image banner ramadan
Login / Sign Up
Image

Ujang Komarudin

Direktur Eksekutif Indonesia Political Review (IPR) & Pengamat Politik Universitas Al-Azhar Indonesia (UAI) Jakarta

Saatnya Rekonsiliasi

Pemilu 2019

Image

Presiden Joko Widodo (kedua kiri) dan Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Prabowo Subianto (kedua kanan) berpelukan disela menyaksikan Pencak Silat Asian Games 2018 di di Padepokan Pencak Silat di Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta, Rabu (29/8/2018). Hanifan baru saja meraih medali emas Asian Games dalam pertandingan yang berlangsung di Padepokan Pencak Silat Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Rabu (29/8). Beberapa saat setelah dinyatakan menang, Hanif langsung menghampiri Prabowo dan Jokowi. | ANTARA FOTO/Kumparan/INASGOC/Aditia Noviansya

AKURAT.CO, Pilpres telah usai. Namun gemuruhnya masih terasa. Bayang-bayang konflik pun, menyeruak ke langit nusantara. Saling klaim kemenangan, semakin menggebu. Persaingan Pilpres, masih terjadi dan berlanjut.

Pemilu serentak, telah membuat masyarakat, penyelenggara, dan peserta Pemilu sekarat, shock, kaget, dan kelelahan. Bukan hanya Pileg, yang pemberitaan dan gaungnya, kalah oleh Pilpres. Namun Pemilu juga, telah menjadikan masyarakat terpolarisasi.

Polarisasi masyarakat menjadi-jadi. Bukan hanya karena Pilpres 2019, merupakan duel kedua, antara Jokowi dengan Prabowo. Tetapi juga karena, kampanye yang terlalu panjang, yang membuat Pemilu menjadi riuh, penuh gemuruh, caci-maki, fitnah, dan sumpah serapah.

baca juga:

Walau pun Pilpres telah beres. Namun belum tuntas. Karena masih menunggu, hitungan resmi KPU dan sekengketa Pemilu di MK. Siapapun pemenangnya, yang kalah harus legowo.

Yang kalah jangan marah-marah. Boleh kecewa. Namun tetap harus bersabar. Yang kalah, jangan sampai menggerakkan massa, untuk berbuat anarkis. Yang menang, juga jangan jumawa. Yang menang harus merangkul yang kalah. Itulah demokrasi, kontestasi politik akan diakhiri dengan kemenangan dan kekalahan. Dan kalah dan menang, merupakan hal biasa dalam berdemokrasi. Tidak perlu ditangisi.

Negara ini bukan milik Capres dan Cawapres, bukan milik kubu 01 atau 02, bukan milik anda atau milik saya. Tetapi bangsa ini, milik semua rakyat Indonesia. Jangan hanya karena kalah Pilpres, lalu kecewa dan membuat kerusuhan.

Bangsa ini miliki kita semua. Maka harus kita jaga bersama-sama. Jaga persaudaraan, persatuan, dan kesatuan. Jaga kedamaian, keamanan, dan ketertiban. Jaga kondusifitas, dan ketenangan.

Pemilu yang berjalan dengan aman, damai, lancar, dan tertib. Jangan dirusak dengan pikiran-pikiran, dan perilaku-perilaku, yang kotor dan merusak.

Sekeras apapun pertarungan Pilpres yang lalu. Jangan pernah membuat kedamaian menjadi kehancuran, kejujuran menjadi kecurangan, rasionalitas menjadi emosionalitas, kebenaran menjadi kesalahan, kecerdasan menjadi kebodohan, dan kedunguan. Dan janganlah kita kehilangan akal sehat.

Pilpres jangan membuat kita berkonflik dan bercerai berai. Jangan membuat kita saling bermusuhan. Jangan membuat kita saling menafikan. Dan jangan membuat kita saling menghancurkan.

Pilpres hanya proses demokrasi lima tahunan. Hanya sarana untuk mencari pemimpin terbaik. Pilpres bukan segala-galanya. Pilpres hanya jembatan untuk meneguhkan pembangunan.

Pilpres bukan hanya sekedar untuk memperebutkan jabatan, kekuasaan, dan kekayaan. Tetapi Pilpres untuk jalan kesejahteran masyarakat dan kejayaan bangsa.

Percuma jika Pilpres dilakukan setiap lima tahunan. Namun tidak mampu mengangkat harkat dan martabat rakyat. Tak mampu membawa perubahan bagi republik ini. Jangan biarkan demokrasi, berjalan secara prosedural semata. Namun tidak menyentuh, demokrasi substansial. Demokrasi yang membawa kesejahteraan, bagi seluruh penduduk negeri.

Sangat disayangkan, jika Pilpres hanya jadi ajang dan sarana untuk mencari kekuasaan, kekayaan, dan kemasyhuran. Sayang juga, jika Pilpres hanya jadi alat untuk saling mengkerdilkan.

Pilpres 17 April 2019 merupakan Pilpres tergaduh. Tersibuk. Dan melelahkan. Tidak aneh dan tidak heran, jika banyak para penyelenggara Pemilu berguguran dan jatuh sakit. Mereka meninggal, karena kelelahan. Demi pengabdian, terhadap bangsa dan negara. Demi Pemilu yang demokratis.

