image
Login / Sign Up
Image

Achmad Fachrudin

Peneliti Senior Jaringan Demokrasi Indonesia DKI Jakarta

Merayakan Puncak Ritual Politik 2019

Image

Petugas memasukkan logistik Pemilu 2019 ke kotak suara saat proses persiapan distribusi di Kecamatan Menteng, Jakarta, Senin (15/4/2019). Proses pendistribusian ke tps masing-masing kelurahan diperkirakan akan tuntas sehari sebelum hari pencoblosan pada 17 April 2019. | AKURAT.CO/Dharma Wijayanto

AKURAT.CO, Setelah melalui proses panjang dan melelahkan, akhirnya pada Rabu 17 April 2019, bangsa Indonesia melaksanakan kegiatan Pemilu. Pada Pemilu 2019,  tercatat 16 partai politik peserta Pemilu, dua Pasangan Calon Presiden dan Wakil Presiden, 7.968 calon anggota DPR RI, 807 calon anggota DPD dan ribuan calon anggota DPRD Provinsi/Kabupaten/Kota yang masuk dalam Daftar Calon Tetap (DCT) bersaing ketat agar terpilih menjadi presiden dan Wakil Presiden serta anggota parlemen dengan cara merebut hati pemilih yang jumlahnya mencapat 190.779.969 pemilih (DPTHP III) dengan jumlah Tempat Pemungutan Suara (TPS) sebanyak  810.329 TPS.

Pemilu 2019 mempunyai sejumlah perbedaan signifikan dibandingkan dengan Pemilu-pemilu sebelumnya. Hal ini disebabkan karena pada Pemilu 2019 merupakan penggabungan antara Pemilu Presiden dan Wakil Presiden (Pilpres) dengan Pemilu Anggota DPR, DPD dan DPRD Provinsi/Kabupaten/kota atau Pemilu Legislatif (Pileg). Penggabungan dua Pemilu tersebut berdampak pada surat kertas suara (ballout paper) akan sangat tebal dan atau lebar. Karena harus memuat antara lain nomor dan tanda gambar partai dengan warna berbeda-beda (lima warna), nama calon anggota DPR, DPD dan DPRD, dan nomor urut serta nama Pasangan Calon Presiden (Capres) dan Calon Presiden (Cawapres).

Perbedaan antara Pemilu 2019 dengan Pemilu-pemilu sebelumnya berdampak terhadap kompleksitas dari sisi pengaturan perundangan, manajemen dan penyelenggaraan tahapan Pemilu dan sumber daya manusia, anggaran serta sarana dan prasarana, dan sebagainya. Selain itu dengan penggabungan antara Pilpres dengan Pileg mengakibatkan, kontestasi menjadi kian sengit dan pemilih dalam menentukan pilihannya  tidak mudah sebagai akibat bertambahnya jumlah partai politik dan calon legislatif peserta Pemilu.

baca juga:

Diatas itu semua, Pemilu 2019 dapat dikatakan sebagai eksperimen baru dalam demokrasi di Indonesia. Oleh karenanya, trial and error pada sejumlah pengaturan perundangan  dan manajemen Pemilu  tidak dapat dihindarkan. Misalnya, dalam hal ambang batas parlemen yang sebelumnya 3,5 persen menjadi 4 persen, penggunaan  teknik Sainte Lague untuk menghitung suara menggantikan Bilangan Pembagi Pemilih (BPP), penggunaan kotak suara berbahan kardus menggantikan alumumium, dan lain sebagainya. Harapannya tentyu saja trial and error dalam sistem dan disain Pemilu ini bermuara kepada terwujudnya konsolidasi dan demokrasi substansial.

Gonjang ganjing

Sebagai suatu perhetalan akbar yang menelan anggaran tidak kurang Rp 24 trilun dan  bertujuan untuk memilih calon-calon pemimpin bangsa di tingkat nasional dan lokal, mudah dipahami manakala Pemilu  dirundung berbagai masalah. Pada tahap awal, yang paling menyita perhatian publik adalah terkait dengan proses pendaftaran peserta Pemilu yang berlangsung Oktober 2017. Kala itu banyak partai politik (parpol) calon peserta Pemilu yang tidak dapat memenuhi proses pendaftaran melalui Sistem Informasi Partai Politik (Sipol). Bahkan diantaranya dinyatakan oleh KPU tidak lolos.

Sontak saja, parpol yang dinyatakan tidak lolos tersebut  menggugat KPU melalui Bawaslu. Hebatnya lagi Bawaslu mengabulkan gugatan parpol tersebut sehingga diberi kesempatan untuk diverifikasi ulang dan hasil akhirnya banyak parpol yang semula tidak lolos Sipol berubah menjadi dibolehkan mengikuti proses berikutnya. Setelah melalui tahapan mengikuti tahap verifikasi faktual yang dilakukan oleh KPU sebanyak 16 parpol berhak menjadi peserta Pemilu 2019.

