image
Login / Sign Up

Cerita Delman, Becak, Ojek Sepeda sampai MRT

Siswanto

Angkutan Tempoe Doeloe

Image

Kendaraan wisata delman terlihat di sekitar kawasan Monumen Nasional (Monas), Jakarta Pusat, Kamis (7/2/2019). Keberadaan delman menjadi daya tarik tersendiri bagi para warga yang tengah berwisata di kawasan Monas. Setiap pengunjung bisa berkeliling dengan mengitari jalan kawasan Monas hanya dengan membayar uang sewa delman mulai dari 60 ribu hingga 100 ribu rupiah. Namun delman ini hanya boleh ada setiap hari minggu atau libur nasional. | AKURAT.CO/Sopian

AKURAT.CO Pada Minggu, 24 Maret 2019, kemarin, Mass Rapid Transit Jakarta atau Moda Raya Terpadu fase I  diresmikan Presiden Joko Widodo. MRT merupakan salah satu alat transportasi modern bertenaga listrik kebanggaan Jakarta. Pembangunan moda transportasi ini dilakukan sejak 2013 dengan anggaran Rp 2,5 triliun.

MRT fase I akan melayani penumpang dari Stasiun Lebak Bulus sampai Stasiun Hotel Indonesia. 

Membahas alat transportasi di Ibu Kota masa kini tak bisa lepas dari sejarah kendaraan umum sebelum-sebelumnya. Pada masa lalu, Jakarta punya alat transportasi umum bernama delman, becak, dan sepeda. Pada masanya, ketiga kendaraan tersebut menjadi primadona.

baca juga:

Sebuah buku menarik yang ditulis Abdul Chaer menceritakan kenangan itu. Budayawan Betawi yang lahir 8 November 1940 itu menuliskannya dalam buku berjudul Tenabang Tempo Doeloe (2017). Diceritakanlah, pada era 1950-an, alat transportasi menuju ke Tenabang, antara lain namanya delman, oplet atau ostin, trem kota, dan becak.

Delman di Monas. AKURAT.CO/Sopian

Dikutip dari buku itu, delman melayani dua rute trayek. Pertama, rute Tenabang – Karet Pasar – Tenabang. Kedua, rute Tenabang – Palmerah – Tenabang. Tapi delman juga bisa disewa keluar dari rute tetap. Misalnya ke Pasar Baru, Sawah Besar, dan Jatinegara.

Seperti taksi masa kini, delman pun punya pangkalan. Menurut tulisan Abdul Chaer di Tenabang dulu, pangkalan delman terletak di depan Pasar Tenabang atau di depan masjid Tenabang. Sedangkan pangkalan di Karet terletak di depan Pasar Karet. Sementara delman yang melayan irute Tenabang – Palmerah, pangkalannya di Jalan Kebon Jati atau Kombongan. Sedangkan di Palmerah pangkalannya di depan Pasar Palmerah.

Sistem pembayaran sewa delman ketika itu tergantung kepintaran calon penumpang menawar. Jadi, tarif pada akhirnya ditentukan kesepakatan antara konsumen dan sais. Biasanya, nilainya ditentukan oleh jarak tempuh.

Delman-delman yang berseliweran di Tenabang – Karet, kata Abdul Chaer, merupakan milik orang-orang Betawi yang tinggal di Kebon Pala, Karet Kubur, Karet Tengsin, atau Karet Depan. Ketika itu, di Karet Kubur saja ada tujuh orang yang memiliki delman sekaligus kusirnya.

Delman di Monas. AKURAT.CO/Sopian

Diceritakan pula fungsi delman ada dua macam. Pertama, untuk angkutan umum. Kedua untuk keperluan pribadi. Delman untuk kebutuhan pribadi dikenal dengan sebutan delman preman. Delman preman umumnya dipunyai oleh orang Cina kaya di Karet dan Palmerah. Masyarakat biasanya bisa membedakan mana delman angkutan umum dan pribadi. Delman pribadi biasanya bercirikan bendera kecil dipasang di sebelah kanan sais.

Dulu di sepanjang rute Tenabang – Karet ada sebuah bengkel delman di Kebon Pala, kemudian di Karet Kubur, dan satu lagi di Karet Depan. Bengkel itu hanya menangani kerusakan pada roda, kerangka besi, dan kerangka kayu. Kalau untuk memperbaiki dan pemasangan tapal kuda atau sepatu kuda tempatnya di depan Pasar Karet, depan Masjid Al Makmur, dan di Kombongan, Jalan Kebon Melati, sebelah barat Pasar Tanah Abang.