Mereka yang gugur, dalam menjalan tugas mengawal Pemilu, agar berjalan aman, damai, dan tertib. Mereka layak mendapatkan gelar pahlawan demokrasi. Mereka layak diabadikan dalam sejarah bangsa. Mereka bekerja tanpa lelah, demi suksesnya Pemilu 2019.

Pengorbanan mereka yang gugur, sejatinya harus menjadi evaluasi dan refleksi untuk kita semua. Jangan samapai pengorbanan mereka, dibalas dengan air tuba. Jangan sampai pengorbanan mereka, dirusak dengan gerakan-gerakan yang akan mengarah ke konflik horizontal dan kerusuhan.

Hargai mereka yang gugur dengan penghargaan. Jangan dengan keributan dan kehebohan. Jangan dengan memanas-manasi situasi dan keadaan. Jangan dengan memprovokasi massa untuk memancing keributan.

Proses perhitungan suara sedang berjalan, pengumuman siapa pemenang Pilpres akan diketahui 22 Mei mendatang, hakim-hakim MK pun sudah siap untuk menerima dan memutus sengketa Pemilu.

Kegaduhan Pilpres, jangan membuat kita stres. Kehebohan Pilpres, jangan juga membuat kita pusing. Hiruk-pikuk Pilpres, jangan membuat kita fanatik dalam dukung mendukung kandidat. Yang lalu biarlah berlalu. Mari kita tatap masa depan. Masa depan kita, dan masa depan Indonesia yang lebih baik. Sudahi keributan gara-gara Pilpres. Saatnya merajut rekonsiliasi.

Pemenang Pilpres baru akan diketahui 22 Mei nanti. Namun sudah saatnya, harus dipikirkan terkait rekonsiliasi. Ya, rekonsiliasi. Kata yang mudah diucapkan. Namun agak berat dan sulit, untuk dilaksanakan dan diterapkan.

Bagi yang menang, memang mudah untuk menggagas dan memulai untuk melakukan rekonsiliasi. Namun bagi yang kalah. Rekonsiliasi akan berat dilaksanakan.

Tapi saya yakin. Yakin dengan seyakin yakinnya. Setelah tahapan Pemilu tuntas semua. Saya yakin antara Jokowi dan Prabowo akan bertemu dan melakukan rekonsiliasi. Bahkan bisa lebih cepat dari yang kita prediksi.

Karena saya yakin. Baik Prabowo maupun Jokowi, bukanlah politisi karbitan. Bukanlah politisi baru kemarin. Bukanlah politis pendendam. Bukanlah politisi yang tak mau mengakui kekalahan. Bukanlah politisi yang ingin menghancurkan. Dan mereka berdua juga, bukan politisi pengecut yang tidak mau berdamai.

Mereka berdua adalah putra-putra terbaik bangsa. Mereka merupakan negarawan. Yang berbicara, berpikir, dan bertindak hanya untuk kepentingan rakyat, bangsa, dan negara. Bukan kepentingan yang lain. Bukan kepentingan pribadi, kelompok, atau partainya.

Saatnya kedua tokoh tersebut melakukan rekonsiliasi. Saatnya bersinergi. Saatnya bergandengan tangan. Saatnya bersama-sama, untuk membangun bangsa dalam lima tahun kedepan.

Tidak mudah memang melakukan rekonsiliasi. Butuh kebesaran jiwa, dari yang kalah Pilpres. Namun apapun yang terjadi. Rekonsiliasi adalah keniscayaan.

Demi bangsa dan negara. Demi seluruh rakyat Indonesia. Saatnya Jokowi dan Prabowo melakukan rekonsiliasi. Ya, rekonsiliasi. Bukan demonstrasi yang mengarah pada people power. Kita butuh rekonsiliasi. Kita butuh kebersamaan.

Dengan rekonsiliasi, republik ini akan bersatu kembali. Dengan rekonsiliasi, bangsa ini akan terhindarkan dari konflik dan perpecahan. Dengan rekonsiliasi, negara ini bisa membangun.

Tak penting siapa yang menang. Atau siapa yang kalah. Namun yang terpenting adalah, baik yang kalah, maupun yang menang, bertemu dan bersatu untuk bersama-sama membangun bangsa.  

Editor: Sunardi Panjaitan

berita terkait

Image

News

Pemilu 2019

Menolak Hasil Pemilu

Image

News

Haruskah NKRI Bersyariah?

Image

Ramadan

Kultum Ramadan

Puasa: Kunci Terkabulnya Doa

Image

Ramadan

Kultum Ramadan

Puasa itu Membawa Kejutan-kejutan

Image

News

Pemilu 2019

Skenario Paska 22 Mei 2019

Image

News

Pemilu 2019

Tantangan Penguasa Baru Paska Pemilu 2019

Image

News

Pemilu 2019

Ulama Terpecah, Umat Terbelah

Image

News

Pemilu 2019

Robohnya Ribuan Pendekar Demokrasi

Image

News

Pemilu 2019

Menggugat Sistem Pemilu 2019

komentar

Image

0 komentar

terkini

Image
News
Pemilu 2019

Investigasi PKS Malaysia Buktikan Ada Alamat Fiktif PSU POS

Beberapa alamat itu tampak berulang dalam jumlah yang besar.