Hal lain yang banyak menyita perhatian publik dan tentu saja menguras energi tidak sedikit dari KPU dan jajarannya adalah terkait dengan data pemilih. Data pemilih ini sejak awal sudah mulai bermasalah atau dipermasalahkan, yakni: sejak dari Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) dalam bentuk Daftar Penduduk Potensial Pemilih Pemilu (DP4). Kemudian berlanjut hingga sat proses pencocokan dan penelitian (Coklit), penyusunan Daftar Pemilih Sementara (DPS), DPS Hasil Perbaikan (DPSHP) hingga saat ditetapkan menjadi Daftar Pemilih Tetap (DPT) dan terakhir yang  kemudian dijadikan Salinan DPT (SDPT) yang digunakan untuk Pemilu 2019 adalah DPTH-III. Tiga masalah pokok yang  menjadi problem DPT pada Pemilu 2019 adalah terkait komprehensivitas, kemutakhiran dan akurasi, atau diringkas menjadi problem kuantitas dan kualitas data pemilih.

Masalah-masalah lain yang menonjol pada Pemilu 2019 diantaranya terkait dengan penggunaan kotak suara berbahan kardus sebagai pengganti alumunium, mantan narapidana koruptor berhak menjadi calon legislatif, tingkat kepatuhan yang relatif rendah dari parpol dan calon legislatif dalam pelaporan dana kampanye,  politik uang dan politik sembako yang masih cukup massif dalam kampanye Pemilu, pendidikan politik, pendidikan pemilih dan sosialisasi Pemilu yang dianggap minim terhadap pemilih, maraknya ujaran kebencian dan hoaks di media sosial, temuan surat suara tercoblos di Pemilu Luar Negeri (Selangor Malaysia),   dan lain sebagainya.        

Aktor Pemilu

Sebagai suatu perhelatan akbar yang kompleks dan berjalin berkelindan dengan berbagai berbagai aktor dan instansi lainnya adalah mustahil dan hanyalah mimpi belaka seluruh tahapan Pemilu secara nasional dapat dilewati dengan mulus. Pasti disana sini akan ada masalah, kekurangan dan kelemahan. “Tidak ada gading yang tidak retak”, demikian pepatah mengatakan. Bahkan di kalangan Penyelenggara Pemilu ada pameo: “jangankan salah, benar saja dapat dipersalahkan”. Artinya, bagi Penyelenggara Pemilu berbagai respon dari kalangan masyarakat terhadap penyelenggaraan dan Penyelenggara Pemilu harus dianggap hal wajar sebagai resiko pekerjaan sebagai komosioner Penyelenggara Pemilu. 

Esensi atau substansi Pemilu adalah kedaulatan pemilih. Oleh karena itu, wajar dan masuk akal manakala tumpuan dan harapan akan keberhasilan Pemilu 2019 yang lebih berkualitas dan berintegritas banyak tergantung pada pemilih. Bahkan boleh dikatakan, pemilih menjadi aktor paling penting saat kegiatan Tungsara maupun hasil Pemilu. Oleh karena itu, harapan, seruan dan desakan moral yang kuat agar pemilih menjadi pemilih berkualitas dan berintegritas pada Pemilu 2019 merupakan suatu hal yang mudah dipahami.

Kriteria pemilih seperti ini harus ditunjukkan dengan sikap penolakan terhadap segala bentuk pemberian atau iming-iming  uang atau bentuk-bentuk materi lainnya guna mempengaruhi pilihan politik masyarakat. Bahkan pemilih harus disuntik keberanian untuk melaporkan praktik busuk seperti itu kepada Pengawas Pemilu. Pemilih berkualitas adalah pula pemilih yang secara partisipatif dan nyata berbondong-bondong datang ke TPS untuk menyalurkan hak pilihnya dan juga ikut memantau proses penghitungan suara hingga selesai.

Tetapi segera harus dicatat, prilaku politik pemilih sangat ditentukan dari aktor dan elit politiknya. Para elit politik nasional dan lokal tidak boleh melakukan inisiatif dan manuver politik dengan menggunakan kekuatan uang untuk mempengaruhi pemilih, khususnya saat Tungsara. Yang tidak kalah pentingnya, elit politik harus mengajak seluruh pemilih merayakan puncak acara ritual Pemilu  dengan gembira dan penuh suka cita dalam semangat kekeluargaan dan saling menghormati perbedaan pilihan politik. Serta menunjukkan sikap kenegarawanan dan legowo dengan   menerima hasil Pemilu 2019 secara gentlemen, elegan dan sportif, atau siap menang atau kalah.