Dalam buku Tenabang Tempo Dooloe dijelaskan juga tentang pakan kuda. Pakan kuda biasanya dijual sekitar pangkalan. Makanan yang dijual seperti dedak, rumput, dan bungkil.

Dulu ketika masih jadi primadona, pabrik delman berada di beberapa tempat, salah satunya di Molenvliet West (sekarang Jalan Gajah Mada). Pabrik delman disebut Wagenmakerij dan membuat delman berdasarkan pesanan. Harganya antara 200-300 gulden sesuai dengan bahan yang dipakai. Harga itu termasuk mahal karena proses pembatan delman dilakukan secara manual. Sebagai perbandingan, waktu itu harga beras hanya 5 sen (untuk kualitas sedang).

Belakangan, roda delman dilapisi karet. Ternyata awalnya, roda delman hanya berupa besi. Tetapi setelah jalan raya di Jakarta diaspal, lama-lama bannya dimodifikasi dengan dilapisi karet agar jalannya menjadi lebih empuk.

Sejarawan Betawi Ridwan Saidi berkata delman sudah ada sejak abad ke 18 atau ketika kompeni masih bercokol.

Delman di Monas. AKURAT.CO/Sopian

"Asal usulnya kuda itu tenaga untuk menarik beban, idenya dari gerobak dulu baru delman. Karena kan gerobak gak bisa angkut orang," kata Ridwan Saidi.

Awalnya fungsi delman bukan kendaraan umum karena belum bisa untuk mengangkut barang-barang terlalu banyak. Pada abad 18, delman menjadi kendaraan yang disewakan kepada orang-orang yang punya duit.

"Gak ada istilahnya konglomerat, yang penting punya duit ya siapa saja bisa naik delman. Sama saja dengan becak siapa saja bisa naik," kata Saidi.

Abad ke 20 mencapai puncak keemasan delman sebagai kendaraan sampai akhirnya terpinggirkan oleh modernisasi. Sekarang, fungsi delman hanya menjadi kendaraan wisata atau hiburan. Meski demikian, kata Ridwan Saidi, delman masih bisa ditemukan kawasan-kawasan tertentu di Jakarta, seperti Monumen Nasional, Jakarta Pusat, pada akhir pekan.

"Kalau kita pakai delman itu kan lambat, gak bisalah kalau di jalan sekarang. Kalau untuk keperluan wisata kan gak jadi soal," ujarnya.

Becak

Menurut Ridwan Saidi setelah delman, muncul becak. Kendaraan bertenaga manusia ini muncul pertama kali di Jawa sekitar 1920. Masa itu, becak terbuat dari kayu. Tahun 1930, becak berbahan metal masuk Jakarta. Tahun itu, sebenarnya becak kayu juga masuk Jakarta, namun jumlahnya tidak banyak.

Becak selain untuk mengangkut orang juga untuk membawa barang. Tarif menyewa becak mirip-mirip delman, tergantung kesepakatan antara konsumen dan penarik becak, itu juga tergantung pula pada jarak tempuh. Tarif becak tetaplah tergolong murah. Maka tak heran becak disebut sebagai angkutan kelas menengah ke bawah.

Becak. AKURAT.CO/Herry Supriyatna

Pada 1940-an becak benar-benar menjadi moda transportasi umum. Pada waktu itu, banyak orang Belanda yang sangat suka naik becak untuk berkeliling dari suatu tempat ke tempat lain di Jakarta.

"Saat itu, becak kebanyakan beroperasi di wilayah Jakarta Pusat sampai ke daerah Kota," kata mantan anggota Dewan Perwakilan Rakyat dari Partai Persatuan Pembangunan periode 1977-1987.

Becak kemudian dilarang beroperasi di jalan raya pada waktu Ali Sadikin menjabat gubernur Jakarta. Sejak itu, alat transportasi ini terpinggirkan.

Kendati ada larangan, sebagian becak masih bertahan hingga sekarang. Becak kini menjadi angkutan lingkungan. Menurut catatan Ridwan Saidi, becak masih banyak ditemukan di Jakarta Utara, seperti Teluk Gong sampai Tanjung Priok.

