image
Login / Sign Up

Survei Litbang Kompas Berpolitik? Ini Analisis Denny JA

Dedi Ermansyah

Menuju Pilpres 2019

Image

Pendiri LSI, Denny JA menjelaskan kelemahan dan kelebihan tiga bakal calon presiden Indonesia | Istimewa

AKURAT.CO, Pengamat Politik yang juga pendiri Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny Januar Ali (Denny JA) mempertanyakan hasil survei Litbang Kompas yang menggambarkan elektabilitas pasangan capres 01 Jokowi-Ma’ruf menurun. Sementara pasangan capres 02 perlahan naik sehingga selisih keduanya tak begitu jauh.

Survei Litbang Kompas yang dilakukan 22 Februari-5 Maret 2019 menunjukkan elektabilitas Jokowi-Ma'ruf sebesar 49,2 persen. Sementara, elektabilitas Prabowo-Sandiaga sebesar 37,4 persen. Adapun sebanyak 13,4 persen responden masih menjawab rahasia.

Lewat laman Facebook pribadinya, Denny JA mempertanyakan apakah Litbang Kompas sedang berpolitik dengan temuan survei tersebut.

baca juga:

Berikut catatan Denny Denny JA, Rabu (20/3/2019).

Apakah Kompas Bermain Politik?

Terlalu banyak bumbu politik mengomentari data statistik.  Itulah kesan awal saya membuka WA di jaringan pribadi (japri), pagi ini, Rabu 20 Maret 2019.

“Bisakah kita percaya survei Litbang Kompas bro Denny?” Apakah Kompas bermain politik? Dengan redaksi yang berbeda begitu banyak yang bertanya hal yang sama soal publikasi survei Harian Kompas di hari itu.

Jokowi digambarkan menurun dari 52.6 persen (Okt 2018) ke 49.2 persen (Maret 2019). Prabowo dinyatakan menaik dari 32.7 persen (Okt 2018) menuju 37.4 persen (Maret 2019). Pesannya: Jokowi hati-hati! Belum aman!

Kompas memang menyajikan pula simulasi yang ia sebut ekstrapolasi elektabilitas. Jika pemilih yang belum menentukan tidak dihitung, sebanyak 13.4 persen (terbagi proporsional), Jokowi masih unggul: 56,8 persen versus 43,2 persen.

Jika pilpres diselenggarakan di hari survei, sebenarnya Kompas juga mengabarkan Jokowi menang besar: doubel digit, dengan selisih 13,6 persen. Kemenangan Jokowi di 2019 lebih besar dibanding kemenangan Jokowi di Pilpres 2014, yang hanya sekitar 7 persen (mono digit).

Walau dikabarkan menang, kecemasan datang di banyak kubu Jokowi. Kompas menggambarkan Jokowi belum di angka psikologis 50 persen (elektabilitas yang tidak diekstrapolasi). Jokowi juga digambarkan menurun trendnya, hampir di semua kantong pemilih.

Walau dikabarkan kalah, harapan datang dari banyak kubu Prabowo. Trend Prabowo digambarkan menaik. Masih ada satu bulan lagi trend menaik itu terjadi untuk melampaui Jokowi.

Data yang sama, yang mengirimkan pesan yang sama, melahirkan emosi yang berbeda. Kecemasan di pendukung Jokowi (walau masih menang double digit) dan harapan di kubu Prabowo (walau masih kalah double digit)?

Bagaimana saya harus merespon survei litbang Kompas, menjawab para bro dan sis yang membanjiri WA saya pagi ini?

 ***

Saya akan menjawabnya setelah kisah ini. Datang pula info dua bumbu politik, yang tak terlalu saya hitung. Tapi ada baiknya disinggung untuk menggambarkan psiko-sosial sebagai respon survei Litbang Kompas.

Bumbu Politik pertama: sebuah pesan bahwa pemred Kompas Ninuk Pambudi tidak netral lagi. Suaminya Rahmat Pambudi pernah menjadi sekjend HKTI di bawah Prabowo. Suaminya orang dekat Prabowo.

Disertai pula berita dari Kompas sendiri tanggal 7 Maret 2011: Gerindra Ajukan Tiga Nama Calon Menteri. Rahmat Pambudi, suami pemred Kompas, diajukan Prabowo/Gerindra untuk menjadi menteri pertanian, di era pemerintahan SBY.