Tetap Waspada

Secara umum dapat dikatakan berbagai problem yang menyelimuti tahapan Pemilu 2019, dapat dilewati dengan selamat. Bahkan  anggota KPU Viryan Azis tiga hari menjelang hari pemungutan dan penghitungan suara (12/4/2019)  memastikan proses persiapan pemungutan suara di Pemilu 2019 sudah hampir rampung 98 persen. Meskipun demikian, berapapun persennya sisa masalah tetap harus menjadi perhatian serius. Apalagi sifat problem Pemilu sangat unik, terutama karena potensial munculnya problem yang tidak diduga (unpredictable) sangat tinggi, terutama pada kegiatan pemungutan dan penghitungan suara (Tungsara).

Boleh dikatakan, Tungsara adalah ujian akhir dari Penyelenggara Pemilu  dalam melaksanakan tugas dan fungsinya. Andaikata seluruh tahapan Pemilu sudah berhasil dilaksanakan, lalu pada ujung kegiatan Tungsara berantakan, banyak terjadi pelanggaran dan apalagi kecurangan,  tentu segala jerih payah yang sudah dilaksanakan sebelumnya oleh KPU bisa terancam sia-sia. Oleh karena itu, jajaran Penyelenggara Pemilu (KPU dan Bawaslu) harus lebih fokus, fokus dan fokus menyukseskan puncak acara ritual Pemilu, yakni: Tungsara.

Bahkan jika kegiatan Tungsara pada Rabu 17 April 2019  dan rekapitulasi penghitungan suara di tingkat PPK, KPU abupaten/Kota, Provinsi hingga Pusat sudah selesai, sebaiknya tetap menahan diri dan waspada sambil menunggu dinamika politik paska Pemilu 2019. Harapannya tentu saja tidak ada parpol peserta Pemilu yang mengajukan  sengketa hasil Pemilu ke Mahkamah Konstitusi (MK) atau pengaduan pelanggaran kode etik terhadap Penyelenggara Pemilu ke Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP). Melainkan cukup diselesaikan dan diakhiri hingga saat rekapitulasi penghitungan suara oleh KPU.

Kewaspadaan berlaku pula bagi kandidat yang berkompetisi di Pemilu 2019. Dari mulai Capres dan Cawapres, calon anggota DPR, DPD dan DPRD serta para tim kampanye dan tim suksesnya, khususnya yang akan menjalankan tugas sebagai saksi saat Tungsara. Spirit atau ruhnya adalah berkompetisi dengan  bersih,  fair, sportif dan elegan.  Dalam wujud tidak melakukan tindakan atau aksi negatif, misalnya: politik uang baik tunai, atau non tunai, intimidasi di TPS dan apalagi melakukan kekacauan dabn kericuhan sebagai respon terhadap proses dan hasil Tungsara. Bukankah semua parpol dan kandidat peserta Pemilu 2019 sudah berikrar untuk melakukan seluruh tahapan Pemilu secara damai?  

Tetapi jika diyakini dan disertai bukti valid telah terjadi pelanggaran dan kecurangan saat Tungsara yang dilakukan oleh Penyelenggara Pemilu atau kompetitor Pemilu serta sesuai dengan pengaturan yang terdapat dalam UU No. 7 tahun 2017 tentang Pemilu, pihak-pihak yang memiliki legal standing sebaiknya menggugat hasil Pemilu melalui MK dengan tetap menjunjung keadaban berpolitik dan memelihara  stabilitas dan kondusivitas politik nasional serta kepentingan kesatuan dan persatuan bangsa diatas segala-galanya, dan para pihak tergugat/teradu juga harus legowo dan siap menghadapi dan mensikapinya dengan profesional dan proporsional.  Sebab, menggugat ke ranah hukum hasil Pemilu sesungguhnya merupakan hak konstitusional setiap warga negara yang dilindungi oleh UU yang harus dihormati, khususnya oleh pihak yang digugat.[]

 

Editor: Sunardi Panjaitan

Sumber:

berita terkait

Image

News

Pemilu 2019

Robohnya Ribuan Pendekar Demokrasi

Image

News

Pemilu 2019

Menggugat Sistem Pemilu 2019

Image

News

Pemilu 2019

Saatnya Rekonsiliasi

Image

News

Pemilu 2019

Pilpres Kita

Image

News

Kolom

Pemilu 2019 di Era Post Truth

Image

News

Demokrasi dalam Ancaman

Image

News

Beban Ideologi Debat Keempat

Image

News

Ribut-Ribut Survey Litbang Kompas

Image

News

Dilema KPU Mengatasi Problem DPT

komentar

Image

0 komentar

terkini

Image
News

Simpan Belasan Paket Sabu dan Ribuan Butir Ekstasi, Dua Pemuda di Ringkus Polisi

Penangkapan dua orang pemuda itu berawal dari diringkusnya pelaku berinisial AS pada Rabu (24/4/2019).