Becak. AKURAT.CO/Herry Supriyatna

Dalam buku Tenabang Tempo Doeloe (2017), Abdul Chaer menceritakan pada era 1950-an, di jalan-jalan daerah Tenabang lalu lalang becak. Satu becak bisa memuat dua penumpang. Becak tidak punya rute tertentu seperti delman atau alat transportasi lainnya ketika itu. Becak bisa disewa kemana saja.

Menurut Abdul Chaer dalam buku itu, akhir 1950-an dan awal 1960-an, jumlah becak banyak sekali. Becak menjadi pesaing delman.

Disebutkan pula, pemilik becak atau tauke becak di Tenabang dan Karet dulu kebanyakan orang Cina, meskipun ada juga orang pribumi (bukan Betawi). Para penarik becak umumnya pendatang dari Jawa, Tegal, Brebes, Pekalongan.

Buku tersebut juga menceritakan bagaimana reaksi pemerintah terhadap keberadaan becak yang kian menjamur. Pada 1970-an, pemerintah Jakarta menghapuskan keberadaan becak karena dianggap merendahkan derajat bangsa. Selain itu becak juga dianggap sebagai pengganggu lalu lintas. Meskipun becak merupakan bagian dari alat angkut lalu lintas. Waktu itu muncul pengganti becak yang dianggap lebih manusiawi karena tidak pakai tenaga manusia, seperti nunicar kelicak dan bajaj muncar. Kelicak kemudian tidak ada, sementara bajaj masih bertahan, sekarang jadi bajaj berbahan gas.

Keberadaan becak di kawasan Teluk Gong, Penjaringa. AKURAT.CO/Gerdiansyah

Diceritakan pula oleh Abdul Chaer, pada waktu itu pemerintah pernah mendatangkan kendaraan umum beroda tiga untuk memeriahkan Asian Games di Jakarta. Kendaraan itu bernama bemo alias becak motor. Sampai awal 2.000-an masih ada bemo yang layani rute Tenabang – Karet dan Tenabang – Bendungan. Tapi kemudian bemo pun ditiadakan dan tugasnya digantikan angkutan pengganti Bemo yang merupakan minibus kecil.

Menurut Abdul Chaer delman, becak, bemo sebenarnya bukanlah sumber kemacetan. Tapi jumlah mobil dan motor yang makin bertambah terus yang menyumbang kemacetan terbanyak. Hampir tiap hari ada mobil dan motor baru.

“Kiranya kemacetan di Jakarta termasuk di seputar Tenabang tidak akan bisa diatasi meskipun diruus oleh sepuluh gubernur jika jumlah kendaraan selalu bertambah setiap harinya. Satu-satunya acara untuk mengatasi kemacetan lalu lintas mungkin dengan membatasi jumlah kendaran dan menyediakan angkutan umum yang banyak dan nyaman.”

Tanyakan juga kepada Firman Lubis tenang kenangan becak di Jakarta tempo dulu. Dia punya banyak cerita soal itu dalam bukynya yang diberi judul Jakarta 1960-an. Ketika dia masih remaja, kepadatan kendaraan di Jakarta tidak seperti sekarang. Dulu, jalan raya tidak kacau dan semrawut.

Pada tahun itu, kata Firman Lubis, jalan raya masih didominasi oleh sepeda dan becak. Kedua jenis alat transportasi itu berseliweran di daerah sentra binis dan sarana publik, seperti sekolah, kantor, stasiun kereta api, bioskop, pasar, dan pertokoan. Jalan raya utama ketika itu belum selebar sekarang. Waktu itu banyak orang naik sepeda untuk ke sekolah, kuliah, maupun ke tempat kerja. Banyak tempat penitipan sepeda yang dijaga.

Becak. AKURAT.CO/Herry Supriyatna

Firman Lubis menggambarkan becak sebagai raja jalanan. Jumlahnya banyak sekali, puluhan ribu. Pangkalan becak terlihat dimana-mana, terutama di daerah ramai. Masyarakat umumnya pakai becak untuk transportasi karena relatif murah dan bisa diantar sampai ke pelosok-pelosok Jakarta.

“Saya sendiri cukup sering menggunakan becak. Sebagian besar tukang becak adalah orang desa yang bermigrasi ke Jakarta, baik menetap atau musiman sehabis menanam padi atau waktu musim paceklik. Pada zaman itu, pekerjaan sebagai tukang becak identik dengan kelompok penduduk miskin,” katanya.