Diedarkan pula foto Ninuk sedang berjalan dengan Prabowo. Disertakan pula keluhan internal dari senior wartawan Kompas soal kekhawatiran positioning Kompas dalam pilpres kali ini.

Foto dan info itu berlanjutkan pada pertanyaan: apakah kedekatan Pemred Kompas (dan suaminya) pada Prabowo ikut mempengaruhi survei Kompas?

Bumbu Kedua: kesan atau lebih tepatnya opini bahwa Kompas sedang repositioning. Selama ini Kompas dianggap terlalu pro penguasa. Ketika Reuni 212, Kompas tak memberikan berita yang adil.

Kompas harus kembali ke tengah. Dukungan Jokowi di angka 49.2 persen dianggap cukup mewakili psikologis posisi di tengah. Angka itu masih di bawah 50 persen, belum mencapai the magic number kemenangan 50 persen lebih. 

Namun selisih dengan Prabowo masih dibuat dua digit. Selisih dua digit masih menyenangkan kubu Jokowi. Tapi trend Jokowi menurun dan Prabowo menaik, menyebangkan Prabowo. 

Berita survei litbang membuat every body happy. Ini khas Kompas! Pesan ini tidak menihilkan hasil survei Kompas. Tapi ini pesan khas tokoh yang merasa selalu ada kemasan di balik data penting. Kompas dianggap melakukan kemasan tambahan itu.

***

Saya tak pernah menghitung dua bumbu di atas. Saya hanya menganggapnya bunga bunga respon dari data statistik!

Saya hanya ingin mengomentari  dari sisi metodelogi dan cara menarik kesimpulan semata.

Namun justru di sana letak masalah. Survei Kompas hanya memberikan keterangan sangat sedikit soal metodologi. Plus keterangan: kesalahan di luar pemilihan sampel mungkin terjadi.

Tak ada keterangan dalam metodelogi misalnya, apakah survei menggunakan simulasi kertas suara atau tidak? Pemilih yang ditanya akan memilih siapa secara oral oleh peniliti, selalu mungkin memberi jawaban berbeda jika ia diminta melihat kertas suara yang ada foro pasangan Jokowi dan foto pasangan Prabowo.

Kertas suara yang menyerupai kertas suara persis seperti di TPS nanti sudah dilakukan oleh LSI Denny JA sejak Febuari 2019. Dari simulasi terbatas, ternyata Jokowi lebih diuntungkan jika pemilih ditanya dengan foto. Nuansa seorang Kiai dari Ma’ruf Amin dan wajah populer Jokowi di foto menjadi unsur pembeda.

Tak ada pula keterangan dalam metodelogi bagaimana dengan prosentase response rate. Ini istilah untuk responden yang bersedia menjawab. Banyak pula responden yang tak bersedia menjawab.

Survei yang sama sama memilih sampel dengan random, tapi yang satu memiliki response rate 95 persen (hanya 5 persen yang menolak menjawab), akan memberikan kualitas yang berbeda dibanding yang response rate, katakanlah, hanya 45 persen.

Pasti ada sejumlah responden yang menolak atau berhalangan. Terhadap mereka yang menolak, apakah dicari pemilih pengganti? Bagaimana cara memilih penggantinya? Tanpa panduan sistematis, response rate dapat membuat hasil survei tak akurat.

Tak ada pula keterangan soal kontrol kualitas. Apakah survei Kompas melakukan cek and recek soal jawaban responden. Bagaimana cara mengeceknya? Seberapa banyak yang dicek?

Tanpa cek dan recheck secara cukup dan ramdom, peneliti yang berpengalaman bisa saja hanya mendatangi responden sebagian. Sisa responden, ia isi sendiri di bawah pohon atau di dalam warung.

Ada pula beberapa masalah dalam cara litbang Kompas menarik kesimpulan. Kompas sendiri yang menyatakan margin of error survei itu plus minus 2.2 persen.

Tapi Kompas menyatakan tren dukungan Jokowi menurun dari 52.6 persen menjadi 49.2 persen. Secara statistik itu kesimpulan yang salah. Jika margin of error plus minus 2.2 persen, maka ada rentang margin of error dari plus 2.2 persen dan minus 2.2 persen. Margin of error itu sebenarnya punya rentang 4.4 persen.