Image
News

Empat Kecamatan di Kota Tangerang Terendam

Air masuk ke Kota Tangerang sekitar jam empat.

Image
News

Pabrik Plastik di Tangerang Terbakar, 2 Karyawan Wanita Tewas Terpanggang

"Keduanya bernama Ayu dan Lia kita temukan di ruangan yang sama."

Image
News

Sambangi Istana, BPN Yakin Ketua Serikat Buruh Masih Dukung Prabowo

"Tidak ada yang berlebihan kehadiran Said Iqbal bertemu Jokowi dan tidak akan mengubah sikapnya,"

Image
News

Kiriman Air Dari Bogor, Pemukiman Warga Banjir Dampak Luapan Sungai Cikeas

"Sekarang ini selutut orang dewasa, airnya lumayan deres ya karena ini air dari Sungai Cikeas."

Image
News

Petugas KPPS yang Meninggal Bertambah Menjadi 230 Orang

Ya, wafat 230, sakit 1.730"

Image
News

Anies Sambangi Kediaman Korban Tewas Terseret Arus Banjir

"Jadi saya tadi melayat (korban) namanya Ibu Imas."

Image
News

Anies Bersyukur Jakarta Tidak Banjir Besar Pagi Tadi

"Bila dari bogor kiriman airnya banyak lalu lautnya pasang, maka air itu akan berhenti di Jakarta dan menimbulkan banjir besar,"

Image
News

Polisi Tak Segan Tembak Pria Mabuk Bawa Parang Saat Melerai Perkelahian

Kepada polisi, Hamka mengaku saat terlibat dalam perkelahian dia memang dalam kondisi mabuk.

Image
News

Apresiasi Polisi, Bamsoet: Indonesia Sudah Menyatakan Perang dengan Narkoba

"Pangsa pasar dari narkotika jenis sabu-sabu banyak dikonsumsi oleh generasi muda."

trending topics

terpopuler

  1. Denny: Hebat Pak Prabowo, Beliau Termasuk Anggota The Avengers Ternyata

  2. Berkat Teriakan Istri di TPS, Kasus Nyoblos Pakai Identitas Orang Terungkap, Pelaku Ngaku Disuruh Caleg

  3. Aa Gym: Bila Kita Licik, Curang, dan Zolim, Niscaya akan Jadi Manusia Dimurkai Allah, Naudzubillah

  4. Terekam CCTV, Pelaku Bom Paskah Sri Lanka Gugup sebelum Beraksi

  5. Beda dengan Hasil KPU dan 'Quick Count', Pengamat Sebut Data 'Real Count' BPN Tak Proporsional

  6. Motif Dian Eka Security Hotel Sheraton Media Bunuh Indrawati Cipta Terungkap

  7. Pemilik Sabu 120 Kg Ternyata Bos Arang

  8. Soal Kecurangan Pemilu, Irfan Pulungan: Lucunya Mereka Teriak-teriak di Media

  9. Bupati Mandailing Natal Batal Mengundurkan Diri, Edy Rahmayadi: Alhamdulillah, Untung Cepat Sadar

  10. Prabowo Disebut Bisa Bicara dengan Hewan, Mbah Mijan: Aku Terpaku Diam Seribu Bahasa

fokus

Buruh Nasibmu Kini
Pemilu 2019
Revolusi Museum

kolom

Image
Achmad Fachrudin

Robohnya Ribuan Pendekar Demokrasi

Image
Achmad Fachrudin

Menggugat Sistem Pemilu 2019

Image
Ujang Komarudin

Saatnya Rekonsiliasi

Image
Achmad Fachrudin

Menyikapi Polemik Proses Penghitungan Suara

Wawancara

Image
Gaya Hidup

Fitness dan Jurus Sehat ala Augie Fantinus

Image
Video

VIDEO Jurus Sehat ala Augie Fantinus

Image
Hiburan

Seru Abis! Nongkrong Bareng Augie Fantinus

Sosok

Image
News

6 Gaya Santai Ketua Umum PKPI Diaz Hendropriyono, Gitaran hingga Traveling

Image
News

7 Potret Hangat Dedi Mulyadi Berbaur dengan Warga Saat Kulineran

Image
News

8 Potret Mumtaz Rais dan Istri yang Jarang Tersorot Media, Mesra Banget