Dalam buku Jakarta 1950-1970, Firman Lubis menceritakan selain sepeda dan becak, tahun itu delman menjadi kendaraan yang banyak melintas di jalan-jalan Jakarta. Tapi delman lebih banyak beroperasi di pinggiran kota.

Menurut data yang diperoleh Firman Lubis, jumlah becak pada 1951 mencapai sekitar 25 ribu buah.

Untuk menaiki becak, konsumen harus pintar tawar menawar dengan abang penarik becak. Kalau waktu hujan, harga sewanya menjadi lebih mahal, dua atau tiga kali dari biasa. Naik becak dapat pula ke tempat yang cukup jauh.

Becak. AKURAT.CO/Setiawan

“Kami pernah naik becak misalnya dari rumah kami di Jalan Guntur ke Petojo, Pasar Baru, atau Tanah Tinggi, yang jaraknya sekitar 10 hingga 15 kilometer. Dapat dibayangkan tenaga yang digunakan untuk si abang tukang becak untuk menggenjot becaknya sejauh itu. Saya sering perhatikan mereka ngos-ngosan dan berkeringat di sekujur tubuhnya. Saya kira pekerjaan penarik becak merupakan pekerjaan yang sangat berat secara fisik.”

Becak ketika itu sering digunakan untuk berbagai acara, misalnya pawai perayaan 17 Agustus, mengiringi pengantin, sunatan, atau kampanye partai menjelang pemilu 1955. Pada malam tahun baru atau takbiran, banyak remaja yang menyewa becak untuk keliling-keliling kota semalam suntuk, sambil membawa beduk dan menabuhnya sepanjang perjalanan.

Firman Lubis dalam bukunya juga menceritakan sisi lain dari becak. Ketika itu ada istilah “becak komplit.” Becak yang dinaiki seorang pelacur dan pelanggan yang berminat dapat melakukan permainan seks di atas becak yang ditutupi kain di tempat-tempat yang cukup gelap atau tersembunyi.

Diceritakan pula dalam buku itu, becak banyak yang dirawat dengan baik dan menjadi kebanggaan si abang becak. Di bagian belakang sandaran tempat duduk penumpang sering diberi lukisan cat warna-warni yang menarik, biasanya berupa pemandangan alam atau binatang buas seperti harimau atau banteng. Di sepatbor kiri dan kanan ditulisi dengan kata-kata menarik seperti Tarzan, Superman, Kingkong, dan lain-lain.

Becak. AKURAT.CO/Herry Supriyatna

Untuk jadi penarik atau tukang becak, pada waktu itu, pengemudi diharuskan mempunyai rebewes (dari kata belanda Rijbewijs atau dikenal sekarang SIM). Ujiannya dilakukan di Hopbiro di Jalan Medan Merdeka Barat.

“Kadang kami melihat konvoi becak di jalan-jalan yang rupanya sedang diuji praktik oleh polisi lalu lintas. Pada 1950-an, becak belum terlalu menimbulkan keruwetan lalu lintas di jalan raya dibandingkan pada akhir 1960-an dan awal 1970-an,” kata Firman Lubis.

Menurut Firman Lubis solidaritas tukang becak cukup kuat. Di pertengahan 1950-an pernah terjadi penyerbuan yang dilakukan para tukang becak ke rumah di Jalan sukabumi, Menteng, Jakarta Pusat. Rumah itu dilempari batu sampai rusak. Para tukang becak tidak terima dengan ulah seorang penghuni rumah itu yang telah memukul tukang becak.

Dengan alasan sebagai pekerjaan yang tidak manusiawi, terutama karena dianggap mengganggu kelancaran lalu lintas, becak kemudian dilarang beropeerasi di Jakarta pada awal 1970-an. Secara bertahap, hilanglah becak dari Jakarta sesudah itu. Sebagai penggantinya, dikembangkanlah beberapa kendaraan bermotor model becak seperti becak motor dan helicak. Namun yang benar-benar menggantikan becak ialah bajaj. Bajaj merajai jalanan Jakarta sudah 1970-an. Sebagian penarik becak alih pekerjaan jadi supir bajaj.

