Pancasila, UUD Tahun 1945 serta dalam berbagai peraturan hukum dan perundang-undangan, maka rasanya, tidak perlu kita memaksakan diri untuk menerapkan NKRI Bersyariah di Indonesia.

Kita tentu, tidak ingin terjebak lagi dalam labelisasi keagamaan dalam kehidupan bernegara. Yang paling substansial adalah bagaimana agar nilai-nilai universal syariat Islam bisa dijalankan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, tanpa harus menggunakan label-label keagamaan. Dalam Islam, salah satu inti syariat adalah bagaimana keadilan (al-‘adl), toleransi (al-tasamuh), kesetaraan (al-musawah), kemanusiaan (al-insaniyah), dan lain-lain bisa diimplementasikan. Dan hal itulah yang perlu terus kita dorong lewat berbagai instrumen negara. Sehingga kedepan, sesuai dengan riset Islamicity Index, Indonesia bisa menjadi salah satu negara dengan penduduk mayoritas muslim di dunia yang mampu menerapkan seluruh indikator dalam Islamicity Index tersebut dengan baik. Dengan demikian, Islam rahmatallil'alamin bisa benar-benar muncul di Indonesia. []

Editor: Ainurrahman

berita terkait

Image

News

Kolom

Dari Anarkisme ke Konstitusionalisme

Image

Ramadan

Kultum Ramadan

Ramadan Itu Menyehatkan

Image

Ramadan

Kultum Ramadan

Ramadan Pintu Ampunan

Image

Ramadan

Kultum Ramadan

Puasa Ramadan itu Pengakuan Otoritas Ilahi

Image

Ramadan

Kultum Ramadan

Puasa Itu Menata Hati

Image

Ramadan

Kultum Ramadan

Puasa Itu Membangun Keseimbangan

Image

News

Pemilu 2019

Menolak Hasil Pemilu

Image

Ramadan

Kultum Ramadan

Puasa: Kunci Terkabulnya Doa

Image

Ramadan

Kultum Ramadan

Puasa itu Membawa Kejutan-kejutan

komentar

Image

0 komentar

terkini

Image
News
Momen Istimewa

Interview Sesepuh FPI: Orang Pelit, Sombong, Nggak Percaya Pahala Dimudahkan Menuju Jalan yang Susah

Apa pandangan tokoh agama tentang THR, mudik, zakat, dan hal-hal yang dilakukan umat di bulan puasa?

Image
News

Duterte Lontarkan Lelucon Pemerkosaan, Juru Bicara: Untuk Membuat Orang Tertawa

"Orang-orang sudah terbiasa dengan leluconnya sehingga para pendengarnya selalu menerimanya dengan tawa yang hangat," kata jubir Duterte

Image
News
Aksi 22 Mei

Korban Kerusuhan 22 Mei Ingin Kasusnya Dibawa ke Komnas HAM Internasional

Pelakunya harus dilakukan pengusutan secara tuntas siapa-siapa saja pelakunya.

Image
News
Pemilu 2019

Fadli Zon Bantah Kumpulan Berita Jadi Bukti Dugaan Kecurangan Pemilu

"Buktinya saya kira ya nanti mengacu pada peristiwa sesungguhnya terjadi"

Image
News

Mulai dari Surat Cinta hingga Kerangka Berpelukan, 5 Penemuan Purba Ini Bikin Hati Meleleh

Ada surat cinta berusia 2 ribu tahun

Image
News
Momen Istimewa

THR, Tiga Huruf yang Selalu Ditunggu-tunggu

Sekarang-sekarang ini, tiga huruf itu menjadi obrolan yang paling populer di antara pekerja.

Image
News
Lebaran 2019

Puncak Arus Mudik Diprediksi Satu dan Dua Juni 2019

Ada empat terminal utama yang beroperasi pada musim mudik lebaran 2019 di Jakarta.

Image
News
Pemilu 2019

19 Caleg Perempuan Partai Golkar Lolos ke Senayan

Saya mengharapkan jumlah kader perempuan Partai Golkar yang mendapatkan kursi parlemen dapat terus ditingkatkan.

Image
News

Masjid Dikendalikan Pemerintah, Imam Turkmenistan Doakan Kejatuhan Musuh Presiden

Di Turkmenistan, masjid beroperasi di bawah kendali pemerintah, imam ditunjuk oleh negara, dan khotbah disetujui oleh pihak berwenang

Image
News
Aksi 22 Mei

Driver Ojol Diringkus Polres Jakarta Diduga Provokasi Massa Aksi 22 Mei

Argo Yuwono mengkonfirmasi bahwa penangkapan dilakukan oleh Polres Metro Jakarta Barat.

trending topics

terpopuler

  1. Tanpa Indonesia Jalur OBOR China Tidak Akan Terhubung

  2. Setelah Mustofa Jadi Tersangka, Pengacara Belum Bisa Pastikan Nasibnya Malam Ini

  3. Trump Sindir Presiden Toyota: Jangan Seperti Bos!

  4. Nonton Premiere Film Aladdin, Disney Rela Booking 1 Studio Khusus Tuk Sandra Dewi

  5. YLBHI Temukan Indikasi Pelanggaran HAM di Aksi 21-22 Mei

  6. Netizen Jawab Pertanyaan Fahri Soal Benda yang Dijatuhkan Helikopter di Jatibaru

  7. Pulihnya Harry Kane Justru Membuat Pochettino Dilema

  8. Galaxy Fold Tak Kunjung Rilis, Retail Best Buy Batalkan Semua Pesanan

  9. 5 Cara Mudah Miliki Gigi Indah Berseri dan Mulut Berbau Wangi

  10. James Gunn Buka-Bukaan Soal Pemecatannya oleh Disney

fokus

Momen Istimewa
Sudut Lain
Kaum Marginal

kolom

Image
Achmad Fachrudin

Dari Anarkisme ke Konstitusionalisme

Image
UJANG KOMARUDIN

Indonesia Terluka

Image
Alto Labetubun

Aksi Kedaulatan Rakyat, Gerakan Mandul Para Pensiunan

Image
Achmad Fachrudin

Spirit Ramadhan di Tengah Krisis Demokrasi

Wawancara

Image
Video

VIDEO Vitamin Dakwah Ustaz Fadlan Garamatan Islamkan Papua

Image
Video

VIDEO Ketika Suara Azan Merubah Roger Danuarta

Image
Video

VIDEO Air Mata Alyssa Menjalani Peran Istri dan Ibu

Sosok

Image
News

Dari Kondektur Angkot Jadi Pengusaha Muda, 5 Fakta Menarik Bahlil Lahadalia

Image
News

5 Potret Cathy Ahadianty, Istri Relawan BPN Mustofa Nahrawardaya

Image
Ekonomi

Menakar Mata Pencaharian dari Kaca Mata Al-Muhasibi