breaking news: Ledakan Bus Turis di Mesir, 17 Korban Luka-luka

image banner ramadan
Login / Sign Up
Image

Sunardi Panjaitan

Jurnalis Akurat.co

Merawat Indonesia Kita

Image

Pasangan Capres dan Cawapres Joko Widodo-Ma'ruf Amin (kiri) dan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno (kanan) bersalaman jelang debat visi, misi dan gagasan di panggung debat capres dan cawapres kelima di Hotel Sultan, Jakarta, Sabtu (13/4/2019). Debat penutup kali ini mengusung tema Ekonomi, Kesejahteraan Sosial, Keuangan, Investasi dan Industri | AKURAT.CO/Dharma Wijayanto

AKURAT.CO, Setelah melewati fase yang cukup panjang, hari ini, 17 April 2019, masyarakat Indonesia secara bersama-sama akan merayakan puncak pesta demokrasi di Indonesia. Masyarakat Indonesia akan menentukan pemimpin bangsa beserta wakil-wakil rakyat untuk masa jabatan 5 tahun ke depan.

Ada 16 partai politik peserta pemilu dengan 7.968 calon anggota DPR RI dan puluhan ribu calon anggota DPRD Provinsi dan DPRD Kabupaten/Kota. Lalu ada 807 calon anggota DPD RI. Dan yang paling utama ada 2 pasangan Calon Presiden/Wakil Presiden yakni Joko Widodo – KH. Ma’ruf Amin serta Prabowo Subianto – Sandiaga Salahuddin Uno.

Berbeda dengan pemilu-pemilu sebelumnya yang memisahkan antara pemilihan legislatif (pileg) dan pemilihan presiden (pilpres), pemilu 2019 adalah gabungan dua pemilihan di waktu yang bersamaan. Masyarakat “dipaksa” untuk memilih pemimpin negara yang menjalankan roda pemerintah sekaligus juga memilih wakil rakyat untuk mengawasi jalannya roda pemerintahan di waktu yang sama. Penggabungan antara pileg dan pilpres dalam satu tarikan nafas ini, menjadikan masyarakat hanya fokus calon presiden. Sementara calon wakil rakyat yang akan duduk di parlemen, seperti terlupakan bahkan “tidak dianggap” sama sekali. Pamor mereka kalah total dibandingkan calon Presiden dan Wakil Presiden.

baca juga:

Apapun pilihan masyarakat pada pemilu ini, hal itu merupakan hasil dari kampanye yang cukup panjang mulai dari September 2019 hingga April 2019. Selama rentang waktu tersebut, masing-masing peserta pemilu baik partai politik maupun pasangan capres/cawapres beradu strategi, adu gagasan, hingga berupaya melakukan penggiringan opini publik demi satu tujuan: meraih simpati publik dan mendapatkan suara sebanyak-banyaknya.

Seribu macam cara dilakukan oleh masing-masing peserta pemilu untuk menyakinkan masyarakat bahwa merekalah yang terbaik untuk mendapatkan amanah rakyat. Para pendukung pun tidak kalah antusias mendukung masing-masing kandidatnya. Bahkan antusiasme pendukung ini kadang-kadang sudah berada pada titik yang mengkhawatirkan.

Pemilu 2019, disadari atau tidak, telah menjadikan masyarakat Indonesia terbelah dalam dua kelompok besar, yakni kelompok pendukung pasangan Jokowi-KH Ma’ruf Amin serta kelompok pendukung pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Kedua kelompok besar ini sejak jauh-jauh dari sudah saling memberikan stigma yang negatif kepada para pendukung capres/cawapres yang lain seperti cebong vs kampret, NKRI vs anti NKRI, pendukung Pancasila vs pendukung Khilafah, Komunisme vs HTI, dan lain-lain. Stigma-stigma negatif ini membuat kedua kelompok seperti membangun tembok besar satu sama lain yang membuat kedua kelompok ini sulit untuk dipertemukan.

Kondisi ini diperburuk dengan narasi-narasi dangkal dan mengerikan yang diproduksi oleh elit-elit politik yang berada dilingkaran kedua pasangan capres/cawapres. Sebut saja beberapa contoh, seperti narasi tentang pemilu 2019 sebagai perang Baratayuda dan Armageddon ala Amien Rais atau perang total ala Jenderal (Purn) Moeldoko, Kepala Staf Kepresiden. Narasi yang dibangun oleh para elit politik tersebut, tidak untuk memperkuat persatuan dan menjaga kerukunan bangsa meskipun pilihan politik berbeda. Sebaliknya, justru melahirkan ketakutan-ketakutan ditengah-tengah masyarakat. Kondisi ini semakin diperparah dengan massifnya penyebaran hoaks dan fitnah yang dilakukan oleh kedua kelompok pendukung capres/cawapres.