Selisih dari 52.6 persen menuju 49.2 persen itu hanya 3.4 persen. Itu masih di bawah margin of error 4.4 persen. Secara nominal ia turun, tapi secara statistik itu tidak signifikan dikatakan turun. Jokowi stabil karena masih dalam rentang margin of error. Begitulah cara membaca data statistik.

Kata trend juga tak tepat diberikan kepada hanya dua data dari dua waktu yang berbeda. Harus ada minimal 3 waktu data, agar sah kita melihat pola: memang ada trend yang menurun dan menurun lagi (dua kali berturut), ataukah sebenarnya itu fluktuasi biasa.

Kompas juga menyatakan selisih Jokowi dan Prabowo sekitar 11.8 persen (49.2 persen- 37.4 persen). Ujar Kompas Prabowo hanya perlu menambah elektabilitas 6 persen untuk membuatnya berubah dari runner up menuju pemenang pilpres.

Kompas langsung berasumsi tambahan 6 persen pada Prabowo otomatis berarti berkurangnya 6 persen pada Jokowi. Jika Prabowo 37.4 persen ditambah 6 persen menjadi 43.4 persen. Jokowi berkurang 6 persen dari 49.2 persen menjadi 43.2 persen.

Sim salabim, Prabowo unggul: 43,4 persen vs Jokowi 43,2 persen!

Inipun kesimpulan yang salah secara statistik. Bertambahnya dukungan pada Prabowo, katakanlah 6 persen, tak otomatis dari dukungan Jokowi. Kompas sendiri menggambarkan ada suara yang belum menentukan pilihan sebanyak 13.4 persen. Bisa saja Prabowo bertambah 6 persen menjadi 43.4 persen, tapi Jokowi tetap 49, 2 persen karena tambahan Prabowo dari suara yang belum menentukan. Jokowi tetap menang!

Hal yang sama dengan menurunnya dukungan Jokowi 6 persen. Itu juga tak otomatis lari mendukung Prabowo. Bisa jadi dukungan Jokowi berpindah menjadi suara yang kembali belum menentukan. Jokowi menjadi 43, 2 persen, Prabowo tetap 37,4 persen. Jokowi tetap menang!

****

Kurang memberi informasi soal metodologi dan problem teknis dalam membuat kesimpulan, itu yang bisa saya komentari. Itulah titik lemah display survei litbang Kompas.

Tapi apakah survei Litbang Kompas berpolitik? Saya tak punya info untuk memberikan respon yang bisa dipertanggung jawabkan.

Hanya satu yang bisa katakan, spesialis lembaga survei seperti LSI Denny JA, SMRC, Indikator, Charta Politika, dalam survei di waktu yang tak terlalu berbeda, memiliki hasil survei yang berbeda.

Empat lembaga itu hasilnya mirip. Jokowi sekitar 52-58 persen. Prabowo sekitar 30-35 persen.

Tapi biarlah  aneka data berhamburan di ruang publik walau berbeda. Sebagaimana kita membiarkan seribu bunga berkembang.[]

Editor: Ainurrahman

Sumber:

berita terkait

Image

News

Bawaslu DKI Akan Pelajari Laporan Dugaan Kesengajaan Salah Imput Data KPU

Image

News

Pemilu 2019

Isu Jokowi Tak Bisa Menang Pilpres, Ini Fakta Hukumnya

Image

News

Pemilu 2019

SMRC: Quick Count itu Soal Pengetahuan bukan Politik

Image

News

Pemilu 2019

Pakar Hukum: Pemenang Pilpres Ditentukan Peraih Suara Terbanyak

Image

News

Pemilu 2019

Data KawalPemilu hingga Pukul 17.52 WIB: Jokowi-Ma'ruf 6.495.898 Suara dan Prabowo-Sandi 6.379.470 Suara

Image

News

Paska Pemilu 2019, The Jokowi Center Yakini Indonesia akan Jadi Negara Maju

Image

News

Pemilu 2019

Belasan Anggota KPPS Meninggal saat Bertugas, Ketua KPU: Memang Pekerjaannya Berat

Image

News

Pemilu 2019

Bawaslu DKI Terima 160 Laporan Dugaan Pelanggaran Pemilu pada Hari Pencoblosan

Image

Hiburan

Pemilu 2019

Beda Pilihan, Dua Nenek Ini Nyanyikan Lagu Kocak Hasil Quick Count Jokowi Vs Prabowo

komentar

Image

0 komentar

terkini

Image
News

Bawaslu DKI Akan Pelajari Laporan Dugaan Kesengajaan Salah Imput Data KPU

Bawaslu DKI Jakarta akan mempelajari terlebih dahulu laporan BPP Prabowo-Sandi terkait dugaan kesengajaan dalam salah input data KPU.