Sepeda

Ridwan Saidi mengatakan ojek sepeda merupakan angkutan yang paling muda dibanding delman dan becak. Ojek sepeda hadir di Jakarta setelah Indonesia merdeka.

Zaman dulu ojek sepeda digunakan untuk mengangkut penumpang dari luar pelabuhan ke pelabuhan. Ojek jenis ini hanya banyak ditemukan di sekitaran Jakarta Utara, seperti Tanjung Priok.

Meski terpinggirkan, sampai detik ini ojek sepeda masih banyak di Jakarta Utara karena masih ada peminat.

Hadi, tukang ojek sepeda ontel yang mengetem di Ja. AKURAT.CO/Yudi Permana

Dalam buku Tenabang Tempo Doeloe, Abdul Chaer menulis pada 1950-an, ojek sepeda terdapat di Pelabuhan Tanjung Priok dan di Kota Tua Jakarta. Di Tenabang, tidak ada ojek sepeda. Sepeda hanya dipakai untuk ke pasar untuk belanja keperluan sendiri. Banyak pedagang juga pakai sepeda untuk bawa dagangan ke pasar atau keliling jajakan dagangan.

Sepeda dipakai buat bawa dagangan buah, seperti rambutan, pepaya, nangka yang ditaruh di keranjang dan diletakkan di belakang sepeda. Pedagang buah kebanyakan orang Betawi. Buah-buah itu dari kebun sendiri, seperti daerah Kuningan, Pedurenan, Senayan, dan Bendungan. Ada juga yang datang dari Pecandran dan Tegal Parang.

Pada era 1950-an banyak penjual susu dari Kuningan dan Senayan. Susu dikemas dalam botol, botol dimasukkan ke kantong kain terpal dan diangkut pada bagasi dan batangan sepeda.

Dalam buku Jakarta 1960-an, Firman Lubis menceritakan tahun 1960-an kepadatan kendaraan di Jakarta tidak seperti sekarang. Dulu, jalan raya tidak kacau dan semrawut. Alat transportasi sepeda berseliweran di jalan-jalan.

Heri, tukang ojek sepeda ontel, yang mangkal didep. AKURAT.CO/Yudi Permana

Padahal 1950-an sepeda merupakan alat transportasi yang paling banyak digunakan orang. Mengendarai sepeda waktu itu aman karena tak banyak kendaraan di jalan, lalu lintas belum padat. Hampir semua remaja pakai sepeda untuk ke sekolah atau main.

“Saya sendiri gunakan sepeda dari SMP, SMA dan ketika menjadi mahasiswa pada 1960-an,” kata dia.

Keadaan berubah setelah 1970-an, waktu itu jumlah sepeda jauh sekali berkurang dan becak tidak ada lagi karena dilarang pemerintah. []

Baca juga:

Tulisan 1: Sisa-sisa Kejayaan Delman Ibu Kota

Tulisan 2: Delman Ibu Kota, Siap Dibina, Tak Siap Dibinasakan

Tulisan 3: Dulu, Becak Pernah Dipakai Selundupkan Senjata ke Pasukan Indonesia

Tulisan 4: Kisah Ojek Sepeda, Walau Terpinggirkan, Tetap Percaya Diri Bertarung

Editor: Siswanto

Sumber:

berita terkait

Image

News

Angkutan Tempoe Doeloe

Interview Ridwan Saidi: Transportasi Jakarta dari Zaman Perahu

Image

News

Angkutan Tempoe Doeloe

Kisah Ojek Sepeda, Walau Terpinggirkan, Tetap Percaya Diri Bertarung

Image

News

Angkutan Tempoe Doeloe

Dulu, Becak Pernah Dipakai Selundupkan Senjata ke Pasukan Indonesia

Image

News

Angkutan Tempoe Doeloe

Delman Ibu Kota, Siap Dibina, Tak Siap Dibinasakan

Image

News

Angkutan Tempoe Doeloe

Sisa-sisa Kejayaan Delman Ibu Kota

komentar

Image

0 komentar

terkini

Image
News

KPK Hargai Penonaktifan Sofyan Sebagai Dirut PLN

KPK menghargai keputusan penonaktifan sementara Sofyan Basir sebagai Direktur Utama PT Perusahaan Listrik Negara (PLN).

Image
News

KPK Sebut Rommy Bisa Saja Diperiksa di Rumah Sakit

KPK membuka kemungkinan untuk memeriksa tersangka Romahurmuziy alias Rommy di RS Polri Jakarta Timur.