Indonesia Setelah Pemilu

Pemilihan umum (pemilu) sejatinya merupakan salah satu upaya untuk memperbaiki keadaan bangsa. Pemilu adalah instrument untuk menegakkan kedaulatan rakyat sesuai dengan pasal 1 Ayat 2 Undang-Undang Dasar 1945. Melalui pemilu, masyarakat dapat secara langsung menggunakan haknya untuk menentukan pemimpin bangsa untuk periode selanjutnya. Pemilu juga menjadi jalan bagi rakyat untuk “menghukum” pemimpin yang dianggap tidak mampu menjalankan amanat konstitusi untuk mensejaterahkan rakyatnya.

Dengan konsepsi tersebut, pemilu seharusnya merupakan ajang kegembiaraan dan euphoria. Pemilu adalah pesta demokrasi terbesar bagi rakyat. Sehingga sebagai sebuah pesta, pemilu harus dilakukan dengan kegembiraan dan suka cita. Rakyat datang ke lokasi-lokasi pemungutan suara, tidak memendam rasa kekhawatiran karena narasi perang total atau perangBaratayuda yang digaungkan oleh para elit politik tersebut.

Pemilu 2019 yang menghabiskan anggaran sekitar Rp24 triliun, menjadi momentum bagi rakyat Indonesia untuk menentukan arah bangsa 5 tahun kedepan. Indonesia menghadapi tantangan yang tidak kalah berat diperiode yang akan datang. Tingkat kesenjangan ekonomi yang masih tinggi dimana kekayaan negara dikuasai oleh 1 persen warga negara,  perekonomian global yang penuh ketidakpastian, pengangguran yang masih tinggi serta rongrongan terhadap ideologi bangsa yang terus terjadi, menjadi beberapa tantangan yang akan dihadapi oleh Indonesia.

Oleh karena itu, siapapun capres/cawapres serta anggota DPR/DPRD yang terpilih pada pemilu ini, diharapkan mampu menjadi aktor yang mampu menyatukan seluruh potensi bangsa untuk menghadapi tantangan yang ada. Pemimpin terpilih juga diharapkan mampu menjadi jembatan rekonsiliasi kedua kelompok pendukung capres/cawapres yang kini saling berseberangan.

Kita berharap, stigma-stigam negatif yang disematkan kepada pendukung capres/cawapres seperti cebong, kampret, anti NKRI, anti Pancasila, dan sebagainya akan hilang seiring dengan terpilihnya pemimpin bangsa di pemilu 2019. Elit-elit politik juga tidak terus menerus memproduksi narasi-narasi yang membangun ketakutan ditengah-tengah masyarakat. Jika ditemukan adanya kecurangan dalam pelaksanaan pemilu, undang-undang telah memberikan jalur penyelesaiannya yakni lewat Mahkamah Konstitusi. Berdebatlah di ruang pengadilan. Jangan mengumbar narasi-narasi yang justru memprovakasi masyarakat untuk bertindak diluar hukum dan konstitusi.

Selamat memilih pemimpin! Selamat menikmati pesta demokrasi!

Editor: Sunardi Panjaitan

berita terkait

Image

News

PPP Minta Pimpinan MPR Dibahas di Koalisi Jokowi-Ma’ruf

Image

News

Pemilu 2019

Airlangga: Pertama kali Paska Reformasi, Golkar Memenangkan Capres yang Diusung

Image

News

Pemilu 2019

Tolak People Power, Airlangga: Jangan Selesaikan Sengketa Pemilu di Jalanan

Image

News

Pemilu 2019

Ucap Selamat ke Ma’ruf, Rachland Nashidik: Semoga Pak Zul Tak Dituding Pengkhianat

Image

News

Pemilu 2019

Pantun Airlangga: Didukung Golkar, Jokowi Menang

Image

News

Pemilu 2019

IPW Nilai Situasi Kamtibmas Jelang Penetapan KPU 22 Mei Kondusif

Image

News

Pemilu 2019

Bukber Dihadiri Jokowi, Airlangga Tegaskan Golkar Tolak 'People Power'

Image

News

Pemilu 2019

Gatot: Indonesia Didirikan dari Suku dan Agama yang Berbeda-beda

Image

News

Ferdinand: Maafkan Saudaramu Ini Terbawa Emosi karena Ibu Ani Sudah seperti Ibu yang Lahirkan Saya

komentar

Image

0 komentar

terkini

Image
News

Yusril Nilai 'People Power' Untuk Memaksa Presiden Turun Tindakan Kudeta

"Tindakan itu bukanlah people power melainkan tindakan kudeta yang menggunakancara-cara revolusioner di luar konstitusi," ujarnya.