Image
News

Ferdinand: Maafkan Saudaramu Ini Terbawa Emosi karena Ibu Ani Sudah seperti Ibu yang Lahirkan Saya

Ferdinand meminta Ajeng untuk menyampaikan ke buzzer agar jangan lagi membully Ani Yudhoyono.

Image
News

Lukisan Miliaran Rupiah di Rumah Si Pitung Kondisinya Memprihatinkan

Kondisi lukisan yang ditaksir miliaran rupiah memprihatinkan.

Image
News

Polisi Buat Sketsa Wajah Mayat Wanita Korban Pembunuhan

Polisi kesulitan mencari ciri khusus pada tubuh korban karena sudah membusuk.

Image
News
Pemilu 2019

Rekapitulasi Nasional KPU di 28 Provinsi, PDIP dan Golkar Raih Suara Terbanyak

Total suara sah Pileg 2019 dari 27 provinsi yang telah direkapitulasi yakni sebesar 113.291.656 suara.

Image
News
Pemilu 2019

Jimly Asshiddiqie hingga Sylviana Murni Diprediksi Lolos DPD DKI

Jimly memperoleh suara tertinggi, yakni 626.063 pemilih.

Image
News
Pemilu 2019

Hari ini, KPU Merekapitulasi Suara di 4 Wilayah Sekaligus

"Untuk Riau akan direkap pada sore hari, sedangkan PPLN Kuala Lumpur siang hari"

Image
News

BEM Seluruh Banten: Kami Sudah Deklarasi Tolak Ajakan People Power karena Diduga Ditunggangi

Ade mengatakan berupaya untuk merajut kembali persatuan dan kesatuan yang sempat retak akibat perbedaan pada pemilu 2019.

Image
News

Ribuan Lampion Waisak Borobudur Bawa Doa untuk Perdamaian Indonesia

Lampion ini sebuah wujud doa untuk perdamaian.

Image
News

Murka karena Ani Diolok-olok, Ferdinand: Saya Saat Ini Menyatakan Berhenti Mendukung Prabowo - Sandi

Beberapa tweet Ferdinand Hutahaean menunjukkan dia tersinggung berat.

trending topics

terpopuler

  1. Tengku Zul: Ya Allah, Para Teroris Kenapa Mau Beraksi Pakai Beritahu Dulu Tanggal dan Tempatnya Sih?

  2. Sambangi Undana Kupang, Kemenpar: Mahasiswa Penentu Kesuksesan Pariwisata

  3. Sayembara Kecurangan Pemilu Berhadiah Rp100 Miliar, Ferdinand: Cuma di Mulut

  4. Rustam: Bagi Demokrat Memang Lebih Baik Jokowi Menang Agar Prospek AHY Jadi Capres 2024 Cerah

  5. Jika Kecurangan Pemilu Tidak Digugat ke MK, Pakar: Penetapan KPU Berkekuatan Hukum Tetap

  6. Bukber Bareng Politisi Gerindra, Adian Napitupulu: Politik Tak Boleh Putuskan Persahabatan

  7. Menang 91 Persen, Jokowi Ucapkan Terimakasih kepada Masyarakat Bali

  8. Terduga Teroris Aksi 22 Mei Tertangkap, Mustofa: Alhamdulillah, Terima Kasih Polri

  9. Prabowo ke Luar Negeri, Ruhut: Kita Doakan Dia Balik, Kalau Gak Balik Kompor Meleduk

  10. Golkar Urutan Dua Besar Pemilu, Ginandjar Puji Kepemimpinan Airlangga Hartarto

fokus

Kaum Marginal
Buruh Nasibmu Kini
Pemilu 2019

kolom

Image
Alto Labetubun

Aksi Kedaulatan Rakyat, Gerakan Mandul Para Pensiunan

Image
Achmad Fachrudin

Spirit Ramadhan di Tengah Krisis Demokrasi

Image
Ujang Komarudin

Menolak Hasil Pemilu

Image
Sunardi Panjaitan

Haruskah NKRI Bersyariah?

Wawancara

Image
Video

VIDEO Air Mata Alyssa Menjalani Peran Istri dan Ibu

Image
Video

VIDEO Sosok Antagonis dari Alyssa Soebandono

Image
Olahraga

Lidia Anna Krey & Adelaide T Waromi

"Softball Itu Unik, Olahraga yang Punya Passion"

Sosok

Image
News

5 Potret Kompak Gubernur Khofifah dan Arumi Bachsin, Sampai Dibonceng!

Image
News

Tak Disangka Menantu Presiden Jokowi Ternyata Pernah jadi Pembawa Berita di Televisi

Image
News

5 Potret Ade Sugianto, Bupati Tasikmalaya yang Jarang Tersorot Media