Image
News

Situasi Memanas, Perhitungan Suara di Medan Ditunda

Penundaan perhitungan suara hasil Pemilu 2019 ini ditunda karena faktor keamanan dan kenyamanan.

Image
News

Robot Presenter Berita di Televisi Rusia Picu Perdebatan Publik

Robot itu bernama Alex

Image
News
Pemilu 2019

Isu Jokowi Tak Bisa Menang Pilpres, Ini Fakta Hukumnya

Penerapan Pasal 6A Ayat (3) UUD 1945 tidak berlaku jika capres-cawapres hanya 2 paslon.

Image
News
Pemilu 2019

SMRC: Quick Count itu Soal Pengetahuan bukan Politik

Siapapun terheran-heran kenapa saat kalah quick count ditolak.

Image
News
Pemilu 2019

Pakar Hukum: Pemenang Pilpres Ditentukan Peraih Suara Terbanyak

Karena capres-cawapres hanya dua pasang.

Image
News

Lebah yang Tinggal di Atap Katedral Notre-Dame Selamat dari Kebakaran

Image
News

Banyolan Anak Jokowi Usai Masuk TV, Gibran: Saya dan Kaesang Cakep Menurut Survei Internal

Kaesang dengan akun @kaesangp tak kalah kocak.

Image
News
Pemilu 2019

Ini Tiga Parpol dengan Perolehan Suara Terbanyak di Kota Depok

PKS masih jadi juaranya.

Image
News
Pemilu 2019

Data KawalPemilu hingga Pukul 17.52 WIB: Jokowi-Ma'ruf 6.495.898 Suara dan Prabowo-Sandi 6.379.470 Suara

KawalPemilu adalah situs yang mengumpulkan data relawan dari TPS di 34 provinsi untuk merekapitulasi suara.

trending topics

terpopuler

  1. Langkah Jitu Ini Atasi Lipatan Sepatu agar Sneaker Terlihat Baru Lagi!

  2. Klaim Menang, Guru Besar Psikolog UI: Prabowo Sulit Menerima Realita

  3. Banyak Petugas KPPS Gugur karena Kelelahan, Mahfud MD Setuju Pemilu Serentak Dikaji Ulang

  4. Ketahuan Curang, Tiga Pelari China Disanksi Seumur Hidup

  5. Jika Sandiaga Jadi Wagub DKI Lagi, Pengamat: Dia Turun Kasta Dong

  6. Polisi Bakal Ungkap Kasus Pelemparan Tinja di Rumah Pendukung Jokowi

  7. Kejanggalan Jumlah Suara di 9 TPS, Kesalahan atau Kecurangan KPU?

  8. Awalnya Ingin Beri Harapan ke Presiden Terpilih, Refly Harun: Dua-duanya Menang, Enggak Ada yang Kalah

  9. Dianggap Merusak Bahasa Indonesia, Atta Halilintar: Aku Nggak Maksa Orang Ngomong Itu

  10. Teddy: Satu Cara Mengalahkan Jokowi adalah Kudeta dengan Kerusuhan

fokus

Pemilu 2019
Revolusi Museum
Angkutan Tempoe Doeloe

kolom

Image
Aji Dedi Mulawarman

Jangan Percaya Prediksi

Image
Ujang Komarudin

Pilpres Kita

Image
Sunardi Panjaitan

Merawat Indonesia Kita

Image
Achmad Fachrudin

Merayakan Puncak Ritual Politik 2019

Wawancara

Image
Gaya Hidup

Fitness dan Jurus Sehat ala Augie Fantinus

Image
Video

VIDEO Jurus Sehat ala Augie Fantinus

Image
Hiburan

Seru Abis! Nongkrong Bareng Augie Fantinus

Sosok

Image
News

Pemilu 2019

Paranormal Jelaskan Pertanyaan Benarkah KPU Curang?

Image
News

5 Potret Ganteng Cakra Yudi, Politisi Muda yang Jarang Tersorot Media

Image
News

7 Potret Kemesraan Pengantin Baru Bupati Lampung Timur Chusnunia Chalim dan Suami