Image
News

Sebelum Penetapan Hasil Pemilu, Para Elit Diimbau Rekonsiliasi

ICMI menyerukan rekonsiliasi elit bangsa sebelum penetapan rekapitulasi hasil perolehan suara Pemilu Legislatif dan Presiden 2019.

Image
News

Golkar Ingin Duduki Kursi Ketua MPR

Partai Golkar selaku pemenang kedua dalam Pemilu 2019 ingin menduduki kursi sebagai Ketua MPR.

Image
News

Masyarakat Diimbau Tidak Terprovokasi untuk Ikut People Power

Masyarakat sipil yang bergabung dalam Gerakan untuk Pemilu Damai dan Konstitusional menyerukan semua pihak untuk patuh terhadap konstitusi.

Image
News

Habibie Berpesan ke Semua Pihak Hindari Tindakan Mempertajam Perpecahan Masyarakat

Habibie menyampaikan pesan kepada seluruh pihak untuk menghindari tindakan-tindakan yang mempertajam polarisasi di masyarakat.

Image
News

Puluhan Ormas Lintas Agama Dan Etnis Deklarasi Tolak "People Power"

Puluhan Ormas yang tergabung dalam FKMJ), melakukan deklarasi bersama menolak ajakan "people power"

Image
News

Din Syamsuddin Sebut 'People Power' Hak Warga Negera yang Dijamin Konstitusi

"People power" merupakan hak setiap warga negara yang dijamin oleh konstitusi Indonesia.

Image
News

Golkar Sebut 'People Power' Sebuah Kemunduran: Hanya Terjadi pada 1965 dan 1998

"Golkar harus menjadi yang terdepan dalam melawan mereka yang tak ingin menerima kemajuan,"

Image
News
Pemilu 2019

FKT Imbau Umat Tak Ikut Aksi Inkonstitusional

"Seluruh umat Islam khususnya di Banyumas wajib dan senantiasa mentaati peraturan"

Image
News

Kapolda Jabar Imbau Warga Tak Ikut Aksi 22 Mei

Polda jabar mengimbau kepada masyarakat agar tidak ikut bergabung melakukan aksi yang digelar pada 22 Mei 2019 di Jakarta.

trending topics

terpopuler

  1. 7 Potret Marcella Zalianty dan Ananda Mikola Menjalani Ibadah Umrah

  2. 5 Potret Kompak Gubernur Khofifah dan Arumi Bachsin, Sampai Dibonceng!

  3. Murka karena Ani Diolok-olok, Ferdinand: Saya Saat Ini Menyatakan Berhenti Mendukung Prabowo - Sandi

  4. Dicaci Maki Netizen, Tengku: Biarkan Mereka Nyungsep dengan Komen Mereka

  5. Membela Ani Yudhoyono yang Diolok-olok, Ferdinand: Siapapun Kalian akan Saya Lawan

  6. Ardina Rasti Sebel Putranya Dibilang Mirip Sang Suami

  7. Guardiola: Butuh Empat Sayap untuk Memenangkan Kuadrupel Musim Depan

  8. Desmond Sebut Tindakan Aparat Jelang 22 Mei Sangat Berlebihan

  9. Ferdinand: Maafkan Saudaramu Ini Terbawa Emosi karena Ibu Ani Sudah seperti Ibu yang Lahirkan Saya

  10. Soal GKR, Peneliti CIE: Gerakan Ini Bukan Atas Nama Rakyat

fokus

Kaum Marginal
Buruh Nasibmu Kini
Pemilu 2019

kolom

Image
Alto Labetubun

Aksi Kedaulatan Rakyat, Gerakan Mandul Para Pensiunan

Image
Achmad Fachrudin

Spirit Ramadhan di Tengah Krisis Demokrasi

Image
Ujang Komarudin

Menolak Hasil Pemilu

Image
Sunardi Panjaitan

Haruskah NKRI Bersyariah?

Wawancara

Image
Video

VIDEO Air Mata Alyssa Menjalani Peran Istri dan Ibu

Image
Video

VIDEO Sosok Antagonis dari Alyssa Soebandono

Image
Olahraga

Lidia Anna Krey & Adelaide T Waromi

"Softball Itu Unik, Olahraga yang Punya Passion"

Sosok

Image
News

5 Potret Kompak Gubernur Khofifah dan Arumi Bachsin, Sampai Dibonceng!

Image
News

Tak Disangka Menantu Presiden Jokowi Ternyata Pernah jadi Pembawa Berita di Televisi

Image
News

5 Potret Ade Sugianto, Bupati Tasikmalaya yang Jarang Tersorot Media