Image
News

TKN: Jokowi-Ma’ruf Menang Telak di Jateng dan Sultra

Jokowi-Ma'ruf memperoleh suara 77,02 persen, sedangkan Prabowo-Sandiaga memperoleh suara 22,98 persen.

Image
News

MUI Minta Masyarakat Karawang Jaga Kondusifitas Pascapemilu

MUI minta masyarakat untuk tetap jaga kondusifitas pascapemilu dan menunggu pengumuman KPU terkait hasil Pemilu serentak 2019.

Image
News

Presiden China: Selamat Atas Keberhasilan Indonesia Selenggarakan Pemilu

Presiden China Xi Jinping mengucapkan selamat kepada Pemerintah Indonesia atas penyelenggaraan Pemil serentak yang aman dan lancar

Image
News

Anggaran Pemungutan Suara Ulang di Makassar Capai Rp139 Juta

Anggaran pelaksanaan PSU di Makassar diperkirakan mencapai Rp139 juta.

Image
News

Ma’ruf Harap Korpri Setjen MPR Tingkatkan Profesionalitas ASN

Pengurus Korpri di lingkungan Setjen MPR yang baru dikukuhkan agar dapat meningkatan profesionalitas, netralitas dan akuntabilitas.

Image
News

Katulampa Siaga 1, Warga Jakarta Diimbau Waspada

"Aliran air dari bendungan Katulampa diperkirakan memakan waktu 12 jam ke depan baru sampai di DKI Jakarta."

Image
News

Wiranto Ajak Negara ASEAN Tingkatkan Kerja Sama MLA dalam Masalah Pidana

"Tidak ada negara yang bisa berdiri sendiri dalam melawan kejahatan seperti itu ataupun memberantasnya"

Image
News

Pengawas dan Saksi Keberatan, Dua PPK di Jember Bongkar Kotak Suara

Dua PPK di Jember belum selesai melakukan rekapitulasi perhitungan suara di tingkat Kecamatan karena selisih data perolehan suara.

trending topics

terpopuler

  1. Awet Mesra, 7 Potret Kebersamaan Bima Arya Sugiarto Wali Kota Bogor dan Istri

  2. Ruhut: Bohong, Bohong, Bohong Lagi Kau Fadli Zon

  3. 10 Meme Kocak Kekalahan MU dari Man City, Lesu Deh

  4. Paranormal: Maafkan Bila Saya Salah Duga, Seolah Pak Prabowo Dijadikan Presiden Taman Mini oleh Para Pendukungnya

  5. Para Pelaku Bom Sri Lanka Berasal dari Kalangan Terdidik dan Kaya

  6. 5 Fakta yang Jarang Diketahui tentang Sadio Mane, Bangun Sekolah sampai Santuni Keluarga Miskin

  7. Sebulan Menikah, Dhawiya dan Suami Cerita Kehidupan Rumah Tangga

  8. Pakar Hukum: Deklarasi Kemenangan Prabowo Melanggar Konstitusi

  9. Tetap Kece, 10 Gaya Rieka Roslan di Usia 49 Tahun

  10. 5 Potret Keseruan Sesi Foto Menteri Susi Pudjiastuti saat Dijepret Darwis Triadi

fokus

Buruh Nasibmu Kini
Pemilu 2019
Revolusi Museum

kolom

Image
Achmad Fachrudin

Menggugat Sistem Pemilu 2019

Image
Ujang Komarudin

Saatnya Rekonsiliasi

Image
Achmad Fachrudin

Menyikapi Polemik Proses Penghitungan Suara

Image
Aji Dedi Mulawarman

Jangan Percaya Prediksi

Wawancara

Image
Gaya Hidup

Fitness dan Jurus Sehat ala Augie Fantinus

Image
Video

VIDEO Jurus Sehat ala Augie Fantinus

Image
Hiburan

Seru Abis! Nongkrong Bareng Augie Fantinus

Sosok

Image
News

Sibuk jadi Politisi, 8 Potret Miing Bagito saat Bersama Cucu yang Manis Banget

Image
News

5 Potret Yane Ardian, Istri Wali Kota Bogor Bima Arya yang Curi Perhatian

Image
Hiburan

10 Potret Nadine Kaiser, Anak Menteri Susi yang Bikin Susah Kedip